NovelToon NovelToon
The Price Of Affair

The Price Of Affair

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Pelakor / Suami Tak Berguna
Popularitas:98.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Arumi Nadine, seorang wanita cerdas dan lembut, menjalani rumah tangga yang dia yakini bahagia bersama Hans, pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati. Namun segalanya runtuh ketika Arumi memergoki suaminya berselingkuh.

Namun setelah perceraiannya dengan Hans, takdir justru mempertemukannya dengan seorang pria asing dalam situasi yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 31

“Kamu tetap mau kerja, Rum?” tanya Hilda, sambil menatap sahabatnya. Mereka duduk di balkon apartemen, ditemani angin sore.

“Iya, Hil. Apalagi sekarang aku hamil. Kalau nggak kerja, aku malah kepikiran soal biaya anak nanti,” jawab Arumi pelan. Pandangannya menerawang, pikirannya dipenuhi hitungan kebutuhan yang akan datang, mulai dari persalinan, perlengkapan bayi, hingga biaya hidup yang kian terasa berat.

Hilda menghela napas, menatap Arumi dengan prihatin. “Kalau soal itu, aku bisa bantu kamu, Rum.”

Arumi tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa terharunya. “Makasih, Hil, tapi aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku masih mampu kok, setidaknya buat sekarang.”

Hilda menggeleng pelan, tatapannya serius. “Rum, kamu nggak pernah jadi beban buat aku. Dari dulu kita saling bantu. Lagi pula, kamu sekarang nggak sendirian, ada aku.”

Perlahan, Arumi menunduk. Ujung jarinya mengusap permukaan cangkir yang mulai mendingin. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya, bukan dari teh, tapi dari persahabatan yang tulus. Namun, di balik itu, tetap saja ada kegelisahan yang sulit ia enyahkan. Ia tahu, begitu bayinya lahir, dunia akan jauh lebih rumit daripada sekarang.

Hilda meraih tangan Arumi dan menggenggamnya erat. “Kalau kamu butuh apa pun, jangan tunggu sampai kamu kepepet, ya? Janji sama aku.”

Arumi menatap sahabatnya, dan kali ini senyumnya mengembang lebih tulus. “Iya Janji.”

Sore itu, angin berhembus lembut di balkon, membawa aroma hujan yang tertahan di ujung langit. Mereka masih duduk berdua, menikmati senja yang mulai merayap turun.

*****

"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Ryan kepada Elfando.

Sejak tiga hari terakhir, atasannya itu tampak pucat dan sering merasa mual. Bahkan, saat rapat siang tadi, pertemuan terpaksa dihentikan karena Elfando tiba-tiba menahan perutnya dan bergegas keluar ruangan.

Ryan yang mulai cemas langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon dokter pribadi untuk memeriksa kesehatan atasannya itu.

Tak butuh waktu lama, dokter pribadi keluarga Elfando datang ke kantor, membawa tas hitam berisi perlengkapan medis. Pemeriksaan dilakukan di ruang kerja yang sengaja dikosongkan.

Beberapa menit kemudian, dokter itu menutup stetoskopnya dan tersenyum tipis. “Tidak ada yang serius, Pak. Tekanan darah normal, detak jantung stabil. Hanya sedikit kelelahan dan mungkin lambung Anda sensitif belakangan ini.”

Ryan menghela napas lega, sementara Elfando hanya duduk bersandar, menatap kosong ke meja kerjanya. “Jadi, saya baik-baik saja?” tanyanya datar.

“Secara fisik, iya. Tapi kalau mual terus-menerus berlanjut, sebaiknya periksa laboratorium untuk memastikan,” ujar dokter itu sambil merapikan alatnya.

Belum sempat ia menambahkan penjelasan, suara langkah terburu-buru terdengar dari luar. Pintu terbuka, dan Niko muncul dengan wajah cemas.

“Kau sakit? Sakit apa?” tanyanya sambil cepat menghampiri Elfando.

Elfando menatapnya datar, senyum sinis menggores bibirnya. “Kenapa? Apa kau pikir aku akan mati dan melupakan perbuatanmu yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku?”

Wajah Niko langsung pucat, bahunya merosot seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.

“Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak Elfando. Nanti kalau masih merasa tidak enak, saya akan datang lagi,” ujar dokter itu, memutuskan pergi untuk menghindari suasana tegang di ruangan.

Elfando hanya mengangguk pelan, sementara Ryan segera bangkit untuk mengantar dokter itu keluar.

Niko dengan wajah was-was perlahan duduk di sofa, tepat di samping Elfando. Udara di ruangan terasa berat, seakan setiap napas harus dipikirkan lebih dulu.

“Aku tahu aku salah,” ucap Niko pelan, menatap lantai seolah takut menatap sahabatnya. “Seharusnya aku nggak melakukan itu, tapi itu kan karena aku pikir kau bakal tertarik sama salah satu perempuan yang menemani minum.”

Elfando menoleh pelan, tatapannya tajam namun datar. “Apa aku pernah tertarik pada perempuan-perempuan itu?” tanyanya. Nada suaranya tenang, tapi cukup untuk membuat bahu Niko menegang.

Niko menelan ludah, merasa tekanan di dada makin berat.

“Nggak, nggak pernah,” jawabnya lirih, matanya menghindari tatapan Elfando.

Elfando menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap Niko tanpa berkedip.

Niko menunduk, jemarinya meremas ujung celana. “Aku hanya, aku pikir itu akan menyenangkan. Aku nggak mikir panjang. Dan aku minta maaf.” Kata Niko akhirnya.

"Ayolah, jangan menatapku seperti itu, seolah kau mau memakanku," ujar Niko sambil berusaha mencairkan suasana.

"Sudahlah, lupakan saja," jawab Elfando singkat, membuat Niko tertegun.

Pria dingin itu biasanya tidak akan begitu saja melepaskan masalah. Cepatnya Elfando ingin mengakhiri pembicaraan justru membuat Niko curiga. Ia menatap Elfando penuh selidik.

"Apa karena kamu sedang sakit, makanya jadi lebih bermurah hati?" tanya Niko, mencoba menebak.

Elfando mengangkat alis. "Kenapa? Kau ingin aku memperpanjang masalahnya?"

"Tidak," Niko buru-buru menggeleng. "Aku malah bersyukur sudah memutuskan untuk mendatangimu hari ini."

Elfando menyandarkan tubuhnya, menatap Niko datar. "Tapi kalau kau mau, aku bisa memberimu hukuman."

"Hukuman?" Niko mengerutkan kening.

"Misalnya, mencopot jabatamu sebagai manajer utama."

Wajah Niko seketika pucat. “Tidak! Jangan, tolong, jangan diperpanjang!” serunya tergesa.

“Sebagai tanda permintaan maaf, biar aku bakarkan rokok untukmu.” Niko buru-buru mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus, lalu menyalakannya.

Namun, baru saja aroma asapnya tercium, perut Elfando mendadak bergejolak. Rasa mual itu datang begitu cepat.

“Matikan rokok itu!” perintah Elfando dengan nada tegas.

Niko mengernyit bingung. “Hah? Kenapa?”

“Matikan sekarang, atau kau langsung kupecat,” ujar Elfando, tatapannya menusuk.

Tak berani membantah, Niko buru-buru mematikan rokoknya. Ia lalu bergumam pelan, setengah protes, “Baru suruh matikan rokok saja, ancamannya sampai pecat.

“Pak, Anda tidak apa-apa?” tanya Ryan cepat, menghampiri Elfando dengan wajah khawatir.

Elfando menggeleng pelan sambil mengatur napas. “Tidak, hanya saja aku kembali merasa mual setelah mencium asap rokok tadi.”

"Mual karna asap rokok? Kau seperti orang hamil yang mengidamkan saja." Celutuk Niko asal.

Elfando dan Ryan sontak menatap Niko dengan wajah yang sulit di baca.

“Apa yang baru saja kau katakan?” suara Elfando rendah, namun jelas memberi tekanan.

Niko mengerjap cepat, menyadari situasinya berubah. “Eh, apa? Aku cuma bercanda.” Ia menelan ludah, mendadak teringat bahwa komentar konyolnya terakhir kali hampir membuatnya dipecat.

"Ulangi yang kau katakan tadi." Suru Elfando.

Niko menelan ludah, lalu menghela napas sebelum akhirnya mengulang, “Kau seperti orang yang lagi ngidam, mencium asap rokok saja langsung mual.”

Ryan yang sedari tadi memperhatikan, mengernyit penasaran. “Memang ada ya yang begitu?”

“Ada. Beberapa ibu-ibu merasakannya,” jawab Niko santai.

Elfando menatapnya curiga. “Kau tahu dari mana?”

Niko tersenyum tipis, sedikit canggung. “Dari beberapa teman clubbing-ku. Mereka yang cerita.”

Elfando dan Ryan sontak saling bertatapan, seolah menangkap maksud yang sama tanpa perlu banyak bicara.

“Periksa dia,” perintah Elfando dengan nada tegas namun terkendali.

“Siap, Pak,” jawab Ryan sambil mengangguk mantap, lalu segera bersiap menjalankan instruksi.

"Apa? Ada apa? Kalian kenapa?" tanya Niko bingung, tak mengerti maksud ucapan Elfando dan Ryan.

Periksa? Siapa yang diminta Elfando untuk diperiksa?

"Ini semua gara-gara ulahmu," ujar Elfando dengan nada geram, membuat Niko semakin tak paham.

Elfando baru saja meminta Ryan memeriksa Arumi. Ucapan spontan Niko tadi membuatnya tergerak untuk mencari kepastian. Mungkin saja, Arumi, perempuan yang tidur bersamanya malam itu, sedang mengandung.

Karna selama dia hidup, baru kali ini dia merasa mual seperti yang dialaminya. Mencium aroma yang biasanya hanya biasa saja, kenapa tiba-tiba aroma-aroma itu membuat dia merasa mual dan lemas.

1
Rusmini Mini
Hilda kamu hrs tau...
Rusmini Mini
teruslah saling menyalahkan
Rusmini Mini
kemana ular tua kok gak ada anak mantu tercinta lg berantem gak muncul
Rusmini Mini
tp Arumi kok nggak hamil hamil ya... yg kemarin 1x aja langsung tokcer ini sampai ber kali kali kok blm hamil jg
Rusmini Mini
kok Ryan gitu... coba aja berhenti godain dia hilang sejenak dia nyariin gak
partini
pas dugaanku satu dah tepar satu nongol ,,why why kenapa semua sama ceritanya
Rusmini Mini
dua duanya setres dan gila pas jd pasangan sampah
Rusmini Mini
tinggalin Nayla aja ngapain hidup dgn benalu rugi tau...
Rusmini Mini
taukan siapa yg mandul iya betul Hansel
kenapa si ular tua gak di ajak .../Grin//Grin/
Rusmini Mini
mau bilang apa kau ulet bulu...
Rusmini Mini
ayo siapa yg sekarang lebih kaya 🤭🤭
Rusmini Mini
kicep dah nayla... /Curse//Curse/
Rusmini Mini
malukan Nayla Arumi
Rusmini Mini
kamu akan menganga jika tau siapa istri Elfando /Gosh//Gosh/
Sity Lestari
Luar biasa
Rusmini Mini
jorokin Rumi /Grin//Grin/
Rusmini Mini
hebat Arumi /Good//Good//Good/
Rusmini Mini
Elfando suruh Arumi pake gaun warna maroon kenapa pake gaun blue safir kembaran sm Nayla ...
Rusmini Mini
kalau gak di hina ya di rubung penjilat apalagi status Arumi istri pemilik hotel /Sly//Sly//Sly/
Rusmini Mini
apa....iuran reuni 20 jt... Gila bisa bwt beli motor tuh /Curse//Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!