Yun Xiao, putra keluarga Yun terlahir dengan tubuh Suci, salah satu dari 7 tubuh yang mendominasi. Apakah Yun Xiao akan membawa kemakmuran yang belum pernah keluarga Yun lihat, atau pada akhirnya Yun Xiao akan sama seperti para leluhur tubuh Suci sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27 Yang Terjadi Dimasa Lalu
Ji Qingyi terpaku, menyaksikan potongan masa lalu yang mengalir di depan matanya. Hatinya bergetar hebat, seolah ia bisa merasakan sebagian dari kesedihan dan keputusasaan yang melingkupi Yun Zhi serta Leng Yao.
Bayangan itu terus bergerak.....
Leng Yao, dengan tubuh berlumur darah dan mata merah membara, berlari tanpa henti, memeluk Yun Zhi erat di pelukannya. Di belakang mereka, dunia seakan runtuh, namun ia tak peduli. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah, baik dari luka-lukanya maupun dari tubuh Yun Zhi yang hampir kehilangan nyawa.
Ras rubah kuno, tempat pohon perjodohan berada akhirnya terlihat dari kejauhan. Pohon itu menjulang tinggi, akar-akar besarnya merayap di tanah yang retak, dan cabang-cabangnya menjulur ke langit yang kelam. Cahaya samar berwarna merah muda menyelimuti pohon itu, namun auranya sendu, seakan ikut berduka.
Leng Yao berlutut di bawah pohon itu, suaranya serak, penuh luka, penuh doa, penuh amarah.
“Pohon perjodohan! Kau yang mengatur takdir cinta di dunia ini… dengarkan permintaanku!”
Tangan Leng Yao gemetar, darah menetes dari ujung jarinya saat ia menekan tubuh Yun Zhi yang kian dingin. Matanya menatap lurus pada batang pohon yang agung itu.
“Jika kau benar-benar mengikat cinta, jika kau benar-benar berkuasa atas jodoh… maka ikatlah hidupku dan hidupnya! Aku rela menukar seluruh hidupku, seluruh jiwa dan keberadaanku, demi satu hal.... agar ia bisa tetap hidup!”
Tempat itu menjadi hening, tidak ada jawaban apapun.
Udara di sekitar pohon itu mendadak berubah. Angin yang tadinya membawa aroma tanah basah kini terasa berat, seperti menekan dada. Daun-daun merah muda di cabang pohon bergetar halus, meski tak ada angin yang bertiup.
Leng Yao menatapnya, napasnya tersengal, dengan luka yang sangat parah, bahkan penyembuhan yang dimiliki tubuh suci sulit untuk regenerasi instan. Tubuhnya nyaris roboh karena kehilangan terlalu banyak darah.
Dari belakang Leng Yao, berjalan tiga perempuan cantik. Mereka adalah ketiga saudari Bai. Itu adalah tiga perempuan pemimpin roh rubah kuno.
"Pohon perjodohan tidak bekerja seperti itu, Leng Yao!" Kata Bai Lian dengan jelas.
"Pohon perjodohan bukan di gunakan untuk mengantikan hidup dan mati seseorang, dia ada untuk mengikatkan takdir." Bai Lian melihat Yun Zhi, dia tau tubuh itu hampir mati sepenuhnya, tetapi masih ada sedikit jejak kehidupan disana.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" Tanya Leng Yao dengan sangat lemah.
Bai Lian diam untuk sesaat, dia tidak yakin apakah keputusan yang akan diambil merupakan hal yang baik atau tidak.
Berbeda dengan Bai Lian yang berada dalam dilema, Bai Yan dan Bai Xue mendekati tubuh Yun Zhi.
"Garis keturunan utama keluarga Yun. Sangat di sayangkan, tetapi takdirnya berhenti di sini." Kata Bai Xue dengan mengelus pipi dingin Yun Zhi.
Bai Lian berdiri tegak, tatapannya menusuk menembus kegelapan yang menyelimuti tempat itu.
Mata peraknya memantulkan cahaya samar dari pohon perjodohan, dingin namun penuh wibawa. Ia menatap Leng Yao yang berlutut, tubuhnya nyaris roboh, darah mengalir tak henti, namun sorot matanya tak pernah gentar.
“Leng Yao,” ucap Bai Lian akhirnya, suaranya tegas, bergema di bawah langit kelam itu. “Kau sadar siapa dirimu? Tubuh sucimu… adalah penyeimbang kekacauan dunia ini. Tanpamu, dunia bisa runtuh jauh lebih cepat dari yang kau bayangkan.”
Leng Yao menunduk, napasnya tersengal, tetapi ia tetap menatap Yun Zhi di pelukannya, lembut, penuh rasa kehilangan yang begitu dalam.
Bai Lian melangkah mendekat, auranya yang dingin membuat udara di sekitarnya bergetar. “Jika kau memaksa untuk menyelamatkan dia… itu berarti kau harus meninggalkan segalanya. Tubuh sucimu, bahkan dunia ini. Semuanya.” Ia berhenti tepat di hadapan Leng Yao, tatapannya tajam menusuk seperti bilah pedang. “Apakah kau bersedia?”
Hening. Hanya suara detak jantung Leng Yao yang terdengar di telinganya sendiri, semakin cepat, semakin berat.
Bai Yan dan Bai Xue saling melirik, seolah ingin melihat apakah Leng Yao akan mundur ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu.
Namun Leng Yao, meski tubuhnya gemetar, mengangkat wajahnya. Mata merahnya, yang dipenuhi darah dan air mata, menatap lurus ke mata Bai Lian.
“Aku sudah kehilangan segalanya,” suaranya serak namun mantap. “Kehormatan? Aku tak peduli. Dunia? Biar hancur. Tubuh suci? Ambil saja. Tapi dia…” Leng Yao menunduk, menatap Yun Zhi dengan tatapan yang begitu lembut. “…dia satu-satunya alasan aku masih bertahan. Jika harus mengorbankan semua demi dia… aku akan melakukannya, tanpa ragu.”
Ucapan itu membuat ketiga saudari Bai terdiam. Bai Yan mengerutkan kening, Bai Xue tersenyum tipis seolah mengejek, tetapi Bai Lian… justru tertegun sesaat. Ada sesuatu di mata Leng Yao, sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa bantah.
“…Baiklah,” ujar Bai Lian akhirnya, suaranya kali ini lebih rendah, nyaris seperti bisikan angin. "Anda telah mendengarnya sendiri bukan, Nyonya?"
Mata Bai Lian bergerak melihat tempat yang tampak kosong, dari kekosongan itu, cahaya biru keperakan perlahan terbentuk menjadi sosok seorang wanita.
Rambut panjangnya berkilau laksana cahaya bulan, dan mata birunya penuh duka namun menyimpan kekuatan yang menekan udara di sekitarnya.
“Celina Van Astrea…” Bai Yan berbisik, nadanya hormat.
Celina berjalan mendekat, langkahnya ringan namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar terasa padat. Begitu ia tiba di hadapan Leng Yao, pandangannya jatuh pada tubuh Yun Zhi yang terbaring di pelukannya itu.
Celina berlutut di sisi Yun Zhi. Jemari pucatnya menyentuh pipi cucunya yang dingin, suaranya lirih, bergetar. “…Zhi’er… cucuku… apakah ini takdir yang harus kau tanggung?” Setetes air mata jatuh di wajah Yun Zhi.
"Meskipun setiap keturunan memiliki dua nyawa sebagai perlindungan, sepertinya itu sama sekali tidak cukup." Kata Celina dengan sedih.
Celina menyentuh dahi Yun Zhi, memberikan sedikit kehidupannya.
Yun Zhi membuka matanya, tetapi dia tidak bisa bergerak. Yun Zhi melihat Celina, "Nenek… maafkan aku…” bisiknya, suaranya pecah. “Aku… aku mati duluan… meninggalkan semua orang..." Suaranya sangat lemah.
Celina hanya tersenyum sedih, dia memeluk Yun Zhi dan menatap Leng Yao. "Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan."
Leng Yao mengangguk, tetapi berbeda dari mereka, Yun Zhi tidak tau apa yang sedang terjadi.
Dia hanya tau Leng Yao sedang berjalan menuju pohon yang sangat besar.
Di dekat pohon itu terdapat batu yang sangat besar, Leng Yao menidurkan tubuh Yun Zhi dan dia berbaring di sebelahnya. Dengan memegang erat tangannya.
"Apa yang ingin kau lakukan, Leng Yao?" Yun Zhi bertanya tanya, tetapi Leng Yao tidak menjelaskan apapun.
Leng Yao hanya menatap Yun Zhi dan berkata, "kehidupan selanjutnya, kita akan kembali bersama, Yun Zhi."
Angin di sekitar pohon perjodohan tiba-tiba berhenti. Hening. Seolah seluruh dunia menahan napas.
Pohon perjodohan yang agung itu bergetar, bukan karena angin, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam, resonansi takdir.
Pohon perjodohan mulai mengeluarkan suara, lirih namun menggetarkan. Akar-akar besar di bawah tanah bergerak, melilit pelan batu tempat mereka berbaring, seolah melindungi keduanya.
Cahaya merah muda dan biru menyatu, melingkupi Leng Yao dan Yun Zhi sepenuhnya. Tubuh mereka perlahan hilang, berubah menjadi dua butir cahaya kecil, satu berwarna merah keemasan, satu lagi biru lembut.
Kedua cahaya itu saling berputar, saling mengejar, sebelum akhirnya terbang ke langit kelam yang kini dipenuhi ribuan daun merah muda yang jatuh seperti hujan bintang.
Pohon perjodohan berdentum pelan dan cahaya itu menembus langit, meninggalkan dunia ini menuju siklus kehidupan baru.