“Oke. Tapi, there's no love and no *3*. Kalau kamu yes, saya juga yes dan serius menjalani pernikahan ini,” tawar Linda, yang sontak membuat Adam menyeringai.
“There’s no love? Oke. Saya tidak akan memaksa kamu untuk mencintai saya. Karena saya juga tidak mungkin bisa jatuh cinta padamu secepat itu. Tapi, no *3*? Saya sangat tidak setuju. Karena saya butuh itu,” papar Adam. “Kita butuh itu untuk mempunyai bayi,” imbuhnya.
***
Suatu hari Linda pulang ke Yogyakarta untuk menghadiri pernikahan sepupunya, Rere. Namun, kehadirannya itu justru membawa polemik bagi dirinya sendiri.
Rere yang tiba-tiba mengaku tengah hamil dari benih laki-laki lain membuat pernikahan berlandaskan perjodohan itu kacau.
Pihak laki-laki yang tidak ingin menanggung malu akhirnya memaksa untuk tetap melanjutkan pernikahan. Dan, Linda lah yang terpilih menjadi pengganti Rere. Dia menjadi istri pengganti bagi pria itu. Pria yang memiliki sorot mata tajam dan dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantik Tapi Bodoh
Kafe itu terletak di lantai atas sebuah gedung perkantoran mewah, dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke cakrawala Jakarta.
Sore itu, langit mulai berwarna jingga, dan lampu-lampu kota perlahan menyala satu per satu. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi, Jesika duduk dengan punggung tegak, mengenakan blazer hitam dan lipstik merah gelap. Aura dingin dan percaya dirinya kembali hadir, meski di balik itu, ada badai bergemuruh di dalam dadanya yang belum reda.
Tak lama kemudian, seorang pria tinggi dengan jas abu-abu dan jam tangan mewah melangkah masuk ke dalam kafe. Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan sorot matanya tajam—Jackson Widjaya, biasa dipanggil Jay, dia merupakan putra bungsu Surya Widjaya dan CEO yang baru menjabat selama setengah tahun ini. Dia diangkat menjadi CEO setelah kematian kakeknya, dan setelah ayahnya menjadi pimpinan Widjaya Group.
Jay berhenti beberapa langkah dari meja tempat Jesika berada, dia menatap wanita itu dengan ekspresi sulit ditebak.
"Hai, Jesi," sapanya.
Jesika menoleh pelan, lalu tersenyum tipis saat melihat Jay akhirnya datang.
"Hai, Jay."
Jay duduk tanpa diminta. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatap Jesika lekat.
"Sudah lama kita tidak bertemu ya."
"Ya, tepatnya dua tahun kita tidak bertemu," ujar Jesika. “Itu dimulai sejak kamu bilang aku tidak berguna karena aku menolak jadi mata-matamu."
Jay mengangkat alis. "Kamu berkata seperti itu seolah aku adalah pria jahat di sini. Padahal kamu sendiri yang dengan percaya dirinya memilih ingin mengejar Adam waktu itu," cakap Jay, dia tersenyum miring, senyum meremehkan. "Kamu pikir dia akan tergoda padamu dan jatuh cinta sama kamu?"
Jay tertawa kecil. "Kamu terlalu percaya diri, Jesi. Wanita cantik di dunia ini bukan hanya kamu saja. Sadar dirilah. Kamu itu bukan siapa-siapa."
Jesika menahan napas, menahan amarah yang bergemuruh di dada. "Aku tidak datang ke sini untuk membahas masa lalu, Jay."
Jay menyilangkan tangan. “Lalu?”
Jesika menatapnya lurus. “Aku terima tawaranmu dulu.”
Jay terdiam. Matanya menyipit, seolah mencoba membaca maksud di balik kata-kata Jesika.
"Aku akan masuk ke Admaja Group. Aku akan cari tahu semua yang kamu butuhkan. Dan aku akan pastikan Admaja Group kehilangan pijakannya," ucap Jesika, suaranya dingin dan mantap.
Jay menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. "Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?"
Jesika tersenyum miring. "Dulu aku pikir aku bisa mendapatkan Adam dengan cara yang manis. Tapi ternyata, aku cuma butiran debu di matanya, aku bukan apa-apa baginya, melirikku saja tidak. Dia bahkan memecatku dengan alasan sedang ada perombakan staf kantor. Dan sekarang aku ingin... menghancurkan mereka, Admaja Group.”
Jay tersenyum miring. "Itu terdengar sangat miris," ucapnya.
Jesika menghela napas pelan. “Aku tahu kamu butuh seseorang yang bisa berdiri di sampingmu, bukan hanya sebagai simbol, tapi sebagai sekutu.”
Jay tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan di sana. "Kamu datang padaku dengan luka, dan menawarkan dirimu sebagai senjata. Begitukah?"
Jesika mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku datang dengan tekad. Dan menawarkan diriku sebagai sekutu, sekaligus siap menjadi milikmu.”
Jay menatapnya lama, lalu tertawa keras, tawanya sangat renyah, hingga membuat beberapa orang di kafe menoleh ke arahnya.
Tak lama, Jay berdehem, dia tersenyum miring, menatap Jesika yang memandangnya heran. Heran kenapa Jay tiba-tiba tertawa.
"Kamu pikir sebuah tawaran tidak ada masa berlakunya?" ujar Jay. "Lagian, kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah dibuang sama Admaja Group. Kamu bahkan bukan pegawai di sana lagi. Jadi, kamu tidak berguna untukku," tandasnya. Tanpa basa-basi, dan langsung pada intinya.
Jesika terdiam. Dia merasa tertohok. Harga dirinya kembali hancur berkeping. Dulu dia meremehkan Jay, tapi sekarang, pria itu seolah balas meremehkannya.
Tak mau harga dirinya jatuh, Jesika berdiri dari kursi, dia menatap Jay sejenak, lalu melangkah pergi dengan amarah yang mengiringi.
Jay tersenyum miring menatap kepergian Jesika. "Dia cantik, tapi sayangnya terlalu ceroboh dan bodoh," gumam Jay.
***
Malam itu, rumah Adam terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu ruang tengah menyala temaram, aroma teh melati menguar dari dapur, dan suara hujan rintik-rintik di luar jendela menjadi latar yang menenangkan.
Linda duduk di sofa, mengenakan kaus longgar dan celana santai, rambutnya digerai seadanya. Adam baru saja datang dari arah dapur, membawa dua cangkir teh hangat.
"Teh favoritmu," katanya sambil menyerahkan satu cangkir kepada Linda.
Linda tersenyum, menerima dengan kedua tangannya. "Terima kasih, Mas."
Mereka duduk berdampingan, tubuh bersandar santai, kaki bersilang di atas karpet. Suasana rumah begitu tenang, seolah dunia luar tak punya hak untuk masuk ke dalamnya.
"Gimana hari ini di kantor?" tanya Adam sambil menyeruput tehnya.
Linda menghela napas. "Lumayan. Perihal pekerjaan, aku menyelesaikan semuanya dengan baik sebelum pindah ke kantor pusat. Tapi... tentang gosip resepsi pernikahan...." Linda kembali menghela napasnya. "Masih banyak yang bisik-bisik soal resepsi. Mereka bahkan masih sibuk nebak-nebak siapa istri kamu."
Adam tertawa pelan. "Dan kamu masih jadi misteri yang paling bikin mereka penasaran."
Linda menatapnya. "Aku takut, Mas. Takut kalau mereka tahu, mereka akan mulai menilai dan mulai menggunjingku."
Adam menoleh, menatap Linda dengan lembut. "Kenapa? Apa yang kamu takuti? Lagian kamu dirahasiakan bukan karena aku malu. Tapi, karena aku menghormati kamu, aku ingin melindungi kamu dari sorotan yang belum siap kamu hadapi."
Linda terdiam. Kata-kata itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
"Tapi sebentar lagi mereka akan tahu. Siap tidak siap, aku akan menghadapi tatapan mereka," ucapnya pelan.
Adam tersenyum. "Kamu tenang saja, Admaja Group adalah kerajaanku, suamimu ini akan melindungimu dari gunjingan mereka. Aku pastikan tidak akan ada yang berani menyinggung tentangmu."
Linda tertawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca. "Gombal."
"Serius, sayang." Adam sengaja menjawab seperti itu. "Kamu tahu, rasanya aku enggak sabar dan ingin bilang ke semua orang kalau kamu adalah istriku."
Linda menunduk, pipinya memerah.
Adam menggeser tubuhnya lebih dekat. "Kita hebat ya bisa menyembunyikan rahasia tentang status kita."
Linda tertawa, lalu menatap Adam. "Hanya di dalam rumah ini kita tidak perlu berpura-pura."
Adam menatap balik. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang dalam dan tenang. "Maksud kamu?"
Linda tersenyum lembut. "Di rumah ini... kita bisa jadi diri kita sepenuhnya. Tanpa rahasia. Tanpa peran kamu sebagai CEO dan aku sebagai manajer biasa."
Adam terdiam. Dia menatap Linda lekat. Mata mereka beradu. Tak ada kata-kata, hanya keheningan yang berbicara. Adam mengangkat tangan, menyentuh pipi Linda dengan lembut. Jemarinya menyusuri garis wajah istrinya itu, lalu berhenti di dagu.
Linda tidak bergerak. Dia hanya menatap dalam diam, membiarkan dirinya tenggelam dalam sorot mata Adam yang penuh rasa.
Lalu, Adam tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Bibirnya tanpa permisi menyentuh bibir Linda, pelan, penuh kehati-hatian, dia menunggu respons Linda, khawatir Linda tidak menyukai tindakannya. Namun, Linda terdiam, tubuhnya membeku sesaat. Dan kemudian, ia membalas ciuman itu, dengan rasa yang selama ini tumbuh perlahan.
Ciuman itu bukan sekadar sentuhan. Itu adalah pengakuan. Bahwa mereka telah sampai di titik di mana cinta bukan lagi tentang janji, tapi tentang keberanian untuk membuka diri sepenuhnya.
Adam menarik Linda dalam pelukannya, dan Linda membiarkan dirinya larut. Di antara napas yang mulai berat dan pelukan yang semakin erat, mereka menyatu dalam keheningan yang paling jujur.
Malam itu, bukan hanya tubuh mereka yang menyatu. Tapi juga jiwa mereka, yang selama ini saling menyembuhkan akhirnya menyatu dalam kepercayaan yang utuh.
Perasaan yang awalnya tidak ada, kini tumbuh semakin besar.
Dan di luar sana, hujan masih turun perlahan. Seolah ikut menjaga kesucian cinta yang baru saja tumbuh lebih dalam lagi.