Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 1. Aroma
Sore yang indah dengan hembusan angin yang sangat kencang berhasil mengibaskan beberapa helai rambutku. Aku menyelipkannya di balik telinga dan sambil duduk menikmati matahari yang hendak terbenam. Sedikit ku pejamkan mata dan menikmati kicauan burung dengan ilalang yang bergoyang kekanan dan kekiri seolah ikut menari.
Ketenanganku berangsur terganggu mendengar suara senapan yang berhasil menerbangkan kawanan burung-burung dari jauh. Aku menoleh ke arah lelaki yang menutupi sinar yang hampir tenggelam itu.
Suara burung-burung masih berdengung di telingaku, Harum bunga yang semakin mendekat.
“Kepak- kepak, kepak.” Suara burung berterbangan masih terdengar jelas.
Aku membuka mataku dan menatap langit, lalu menghadap tepat di depanku seperti ada sesuatu yang mendekat.
Lelaki bertubuh tinggi berjalan ke arahku sambil tertatih-tatih, tangannya hampir menyentuh bahuku. Perawakannya lembut namun ia terjatuh sambil memegangi di bagian perut kirinya. Ya ia jatuh tepat di dalam pelukanku.
“Tuan, tuan, tuan bangunlah. Tuan?!” hentakku memegangi tubuhnya.
Aroma tubuhnya tercium sangat harum dan aku sempat terlena karena sangkin wanginya. Lalu tersadar ada sesuatu di tanganku.
Tanganku berusaha membangunkannya namun yang aku lihat adalah aliran darah yang tidak kunjung berhenti. Tanganku sedikit gemetar lalu dengan cepat aku merobek gaunku dan membalut luka yang ada di pinggangnya.
Apa ini? Pelukannya begitu hangat walaupun dia sedang tidak sadarkan diri. Sepertinya dia mengalami sesuatu yang tidak bisa dibayangkan. Jantungku berdegup dengan kencangnya.
“Apa ini aku bisa gila, apa aku seret saja. Lelaki ini sangat berat, terlihat menawan dan aroma tubuhnya sangat menyengat.” Mata yang tidak berpaling melihat sosok lemah yang ada di pelukkanku saat ini.
Jika ada namanya cinta pada pandangan pertama?
Apa ia aku jatuh cinta dengan sosok ini,
jatuh cinta pada aroma tubuh dalam pelukku
atau hanya kekaguman semata?
–Rona
Pagi itu lelaki itu terbangun di gubuk yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dia menatap kearah langit-langit dengan tangannya menutupi cahaya masuk yang berhasil menyilaukan penglihatannya.
“Apa ini, dimana aku?” Tanya nya sambil terbangun dan merasa nyeri di area perutnya.
Sambil terbangun dan bersandar di tempat tidur, sembari mengingat ingat kejadian kemarin.
Saat berburu beberapa kelinci, dan rusa tidak sengaja ia bertemu babi hutan yang berlari ke arah kudanya dan berhasil menabraknya.
Sialnya ia terjatuh dari kudanya dan tertancap di ujung jurang yang membuat perutnya tertusuk ranting tersebut.
“Ah sial bagaimana aku bisa jatuh dan masih hidup. Ah benar gadis itu. Gadis cantik dengan kulit putih bersih, memiliki lesung pipit di pipi kirinya. Ah aroma tubuhnya sangat menggoda, Ah sial.” Sembari menepuk kepalanya berulang kali.
Pintu kamarnya terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya membawakan bubur dan segelas air hangat untuk diseduh.
“Sepertinya anda sudah sadar tuan?” Tanya wanita itu sambil tersenyum.
“Maaf bagaimana saya bisa disini? daan apakah anda yang mengganti pakaian saya?” Tanya nya sedikit ragu karena ia tidak melihat gadis yang menolongnya tersebut.
“Ah yang membawa anda kesini adalah Nona Rona, dan yang mengganti pakaian tuan adalah suami saya. Saya sudah menghubungi pihak keluarga tuan dan mereka akan segera datang. Silahkan dimakan dan minum terlebih dahulu.” Dengan senyuman dan meletakkan tampan tersebut di meja.
“Baiklah, terimakasih. Ah nama saya Dean. Dean Wilton.?” SEmbari memperkenalkan namanya.
“Ah baik tuan, nama saya Lena, panggil saja Bibi Lena. Silahkan menikmati makanannya.” Wanita itu hendak undur diri dan menutup pintu.
“Ah tunggu Nyonya, ah maksud saya Bi Lena. Apakah saya dapat bertemu gadis tersebut.” Ucap Dean sedikit ragu-ragu.
“Ah Nona Rona, sepertinya anda ingin mengucapkan terimakasih kepadanya ya.” Guman Bi Lena sambil tangan memegang dagunya.
“Ya benar saya akan berterimakasih jika diizinkan.” Berusaha menyakinkan.
“Sepertinya nona sedang berada di kebun anggur, dan akan pulang sangat terlambat.” Sambil menghela nafas.
“Ah baiklah kalau begitu, tolong sampaikan saja salamku saya.” Dean tersenyum sambil memakan bubur yang diberikan Lena kepadanya.
Lena segera keluar dan menutup pintu namun di kejutkan oleh pelayan yang ingin menjemput majikannya tersebut.
“Kau membuatku kaget saja Rico.” Ucap Lena menghela nafas dan mencoba mengomel.
“Maafkan saya Lena, saya sangat terkejut mendengar kejadian yang menimpa tuan muda kami yang belum lama tinggal di desa kecil indah nan damai ini. Kalau begitu aku pergi dulu.” Sambil meraih gagang pintu.
“Masuklah, dia akan pulih jika dirawat dengan sungguh-sungguh. Saya akan turun ke bawah menyiapkan pakaian yang dikenakan tuan muda sebelumnya.” sembari tersenyum menuruni tangga.
“Terimakasih Banyak Lena.” Sembari mempersilahkan wanita itu turun.
Rico menatap tuan mudanya tersebut menikmati sinar matahari masuk kedalam ruangan kecil tersebut. Pandangannya seolah tenang, sepertinya ia menikmati kejadian yang ia alami baru-bar ini.
“Tuan ini saya Rico, maafkan saya tidak dapat segera menemukan anda.” Rico merunduk dan tak berani menatap tuan mudanya tersebut, seolah merasa bersalah atas kejadian yang dialami majikannya tersebut.
“Angkat kepalamu Rico. Ini bukan salahmu, sepertinya aku harus memperketat batas-batas hutan dan menandai beberapa titik jurang.” Gumamnya sambil berdiri menuju lelaki tersebut.
“Baiklah tuan, saya sudah menyiapkan kereta kuda dan membawa pakaian baru untuk anda.” Membantu memakaikan pakaian kepada tuan muda tersebut.
“Ah baiklah, tapi siapa gadis itu?” Tanya Dean sambil melirik Rico.
“Nona Rona, pemilik kebun anggur dan peternakan sapi terbesar di wilayah ini tuan.” Sembari merapikan ikatan dan kancing baju Dean.
“Benarkah? apakah dia menjalani bisnis ini sendiri?” Menaikan alis sembari melirik Rico.
“Silahkan lewat sini tuan, tangganya agak kecil. Benar nona Rona menjalankan usaha keluarganya semenja Ayahnya meninggal dunia.” Sembari menuntun Dean mengarahkan jalan keluar dari rumah tersebut.
Dean dan Rico hendak pulang dan berpamitan dengan Lena dan suaminya.
“Semoga anda lekas sembuh tuan.” Ucap Lena sambil memberikan pakaian DEan kepada Rico.
“Terima Kasih atas jamuan dan maaf telah merepotkan kalian berdua. Saya permisi terlebih dahulu.” Ucap Dean dengan senyuman menawannya.
Dean pulang menaiki kereta kudanya dan sekilas menatap Rico yang sedari tadi membolak balik berkas pekerjaan yang tertunda sedari kemati.
“Rico, bisakah kau menyelidiki gadis yang bernama Rona tersebut?” Tanya Dean sambil menatap keluar jendela.
Rico menaikkan kacamatanya, “Ah baiklah tuan. Apakah tuan mau berterimakasih kepada Nona muda tersebut?” Tanya Rico dengan hati-hati.
“Tentu saja, kita harus memberikan hadiah sebagai balasan untuknya dan sepertinya saya melihat keluarga Lena cukup kesulitan untuk sumber air bersih.” Gumam Dean masih menatap keluar jendela.
“Semenjak musim kemarau beberapa sumber air mengering di desa ini tuan.” Jawab cepat Rico.
“Ah begitunya, pantas saja disini terlihat sangat gerah. Dan apakah mungkin kita melewati rumah gadis tersebut?” Tanya Dean penasaran akan tempat tinggal gadis yang bernama Rona tersebut.
“Tidak tuan rumah Nona Rona dengan Rumah tuan berbeda Rute.” Jawab Rico singkat sambil membolak balik kertas tebal yang ada di tangannya.
“Ah begitu ya, sayang sekali.” Ucap Dean sambil membayangkan pertemuan pertama mereka di balik ladang ilalang.
“Bau tubuhnya menyengat.” Gumam Dean.
“Maaf tuan?” Tanya Rico.
“Ah bukan apa-apa, mari pulang dan selesaikan pekerjaan yang menumpuk di rumah.” Jawab cepat Dean sambil mengendalikan ekspresinya.
“Tak tak tak tak”
Suara pacu kuda yang berjalan kencang menuju kediaman Wilton.