Aku bukan pelakor! Aku hanya lah orang ketiga dalam hubungan kakaku dan calon suaminya.... lah bagaimana mana bisa?
Bagaimana jika suami mu dan suami kakak mu adalah orang yang sama?
Ini adalah kisah ku. Aku-Kania, Adam dan Najira, yang bukan lain adalah kakak tiri ku, terikat dalam satu hubungan yang bernama tali pernikahan.
Jika kalian tanya siapa istri pertamanya mas Adam. Aku, aku istri pertamanya. Tapi siapa wanita yang di cintanya, iya, Najira.
Aku tau betul kalau hati mu hanya milik Najira seorang. Tapi, aku juga istri mu. Tidak kah kau memikirkan perasaanku walau sedikit?
Jangan lupakan Chandra, Pria adi kuasa yang memegang tali merah di kehidupan Kania.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asih sunkar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 37. Kania berubah
Kania berubah
Hari ini kania masak banyak, untuk di bawa ke study tour bersama anak-anak ke museum. Setelah dari museum, rencananya mereka pergi ke kolam renang sampai sore.
Kania sedang menghidangi makanan di piring Adam, dan seperti biasa, Adam tetap menatap pergerakan tangan Kania yang dengan telaten menghidangi makanan itu di piringnya. Tatapan yang lapar seperti berkata, kurang banyak, lagi.. Tambahin dikit lagi. Itu yang terpancar dari mata laki-laki itu
Setelah selesai, Kania melepas celmek yang melekat di tubuhnya. Dan ingin pergi dari tempat itu. Tapi kata-kata Adam menghentikan langkahnya
"Kau tidak makan" Ucap Adam sambil memasukkan suapan pertama ke mulutnya
Kania menoleh "Nanti mas, sekarang aku sedang buru-buru" Ucapnya kemudian, dan setelah itu ia pergi bersiap-siap di dalam kamarnya
Kau buru-buru mau berjumpa dengan siapa hah?! Siswa mu yang hari itu? atau si ojol? Adam menatap lekat punggung Kania yang berjalan menjauh
Tak lama kemudian, Kania keluar. Karena hari ini hari Sabtu, jadi ia memakai seragam olahraga khusus guru dari sekolah. Rambut yang ia ikat cepol, namun rapi. Membuat ia terlihat sangat imut dan menggemaskan, di tambah lagi tubuhnya yang mungil. Uwahhh deh pokoknya
Kania berjalan lagi ke ruang makan, mengambil bekal yang ia siapkan tadi untuk di bawahnya ke tempat study tour.
"Apa kau ada menelepon Najira? " Adam nanya. Tanpa melirik ke arah Kania, ia tetap fokus pada makanan di piringnya.
"Tidak mas" Balas Kania. "Kenapa? " Ucapnya lagi bertanya
"Akhir-akhir ini nomornya tidak bisa di hubungi" mendengar itu Kania diam, sebenarnya karena ia bingung harus menjawab apa. Tapi akhirnya ia berkata
"Kenapa tidak kau susul dia ke Singapura. Hari ini hari sabtu, dan kau tidak ke kantor, jadi kalian bisa liburan bareng kan" Ucap Kania, lalu tersenyum. Ia menyarankan itu dengan raut wajah sangat ringan, tanpa ada beban yang terlihat di wajahnya. Sepertinya ia tak lagi melihat kalau lelaki yang ada di depannya ini adalah suaminya, sehingga ia bisa berbicara se-enteng barusan.
Mendengar jawaban kania barusan, Adam diam, ia bungkam dalam jawaban kania yang menurutnya kurang ajar. Ya memang, sebagai istri, kania tak seharusnya berkata seperti itu. Tapi ingatlah Adam, kau sendiri yang telah menyekolahkan kania dengan perbuatan mu.
Kania menyadari kalau Adam menatap tajam ke arah dirinya, tapi ia tidak peduli, ia tetap menata bekal yang akan ia bawa ke tempat study tour.
Tringgg... Tiba-tiba ponsel Kania berbunyi. Ia merogoh tas ransel miliknya, dan mengambil ponsel itu. Kania melihat siapa yang sedang menelepon dirinya, ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya, dan berkata
"Iya Ren" Ucap Kania sambil tersenyum. Mendengar itu, Adam meletakkan sendoknya dan menatap pada Kania yang sedang telponan.
"Benarkah"Wajah Kania berubah cerah, secara mentari pagi saat mendengar perkataan orang yang ada di Sebrang telepon
"Besok ya, hari ini gak bisa. Aku akan pergi ke museum bersama muridku" Ujar Kania membalas perkataan orang itu
"Iya, sampai ketemu besok Ren" Kania memutus sambungan telepon, ia tersenyum, sambil memasukkan ponsel itu kembali ke dalam ransel.
Kania memasukkan bekalnya, kedalam ransel, dan ia Menenteng ransel itu di belakang punggungnya. Saat kania hendak berjalan ke ruang tengah, tapi kata-kata Adam sontak menghentikan langkahnya
"Aku ingin bicara" Ucap Adam, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Kania. Ia melangkah dan berdiri tepat di depan gadis itu
"Siapa itu tadi" Adam menatap biji mata istrinya
"Teman" Karena Adam yang tinggi, jadi Kania harus mendongak untuk bisa menatap wajahnya
"Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan? Tinggalnya di mana? " Pertanyaan beruntun yang di tanyakan Adam pada Kania. Mendengar perkataan Adam, Kania mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan tingkah Adam barusan. Ia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya dengan pelan, lalu ia berkata
"Udah ya mas, aku buru-buru" Kania membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya pergi, tapi Adam menangkap tangan Kania, menahan gadis itu melangkah lebih jauh.
"Aku belum selesai bicara!" Adam mencengkeram lengan gadis itu, ia menatap matanya.
"Lepas mas... sakit!" Kania memberontak, ia berusaha melepaskan tangannya yang di cengkraman oleh Adam.
"Aku tidak izinkan kau pergi!" Adam berbicara serius. Tangan kanannya menahan tangan Kania, dan tangan kirinya bergerak memegang dagu gadis itu. Dan kalian tau apa reaksi kania? Dia tertawa
"Ha ha ha ha ha" Kania tertawa panjang, bahkan sampai perutnya sakit akibat tertawa terlalu banyak
"Mas... mas, coba kau ingat ke belakang deh" Ucap Kania, sambil nyengir. "Kau, Adam Rahardian, telah kehilangan hak untuk melarangku, mengerti...sekarang lepas!! " Ucap Kania, sambil mengayunkan tangannya ke bawah, hingga cengkraman tangan Adam terlepas dari tangannya
Terserah kalau kalian menganggap kania adalah istri durhaka, itu hak kalian. Tapi ingat, kalau perbuatan Adam juga membuktikan kalau dia juga adalah suami durhaka. Kania bukannya berubah menjadi orang yang jahat, tapi ia hanya telah lulus saja, lulus atas semua perbuatan Adam maupun keluarganya selama ini. Adam, Perbuatanmu sendiri yang telah merubah Kania. Sekarang, petiklah buah yang selama ini kau pupuk.
Kania memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari rumah, tak peduli betapa kuatnya suara Adam yang meneriaki namanya, ia tetap berjalan pergi. Tanpa menoleh lagi kebelakang, pada Adam yang menatap dirinya dengan tajam.
Kaki Kania melangkah melewati pintu utama. Ia terlihat lega setelah pembicaraan nya tadi dengan Adam
Maaf jika aku kelewatan mas, tapi aku muak. Aku muak dengan kau dan keluarga mu. Sekarang aku akan mulai berjuang untuk hidup ku sendiri.
Pikiran kania melayang, pada kejadian semalam, saat di rumah Rendy. (Akan di ungkap pada bab selanjutnya ^ _ ^
**Bersambung...
Like rate dan komen dulu.. di vote jugee dong**
karena saat bersama jere atau bahkan baca surat dari jere, kania bisa tertawa bahagia... othornim kejam...😌