10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMBUK NAYA
...----------------...
Sore hari kuhabiskan waktu di kebunku yang bukan penuh dengan bunga, tapi penuh dengan buah dan sayuran.
Warna warni menggiurkan mulai bermunculan. Pohon jambu biji yang kuculik dari dalam hutan sudah menghasilkan buah yang terlihat ranum.
Tapi tanaman cahaya biru belum ada tanda tanda bunga atau buah yang muncul. Karena ini adalah tanaman mutan jadi belum bisa di prediksi kapan bisa dipanen dan untuk apa.
Pohon mutan pisang, alias si waning, juga masih gitu gitu aja.
Benih tanaman mutan yang kuterima dari system tempo hari sudah menunjukkan bentuknya, tapi belum memberikan buahnya. Masih menunggu sampai dua hari lagi.
Berdasarkan penampakan pohonnya yang tinggi menjulang dengan batang berwarna hitam, daun berbentuk seperti daun kelapa namun berwarna pink. Aku menamakannya pohon blackpink. Mirip nama grup idol negara lain jaman kapan gitu ya.
Ya sudah lah. Pokoknya system sudah menyatakan itu nama untuk pohon tersebut dan akulah yang menamainya.
Beberapa jenis tanaman hanya dapat dipanen sekali, jadi lahan kosongnya kurapikan kembali, kutaburi tanah kompos buatanku. Menanam benih dan biji bijian baru. Memberikan nutrisi, pupuk tablet, serta memberikan energi dari skill ku.
...----------------...
Sebenarnya aku agak kesal sepanjang siang tadi.
Beberapa penyintas mengirim chat padaku untuk meminta senjata.
Manusia itu ya begitu. Kalau ada yang mudah, bisa ngemis ngemis, kenapa tidak?
Kebaikanku untuk satu orang dimanfaatkan yang lainnya.
Padahal mereka juga udah mumpuni. Beda ya kalo mereka minta bantu upgrade senjata, aku gak bakal keberatan. Tentunya ada harganya.
Tapi kan yang mereka minta bukan itu. Bener bener hanya minta senjata. Seakan akan aku ini gudang senjata, walaupun sebenarnya emang bener sih!
Tapi aku juga gak sudi dong dimanfaatin begitu.
Apalagi setelah 'kuwawancarai', mereka punya banyak skill. Bahkan bisa dipakai jadi alat tempur. Gimana coba mikirnya.
Mereka termasuk cerdas loh makanya bisa dikirim ke subiru. Tapi kok jiwa ngemisnya kenceng banget. Pasti waktu masih di bumi biasa hidup enak.
Hei! Aku juga hidup enak! Tapi gak kayak gitu!
Aku sampai ngomel ngomel sendiri. Bodo amat kalo jadi bahan pembicaraan di bumi sana. Aku juga gak tau pada komentar apa.
Aku sampai memperingatkan para penonton di bumi, jangan sekali sekali berani menyalahkan kedua sepuhku karena aku menolak permintaan penyintas culas. Aku mau membantu kalau memang harus dibantu, bukan karena malas.
Sudah 7 hari mereka melihat tindak tanduk kami dari jauh, harusnya mereka bisa menilai sejauh apa usaha penyintas malas itu. Dan pastinya system para penyintas sudah memberitahu apa yang harus dilakukan, bukannya mengandalkan orang lain.
Dan kuberi tahu ke mereka kalau daya analisa ku sudah tinggi, aku bisa membedakan kata kata orang yang bener bener butuh bantuan dengan yang aji mumpung.
...----------------...
Di bumi, chat medsos negara pusaka.
- X : emang siwalan itu orang orang, nayaku disuruhnya bagi bagi senjata. Dikira dapet senjata gak pake usaha apa! Nayaku bukan badan amal!
- Y : sejak kapan dia jadi nayamu? Kalo pacarnya tau abis dah lo! Liat aja badannya keker gitu.
- X : gak papa dong, mumpung jauh kan, boleh ngaku ngaku. Tapi pokoknya gw gak terima ya, nayaku digituin. Pengennya enak aja.
- Z : Padahal mampu loh, tapi males. Coba kalo naya sama ben itu gak ngasi info kemaren, mana ada mereka pada naikin level. Pasti santai santai terus. Nah sekarang giliran udah mau abis masa perlindungannya, baru ketar ketir kan.
Di bumi, rumah keluarga ben.
"Naya tuh terlalu baik sih. Dia emang tegas, tapi suka gak tegaan. Nah jadi mau dimanfaatin kan sama anomali anomali itu. Liat aja ya, kalo keluarga mereka disini berani ngamuk ke yangkung yangti, aku yang bakalan maju." Celia ngomel ngomel setelah melihat curhatan naya barusan.
"Ah! Itu sih emang kamu aja yang doyan ribut." Sahut Dami.
"Iiish! Diem lo!" Sentak celia.
...----------------...
Planet subiru, pulau tropis25.
Aku menceritakan semua nya ke mas ben. Dia menanggapinya dengan ketikan tawa.
Tapi ternyata dia memperingatkan para penyintas lainnya di chat regional. Dia mengingatkan mereka apa tugas mereka di planet ini. Harusnya seperti apa sikap mereka saat dihadapkan pada masalah, bukannya menyalahiku. Kalau mereka merasa kurang persiapan, lalu selama 7 hari ini mereka ngapain aja? Cuma sibuk tukeran sembako sama bahan bangunan, gak mikirin urusan pertahanan.
Beberapa penyintas lainnya mendukung ucapan mas ben.
Aku hanya membacanya, tidak ikut berkomentar. Buat apa? Kan ada mas pacar yang membelaku. Uhuy!
Karena aku merasa senang, aku membuat nasi goreng kornet ditambah topping selada dan mentimun dari kebunku. Tak lupa memberikan seporsi untuk masku itu.
...----------------...
Malamnya, semua terasa tenang. Terlalu tenang.
Bahkan laut pun tak berombak seperti biasanya.
Aku duduk bersila di depan rumahku. Bermeditasi dan memancar kan energi ke sekitar tempat tinggalku. Memastikan tak ada gangguan yang berarti masuk ke wilayahku.
Jalinan skill dalam pikiranku makin menguat, saling mengikat. Menopang pikiran, tubuh, dan mentalku.
Setelah beberapa waktu, aku merasakan pergerakan asing disekitar batas wilayahku, namun pancaran energinya lemah. Mahluk mahluk itu tak bisa masuk tanpa seijinku.
"Celia, mahluk anomali mulai bermunculan ya?"
"Iya naya. Tapi tenang saja. Kamu diatas mereka. Gak bakal mereka berani mengusik."
"Apakah kedatangan mereka secara bertahap? Yang lemah dulu maju, buat tes ombak."
"Iya bener. Datengnya bakal bertahap. Tapi aku bakal pastikan kamu sudah siap waktu yang kuat muncul. Aku bakal bimbing kamu buat terus upgrade."
"Ok celia. Terima kasih."
"Sama sama naya."
...----------------...
Aku berlatih pertarungan menggunakan skillku. Membayangkan semua skill yang dapat kupakai bertempur yang terjalin adalah sebuah cambuk energi.
Aku menggerakkan nya ke segala arah menggunakan pikiranku. Dapat terlihat liukan cambuk energiku dan bahkan suara yang dihasilkan saat dihentakkan seperti suara tembakan.
Aku memastikan siapapun atau apapun yang melihatnya bakal mundur teratur.
...----------------...
Di bumi. Keluarga naya.
"Wuhuu.. Mba ku kereen.. Bisa punya cambuk energi. Ya ampun. Ai lop yu pul deh mba nay!" Seru amelia, terkagum kagum dengan pencapaian mba nya. "Pokoknya nanti kalo mba nay udah pulang, aku mau belajar punya cambuk kayak gitu, biar bisa nyambukin para tukang bully!"
Di bumi. Grup chat kelas kuliah naya.
- Ketu : anjir lah si naya. Udah jadi jagoan neon dia di sana. Gak di sini gak di sana, ada aja gebrakannya.
- Waketu : emang definisi cewek tangguh. Sekarang udah kayak kuda lumping, pake cambuk.
- Admin1 : masih di sini aja, cowo pada segan. Apalagi sekarang. Pada mikir 100x kalo sama dia. Sekali ketauan slengki, habis lo pada dicambukin.
- Admin2 : kagak aah. Ada noh yang ngejer ngejer. Kakaknya celia.
...----------------...
Back to naya.
Mahluk anomali yang tadi terasa di sekitarku mulai menghilang.
Aku menghentikan latihan cambuk energiku.
Menatap ke langit gelap. "Apapun yang musti terjadi besok, terjadilah. Aku sudah siap menghadapi nya. Kalian para gamers di bumi sana, kalian main game survival, kalah, game over, bisa mulai lagi dari awal. Tapi di sini gak seperti itu, sekali kalah, game over. Selesai. Gak ada pengulangan. Gak ada kesempatan kedua. Di sini nyawa taruhannya. Makanya penting buat kita semua fahami, usaha keras persiapan tanpa henti, pasti nunjukin hasil."
...----------------...