NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang

Pagi-pagi sekali, ketika matahari baru saja menyapu ujung-ujung genting rumah besar keluarga Pratama dengan cahaya keemasan yang tipis, suasana di area dapur belakang sudah berdenyut dengan ritme yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Dapur belakang itu dulunya merupakan area servis yang luas, tempat para staf rumah tangga menyiapkan hidangan besar untuk jamuan makan malam keluarga atau pesta formal yang sering diadakan Arka di masa lalu. Namun sejak Kirana mengalihkan fokus hidupnya pada lembaran baru, ruangan berbinar putih bersih dengan deretan meja *stainless steel* itu berubah fungsi menjadi pusat komando dari sebuah awal yang baru.

Kirana berdiri di depan meja *island* utama. Ia mengenakan kaus katun polos berwarna abu-abu gelap berbalut apron kanvas tebal berwarna hitam, rambut pendeknya dicepol rapi ke belakang dengan jepitan kecil tanpa menyisakan sehelai pun yang tergerai di wajahnya. Di sekelilingnya, deretan kantong tepung terigu kualitas premium, mentega impor, gula halus, dan toples-toples berisi vanila mika berjejer rapi di atas rak.

Hari ini adalah hari pertama produksinya dimulai.

Setelah survei ruko minggu lalu dan perhitungan modal yang matang menggunakan tabungan dari hasil penjualan maharnya, Kirana memutuskan untuk memulai bisnis katering kue rumahan berskala kecil sebagai langkah awal sebelum rukonya selesai direnovasi. Ia ingin menguji resep-resep kue kering dan *pastry* andalannya—resep warisan keluarga yang dulu sering ia buat hanya untuk mengisi waktu luang, yang kini ia ubah menjadi modal perjuangan hidupnya.

Dengan gerakan tangan yang cekatan namun tenang, Kirana mulai menimbang bahan-bahan di atas timbangan digital digital kecil. Tepung, mentega, gula, dan kuning telur dicampur dalam proporsi yang presisi. Tidak ada suara percakapan, tidak ada musik latar; yang terdengar hanya bunyi denting mangkuk adonan yang bergesekan dengan meja, suara desau *mixer* elektrik berkecepatan sedang, dan aroma harum mentega cair yang mulai menguar di udara pagi.

*Ceklek.*

Pintu penghubung antara dapur belakang dan koridor utama terbuka perlahan. Bi Inah melangkah masuk dengan langkah ragu-ragu, membawa sebuah nampan kecil. Wanita paruh baya itu berhenti beberapa langkah dari meja kerja Kirana, menatap sang nyonya muda dengan sorot mata penuh kekhawatiran dan rasa iba yang tertahan.

"Nyonya..." panggil Bi Inah dengan suara lembut dan sangat hati-hati, takut mengganggu konsentrasi Kirana. "Bibi membawakan air hangat... dan... um, kalau Nyonya butuh bantuan untuk mengangkat loyang-loyang berat atau mengaduk adonan besar itu, biarkan Bibi yang turun tangan, ya? Tangan dan punggung Nyonya belum sepenuhnya pulih dari kecelakaan kemarin..."

Kirana menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia mematikan *mixer*, lalu menoleh perlahan ke arah Bi Inah. Wajahnya tetap tenang, tanpa senyum namun juga tanpa amarah. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.

"Terima kasih atas tawarannya, Bi," ucap Kirana dengan nada suara yang datar namun tegas. "Tapi saya ingin melakukan semuanya sendiri. Dari pemilihan bahan, proses pencampuran, hingga pemanggangan. Saya tidak ingin bergantung pada siapa pun untuk usaha ini."

Bi Inah menelan ludah kelat. Ia melihat bagaimana tangan Kirana, meskipun terbiasa hidup berkecukupan tanpa pernah menyentuh pekerjaan berat, kini tampak cekatan memegang wadah-wadah besar.

Tanpa menunggu bantahan lebih lanjut dari Bi Inah, Kirana kembali memutar tombol *mixer* dan melanjutkan pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, adonan kue nastar spesial dan *chocochip cookies* buatannya telah selesai dicetak di atas loyang-loyang aluminium berukuran besar. Loyang-loyang itu tebal dan terbuat dari logam murni yang cukup berat, terutama jika diangkat dalam jumlah banyak secara bersamaan.

Di masa lalu, jika Kirana harus menyiapkan kue dalam jumlah banyak untuk acara keluarga Pratama, para pelayan pria akan dengan sigap langsung mengambil alih pekerjaan berat seperti mengangkat tumpukan loyang ke dalam oven besar.

Namun hari ini, tidak ada pelayan yang boleh mendekat.

Kirana membungkuk sedikit, merentangkan kedua tangannya dengan mantap, lalu mengangkat sebuah loyang besar berisi puluhan bulatan adonan kue yang tertata rapi. Pergelangan tangannya sempat berdenyut nyeri—sisa-sisa memar dari kecelakaan maut beberapa minggu lalu yang belum sepenuhnya hilang dari jaringan ototnya. Dahi Kirana sedikit mengerut menahan rasa sakit, dan butiran keringat tipis langsung membasahi pelipisnya.

Di ambang pintu dapur, Bi Inah spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan pekikan tertahan melihat betapa kerasnya usaha sang nyonya muda.

Namun Kirana tidak menyerah. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mengerahkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya, dan melangkah pasti menuju oven besar *built-in* yang tertanam di dinding dapur. Dengan gerakan yang terkontrol dengan sempurna, ia membuka pintu oven yang mengepulkan hawa panas, lalu memasukkan loyang berat itu ke rak bagian tengah tanpa menjatuhkan satu butir adonan pun.

*Bruk...* pintu oven tertutup rapat.

Kirana berdiri tegak kembali. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan melalui mulut, mengatur ritme pernapasannya yang sedikit memburu akibat beban fisik barunya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap nyala api di dalam kaca oven dengan sepasang mata yang memancarkan kepuasan mendalam.

Itu adalah rasa lelah yang melelahkan, namun di saat yang sama, itu adalah rasa lelah yang paling jujur dan membebaskan yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

---

Sementara itu, di lantai atas rumah besar tersebut, Arka berdiri di dekat jendela kaca besar kamar tidur utama. Pria itu baru saja turun dari tempat tidurnya, mengenakan jubah mandi dengan pandangan kosong yang menerawang ke arah halaman belakang.

Hidungnya mencium sesuatu yang samar terbawa angin pagi—aroma harum mentega panggang, vanila manis, dan panggangan kue yang lezat. Aroma itu sangat familiar. Aroma yang dulu sering menyambutnya setiap kali ia pulang kerja di sore hari sebelum rumah tangga mereka retak oleh keangkuhannya sendiri.

Arka menutup matanya rapat-rapat, merasakan sesak yang teramat sangat menghantam dadanya.

Ia tahu persis di mana aroma itu berasal. Di dapur belakang, di lantai bawah, wanita yang masih sah menjadi istrinya sedang berjuang dengan keringatnya sendiri, mengangkat beban berat seorang diri, membangun hidup baru di atas reruntuhan cinta yang telah ia hancurkan. Dan yang paling menyiksanya adalah kesadaran pahit bahwa setiap tetes keringat dan setiap loyang kue yang dipanggang Kirana hari ini adalah sebuah benteng tebal yang semakin menjauhkan wanita itu dari jangkauannya.

Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, membiarkan angin pagi membuyarkan sisa-sisa keangkuhannya sebagai seorang pria yang kini terduduk kalah di hadapan kemandirian sang istri.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!