Bismarck telah tenggelam. Pertempuran di Laut Atlantik berakhir dengan kehancuran. Kapal perang kebanggaan Kriegsmarine itu karam, membawa seluruh kru dan sang laksamana ke dasar lautan. Di tengah kegelapan, suara misterius menggema. "Bangunlah… Tebuslah dosamu yang telah merenggut ribuan nyawa. Ini adalah hukumanmu." Ketika kesadarannya kembali, sang laksamana terbangun di tempat asing. Pintu kamar terbuka, dan seorang gadis kecil berdiri terpaku. Barang yang dibawanya terjatuh, lalu ia berlari dan memeluknya erat. "Ana! Ibu kira kau tidak akan bangun lagi!" Saat melihat bayangan di cermin, napasnya tertahan. Yang ia lihat bukan lagi seorang pria gagah yang pernah memimpin armada, melainkan seorang gadis kecil. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi. Namun kali ini, bukan sebagai seorang laksamana, melainkan sebagai seorang anak kecil di dunia yang sepenuhnya asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akihisa Arishima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Anastasia
Kamar penginapan di Nordhafen cukup nyaman, meski sederhana. Karena kapasitasnya terbatas, mereka harus berbagi kamar. Anastasia tidur bersama ibunya, Seraphina. Katarina berbagi kamar dengan Bismarck, sementara Hans dan para pria lainnya menginap di lantai bawah.
Malam semakin larut, tetapi di dalam kamar, Seraphina memandang putrinya yang tampak gelisah. Rasa penasaran yang menghantuinya sejak pertemuan mereka dengan Bismarck. Seraphina menatap putrinya dengan lembut, namun ada sorot penasaran di matanya.
Dengan suara pelan, ia akhirnya memberanikan diri bertanya, "Putriku, aku tahu menanyakan ini mungkin tidak sopan, tapi aku benar-benar penasaran. Siapa sebenarnya Bismarck? Kenapa dia terlihat begitu dekat denganmu, seolah-olah dia sudah mengenalmu sejak lama?"
Anastasia terdiam sejenak, seakan mempertimbangkan sesuatu yang berat di pikirannya. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
"Ibu…" katanya lirih, "Ada banyak hal yang belum sempat aku ceritakan. Tentang siapa aku… dan siapa Bismarck sebenarnya."
Seraphina mengangguk pelan, jemarinya mengeratkan genggaman di tangan putrinya, memberikan kehangatan dan dukungan.
"Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan," ucapnya lembut. "Tapi apa pun itu, aku ingin mendengarnya darimu. Tolong, jelaskan padaku—apa hubunganmu dengan Bismarck?"
Anastasia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian. "Ibu, kau mungkin tidak akan mempercayainya… tapi sebelum aku terlahir di dunia ini, aku adalah seseorang yang berbeda." Ia menatap mata ibunya dengan serius. "Aku… dulunya seorang laksamana di dunia lain. Dan Bismarck… dia adalah kapal perangku."
Seraphina membelalakkan mata, terkejut dengan pengakuan itu. "Dunia lain?" bisiknya. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu ini sulit dipercaya…" Anastasia menundukkan kepala, suaranya lirih dan penuh keraguan. "Tapi itulah kenyataannya. Tujuh tahun lalu... saat aku sadar dari koma setelah tenggelam, aku terlahir kembali di tubuh ini atas kehendak seorang dewi. Dan Bismarck… dia adalah kapal perang yang pernah aku komandoi bersama rekan-rekanku di kehidupan sebelumnya."
Seraphina terdiam sejenak, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan putrinya. "Jadi, Bismarck... kapal perang itu, dulunya adalah kapal yang kamu komandoi di kehidupan sebelumnya?" tanyanya hati-hati.
Anastasia mengangguk. "Benar, Bu. Dan bukan hanya Bismarck… beberapa rekan seperjuanganku juga bereinkarnasi ke dunia ini. Katarina adalah salah satunya."
Seraphina mengingat gadis itu, gadis yang ikut berjuang ketika melawan goblin. "Jadi, Katarina juga…?" gumamnya.
"Iya, itu benar, Bu." Anastasia menatap ibunya, mencoba membaca ekspresi wajahnya. "Aku dan beberapa rekanku dipanggil kembali ke dunia ini oleh seorang dewi. Kami diberi kesempatan kedua untuk menebus dosa kami... dengan menghadapi ancaman besar—makhluk asing yang kekuatannya jauh melampaui apa pun yang pernah dihadapi dunia ini."
Mata Seraphina menyipit. "Mahluk asing? Apa mereka ada hubungannya dengan serangan goblin di Fischerdorf?"
Anastasia menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pasti… Petunjuk dari dewi masih samar. Tapi goblin itu… jumlah mereka yang tiba-tiba membludak dan menyerang tanpa alasan jelas, aku khawatir ini hanya permulaan." Suaranya melemah, penuh kekhawatiran. "Dan tugas kami… adalah menghentikan mereka sebelum terlambat."
Ruangan terasa hening. Seraphina menghela napas panjang, membiarkan kata-kata putrinya mengendap di benaknya.
"Aku percaya padamu," ucapnya akhirnya, lembut namun penuh keyakinan.
Anastasia terkejut, matanya melebar. "Ibu… kau percaya?"
Seraphina tersenyum hangat, membelai lembut rambut pirang putrinya. "Tentu saja. Aku mungkin tidak memahami semuanya, tapi aku tahu kau tidak akan berbohong. Dan… jika kau dipilih untuk melindungi dunia ini, aku akan selalu berada di sisimu."
Mendengar itu, air mata menetes di sudut mata Anastasia. Ia merasakan beban yang selama ini ia pikul terasa sedikit lebih ringan.
"Kamu sudah berjuang dengan sangat keras… Terima kasih, putriku," bisik Seraphina, menarik Anastasia ke dalam pelukannya.
Anastasia terisak pelan di pelukan ibunya, rasa lega mengalir di hatinya setelah sekian lama menyimpan rahasia itu sendirian.
Mereka berdua tetap saling memeluk, menikmati momen kedekatan yang langka. Dalam kehangatan itu, Seraphina bertekad untuk melindungi putrinya, tidak peduli seberapa besar ancaman yang akan datang.
Keesokan paginya, setelah sarapan, Seraphina mengumpulkan semua orang di ruang utama penginapan. Wajahnya serius, menandakan pembicaraan penting.
"Aku ingin meminta sesuatu pada kalian semua," ucap Seraphina tegas. "Tentang siapa Bismarck sebenarnya... rahasiakan hal ini. Jika kabar tentang kapal raksasa yang memiliki tubuh dan ego seperti manusia tersebar, bisa terjadi kepanikan di seluruh negeri."
Salah seorang kesatria mengangguk pelan. "Kami mengerti, Nona."
"Jika ada yang bertanya," lanjut Seraphina, "cukup katakan bahwa Bismarck adalah seorang penyihir berbakat yang mampu mengendalikan kapal dengan sihirnya."
Hans yang bersandar di dinding mengangkat bahu. "Lagipula, siapa yang akan percaya kapal bisa jadi manusia? Aku rasa ini lebih aman."
Semua orang setuju. Mereka tahu tanpa Bismarck, mereka tidak akan selamat dari serangan goblin.
Namun, muncul masalah baru: bagaimana menyembunyikan kapal sebesar itu? Tidak mungkin membawa kapal perang raksasa ke Drachenburg tanpa menarik perhatian.
Bismarck yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Aku bisa tetap terhubung dengan tubuhutamaku disini dari jarak jauh, bahkan hingga ratusan kilometer. Jika perlu, aku bisa mengendalikannya dari mana saja."
Seraphina mengangguk, merasa lega mendengar solusi itu. "Kalau begitu, kita harus mencari orang yang bisa dipercaya untuk menjaga kapal ini."
Ia melirikkan pandangannya ke arah Hans dan memintanya mencari Kapten Penjaga di Nordhafen. Beberapa jam kemudian, Hans kembali bersama seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan tubuh kekar dan sorot mata tajam.
"Tuan Kapten," Seraphina menyapa dengan sopan. "Aku ingin meminta bantuan Anda. Bisakah Anda menjaga kapal di dermaga ini? Sebagai imbalannya, aku akan memastikan Anda dan prajurit yang berjaga mendapatkan bonus setiap bulan yang akan dikirimkan dari Drachenburg."
Kapten itu terlihat berpikir sejenak, lalu mengangguk mantap. "Jika itu permintaan Anda, Nona Seraphina, saya bersedia. Saya akan memastikan kapal itu tetap aman."
"Terima kasih. Aku menghargai bantuanmu," ucap Seraphina lega.
Dengan masalah penyimpanan kapal yang sudah terselesaikan, mereka mulai bersiap untuk perjalanan panjang ke Drachenburg. Mereka membeli beberapa kuda, kereta barang, dan persediaan untuk perjalanan dua hari melintasi pegunungan.
Saat matahari mulai meninggi, rombongan itu akhirnya meninggalkan Nordhafen. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Drachenburg—rumah utama Heinrich, suami Seraphina.
Beberapa jam telah berlalu, langit mulai berubah menjadi jingga keemasan, pertanda hari mulai beranjak malam. Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mendirikan kemah di dekat sebuah aliran sungai kecil.
"Sepertinya di sini tempat yang cocok untuk bermalam," ujar Hans kepada Seraphina.
Seraphina mengangguk setuju. "Iya, kau benar. Kita juga butuh istirahat sebelum melanjutkan perjalanan besok."
Sementara Anastasia danKatarina sibuk mengumpulkan kayu bakar, beberapa kesatria mulai membongkar perbekalan mereka dari kereta kuda.
Malam pun tiba, dan mereka duduk di sekitar api unggun sambil menghangatkan diri dan menikmati makan malam.
Keesokan paginya, setelah membongkar kemah dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka melanjutkan perjalanan. Matahari pagi menyinari jalur setapak yang mereka lalui, memberikan semangat baru di sepanjang perjalanan.
Menjelang sore, bayangan gerbang kota Drachenburg mulai terlihat di kejauhan. Salah satu kesatria berseru kegirangan, "Lihat, Nona! Itu pasti Drachenburg!"
Seraphina tersenyum lebar. "Akhirnya kita sampai juga. Ayo, kita harus cepat sebelum matahari terbenam."