Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 – Rahasia yang Mulai Terbuka
Ciuman itu berakhir perlahan.
Namun efeknya masih terasa di dada Alya bahkan beberapa menit setelahnya.
Raka masih berdiri sangat dekat.
Tangannya menahan pinggang Alya dengan lembut, sementara tatapan pria itu membuat napasnya kembali tak beraturan.
Dan semakin hari—
Alya semakin menyadari bahwa dirinya benar-benar tak berdaya lagi di hadapan pria ini.
“Kamu menatap saya lagi.”
Suara rendah Raka membuat Alya langsung canggung.
“Aku cuma berpikir.”
“Tentang saya?”
“Kenapa kamu selalu percaya diri?”
Sudut bibir Raka terangkat tipis.
Karena sekarang, pria itu memang jauh lebih sering tersenyum saat bersama Alya.
Dan jujur saja—
Alya sangat menyukai perubahan itu.
Namun suasana hangat mereka mendadak terganggu ketika ponsel Alya berdering.
Ia sedikit mengernyit saat melihat nama di layar.
Arga.
“Aku angkat dulu.”
Raka mengangguk pelan meski tatapannya sedikit berubah.
Mungkin masih terbayang rasa cemburunya sendiri.
“Halo?”
Suara Arga langsung terdengar cepat dari seberang.
*Alya, kamu di mana sekarang?*
“Di rumah. Kenapa?”
Hening sepersekian detik.
Lalu—
*Ada seseorang datang ke rumah tadi pagi.*
Jantung Alya langsung sedikit menegang.
“Siapa?”
*Orang suruhan keluarga Han.*
Ekspresi Alya langsung berubah.
Raka yang melihat ekspresinya segera sedikit mengernyit.
“Mereka *ngapain*?”
*Banyak tanya soal ibumu.*
Napas Alya langsung tertahan.
“Ibu?”
*Iya.* Nada suara Arga terdengar semakin tidak nyaman. *Mereka bahkan bertanya tentang masa lalu sebelum ibumu menikah dengan ayah.*
Alya perlahan berdiri dari sofa.
Firasat buruk langsung muncul lagi.
“Apa lagi yang mereka tanyakan?”
*Mereka mencari dokumen lama.*
“Apa?”
*Mereka bilang ada sesuatu yang tidak sesuai tentang data keluarga kita.*
Suara Arga terdengar lebih serius sekarang.
Dan untuk pertama kalinya—
Alya benar-benar merasa takut.
“Aku akan ke sana.”
*Cepat datang.*
Panggilan terputus.
Ruangan langsung terasa sunyi.
Raka berdiri perlahan sambil memperhatikan wajah Alya.
“Ada apa?”
Alya menelan ludah kecil.
“Mereka menyelidiki ibuku.”
Tatapan Raka langsung mengeras.
“Ayah saya?”
“Aku tidak tahu.” Suara Alya sedikit goyah sekarang. “Tapi Arga bilang ada orang datang mencari dokumen lama.”
Raka langsung mengambil kunci mobil tanpa banyak bicara.
“Kita pergi sekarang.”
---
Perjalanan menuju rumah Alya terasa terlalu panjang.
Pikiran Alya terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Kenapa keluarga Han tiba-tiba menyelidiki ibunya?
Apa yang sebenarnya mereka cari?
Dan yang paling membuatnya takut—
Bagaimana kalau benar ada sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui?
“Alya.”
Suara Raka memecah pikirannya.
“Hm?”
Tatapan pria itu tetap fokus ke jalan.
“Jangan panik dulu.”
“Aku merasa ada sesuatu yang salah.”
Raka menggenggam tangan Alya sebentar.
Hangat.
Menenangkan.
“Kita cari tahu dulu.”
Namun anehnya—
Kali ini bahkan Raka sendiri terlihat lebih tegang dibanding biasanya.
Dan itu justru membuat Alya semakin takut.
---
Begitu mereka sampai, Arga langsung membuka pintu dengan wajah serius.
“Akhirnya.”
Pandangannya sempat berhenti beberapa detik pada Raka sebelum kembali pada Alya.
“Mereka baru pergi satu jam lalu.”
“Apa yang mereka ambil?”
“Fotokopi dokumen lama.”
Alya langsung berjalan masuk cepat.
“Ayah mana?”
“Lagi istirahat.”
Arga membawa mereka ke ruang tamu kecil yang sekarang penuh berkas dan dokumen lama.
Beberapa bahkan sudah terbuka di meja.
“Ini yang mereka lihat.”
Alya memperhatikan tumpukan berkas itu.
Akta kelahiran.
Surat nikah ibunya.
Dokumen rumah sakit lama.
Dan tiba-tiba—
Sebuah map cokelat tua menarik perhatiannya.
Karena namanya tertulis di sana.
Dengan tulisan tangan ibunya.
Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat.
“Ini apa?”
Arga menggeleng.
“Aku juga baru ketemu tadi.”
Tangan Alya sedikit gemetar saat perlahan membuka map itu.
Di dalamnya ada beberapa surat lama dan satu foto yang mulai pudar.
Foto seorang wanita muda—
Ibunya.
Bersama seorang pria yang tidak Alya kenal.
Namun yang membuat Alya langsung tercekat—
Adalah simbol kecil di cincin pria itu.
Simbol keluarga Han.
“Apa…”
Tatapan Raka langsung menajam saat melihat foto itu.
Ruangan mendadak sunyi.
Alya menatap foto tersebut dengan hati yang kacau.
“Kenapa ibu punya foto dengan keluarga kamu?”
Raka belum menjawab.
Karena pria itu sendiri tampak terkejut.
Arga mengernyit kebingungan.
“Tunggu.” Tatapannya berpindah antara Alya dan Raka. “Apa maksudnya ini?”
Alya buru-buru membuka surat pertama di dalam map.
Tulisan tangan ibunya langsung memenuhi pandangan.
*Untuk Alya, kalau suatu hari kamu menemukan ini…*
Napas Alya langsung tercekat.
Tangannya mulai gemetar.
Dan perlahan—
Ia membaca lebih jauh.
*Maaf karena selama ini Ibu menyembunyikan segalanya darimu.*
Jantung Alya berdetak makin keras.
*Ibumu pernah bekerja untuk keluarga Han bertahun-tahun lalu.*
Alya langsung mengalihkan pandangannya ke Raka.
Pria itu kini tampak benar-benar terdiam.
*Dan ada satu rahasia yang tidak pernah bisa Ibu katakan…*
Suara Alya mulai melemah saat membaca.
Karena firasat buruk itu kini terasa semakin nyata.
“Alya…” suara Raka terdengar rendah.
Namun Alya terus membaca.
*Pria dalam foto itu adalah adik ayah Raka.*
Ruangan langsung membeku.
Bahkan udara terasa berhenti bergerak.
Arga langsung menatap tidak percaya.
Sementara Alya sendiri mulai kesulitan bernapas.
Karena pikirannya perlahan mulai menyusun sesuatu yang mengerikan.
Dan saat matanya jatuh pada kalimat berikutnya—
Dunia Alya benar-benar runtuh.
*Dia adalah ayah kandungmu.*