NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Tong Kosong.

Hari itu aku pulang jam setengah enam sore.

Bukan karena malas. Bukan karena nongkrong atau ke mana-mana. Tapi ada pelanggan baru yang mampir jam lima kurang, beli dua bungkus, lalu teman-temannya ikut beli, dan aku tidak mau tutup lapak waktu masih ada yang mau beli karena setiap lembar yang masuk hari ini punya tujuannya masing-masing.

Aku parkir motor di depan pagar.

Belum sampai buka pagar, Nirmala sudah di depan pintu.

"Dari mana aja?"

Nada itu. Bukan nada istri yang khawatir suaminya belum pulang. Nada orang yang sedang menghitung sesuatu dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi.

"Lapak. Ada pelanggan baru, jadi agak lama."

"Uangnya mana?"

Aku masuk pagar. Menutupnya. Mengambil nafas satu kali sebelum menjawab.

"Ini." Aku serahkan.

Nirmala menghitung. Di depan pintu. Tidak masuk dulu, tidak mempersilakan aku masuk dulu. Di sana saja, menghitung.

"Segini doang."

"Hari ini lumayan. Lebih dari kemarin."

"Lumayan." Dia mengulang kata itu. "Kamu pulang jam segini, aku nunggu dari tadi, hasilnya cuma segini dan kamu bilang lumayan."

Aku menatapnya.

"Nirmala, aku jualan dari pagi. Jam setengah enam pulang bukan karena santai-santai, tapi karena masih ada yang beli dan aku tidak mau tolak rezeki."

"Rezeki." Dia tawa pendek. "Kamu pikir aku percaya?"

"Percaya apa?"

"Kamu dari mana benerannya. Mampir ke mana dulu. Ngapain aja."

Sesuatu di dalam dadaku bergerak.

Bukan yang biasanya bergerak lalu aku tekan kembali ke bawah. Ini berbeda. Ini bergerak ke atas dan kali ini aku tidak langsung menekannya.

"Nirmala." Suaraku keluar lebih rendah dari biasanya. Lebih berat. "Aku suamimu. Aku kerja dari pagi sampai sore untuk kebutuhan rumah ini. Dan kamu yang pertama kamu tanyakan bukan aku makan atau belum, bukan aku capek atau tidak. Tapi uangnya mana."

"Emang itu tugasmu."

"Iya. Dan tugasku sudah aku jalankan. Tapi ada bedanya antara suami yang ditagih sama suami yang dihargai."

Nirmala mendekat satu langkah. Matanya menyempit.

"Oh sekarang minta dihargai. Penjual cilok minta dihargai."

"Aku manusia. Bukan mesin."

"Lo kira gue gak capek? Gue di rumah ngurusin anak-anak, ngurusin ini itu, dan lo enak-enakan di luar seharian terus pulang telat terus minta dihargai?"

"Aku tidak bilang kamu tidak capek. Aku bilang jangan tanya uangnya dulu sebelum tanya orangnya."

"TERSERAH LO LAH." Suaranya naik. "Capek gue ngomong sama orang yang gak pernah ngerti."

"Yang tidak pernah ngerti siapa."

Nirmala berhenti.

Menatapku.

Mungkin ini pertama kalinya aku tidak mundur. Tidak masuk kamar duluan. Tidak memilih diam dan menelan semuanya sendiri di balik pintu yang dikunci.

"Aku sudah terlalu lama diam, Nirmala. Terlalu lama aku pikir diam itu sabar. Tapi diam sambil kamu terus seperti ini bukan sabar. Itu membiarkan sesuatu yang tidak boleh dibiarkan."

"Jadi sekarang mau marah-marah?"

"Bukan marah. Bicara. Ada bedanya."

"BIMO." Nirmala memanggil ke dalam rumah.

Aku tidak bergerak.

Langkah kaki berat dari dalam. Pintu kamar Bimo terbuka dengan tendangan, bukan dibuka dengan tangan, tapi ditendang dari dalam sampai membentur dinding dan engselnya berbunyi keras.

Bimo keluar dengan muka yang sudah terbaca sebelum dia sampai di ruang tengah.

"Ada masalah apa."

Bukan pertanyaan.

"Heh, Sat." Matanya langsung ke aku. "Lo mending diem. Apa gue bunuh lo malem ini."

Dulu kalimat seperti itu cukup untuk membuatku satu langkah ke belakang.

Dulu.

Aku menatap Bimo dengan cara yang mungkin belum pernah dia lihat dari aku sebelumnya.

"Jangan banyak bacot."

Bimo mendekat.

"Lo ngomong apa barusan?"

"Gue tunggu lo." Suaraku keluar datar. Tidak gemetar. Tidak naik. "Di Jalan Sengketa satu. Kalau lo mau buktiin omongan lo, buktiin di sana. Bukan di depan anak-anak."

Ruangan itu sunyi.

Bimo berdiri dua langkah dari aku. Badannya lebih besar. Tangannya lebih besar. Dan dari cara dia berdiri, cara bahunya naik, cara rahangnya mengeras, aku menunggu dia melangkah maju.

Dia tidak melangkah.

Matanya ke aku. Satu detik. Dua detik. Lima detik yang terasa sangat panjang.

Lalu Bimo berbalik.

Masuk kamarnya.

Pintu ditutup. Pelan. Bukan dibanting.

Aku menatap pintu yang tertutup itu.

Nirmala tidak bersuara.

Aku tidak bersuara juga. Mengambil tas yang dari tadi masih di bahu, masuk ke dalam, ke kamar, dan menutup pintu dengan pelan.

Di balik pintu itu aku berdiri sebentar.

Jantungku masih berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut. Lebih ke sesuatu yang sudah terlalu lama dikompres dan baru saja dilepaskan sebagian, seperti klep yang akhirnya dibuka setelah tekanannya sudah terlalu penuh.

Dari balik dinding, tidak ada suara dari kamar Bimo.

Tidak ada langkah kaki yang menuju ke sini. Tidak ada suara pintu yang akan dibuka lagi. Tidak ada apa-apa.

Hanya diam.

Tong kosong. Ternyata tong kosong juga.

Aku duduk di tepi kasur.

Aini tidur siang di pojok kasur dengan selimut yang ditarik sampai hidung, hanya matanya dan rambutnya yang kelihatan. Napasnya teratur. Tenang.

Tidak tahu apa yang baru saja terjadi di ruang tengah.

Tidak perlu tahu.

Aku berbaring di sisi yang kosong. Menatap langit-langit.

Retak di sudut kiri yang sama.

Masih belum diperbaiki.

Aku menutup mata.

Besok masih ada gerobak. Masih ada adonan jam tiga pagi. Masih ada hari yang harus dijalani.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada sesuatu kecil di dalam dadaku yang tidak terasa seperti kekalahan.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!