NovelToon NovelToon
Menikahi Gadis Badung

Menikahi Gadis Badung

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Paksaan Terbalik / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Roman-Angst Mafia / Gadis nakal / Tamat
Popularitas:268.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Menikah karena kecelakaan? Akay tak pernah membayangkan hidupnya berubah setelah menabrak nenek Aylin—dan menerima syarat gila: menikahi cucunya yang suka tawuran dan balapan liar.
Perjanjiannya jelas: jika Akay menceraikan Aylin, ia harus bayar seratus miliar. Tapi jika Aylin yang minta cerai, seluruh warisan neneknya jadi milik Akay.

Setelah sang nenek meninggal, Aylin kabur. Ia hidup bebas di jalanan, menantang maut di lintasan balap ilegal. Tapi takdir mempertemukan mereka lagi—dan Aylin menawar hidup masing-masing meski tetap menikah.

Namun Akay punya rencana lain. Saat bahaya mengintai dan perasaan mulai tumbuh, keduanya harus memilih: bertahan dalam pernikahan pura-pura, atau menghadapi kenyataan bahwa mungkin... cinta datang dari arah yang tak pernah mereka duga.

Akankah pernikahan ini tetap menjadi perjanjian konyol? Atau berubah menjadi cinta yang berani menerobos batas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Memilih Diam

Lampu-lampu redup berpendar di dalam klub malam, menciptakan suasana penuh gemerlap dan kebisingan. Di sudut ruangan, Winda duduk dengan anggun di sofa VIP, memainkan sedotan dalam gelasnya sambil menatap Jordi yang baru saja duduk di hadapannya.

"Lo dapet info yang gue minta?" tanya Winda tanpa basa-basi, suaranya terdengar ringan, tapi matanya penuh selidik.

Jordi menyeringai, menyandarkan punggungnya ke sofa dengan santai. "Dari teman-teman Aylin, katanya nama calon suaminya Akay."

Winda mengerutkan kening. "Akay?" gumamnya, mengulang nama itu, mencoba mengingat apakah ia pernah mendengar nama tersebut sebelumnya.

"Yup," Jordi mengangguk. "Gue juga cari tahu soal pekerjaannya. Katanya dia kerja di perusahaan Nugroho."

Winda menyipitkan mata, jelas tidak puas dengan informasi itu. "Sebagai apa?"

Jordi mengangkat bahu, menyandarkan tangannya ke sandaran sofa. "Itu dia masalahnya. Perusahaan itu sangat ketat, nggak sembarang orang bisa ngorek informasi di dalamnya. Gue udah coba, tapi nggak ada yang bisa kasih tahu dia kerja sebagai apa."

Winda menghela napas panjang, jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan gelisah. "Jadi dia bukan orang sembarangan," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Sepertinya begitu," Jordi mengangguk, lalu menyeringai. "Tapi gue yakin, kalau lo benar-benar niat, pasti bisa cari cara buat dapetin lebih banyak info."

Winda menyunggingkan senyuman miring. "Tentu saja," katanya pelan. "Kalau dia penghalang gue, berarti dia juga harus dihancurkan."

Jordi tertawa kecil, mengangkat gelasnya. "Gue suka ambisi lo, Win."

Winda hanya tersenyum tipis. Di dalam kepalanya, rencana mulai terbentuk.

***

Di Kantor Akay

Akay menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, kedua tangan bertaut di depan wajahnya. Seorang pria berjas hitam berdiri di depannya, memberikan laporan dengan suara tegas.

“Ada seseorang yang mencoba menggali informasi tentang Anda, Tuan,” lapor pria itu. “Namanya Jordi. Ia mencari tahu posisi Anda di perusahaan, tapi tak ada karyawan yang mau berbicara.”

Akay mengangkat alis. “Menarik. Dari mana dia mulai mencari?”

“Dari beberapa teman istri Anda, Aylin. Sepertinya dia juga berusaha mencari tahu lewat orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Anda di luar kantor.”

Mata Akay menyipit. Ia sudah terbiasa dengan banyak orang yang ingin tahu tentang dirinya, tapi biasanya mereka orang-orang dari dunia bisnis, bukan orang asing yang tak punya kaitan bisnis.

"Jordi…" Akay bergumam, nada suaranya dingin. "Bocah yang kalah taruhan dengan istriku… bahkan sempat mencoba mendekatinya, namanya juga Jordi. Melihat dari mana ia memulai penyelidikan, sepertinya mereka orang yang sama."

Matanya menyipit, penuh kewaspadaan. Setelah hening sejenak, ia akhirnya memberi perintah tegas, "Selidiki lebih dalam. Aku ingin tahu apa motifnya mencari tahu tentang aku."

Pria di depannya mengangguk tanpa ragu. "Baik, Tuan."

***

Di meja makan

Aylin masih sibuk menyendok makanannya, berusaha mengabaikan perasaan ganjil yang mengganjal di dadanya sejak kemarin. Sejak mendapat perkataan tajam dari Akay, Mira memang tak lagi berani mendekatinya, tetapi kejadian itu tetap meninggalkan rasa kesal yang enggan menghilang.

Saat Akay meletakkan sendoknya, ia melirik Aylin dan berkata dengan nada datar, "Pulang ke apartemen aja."

Aylin menghentikan gerakan tangannya. "Kenapa?" tanyanya, pura-pura tak peduli.

Akay mengangkat alis. "Aku lebih nyaman kalau cuma ada kamu di sekitarku."

Aylin nyaris tersedak. Tatapannya terangkat, mencari kepastian di wajah suaminya. Tapi, seperti biasa, Akay hanya menatapnya tanpa ekspresi berlebihan, seolah ucapannya tadi bukan hal besar.

"Gak ada hubungannya sama yang kemarin?" tanya Aylin akhirnya, mencoba membaca pikirannya.

Akay mengedikkan bahu. "Terserah kamu mau anggap apa. Tapi kalau kamu nggak nyaman, kenapa masih di sini?"

Aylin terdiam. Jujur, dia memang terganggu. Bukan karena cemburu—atau mungkin iya, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Lagipula, sejak kapan dia harus kabur cuma karena seorang pelayan genit?

Melihat Aylin tak langsung menjawab, Akay beranjak dari kursinya dan menunduk mendekatinya. "Aku nggak suka ada orang lain di sekitarmu," bisiknya di dekat telinga Aylin sebelum berbalik dan pergi begitu saja.

Aylin terkesiap. Jantungnya berdetak lebih cepat, pipinya terasa panas. Sialan. Kenapa harus bicara sedekat itu?!

Di sudut ruangan, Mbok Inem menahan senyum kecil sambil membereskan meja, seolah tak ingin ikut campur, tapi jelas menikmati momen itu.

Mira, yang diam di dekat dapur, menggigit bibirnya dengan kesal.

Sementara itu, Aylin hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Akay yang menghilang di balik pintu. Dan pada akhirnya, dengan penuh gengsi, dia tetap menurut kembali ke apartemen.

***

Setelah sampai di apartemen, Aylin langsung masuk ke kamar dan mengganti pakaian tidurnya. Akay menyusul tak lama kemudian. Tanpa banyak bicara, mereka berdua naik ke tempat tidur, mengikuti rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan.

Seperti biasa, Aylin membelakanginya. Namun, Akay tetap melakukan hal yang sama setiap malam—merapat dan melingkarkan lengannya di pinggang istrinya.

Kali ini, Aylin tidak protes. Tidak meronta, tidak menyuruhnya menjauh seperti sebelumnya. Hanya diam. Ia tahu percuma melawan, percuma berteriak atau menolak. Karena pada akhirnya, suaminya akan tetap melakukan apa yang diinginkannya dengan satu kalimat yang selalu membungkamnya—"Karena aku suamimu."

Akay tersenyum kecil dalam temaram lampu tidur. Baginya, ini adalah perkembangan.

Perlahan, dia mendekatkan wajahnya, mengecup pipi Aylin dengan lembut. "Selamat malam."

Aylin membuka mata dan berbisik, "Jangan macam-macam, Akay."

Nada suaranya datar, tapi cukup tegas.

Akay tersenyum kecil. "Aku tidak macam-macam," ujarnya, suaranya terdengar tenang, hampir seperti bisikan malam.

Aylin tidak menanggapi, hanya menghela napas pelan. Ia tahu peringatan itu tidak akan berpengaruh besar. Akay memang selalu begini, perlahan tapi pasti, seolah ingin menguji seberapa jauh ia bisa melangkah tanpa mendapat perlawanan.

Akay menunggu sejenak, memastikan Aylin tidak benar-benar marah. Tidak ada protes lebih lanjut, tidak ada usaha untuk melepaskan diri.

Tangannya yang tadi diam di pinggang mulai bergerak perlahan. Bukan gerakan agresif, hanya sentuhan ringan di atas kain baju tidur Aylin. Seperti sebelumnya, ia ingin membiasakan istrinya dengan kehadiran dan sentuhannya.

Suatu saat nanti, ia ingin mendapatkan haknya tanpa paksaan.

Aylin mungkin masih menutup diri, tapi bagi Akay, ini adalah celah kecil yang bisa ia manfaatkan.

Jadi, ia terus melakukannya. Dengan sabar.

Aylin sadar akan hal itu, tapi ia memilih diam. Percuma berdebat. Akay selalu punya cara untuk membuatnya terlihat berlebihan jika terlalu menolak.

Akhirnya, ia hanya bergumam pelan. "Tidurlah, Akay."

Akay tersenyum kecil, merasa menang meskipun tidak berkata apa-apa. Ia tahu ini bukan penerimaan penuh, tapi bukan juga penolakan.

Dan bagi Akay, ini sudah cukup untuk malam ini.

Hingga akhirnya, tanpa sadar, ia tertidur dengan lengannya masih melingkari tubuh istrinya.

***

Klub Malam

Winda duduk di sofa VIP, jari-jarinya bermain di bibir gelas cocktail yang sudah tinggal separuh. Jordi duduk di sebelahnya, menyender santai dengan sebatang rokok terselip di antara jarinya.

"Aku sudah coba cari tahu lebih dalam," kata Jordi, suaranya sedikit tertelan musik bass yang menggema. "Tapi perusahaan itu rapat banget. Karyawannya disiplin, loyal, nggak ada yang bisa disogok atau diiming-imingi."

Winda mendengus pelan. "Serius nggak ada yang bisa dibeli?"

Jordi menggeleng. "Mereka semua karyawan setia. Bahkan yang di posisi paling bawah sekalipun nggak bakal buka mulut tentang orang dalam perusahaan itu. Apalagi soal Akay."

Winda mengetuk kuku panjangnya di permukaan meja dengan irama pelan, ekspresi wajahnya dipenuhi frustrasi. "Kalau begitu, aku harus cari cara lain."

Jordi menyipitkan mata, menatapnya dengan penuh selidik. "Cara lain gimana?"

Alih-alih menjawab, Winda hanya menyunggingkan senyum misterius—penuh rencana yang belum ingin ia ungkapkan.

...🌟...

..."Perlahan tapi pasti, hatimu akan kumiliki. Bukan sebuah ambisi, hanya rasa yang ingin ku perjuangkan, harapan bahagia di akhir nanti."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Lusiana_Oct13
Gk tau mau komen apa pokoke keren lah
Lusiana_Oct13
Akhirnya tamat lagi novel nana saya baca makasih sekali lg na 🙏😍❤️
Lusiana_Oct13
lah aneh adek nya yg kalah kok nyalahin si aylin ?? berati adek mu masih di bawah standar aylin 🤭 lagian aylin tak nyruh adek mu untk latihan sampai dia kecelakan dasar oon🤣🤩
Lusiana_Oct13
Lah dia mau balas dendam sama aylin kenapa ya apa adek nya kalah balap cintanya di tolak lgsg bunuh diri 🤭
Lusiana_Oct13
Ngaaaak usaaahhh ngenyellll sok bisa melindungi diri sendiri ay si akay aja pake ank buah ny yg banyak apa lg km cm sendiri gk usah byk gaya nurut sama akay sudah 🤣🤣🤣😤😤😤
Lusiana_Oct13
lah pintu kamr mandi bukan nya di kunci ta sama ay kok bisa masuk akay ???
Lusiana_Oct13
Alaaaahhhhh cape dech basik di lepasin terus dah tau bini nya da mau mati di tangan ank buah winda 😤😤😤😤
Lusiana_Oct13
Lah kapan ayline mengahalang jalan dia emg sakit jiwa ni si winda 😤😤😤
Lusiana_Oct13
Uhuuuuuyyyyyyyyy yg di tunggu² akhirnya muncullll🤣🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Pernah baca kisah mereka tapi lupa di novel apa 🤭
Lusiana_Oct13
Ini kanaya yg sama gk sich Na dgn di novel km yg judulnya DIBELI TAKDIR ???
🌠Naπa Kiarra🍁: Nggak, Kak.🤗
total 4 replies
Lusiana_Oct13
Na kok aylin sekolah terus gk ada hari libur nya ya 😃😃😃 di akay juga sama kyk ni novel kerja rodi ya na 🤣🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Lah winda da emak nya jdi pelakor ank nya juga mau jadi palkor 🤭🤭🤭
Lusiana_Oct13
😃😃😃😃😃😃😃😃
Lusiana_Oct13
Kenepa lah si nenek gk bikin surat juga buat si aylin klo dia meningakin akay ato kabur wasiat ilang 😃😃😃
Lusiana_Oct13
Kenapa nenek cepat kali pergi nya 😢
Lusiana_Oct13
maaf ya na sekarang baru saya gaskennn baca nya 😃😃😃
🌠Naπa Kiarra🍁: Makasih, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
Lusiana_Oct13
Padahal NOVEL Nana saya sudah baca yg pertama KUPU² MALAM TAPI MASIH PERAWAN itu saya baca thn lalu kok saya gk lanjut ke novel berikut nya ya ah jadi neselll
limah
bagus🥰
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Diana Dwiari
begitulah wanita,harus terjawab semua yg ada di pikiran nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!