Akay, pemuda yang kadang bermulut pedas, terjebak dalam pernikahan dengan Aylin, gadis badung yang keras kepala, setelah menabrak neneknya. Itu adalah permintaan terakhir sang nenek—dan mereka harus menandatangani perjanjian gila. Jika Akay menceraikan Aylin, ia harus membayar denda seratus miliar. Tapi jika Aylin yang meminta cerai, seluruh harta warisan neneknya akan jatuh ke tangan Akay!
Trauma dengan pengkhianatan ayahnya, Aylin menolak mengakui Akay sebagai suaminya. Setelah neneknya tiada, ia kabur. Tapi takdir mempertemukan mereka kembali di kota. Aylin menawarkan kesepakatan: hidup masing-masing meski tetap menikah.
Tapi apakah Akay akan setuju begitu saja? Atau justru ia punya cara lain untuk mengendalikan istri bandelnya yang suka tawuran dan balapan liar ini?
Apa yang akan terjadi saat perasaan yang dulu tak dianggap mulai tumbuh? Apakah pernikahan mereka hanya sekadar perjanjian, atau akan berubah menjadi sesuatu yang tak pernah mereka duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Memilih Diam
Lampu-lampu redup berpendar di dalam klub malam, menciptakan suasana penuh gemerlap dan kebisingan. Di sudut ruangan, Winda duduk dengan anggun di sofa VIP, memainkan sedotan dalam gelasnya sambil menatap Jordi yang baru saja duduk di hadapannya.
"Lo dapet info yang gue minta?" tanya Winda tanpa basa-basi, suaranya terdengar ringan, tapi matanya penuh selidik.
Jordi menyeringai, menyandarkan punggungnya ke sofa dengan santai. "Dari teman-teman Aylin, katanya nama calon suaminya Akay."
Winda mengerutkan kening. "Akay?" gumamnya, mengulang nama itu, mencoba mengingat apakah ia pernah mendengar nama tersebut sebelumnya.
"Yup," Jordi mengangguk. "Gue juga cari tahu soal pekerjaannya. Katanya dia kerja di perusahaan Nugroho."
Winda menyipitkan mata, jelas tidak puas dengan informasi itu. "Sebagai apa?"
Jordi mengangkat bahu, menyandarkan tangannya ke sandaran sofa. "Itu dia masalahnya. Perusahaan itu sangat ketat, nggak sembarang orang bisa ngorek informasi di dalamnya. Gue udah coba, tapi nggak ada yang bisa kasih tahu dia kerja sebagai apa."
Winda menghela napas panjang, jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan gelisah. "Jadi dia bukan orang sembarangan," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Sepertinya begitu," Jordi mengangguk, lalu menyeringai. "Tapi gue yakin, kalau lo benar-benar niat, pasti bisa cari cara buat dapetin lebih banyak info."
Winda menyunggingkan senyuman miring. "Tentu saja," katanya pelan. "Kalau dia penghalang gue, berarti dia juga harus dihancurkan."
Jordi tertawa kecil, mengangkat gelasnya. "Gue suka ambisi lo, Win."
Winda hanya tersenyum tipis. Di dalam kepalanya, rencana mulai terbentuk.
***
Di Kantor Akay
Akay menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, kedua tangan bertaut di depan wajahnya. Seorang pria berjas hitam berdiri di depannya, memberikan laporan dengan suara tegas.
“Ada seseorang yang mencoba menggali informasi tentang Anda, Tuan,” lapor pria itu. “Namanya Jordi. Ia mencari tahu posisi Anda di perusahaan, tapi tak ada karyawan yang mau berbicara.”
Akay mengangkat alis. “Menarik. Dari mana dia mulai mencari?”
“Dari beberapa teman istri Anda, Aylin. Sepertinya dia juga berusaha mencari tahu lewat orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Anda di luar kantor.”
Mata Akay menyipit. Ia sudah terbiasa dengan banyak orang yang ingin tahu tentang dirinya, tapi biasanya mereka orang-orang dari dunia bisnis, bukan orang asing yang tak punya kaitan bisnis.
"Jordi…" Akay bergumam, nada suaranya dingin. "Bocah yang kalah taruhan dengan istriku… bahkan sempat mencoba mendekatinya, namanya juga Jordi. Melihat dari mana ia memulai penyelidikan, sepertinya mereka orang yang sama."
Matanya menyipit, penuh kewaspadaan. Setelah hening sejenak, ia akhirnya memberi perintah tegas, "Selidiki lebih dalam. Aku ingin tahu apa motifnya mencari tahu tentang aku."
Pria di depannya mengangguk tanpa ragu. "Baik, Tuan."
***
Di meja makan
Aylin masih sibuk menyendok makanannya, berusaha mengabaikan perasaan ganjil yang mengganjal di dadanya sejak kemarin. Sejak mendapat perkataan tajam dari Akay, Mira memang tak lagi berani mendekatinya, tetapi kejadian itu tetap meninggalkan rasa kesal yang enggan menghilang.
Saat Akay meletakkan sendoknya, ia melirik Aylin dan berkata dengan nada datar, "Pulang ke apartemen aja."
Aylin menghentikan gerakan tangannya. "Kenapa?" tanyanya, pura-pura tak peduli.
Akay mengangkat alis. "Aku lebih nyaman kalau cuma ada kamu di sekitarku."
Aylin nyaris tersedak. Tatapannya terangkat, mencari kepastian di wajah suaminya. Tapi, seperti biasa, Akay hanya menatapnya tanpa ekspresi berlebihan, seolah ucapannya tadi bukan hal besar.
"Gak ada hubungannya sama yang kemarin?" tanya Aylin akhirnya, mencoba membaca pikirannya.
Akay mengedikkan bahu. "Terserah kamu mau anggap apa. Tapi kalau kamu nggak nyaman, kenapa masih di sini?"
Aylin terdiam. Jujur, dia memang terganggu. Bukan karena cemburu—atau mungkin iya, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Lagipula, sejak kapan dia harus kabur cuma karena seorang pelayan genit?
Melihat Aylin tak langsung menjawab, Akay beranjak dari kursinya dan menunduk mendekatinya. "Aku nggak suka ada orang lain di sekitarmu," bisiknya di dekat telinga Aylin sebelum berbalik dan pergi begitu saja.
Aylin terkesiap. Jantungnya berdetak lebih cepat, pipinya terasa panas. Sialan. Kenapa harus bicara sedekat itu?!
Di sudut ruangan, Mbok Inem menahan senyum kecil sambil membereskan meja, seolah tak ingin ikut campur, tapi jelas menikmati momen itu.
Mira, yang diam di dekat dapur, menggigit bibirnya dengan kesal.
Sementara itu, Aylin hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Akay yang menghilang di balik pintu. Dan pada akhirnya, dengan penuh gengsi, dia tetap menurut kembali ke apartemen.
***
Setelah sampai di apartemen, Aylin langsung masuk ke kamar dan mengganti pakaian tidurnya. Akay menyusul tak lama kemudian. Tanpa banyak bicara, mereka berdua naik ke tempat tidur, mengikuti rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan.
Seperti biasa, Aylin membelakanginya. Namun, Akay tetap melakukan hal yang sama setiap malam—merapat dan melingkarkan lengannya di pinggang istrinya.
Kali ini, Aylin tidak protes. Tidak meronta, tidak menyuruhnya menjauh seperti sebelumnya. Hanya diam. Ia tahu percuma melawan, percuma berteriak atau menolak. Karena pada akhirnya, suaminya akan tetap melakukan apa yang diinginkannya dengan satu kalimat yang selalu membungkamnya—"Karena aku suamimu."
Akay tersenyum kecil dalam temaram lampu tidur. Baginya, ini adalah perkembangan.
Perlahan, dia mendekatkan wajahnya, mengecup pipi Aylin dengan lembut. "Selamat malam."
Aylin membuka mata dan berbisik, "Jangan macam-macam, Akay."
Nada suaranya datar, tapi cukup tegas.
Akay tersenyum kecil. "Aku tidak macam-macam," ujarnya, suaranya terdengar tenang, hampir seperti bisikan malam.
Aylin tidak menanggapi, hanya menghela napas pelan. Ia tahu peringatan itu tidak akan berpengaruh besar. Akay memang selalu begini, perlahan tapi pasti, seolah ingin menguji seberapa jauh ia bisa melangkah tanpa mendapat perlawanan.
Akay menunggu sejenak, memastikan Aylin tidak benar-benar marah. Tidak ada protes lebih lanjut, tidak ada usaha untuk melepaskan diri.
Tangannya yang tadi diam di pinggang mulai bergerak perlahan. Bukan gerakan agresif, hanya sentuhan ringan di atas kain baju tidur Aylin. Seperti sebelumnya, ia ingin membiasakan istrinya dengan kehadiran dan sentuhannya.
Suatu saat nanti, ia ingin mendapatkan haknya tanpa paksaan.
Aylin mungkin masih menutup diri, tapi bagi Akay, ini adalah celah kecil yang bisa ia manfaatkan.
Jadi, ia terus melakukannya. Dengan sabar.
Aylin sadar akan hal itu, tapi ia memilih diam. Percuma berdebat. Akay selalu punya cara untuk membuatnya terlihat berlebihan jika terlalu menolak.
Akhirnya, ia hanya bergumam pelan. "Tidurlah, Akay."
Akay tersenyum kecil, merasa menang meskipun tidak berkata apa-apa. Ia tahu ini bukan penerimaan penuh, tapi bukan juga penolakan.
Dan bagi Akay, ini sudah cukup untuk malam ini.
Hingga akhirnya, tanpa sadar, ia tertidur dengan lengannya masih melingkari tubuh istrinya.
***
Klub Malam
Winda duduk di sofa VIP, jari-jarinya bermain di bibir gelas cocktail yang sudah tinggal separuh. Jordi duduk di sebelahnya, menyender santai dengan sebatang rokok terselip di antara jarinya.
"Aku sudah coba cari tahu lebih dalam," kata Jordi, suaranya sedikit tertelan musik bass yang menggema. "Tapi perusahaan itu rapat banget. Karyawannya disiplin, loyal, nggak ada yang bisa disogok atau diiming-imingi."
Winda mendengus pelan. "Serius nggak ada yang bisa dibeli?"
Jordi menggeleng. "Mereka semua karyawan setia. Bahkan yang di posisi paling bawah sekalipun nggak bakal buka mulut tentang orang dalam perusahaan itu. Apalagi soal Akay."
Winda mengetuk kuku panjangnya di permukaan meja dengan irama pelan, ekspresi wajahnya dipenuhi frustrasi. "Kalau begitu, aku harus cari cara lain."
Jordi menyipitkan mata, menatapnya dengan penuh selidik. "Cara lain gimana?"
Alih-alih menjawab, Winda hanya menyunggingkan senyum misterius—penuh rencana yang belum ingin ia ungkapkan.
...🌟...
..."Perlahan tapi pasti, hatimu akan kumiliki. Bukan sebuah ambisi, hanya rasa yang ingin ku perjuangkan, harapan bahagia di akhir nanti."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
dan Aylin pun memukul dada Akay pelan dengan pandangan melotot .
gak nyangka dan gak nyadar makin romantis aja mereka .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
jadi percaya dan yakinlah Akay tidak akan meninggalkanmu dan dia akan selalu melindungimu .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ya'elah Aylin mana ada suami yang ngebiarin istrinya celaka...😒
biasanya sehari2x