Menikahi Gadis Badung

Menikahi Gadis Badung

1. Kecelakaan Jebakan

"Damn!"

Akay mengumpat pelan saat tubuh renta itu tiba-tiba terhuyung ke depan mobilnya. Rem diinjak mendadak, tapi terlambat, tubuh kecil itu sudah jatuh ke jalan dengan suara gedebuk.

Seketika, teriakan warga pecah.

"Astaga! Nenek Ros ditabrak!"

"Lihat tuh, orang kota ugal-ugalan!"

Akay turun dengan jantung berdebar. Seorang nenek tua bersimpuh di tanah, meringis sambil memegang lututnya. Wajahnya pucat, tapi ada sorot licik yang nyaris tak terlihat dalam bening matanya.

"Astaga, Nek! Saya nggak sengaja!" Akay berlutut, memeriksa apakah ada luka.

"Tolong saya, bawa nenek ini ke rumah sakit," ujar Akay kepada kerumunan warga.

Tapi alih-alih mengiyakan, mereka hanya saling bertukar pandang. Seorang lelaki paruh baya mendekat, membantu Nenek Ros berdiri.

"Tidak perlu ke rumah sakit, Nak," suara nenek itu serak, tapi cukup lantang. "Aku baik-baik saja... asal kau mau menepati tanggung jawabmu."

Akay mengernyit. "Maksudnya?"

"Menikahi cucuku."

Seketika, suara-suara gaduh kembali terdengar. Beberapa warga mengangguk-angguk, seolah mendukung gagasan gila itu.

Akay melongo. "Apa?! Nenek, saya bisa bayar biaya pengobatan, tapi menikahi cucu Nenek? Nggak masuk akal!"

Nenek Ros tiba-tiba tersungkur lagi, kali ini lebih dramatis. Kedua tangannya bersimpuh di jalan berdebu. "Aku mohon, Nak... Umurku nggak panjang lagi. Aku ingin melihat cucuku menikah sebelum aku mati..."

Akay menggeleng cepat. "Nenek, ini gila! Saya bahkan nggak kenal cucu Nenek!"

Kerumunan warga mulai bergumam. Beberapa terlihat kasihan, yang lain tersenyum-senyum seolah sudah tahu akhir ceritanya.

"Nenek Ros sudah banyak membantu desa ini," seseorang berkata.

"Iya, dia yang membangun balai desa ini, menyekolahkan anak-anak kita…"

Yang lain berbisik pelan, "Kasihan banget pemuda itu, harus menikah dengan cucu nenek Ros yang terkenal badung."

Orang yang dibisiki menyahut, "Di desa ini aja nggak ada yang berani mendekatinya."

"Apalagi berharap bisa mengendalikan cucu nenek Ros yang satu itu."

Akay meremas rambutnya frustasi. "Nenek, saya bisa bayar berapa pun biaya pengobatan, tapi menikahi cucu Nenek? Itu gila!"

"Tidak, Nak," Nenek Ros bersimpuh lagi di jalan, suaranya bergetar penuh kepasrahan. "Aku ingin mati dengan tenang. Cucu perempuan satu-satunya belum menikah, sedangkan umurku sudah di ujung tanduk. Jika kau benar-benar pria baik, kau akan memenuhi permintaan terakhir seorang nenek tua sepertiku…"

Akay menatapnya dengan napas memburu. Otaknya masih berusaha menemukan celah keluar dari situasi sinting ini. "Mimpi apa aku semalam?" batinnya ingin berteriak.

"Kalau saya menolak?" tanyanya dengan nada menantang.

Sorot mata Nenek Ros berubah. Dari pasrah… menjadi tajam dan penuh perhitungan.

"Kalau kau menolak," katanya, suaranya kini dingin, "aku tidak akan melepaskan tanahku untuk proyekmu. Kau ingat lahan di dekat sungai? Itu milikku."

Akay sontak membeku. "Apa?"

Warga yang tadi sibuk berbisik-bisik kini terdiam, menyadari bahwa ini bukan sekadar drama nenek tua yang ingin melihat cucunya menikah.

Nenek Ros tersenyum kecil. "Kau mungkin tak tahu, Nak, tapi tanah yang kau butuhkan untuk proyek besarmu itu… tanahku. Dan aku tidak akan menandatangani satu pun dokumen pelepasan tanah jika kau tidak menikahi cucuku."

Akay merasakan tubuhnya menegang.

Tidak. Ini tidak mungkin terjadi.

Selama ini, ia selalu percaya diri bahwa proyek yang sedang ia tangani akan berjalan lancar. Ia sudah berjanji pada atasannya bahwa semuanya akan selesai sesuai rencana. Tidak ada hambatan. Tidak ada celah bagi kegagalan.

Tapi sekarang?

Jika Nenek Ros benar-benar tidak melepaskan tanah itu, proyeknya akan berhenti. Atasannya akan menderita kerugian besar. Kepercayaan yang sudah ia bangun selama ini akan hancur.

Dan Akay benci kegagalan.

Tangannya mengepal. "Ini pemerasan."

"Pemerasan? Tidak, ini hanya… negosiasi yang adil." Senyum Nenek Ros kembali lembut. "Aku hanya meminta kau menikahi cucuku. Toh, kau pria tampan dan bertanggung jawab, bukan? Jangan khawatir, cucuku sangat cantik."

Akay menggeram. Ia ingin menolak, ingin kabur dari situasi gila ini. Tapi ia juga tahu, ini bukan sekadar ancaman kosong.

Jika ia menolak, maka ia harus siap menghadapi proyek yang berantakan.

"Astaga…" Akay menatap sekeliling, berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkannya. Tapi para warga hanya tersenyum penuh harap, seolah-olah mereka sedang menyaksikan acara pernikahan tahun ini.

"Sekarang bagaimana, Nak?" suara Nenek Ros terdengar sabar. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Bahkan memanggil cucuku ke sini. Kau hanya perlu mengucap akad."

Akay mengepalkan rahangnya begitu keras hingga nyaris retak.

Ia terjebak.

Dan tidak ada jalan keluar.

Akay sadar, ia sudah terperangkap.

Di tempat lain, Aylin menatap heran seorang lelaki yang berlari tergopoh-gopoh ke rumahnya.

"Aylin! Nenekmu tertabrak mobil!"

Jantungnya nyaris copot. "Apa?!"

"Dia ada di balai desa! Cepat ke sana!"

Panik, Aylin segera berlari.

Tapi saat tiba di balai desa, langkahnya langsung terhenti. Ia berdiri mematung di ambang pintu balai desa, matanya melebar melihat pemandangan di hadapannya.

Di hadapannya, bukan suasana genting khas kecelakaan. Bukan neneknya yang terbaring di atas tandu atau warga yang sibuk menolong.

Yang ada justru... pelaminan.

Tirai putih dan emas tergantung anggun, dihiasi bunga-bunga segar. Meja akad sudah tertata rapi, dengan buku nikah di atasnya. Para warga desa duduk rapi di kursi masing-masing, beberapa bahkan tersenyum penuh harap.

Ia menoleh ke kanan, melihat neneknya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Di sebelahnya, seorang pemuda berwajah tampan, tapi sorot matanya penuh kejengkelan.

"Selamat datang, cucuku," ujar Nenek Ros dengan suara dramatis. "Inilah calon suamimu."

Aylin butuh beberapa detik untuk mencerna semua ini sebelum akhirnya menoleh tajam ke arah neneknya.

"Apa-apaan ini?!" suaranya nyaris memekik.

Akay menatap Aylin dengan ekspresi yang tak kalah syok, melihat gadis yang akan dinikahinya. "Jangan tanya aku! Aku juga korban!"

Tapi Nenek Ros hanya tersenyum puas, sementara warga desa bertepuk tangan, seolah menyaksikan awal dari kisah cinta luar biasa.

Atau mungkin… perang dunia ketiga.

Aylin tertawa sumbang. "Nenek pasti bercanda."

"Tidak," jawab Nenek Ros ringan. "Nenek sudah menyiapkan semuanya. Akay sudah setuju."

Aylin menoleh ke pria yang disebut Akay, yang balas menatapnya dengan sorot mata sebal.

"Tunggu, tunggu." Aylin mengangkat tangan, meminta semua ini berhenti. "Nenek tiba-tiba menabrakkan diri ke mobil orang, lalu menyuruh pria asing ini menikah denganku? Nenek sehat?"

Beberapa warga tersentak mendengar nada kasarnya, tapi Nenek Ros tetap tenang.

"Aylin, dengarkan Nenek baik-baik," katanya dengan nada lembut tapi menusuk. "Nenek tidak punya banyak waktu. Sebelum meninggal, Nenek hanya ingin melihatmu menikah."

Aylin mengerutkan kening. "Menikah? Dengan orang yang bahkan tidak aku kenal?"

"Kalian bisa saling mengenal setelah menikah," balas Nenek Ros enteng.

"Astaga, ini konyol!" Aylin mengusap wajahnya. "Aku tidak mau menikah dengan siapapun! Apalagi dengan pria ini!"

Akay mengangkat alis, sepertinya tersinggung juga. Namun sesaat kemudian ia tersenyum ketika melihat rambut Aylin yang acak-acakan, dipadukan dengan kaus oversize, celana pendek ripped jeans, dan sandal jepit. "Kau sangat cantik."

"Tentu!" Aylin mengibaskan rambutnya dengan gaya dramatis, penuh percaya diri.

Akay tersenyum miring. "Sayang, keanggunanmu ketutupan sama gaya kayak habis berantem sama ayam. Wajahmu sih, mendukung buat jadi putri, tapi kelakuanmu lebih cocok jadi Tarzan. Gue? Ogah kawin sama cewek macem lu."

Para warga menahan tawa.

Nenek Ros? Dia hanya tersenyum makin puas.

Aylin membelalakkan matanya, wajahnya memerah karena amarah. "Sialan! Siapa juga yang mau nikah sama kamu? Tampangmu sih lumayan, tapi mulutmu seperti cabai setan!"

Dia menatap Akay tajam sebelum beralih ke Nenek Ros. "Lihat? Kami berdua menolak! Nenek nggak bisa memaksa!"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

sum mia

sum mia

dah di sini kak Nana.... semoga peminatnya banyak dan semua berjalan dengan lancar , berkah , barokah . aamiin 🤲 🙏🥰

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍

2025-02-26

4

Dek Sri

Dek Sri

Selamat ya kak Nara atas launching karya terbarunya, semoga sehat selalu dan sukses dalam berkarya

2025-02-25

2

asih

asih

mampir lagi Aku ..
Ni Anak andi paman Zayn kah

2025-02-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Kecelakaan Jebakan
2 2. Pernikahan Tanpa Cinta
3 3. Bendera Kuning
4 4. Amplop
5 5. Kabur
6 6. Tawuran
7 7. Tak Pernah Belajar
8 8. Tiket ke Neraka Kesabaran
9 9. Menyenangkan dan Menyebalkan
10 10. Godaan
11 11. Takut Tidur
12 12. Sejak Kapan?
13 13. Janda Genit
14 14. Tumirah Caper
15 15. Pagi yang Menyenangkan
16 16. Sengaja
17 17. Dicecar
18 18. Insiden Handuk
19 19. Perdebatan Diatas Ranjang
20 20. Mencari Kehangatan
21 21. Cemburu
22 22. Taruhan
23 23. Kejutan di Garis Finis
24 24. Hotel?
25 25. Nurut?
26 26. Calon Suami
27 27. Ending yang Sama
28 28. Gara-gara Suami
29 29. Balapan Lagi
30 30. Akay Datang
31 31. Hancurkan
32 32. Rencana Busuk
33 33. Topik Utama
34 34. Pujian
35 35. Memilih Diam
36 36. Pesta Ultah
37 37. GPS
38 38. Mabuk
39 39. Mengamankan
40 40. Konsekuensi
41 41. Skenario Baru
42 42. Permintaan Maaf
43 43. Pisah Ranjang
44 44. Menyerah atau Bertahan?
45 45. Akay dan Bismo
46 46. Menolak
47 47. Rencana Lain
48 48. Bukan Pertama Kalinya?
49 49. Panik
50 50. Lebih Rendah dari Sampah
51 51. Satu-satunya
52 52. Kambing Hitam
53 53. Sesuatu yang Lebih Besar
54 54. Pembicaraan Intens
55 55. Jodoh?
56 56. Apa Kurang Berarti?
57 57. Harga Diri
58 58. Rindu
59 59. Cerdas Menilai Situasi
60 60. Harusnya
61 61. Perasaan Aman
62 62. Pesan
63 63. Terlalu Dangkal
64 64. Cara Berbaikan
65 65. Sepenuhnya
66 66. Hiburan Pagi Hari
67 67. Antara Khawatir dan Cemburu
68 68. Tahanan
69 69. Klaim
70 70. Tunjukkan
71 71. Pijatan
72 72. Peringatan Terselubung
73 73. Melampiaskan Cemburu
74 74. Ketahuan
75 75. Ciuman Receh
76 76. Mengarahkan Target
77 77. Seni
78 78. Peringatan
79 79. Lebih Horor
80 80. Di Luar Dugaan
81 81. Bagaimana?
82 82. Karena Balas Budi
83 83. Mengelak
84 84. Hilang
85 85. Aksi Jalanan
86 86. Enggan
87 87. Toleransi
88 88. Jawaban Samar
89 89. Jangan-jangan...
90 90. Menjemput
91 91. Lima Menit
92 92. Tugas Baru
93 93. Akay - Bismo
94 94. Perang di Kegelapan
95 95. Mandi Malam
96 96. Kabar dari Bengkel
97 97. Telpon Misterius
98 98. Janji yang Tak Akan Pudar
99 99. Perang Dua Dunia
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Kecelakaan Jebakan
2
2. Pernikahan Tanpa Cinta
3
3. Bendera Kuning
4
4. Amplop
5
5. Kabur
6
6. Tawuran
7
7. Tak Pernah Belajar
8
8. Tiket ke Neraka Kesabaran
9
9. Menyenangkan dan Menyebalkan
10
10. Godaan
11
11. Takut Tidur
12
12. Sejak Kapan?
13
13. Janda Genit
14
14. Tumirah Caper
15
15. Pagi yang Menyenangkan
16
16. Sengaja
17
17. Dicecar
18
18. Insiden Handuk
19
19. Perdebatan Diatas Ranjang
20
20. Mencari Kehangatan
21
21. Cemburu
22
22. Taruhan
23
23. Kejutan di Garis Finis
24
24. Hotel?
25
25. Nurut?
26
26. Calon Suami
27
27. Ending yang Sama
28
28. Gara-gara Suami
29
29. Balapan Lagi
30
30. Akay Datang
31
31. Hancurkan
32
32. Rencana Busuk
33
33. Topik Utama
34
34. Pujian
35
35. Memilih Diam
36
36. Pesta Ultah
37
37. GPS
38
38. Mabuk
39
39. Mengamankan
40
40. Konsekuensi
41
41. Skenario Baru
42
42. Permintaan Maaf
43
43. Pisah Ranjang
44
44. Menyerah atau Bertahan?
45
45. Akay dan Bismo
46
46. Menolak
47
47. Rencana Lain
48
48. Bukan Pertama Kalinya?
49
49. Panik
50
50. Lebih Rendah dari Sampah
51
51. Satu-satunya
52
52. Kambing Hitam
53
53. Sesuatu yang Lebih Besar
54
54. Pembicaraan Intens
55
55. Jodoh?
56
56. Apa Kurang Berarti?
57
57. Harga Diri
58
58. Rindu
59
59. Cerdas Menilai Situasi
60
60. Harusnya
61
61. Perasaan Aman
62
62. Pesan
63
63. Terlalu Dangkal
64
64. Cara Berbaikan
65
65. Sepenuhnya
66
66. Hiburan Pagi Hari
67
67. Antara Khawatir dan Cemburu
68
68. Tahanan
69
69. Klaim
70
70. Tunjukkan
71
71. Pijatan
72
72. Peringatan Terselubung
73
73. Melampiaskan Cemburu
74
74. Ketahuan
75
75. Ciuman Receh
76
76. Mengarahkan Target
77
77. Seni
78
78. Peringatan
79
79. Lebih Horor
80
80. Di Luar Dugaan
81
81. Bagaimana?
82
82. Karena Balas Budi
83
83. Mengelak
84
84. Hilang
85
85. Aksi Jalanan
86
86. Enggan
87
87. Toleransi
88
88. Jawaban Samar
89
89. Jangan-jangan...
90
90. Menjemput
91
91. Lima Menit
92
92. Tugas Baru
93
93. Akay - Bismo
94
94. Perang di Kegelapan
95
95. Mandi Malam
96
96. Kabar dari Bengkel
97
97. Telpon Misterius
98
98. Janji yang Tak Akan Pudar
99
99. Perang Dua Dunia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!