NovelToon NovelToon
Jerat Cinta Pria Beristri

Jerat Cinta Pria Beristri

Status: tamat
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika / Showbiz / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Desy Puspita

Tak terima lantaran posisi sebagai pemeran utama dalam project terbarunya diganti sesuka hati, Haura nekat membalas dendam dengan menuangkan obat pencahar ke dalam minuman Ervano Lakeswara - sutradara yang merupakan dalang dibaliknya.

Dia berpikir, dengan cara itu dendamnya akan terbalaskan secara instan. Siapa sangka, tindakan konyolnya justru berakhir fatal. Sesuatu yang dia masukkan ke dalam minuman tersebut bukanlah obat pencahar, melainkan obat perang-sang.

Alih-alih merasa puas karena dendamnya terbalaskan, Haura justru berakhir jatuh di atas ranjang bersama Ervano hingga membuatnya terperosok dalam jurang penyesalan. Bukan hanya karena Ervano menyebalkan, tapi statusnya yang merupakan suami orang membuat Haura merasa lebih baik menghilang.

****

"Kamu yang menyalakan api, bukankah tanggung jawabmu untuk memadamkannya, Haura?" - Ervano Lakeswara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Via Suara

"Mas berangkat, I'll Miss you, Haura."

Orangnya sudah berlalu sejak beberapa jam lalu, tapi Haura masih terpaku. Tak hanya ciuman di kening, tapi usapan di perut yang Ervano berikan sebelum pergi seolah membuat tubuh Haura berdesir.

Ada sesuatu yang aneh dalam diri Haura, tentu saja tidak bisa dia utarakan dan bingung sendiri. Cara Ervano pamit dan menyebut dirinya sendiri sebagai Mas itu masih sangat asing, tapi begitu hangat.

Haura mengelilingkan pandangan, saat ini dia sendirian dan terasa cukup kesepian. Memang ada beberapa orang yang ditugaskan untuk menemaninya, tapi jelas tidak bisa dijadikan teman.

Selain karena mereka juga tampak membatasi diri, Haura bukan tipe yang mudah dekat sana sini. Dalam kesendirian itulah, Haura seakan punya ruang untuk merenungi sikapnya.

"Apa aku berlebihan ya? Tapi ... ah sudahlah, ngapain aku harus peduli? Inget juteknya dulu gimana, Ra!! Dia jahat, 'kan? Bisa jadi sikapnya yang tadi hanya karena merasa bersalah ... dzalim sih jadi manusia."

Haura memutuskan untuk bangkit dan berlalu segera. Mencari kesenangan yang lain agak tidak melulu dibuat bingung dengan isi pikirannya.

Kamar adalah pilihan utama, Haura merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamar.

Sejenak, pandangannya beralih menatap jam digital yang terletak di atas nakas. Menghitung kembali sudah berapa lama Ervano pergi dengan jemari sebelum kemudian kembali mengumpat dalam hati.

"Harusnya sudah sampai ya ... tapi kenapa dia tidak mengabari?"

Baru juga beberapa saat lalu Haura menolak untuk peduli. Akan tetapi, begitu sadar berjam-jam tak dikabari dia mulai mencari.

Mungkin karena terbiasa dengan Ray yang apa-apa memberikan kabar, laporan setiap saat walau memang jarang bertemu. Tak heran kenapa kini Haura seperti susah beradaptasi.

"Eh, tapi kan nomornya masih kublokir ya, gimana mau kasih kabar coba?" tanya Haura lagi kepada diri sendiri.

Tak ubahnya bak seseorang tanpa pendirian, Haura dibuat bingung sendiri. Segera dia meraih ponselnya, bermaksud untuk membuka akses Ervano agar bisa menghubunginya.

Namun, baru juga hendak mencari Haura kembali berhenti. "Tapi buat apa? Nan_"

Drrrt Drrrt Drrrt

Ponselnya bergetar, sebuah panggilan dari nomor baru dan tidak dia kenal sebelumnya masuk beberapa kali.

Dan, pertama kalinya Haura bersedia menerima dengan sedikit harapan bahwa penelpon tersebut adalah Ervano, sungguh.

Padahal, biasanya dia paling anti dan cukup sensi dengan nomor baru yang dia yakini sebagai milik Ervano.

Kendati begitu, dia tidak memperlihatkan bahwa dirinya antusias akan hal itu. Sengaja diam dan menunggu yang di seberang sana untuk menyapa lebih dulu.

"Hallo, Bu, selamat siang? Anak Anda bersama kami, berikan lima ratus juta jika ingin anak ini kembali!!"

Raut wajah Haura seketika berubah, harapannya seolah patah tatkala mendengar suara sok berat di balik telepon itu. Heran juga bagaimana bisa nomor ponselnya sampai ke penipu begini.

Haura yang malas dan sudah begitu ahli dalam hal ini hanya diam, tanpa menjawab tapi juga tidak memutuskan sambungan teleponnya.

"Hallo? Hallo, Bu ... Ibu dengar tidak? Dalam waktu 24 jam tidak_"

"Halah udah deh, Pak, ambil aja itu anaknya, terima kasih!!" kesal Haura kemudian memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Jika biasanya dia akan balik memainkan si penipu, hari ini Haura malas setengah mati. Suasana hatinya sedang tidak mendukung untuk menanggapi hal semacam itu.

Sudah kesal, dia semakin kesal saja. Baru saja hendak tenang, ponselnya kembali berdering dan saat itulah Haura meluapkan kekesalannya.

"Heh monyed!! Sudah kukatakan kalau mau ambil saja!! Kamu kira semua orang itu bisa ditipu iya? Anak saya bahkan masih sekecil kacang polong ... cerdas dikit kalau mau nipu, jangan pakai cara kamp_"

"Sayang?"

Gleg

Mata Haura mengerjap pelan, suara penelpon itu tidak lagi sama, terdengar familiar hingga perlahan Haura kembali memastikan nomor tersebut.

Seketika Haura menganga, sungguh baru dia sadari bahwa nomor yang menghubunginya saat ini telah berbeda. Emosi yang tadi meledak-ledak mendadak terganti rasa malu begitu saja.

"Ra? Kamu baik-baik saja?"

"Ah? I-iya baik," jawab Haura merendahkan suaranya.

Tidak lagi dengan menggunakan urat lantaran malu dan terkejut dalam satu waktu.

"Tadi kenapa marah-marah? Siapa yang nipu?"

"Oh, tadi ada penipu yang telepon begitu ... maaf, aku kira dia yang telepon lagi tadi." Kata maaf pertama terlontar dari bibir Haura untuk Ervano kali ini.

Setelah biasanya diam saja walau berhasil menyebabkan bahu Ervano terluka, untuk kesalahan yang kali ini dia meminta maaf karena ada umpatan tidak sopan di depannya.

Terdengar Ervano ber "oh" ria di seberang sana. Tampak tidak membesar-besarkan masalah.

"Oh iya, mau kasih kabar ... aku sudah sampai, sekarang di rumah."

"Rumah?" Haura mengerutkan dahi, jika Ervano di rumah, tidak munafik ada perasaan tak terdefinisi yang menyeruak tepat di ulu hati Haura.

"Hem, mau lihat?"

"Tidak, aku lagi di toilet soalnya," ucap Haura beralasan, hatinya benar-benar menolak dan mengira jawaban itu akan membuat Ervano menyerah.

.

.

Sebaliknya, mendengar Haura di toilet Ervano tanpa basa-basi mengalihkan panggilan telepon ke mode video sembari menggigit bibirnya.

Sembari bersiap mencari posisi untuk membuktikan ucapan istrinya, Ervano sabar menunggu panggilan tersebut diterima.

"Mana? Katanya di toilet?" tanya Ervano begitu sadar dimana Haura berada.

Terlihat jelas wajah istrinya tampak panik, dan Ervano dengan mudah menyimpulkan bahwa istrinya berbohong.

"Ha-ha-ha ketahuan, kamu sedang berusaha menghindariku sekarang?"

"Siapa yang berusaha menghindarimu? Ini baru balik dari toilet."

"Pandai sekali aktingmu, tidak mungkin dalam hitungan detik sudah di ranjang lagi ... kamu dari toilet terbang atau gimana?"

"Ih banyak tanya!! Iya aku bohong, kenapa memangnya?"

Ervano tergelak, emosi Haura yang kerap naik turun begini sungguh hiburan baginya. Lelahnya selama di perjalanan seolah gugur sudah, terlebih lagi Haura bersedia menerima panggilannya setelah selama ini hanya berakhir diblokir.

"Ya sudah, tadi cuma mau ngabarin ... barangkali istriku yang cantik ini khawatir," ungkap Ervano penuh kepercayaan diri walau tahu dia sedang bunuh diri.

"Idih kepedean!! Siapa juga yang khawatir?"

Kembali Ervano terkekeh pelan, ada saja yang lucu dari Haura. "Iya sudah, itu saja ... jangan lupa simpan save nomorku, jangan diblok lagi," tutur Ervano lagi.

"Iya, nanti aku simpan," jawab Haura malas-malasan.

"Kok nanti? Sekarang dong."

"Banyak mau, kusimpan nanti atau kublokir nih?" tanya Haura lagi dan berakhir gelak tawa dari Ervano.

Semakin galak, semakin menggemaskan dan ingin sekali dia makan sekarang, tapi jelas tidak mungkin.

Bahkan, beberapa saat usai panggilan berakhir Ervano masih senyum-senyum sendiri.

"Owh, jadi dia orangnya?"

.

.

- To Be Continued -

Abimanyu: Jeng-jeng!! Ini kah yang ditunggu penduduk bumi?

1
Efratha
baca part ini aku sampe ketawak bengek 🤣🤣🤣🤣
Efratha
jangan² Sofia kaum lesbiola 🤭
Efratha
pertengahan part ini hampir mewek saya bacanya,eh tetiba akhir jadi ngakak "anggap aja anak hantu " 🤣🤣🤣🤣
Borahe 🍉🧡
sempet"nya liatin ke mang Udin🙈
Borahe 🍉🧡
Persis Kayla dan Evan😂
Borahe 🍉🧡
bener bener mulut Haura. apa yg ada diotak itu yg diungkapin tanpa filter😂😂🙈
Borahe 🍉🧡
kecintaan banget pak
Borahe 🍉🧡
wihh banyak duit nih Bpk dua bini🤣
Borahe 🍉🧡
hahaah
Borahe 🍉🧡
hahaga panik gak
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙜𝙠𝙜𝙠𝙜𝙠𝙠𝙠... 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙗𝙤𝙩𝙤𝙡 𝙮𝙖𝙠𝙪𝙡𝙩 𝙚𝙝 𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙤𝙩𝙤𝙡 𝙠𝙚𝙘𝙖𝙥.😆😆😆
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙉𝙖𝙠𝙖 𝙗𝙨 𝙙𝙞 𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙟𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖... 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙠𝙞𝙩 𝙡𝙜 𝙡𝙪𝙡𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙙 𝙠𝙬𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙟𝙚𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙀𝙫𝙖𝙣, 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙩𝙥 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙃𝙖𝙪𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙥𝙡𝙞𝙨 𝙞𝙗𝙪 𝙮𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙚𝙘𝙚𝙬𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙙 𝙞𝙠𝙪𝙩2𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙟𝙜.𝙬𝙠𝙬𝙠𝙬𝙠𝙠...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙝 𝙕𝙚𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙠𝙧𝙣 𝙮𝙜 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙚𝙪𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙬𝙖 𝙩𝙥 𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙜𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙞𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙣𝙜𝙤𝙗𝙚𝙤𝙡 𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙢𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙡𝙜 𝙨𝙞𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙠𝙤𝙩𝙖/𝙥𝙪𝙡𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙖𝙖𝙞𝙝 𝙗𝙨 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙠𝙡𝙪𝙢𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙧𝙖𝙨𝙖𝙞𝙣, 𝙢𝙜 𝙃𝙖𝙪𝙧𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙨𝙞 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣𝙤 𝙟𝙜𝙣 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙖𝙗𝙖𝙞 𝙨𝙢 𝙩𝙪𝙜𝙖𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙥𝙡𝙪𝙨 𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙖𝙞𝙖𝙜𝙖.. 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙥𝙤𝙠 𝙨𝙚 𝙚𝙣𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙠𝙚𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙝 𝙑𝙖𝙣𝙤 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙡𝙜 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙛𝙛 𝙝𝙥 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙜𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣𝙢𝙪.. 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙤𝙧𝙞𝙩𝙖𝙨𝙠𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙪𝙙𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙝𝙥𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙠𝙩..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙒𝙧𝙫𝙖𝙣𝙞 𝙖𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙣𝙜𝙚𝙙𝙚𝙠𝙬𝙩𝙞𝙣 𝙝𝙥𝙡 𝙩𝙥 𝙝𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙤𝙛𝙛 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙧𝙚𝙨𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙧 𝙨𝙤𝙠𝙩𝙚𝙧 𝙨𝙞𝙖𝙜𝙖 𝙝𝙥 𝙖𝙠𝙩𝙞𝙛 𝙩𝙧𝙨 𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙩𝙚𝙥𝙪𝙠 𝙟𝙞𝙨𝙖𝙠, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜2 𝙩𝙥 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞 𝙡𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙪𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙬𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙞 𝙢𝙬𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙞𝙣.🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙬𝙖𝙨 𝙩𝙖𝙧 𝙠𝙚𝙩𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙤𝙢𝙤𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝘼𝙗𝙞𝙢, 𝙩𝙖𝙧 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙡𝙜 𝙟𝙖𝙢𝙞𝙡 𝙥𝙖𝙖𝙩𝙞 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙟𝙜 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙗𝙝 𝙙𝙧 𝙮𝙜 𝙀𝙫𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣.. 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙢 𝙙𝙞𝙚𝙡𝙪𝙨 𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙤𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙥 𝙙𝙞 𝙪𝙨𝙚𝙡2 𝙟𝙜.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙚𝙚𝙚𝙝𝙝𝙝... 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙪𝙢𝙥𝙪𝙠 𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙖𝙗 𝙙𝙧 𝙨𝙚𝙠𝙞𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙣𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙨 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙙 𝙩𝙖𝙢𝙖𝙩.🙂
aku baru
suka sekali membaca karya mb desy,,,,,terlebih tentang kisah keluarga megantara,,,,,hampir semua aq baca,,,,,tp kisah zavia ko sulit di cari yah????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!