Keharmonisan hubungan saudara kembar antara Cahaya dan Bulan menuai beragam masalah asrama setelah ibunya memperkenalkan mereka ke salah satu anak dari sahabatnya, Farid.
Segala upaya Ulan lakukan untuk merebut semua kebahagiaan dari kakak kembar nya.
Mulai dari merebut Lingga di zaman SMA, hingga saat Aya sudah berpacaran dengan Farid saat ini.
Ulan lakukan itu semua hanya karena ingin sang kakak keluar dari cangkang nya yang terlalu menyia-nyiakan seseorang.
Apakah Aya terus membiarkan Ulan melakukan itu? Atau akan membangkang sampai rahasia tersembunyi dari Ulan terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QUEENS RIA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Hari Pernikahan Aya.
Satu bulan kemudian pasca lebaran idul fitri.
Sesuai dengan apa yang di inginkan oleh orang tua, Hari ini Aya akan melangsungkan pernikahan nya bersama Farid.
Pernikahan ini pun digelar terbuka pada umum nya. Para tamu undangan mulai dari guru sekolahan, rekan bisnis orang tua, kerabat bahkan ayahnya Aya yang lama menghilang kini hadir sebagai wali nikah.
Rasanya Ulan senang sih kalau melihat kakak kembar nya akan melangsungkan pernikahan.
Lihatlah bagaimana cara Ulan tersenyum menutup luka hatinya yang amat mendalam, dari pada harus memikirkan —lebih baik ia mengiklaskan semuanya. Itulah prinsip hidup Ulan saat ini.
Baik Farid maupun Lingga, seseorang yang dekat sama Ulan kini mereka berdua akan meninggalkan Ulan karena alasan di jodohkan orang tua.
"Sudah Lan iklaskan aja, cowok masih banyak di dunia ini" Hibur Anya yang datang lebih awal untuk melihat upacara ijab kabul nya Aya dengan Farid.
"Saya sudah iklaskan Farid nikah sama kak Aya, tapi untuk Lingga? Bagaimana bisa iklas kalau dia ngeluh terus sama perjodohan dari orang tua nya" Jawan Ulan. Sebagaimana Lingga sampai detik ini pria itu tidak mau di jodohkan dengan Sasa.
Satu menit setelah Ulan menyebut kata Lingga, pemilik nama itu pun hadir untuk melihat proses jalannya ijab kabul.
Sambil ditemani Sasa, Ulan tak pernah absen memalingkan wajah nya dari pandangan sasa dan Lingga.
Ya, karena kalau melihat wajah lingga, entah kenapa perasaan Ulan diserang melankolis.
"Lan" Panggil Lingga. Calon lawan bicaranya tidaklah menjawab.
"Jangan ganggu Ulan dulu Ling" Timpal Anya.
Melihat itu, Sasa langsung menyeret lengan lingga untuk mendatangi masjid, tempat yang akan berlangsungnya upacara ijab kabul.
"Diem dulu kamu Sa, saya mau bicara sama Ulan" Sewot Lingga.
"Apa sih ling? Saya ini tunangan kamu, tapi kenapa kamu perhatian banget sama tuh cewek?" Sewot Sasa tak terima.
"Dari pada kamu harus marah gak jelas, lebih baik kamu duluan aja" Kata Lingga.
"Ling!" Sasa masih sewot seraya lingga bebal padanya.
"Ingat kan sama perjanjian kita? kalau kamu melanggar, saya bisa saja kabur dari perjodohan ini" Ancam Lingga.
Kalau sudah bahas perjanjian pernikahan kali ini Sasa terdiam. Dengan begitu lingga pun mengajak ulan untuk ngobrol empat mata.
Hingga Aya sudah keluar dari kamar rias, Ulan pun tersenyum dengan perasaan gundah gulana.
Sisi lain, Lingga lebih memilih menemani Ulan dari pada Sasa. Tanpa sadar jika Sasa sedang memotret kedekatan mereka.
Nantinya Sasa akan mengadu ke orang tua jika perjodohan ini tidak berjalan dengan yang diharapkan orang tua mereka.
Ibunya sasa sudah membayar hutang untuk biaya operasi orang tua lingga di rumah sakit.
Sebagai penebus hutangnya ya Lingga harus di tumbal kan untuk pernikahan anaknya.
Diketahui jika perusahaan naungan ayahnya lingga sedang mengalami finansial. Beliau sudah jarang berkomunikasi dengan kolega bisnisnya karena alasan kesehatan.
Alhasil uang untuk seluruh biaya pengobatan di rumah sakit dilimpahkan semua ke orang tua nya Sasa.
Berbeda terbalik dengan perjodohan Aya dan Farid, karena masing-masing ibu dari kedua pasangan tersebut terbilang bersahabat sejak dulu. Ya, mereka ingin sekali besanan.
Dari pada mikirin Aya, jika Ulan lah yang lebih ditinggalkan dari kedua cowok dekatnya.
Untungnya Lingga tidak seperti Farid, pria itu sedikit bebal karena ingin Ulan lah yang akan mejadi pasangan dalam hidupnya.
Sepuluh menit kedepannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Cahaya Putri Aldira binti Rezaldi Algantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Kata Farid.
"SAHHH!!!!" Teriakan para saksi dan warga setempat yang melihat.
Semenit kemudian, Ulan langsung pergi dari masjid dimana ijab kabul itu dilaksanakan.
Agaknya Ulan seperti anak hilang duduk sendirian di kursi penyambutan tamu undangan.
Mangkirnya Ulan karena tidak ingin melihat kakak nya saling cium dengan Farid pasca ijab kabul.
Sialnya saat Ulan ingin menetralkan pikiran carut marut nya, Lingga di belakang sana mengikuti kemana Ulan tuju.
"Lan" Kata Lingga. Saat namanya dipanggil, Ulan menoleh seraya menopang pipi dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Ngapain kamu kabur dari masjid?" Tanya Lingga
"Enggak apa-apa, biarin saya sendiri dulu" jawab Ulan. Agaknya Lingga memberontak, ia duduk di samping Ulan untuk menemaninya.
"Resepsi pernikahan kan jam sepuluh, masih ada dua jam lagi, tamu juga belum semuanya datang, masuk dulu yuk lihat kakak kamu mau sungkeman sama tukar cincin" Kata Lingga.
"Panas disana, gak kuat" Ulan menjawab seraya melihat Sasa yang celingukan mencari lingga "Tuh tunangan kamu sudah nyariin"
"Biarin aja sudah gak peduli saya, yang saya pedulikan cuma kamu Lan" Jawab Lingga.
Dua menit setelahnya Sasa menghampiri.
Saat sudah mengadu berupa ngirim foto yang sudah ia jepret ke calon mertuanya. Sasa di suruh Bu Ainun untuk mengawal lingga dari kedeketan Ulan.
Ulan terdiam sambil menutup kedua telinga di saat dia mendengar mereka tengah asik bertengkar seraya adu mulut.
.