Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17. Perasaan Aneh
La Serein terasa lebih tenang sore itu, Aktivitas dapur mulai mereda, aroma kaldu yang menguar sejak pagi perlahan memudar, dan hanya beberapa koki yang masih membereskan stasiun kerja mereka. Noa yang telah mengganti pakaiannya kembali ke busana rapi miliknya, duduk di lounge kecil dekat pintu masuk restoran sambil menunggu supir keluarga Van Bodden menjemputnya.
Ia mengusap kedua telapak tangannya, masih terasa lembut bekas memegang sayuran, adonan, dan berbagai peralatan masak. Hari ini cukup melelahkan, namun hatinya penuh hal baru. Matanya menatap keluar jendela, melihat langit Paris yang berwarna jingga keemasan yang cantik.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekatinya, Noa menoleh. Louis berdiri di sana, masih memakai apron namun rambutnya sudah dilepas dari ikatan sehingga jatuh sedikit berantakan, entah bagaimana, justru membuatnya terlihat lebih menarik.
“Apa ada seseorang yang menjemputmu?” tanya Louis sambil menyandarkan tubuhnya pada pilar di samping Noa. Noa mengangguk pelan. “Iya. Mereka bilang akan segera datang.”
Louis tersenyum tipis. “Hari pertama di dapur kami, kau hebat, Noa. Kebanyakan orang biasanya kewalahan.” Noa menggeleng cepat. “Aku masih kaku, Dan masih banyak yang harus kupelajari.”
“Kaku itu wajar. Yang penting kau punya keinginan untuk belajar. Dapur bukan tempat untuk orang yang mudah menyerah.” Louis meliriknya sebentar. “Tapi aku bisa lihat kau bukan tipe yang seperti itu.” Pujian itu membuat pipi Noa sedikit hangat. “Terima kasih, Aku akan berusaha.”
“Aku senang menjadi mentor pertamamu,” ujarnya sambil menyilangkan tangan. “Aku suka caramu memperhatikan detail. Saat kau memotong bawang tadi, kau tidak takut mencoba. Itu penting.” Noa tertawa kecil. “Aku lebih takut membuat restoran ini runtuh karena kesalahanku.”
Louis ikut tertawa, ringan namun tulus. “Kalau pun itu terjadi, Marcel yang harus disalahkan karena mempercayakanmu padaku.” Noa tersenyum, ini pertama kalinya ia merasa nyaman sepanjang hari. Setelah jeda sejenak, Louis menurunkan suaranya, terdengar lebih hati-hati.
“Kalau kau butuh bantuan apa pun, soal pelajaran, atau sekedar ingin tahu cara bertahan hidup di dapur, kau bisa tanya padaku kapan saja. Aku ada di sini hampir setiap hari.” bisik Louis lalu mengedipkan sebelah matanya. Noa mengangguk. “Baik. Terima kasih.”
“Tentu.” Louis tampak ragu sebentar, namun akhirnya menambahkan, “Oh, dan… Noa?”
“Ya?”
“Kau cocok dengan dunia ini.” Louis tersenyum simpul, lalu berbalik. “Sampai jumpa besok.” ujar Louis lalu pergi, Noa menatap punggungnya yang menjauh kembali ke dapur.
Tepat saat itu, mobil keluarga Van Bodden berhenti di depan pintu kaca, dan supir keluar untuk membukakan pintu untuk Noa. Ketika ia berdiri dan hendak berjalan ke mobil, Noa menyentuh dadanya. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda, halus, kecil, tapi ada. Bukan cinta. Bukan juga kekaguman. Lebih seperti, pintu baru yang terbuka sedikit demi sedikit.
...♡...
Malam itu setelah Noa sampai di rumah besar keluarga Van Bodden, langkahnya langsung terarah pada satu tujuan, yaitu mencari Riana. Ia ingin memastikan kondisi baik-baik saja setelah seharian menjalani terapi kemo dan ingin menceritakan harinya yang menyenangkan di Le Serein. Namun rumah yang luas itu terasa terlalu hening. Riana tidak ada di kamarnya, tidak di ruang baca, bahkan tidak di ruang keluarga. Noa menarik napasnya perlahan, lalu mengikuti firasatnya menuju taman belakang.
Begitu ia mendorong pintu kaca besar yang mengarah ke taman, pemandangan itu langsung menyambutnya. Di tengah taman yang diterangi lampu-lampu kecil dan sinar bulan, Riana duduk bersandar pada bahu Landerik. Lelaki itu menutupi tubuh kurus Riana dengan mantelnya sendiri, menjaga agar tubuhnya tak kedinginan. Sesekali Landerik membetulkan selimut tipis yang menutupi kaki Riana, sementara Riana tersenyum lemah sambil menatap bintang.
“Aku menyukai malam seperti ini,” terdengar suara Riana lirih, hanya samar di telinga Noa yang berdiri jauh. “Tenang dan hangat.”
“Kau selalu menyukai malam seperti ini,” jawab Landerik dengan suara lembut yang jarang ditunjukkannya pada siapa pun. “Dan aku selalu ada di sini.”
Noa terdiam.
Ada sesuatu yang menusuk lembut di dadanya, bukan cemburu, lebih seperti rasa asing yang sulit dijelaskan. Ia tahu Landerik dan Riana memiliki hubungan yang sangat dalam sebelum perjodohan terjadi. Ia tahu ketergantungan itu belum hilang, dan mungkin tidak akan pernah hilang. Noa menunduk, menelan napasnya sendiri sebelum sebuah senyum kecil terukir di sudut bibirnya. Senyum pahit namun tulus.
“Aku senang mereka bersama disini,” bisiknya pada diri sendiri. Tanpa ingin mengganggu keduanya, Noa melangkah mundur perlahan, menutup kembali pintu kaca tanpa suara. Ia berjalan menuju kamar barunya di lantai atas. Setelah mandi dan mengganti pakaian, Noa keluar ke balkon. Angin malam Paris menyapu lembut wajahnya. Dari sana ia bisa melihat sedikit bagian taman belakang, lampu kecil yang menyala tanda bahwa Riana dan Landerik masih di sana.
Noa memeluk kedua lututnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang seorang diri. “Semoga mereka selalu bahagia,” gumamnya. Di bawah taburan bintang itu, Noa duduk sendirian letih, dengan hati yang terasa aneh, tetapi tetap penuh kasih. Karena pada akhirnya, ia datang ke rumah itu bukan untuk memiliki apa pun. Ia hanya ingin merawat Riana sampai akhir, sesuai janjinya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Noa merasa dirinya benar-benar sendirian meskipun berada di rumah yang begitu besar.
To Be Countinue...