Caroline Blythe Berasal dari keluarga Broken Home dengan ibu yang harus masuk panti rehabilitasi alkohol. Hidup sebatang kara tidak punya kerjaan dan nyaris Homeless.
Suatu ketika mendapat surat wasiat dari pengacara kakeknya bahwa beliau meninggalkan warisan rumah dan tanah yg luas di pedesaan. Caroline pindah ke rumah itu dan mendapatkan bisikan bisikan misterius yang menyeramkan.
Pada akhirnya bisikan itu mengantarkan dirinya pada Rahasia kelam sang kakek semasa hidup yang mengakibatkan serentetan peristiwa menyeramkan yang dialaminya di sana. Mampukah Caroline bertahan hidup di Rumah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leona Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investigasi
Caroline’s POV
Setelah Harry menjauh, aku segera melepas pelukanku dari Julian. Ada perasaan malu yang segera merayapi hati dan pikiranku, terlebih melihat tatapan Julian yang penuh selidik. Bergegas aku berlari masuk rumah dan menuju kamarku di lantai dua. Aku mendengar teriakan Julian mencegahku pergi begitu saja. Persis ketika aku sampai di depan pintu kamarku, seketika Julian menarikku dan berkata,” Setidaknya ucapkan terimakasih dan jangan pergi begitu saja seperti gadis tidak tahu sopan santun.”
Tak kuasa lagi aku membendung air mataku dan menoleh padanya seraya berkata, “ Terimakasih Julian, maaf aku sudah membuatmu bingung.”
Ketika aku berusaha melepaskan diri dari pegangannya, dia kembali berkata,” Aku butuh penjelasan atas apa yang terjadi tadi. Namun sepertinya kau belum siap.”
Lalu Julian melepas pegangannya dan membiarkanku masuk ke kamar. Di dalam kamar aku menangis sejadi jadinya. Masih aku dengar langkah kaki Julian berjalan perlahan mendekati pintu, namun kemudian terhenti. Dan sesaat kemudian kudengar langkah kakinya menjauh. Aku merebahkan diriku diatas kasur dan membenamkan kepalaku ke dalam bantal lalu berteriak sejadi jadinya sampai aku tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas saat aku terbangun, hujan deras menghantam atap rumah tua ini. Begitu kencangnya hingga meninggalkan bunyi seperti runtuhan bebatuan di atas genting. Aku bangun karena rasa dingin yang menusuk, diikuti rasa lapar yang tak tertahankan. Perlahan aku bangun dan melangkah keluar kamar. Sepi.
Aku tidak melihat Julian dimanapun. Perlahan aku berjalan ke arah dapur, yang ternyata juga sepi. Tiba tiba kau merasa ada sesuatu yang berdiri di belakangku, secepat kilat aku menoleh, dan ternyata Charles ada di sana, diam mengamati. Tubuhnya transparant seperti hologram. Dalam kondisi seperti itu biasanya Charles merasa terancam atau tidak nyaman. Dan Sejak ada Julian memang dia muncul lebih sering dalam kondisi macam itu.
“Mengapa kau menangis?” tanya Charles dengan suara bergema
Aku menunduk lalu menjawab,” Tidak ada masalah apa apa.”
“Jangan bohong. Katakan dengan Jujur, siapa yang menyakitimu,”
“Harry, dia datang. Aku melihatnya di Losmen Nyonya Jenkins, “ ujarku singkat
Baru saja aku membuka mulut hendak berbicara lagi dengan Charles, tiba tiba Julian masuk. Dia menatapku dengan heran dan memiringkan telinganya.
“Aku mendengar kau berbicara tentang losmen Nyonya Jenkins. Kau bicara dengan siapa Caroline?” tanya Julian.
Aku terkesiap, dan mencoba mencari jawaban sekenanya,” Ti…Tidak, kau salah dengar, aku tidak bicara apapun dengan siapapun.”
Julian membiarkanku pergi. Namun sesat setelah aku agak jauh dia tiba tiba berteriak,” Jika kamu ingin masalah di rumah ini selesai, tidak lagi jadi rumah hantu, dan kau bisa nyaman tinggal di sini, seharusnya kau bisa bekerjasama dan bukan malah menghindarku, dan tidak mau menjelaskan banyak hal.”
Aku berhenti berjalan dan seketika menoleh padanya, kutatap tajam wajahnya seraya berkata “Baiklah jika kau ingin aku jujur. Baru Saja aku berbicara dengan Salah satu lost soul bernama Charles. Dia ada di belakangku menghadap ke arah punggungku. Aku sekilas melihatnya dalam bentuk seperti hologram yang transparan.”
Seketika wajah Julian menegang, dan melihat ke arahku dengan penuh tanda tanya.
“Percaya kau sekarang padaku Julian? Atau kau lebih menganggap aku terkena halusinasi tingkat berat?” ujarku.
Julian menatap tajam ke arahku dan berkata, “ Dimana lokasi Charles berada? Aku akan memeriksanya.”
Saat itu kulihat charles masih berdiri di dekat meja makan bagian pinggir tengah. Aku pun menunjukkan arah itu pada Julian. Lalu dia mendekati area itu dengan menggunakan Ghost detector. Dan bergeraklah detektor itu dan mengeluarkan bunyi beep..Beep…beep pertanda alat memindai sebuah gelombang elektromagnetik yang cukup pekat di sana.
“Kau tidak halusinasi, ada getaran gelombang dari Energi Elektromagnetik yang dipancarkan oleh hantu Charles, dan tertangkap di alat ini.” ujarnya sambil takjub memandangku”
Charles tampak tidak nyaman kehadirannya dapat dideteksi oleh alat Julian. Raut wajah Charles menunjukkan wajah tidak suka. Tak berapa lama kemudian dia menghilang.
Alat yang dipegang Julian pun berhenti memancarkan bunyi beep. Dia menoleh padaku dan bertanya, ”Apakah charles sudah pergi?”
Aku mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Julian terbengong bengong sendiri.
*****
Malam itu sekitar pukul 7 malam, aku melangkah menuju ruang tamu utama, dimana Julian sedang asyik berbicara dengan Melisa. Aku membawa satu nampan penuh berisi makanan serta minuman hangat. Perlahan aku berjalan menuju mereka berdua yang sedang membicarakan sesuatu.
“Ah, aku pikir kau tidak akan pernah turun dari kamarmu,” ujar Julian.
Seketika Melisa berdiri, dia membantuku menata semua makanan dan minuman yang kubawa ke atas meja. Lalu dia mengikutiku melangkah ke dapur, sewaktu aku hendak mengembalikan nampan.
“Caroline, apa yang kau lakukan tadi siang pada Harry? Mengapa kau katakan padanya jika Julian adalah pacarmu? Ada apa denganmu Caroline?” tanya Melisa dengan suara berbisik. Sepertinya dia khawatir jika Julian mendengar pembicaraan kami.
“Beberapa waktu lalu, aku dan Harry berencana meninggalkan rumah ini, Ravenmoore dan juga kehidupan kami. Aku dan dia berencana menikah entah dimana. Mungkin Amerika. Aku tidak ingin hidup dalam ketidakpastian hubungan dan hinaan ibu serta tunangannya. Namun ternyata Harry tidak pernah datang. Dia mengirim pesan pendek keesokan paginya, bahwa dia tidak bisa mewujudkan rencana kami tanpa alasan yang jelas. Lalu mengirim sejumlah uang ke rekening, seolah aku hanya butuh uang dia dan bukan penjelasannya.”
Melissa menghela nafas panjang,” Ibu Harry tahu rencana kalian dan jatuh sakit. Beliau masuk ICU. Harry bertengkar hebat dengan ayah tirinya karena hal itu. Situasi memburuk ketika keluarga tunangan Harry berkunjung dan menanyakan keseriusan Harry. Dia tidak berkutik. Dia tidak bisa pergi.”
Aku hanya menunduk mendengar semua itu. Lalu aku melihat ke arah Melisa dan berkata,” Untuk itulah aku ingin membuat dia membenciku dan pergi menjauh. Karena aku tidak ingin menjadi batu sandungan untuk hubungan dia dan keluarganya. Mungkin aku salah, tapi aku tidak punya pilihan. Aku tahu Harry tidak akan mampu berbuat apa apa terkait hubungan kami. Masalah dirinya dan keluarganya terlalu kompleks.”
Setelah itu aku kembali ke ruang tamu utama dan mencoba melupakan pembicaraanku dengan Melisa. Tak lama Melisa pun bergabung denganku dan Julian lalu kami larut dalam diskusi tentang sejarah Ravenmoore dan rumah tua ini.
“Aku besok berniat mencari tahu tentang rumah ini dan statusnya. Seperti kapan dia dibangun, siapa pemilik pertamanya, siapa saja yang pernah tinggal disini dan seterusnya. Karena tanpa itu semua, nampaknya menyibak misteri rumah ini akan menemui hambatan,” ujar Julian
Melisa lalu menoleh ke arahku dan berkata,” Sepertinya kau perlu menemui pengacara mu di London untuk menggali tentang kakekmu. Aku rasa kamu juga perlu bertanya pada ibumu tentang ayahnya. Kau bisa memfoto lukisan ini dan menunjukkan padanya. Apakah dia mengenalinya atau tidak.”
Aku menarik nafas panjang lalu berkata pada mereka,” Aku pernah membawa foto Lukisan ini pada ibuku. Sayang, ibu tidak mengenalinya. Ibu sudah kehilangan jejak kakek sejak masih bayi. Bisa dikatakan dia tidak mengenal ayahnya dengan baik. Terlebih kondisinya di panti rehab alkohol. Aku tidak ingin memperburuk hal itu.”
“Caroline benar, aku rasa memulai dari desa ini adalah langkah yang baik. Atau mungkin kita bisa bertanya pada warga di sini, seperti nenek Luisa,” ujar Julian.
Diluar dugaan Melisa menggelengkan kepala, dan berkata,” Desa ini penuh misteri, sama seperti rumah ini. Ada baiknya kita jangan bertanya pada penduduk desa, melainkan pada otoritas yang lebih tinggi atau mungkin menggali informasi di perpustakaan daerah.”
Julian mengerutkan kening lalu bertanya,” Apakah kau tidak mempercayai nenek Luisa?”
Melisa mendengus,” Aku bukan tidak percaya, tetapi dalam penglihatanku, masyarakat di desa ini tidak bisa dipercaya.”
“Mengapa?” tanyaku padanya. “ Sejauh pengalamanku tinggal di sini, nenek Luisa adalah orang yang baik dan bisa dipercaya,” ujarku
“Entahlah Caroline, aku hanya melihat secara batin, bahwa segala tentang desa ini tidaklah seperti apa yang kita lihat dengan mata kepala kita. Ada banyak hal yang mereka sembunyikan. Dan berjaga jaga adalah jauh lebih baik ketimbang mengumbar info atau mencari info pada orang yang salah,” jelas Melissa.
“Maaf nenek Luisa, bagiku masih terhitung kerabat jauh. Memang aku dan keluarganya tidak begitu dekat. Tetapi aku tidak pernah dengar hal buruk tentang beliau. Selama tidak ada bukti bahwa dia jahat, aku rasa tidak fair jika aku mencurigainya seperti pikiranmu,” kata Julian agak meninggi.
“Maaf Julian, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tetapi aku percaya instingku, bahwa ada sesuatu hal yang negatif yang orang desa ini rahasiakan tentang diri mereka. Dan aku belum bisa menjelaskannya apa, karena masih kabur. Namun biasanya instingku tidak pernah salah,” jawab Melisa.
Akhirnya kami sepakat, bahwa Julian akan mencari Info terkait rumah ini di Ravenmoore seperti ke kantor arsip desa atau melakukan wawancara ringan dengan beberapa penduduk. Sedang aku dan Melissa akan pergi menemui tuan Richard Hastings, pengacara kakek di London.
****