Setelah meninggal nya suami dan calon bayinya, Reyna di pertemukan lagi dengan keluarganya dan dipaksa menikah untuk menguatkan kerja sama perusahaan.
Dengan segala ancaman, akhirnya Reyna bersedia menikah lagi namun betapa terkejutnya ia bahwa ternyata dia menjadi istri kedua dari Arsen Megantara.
Hidup bersama dengan suami dan istri pertamanya, membuat Reyna selalu terbayang akan kebersamaan dengan Doni, suaminya yang dulu.
Ini karakternya strong women ya teman-teman... Dan Arsen juga nggak kalah baiknya..
Novel pertamaku. Semoga syukaaaa...
Harap bijak memberikan komentar 🙏
Happy reading ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reyna, ucapan mu membuat ku sakit !
🍓🍓🍓
Baru saja Reyna membuka pintu kamar mandi, ia mendengar suara Arsen sedang bicara.
Pada siapa lagi Arsen se perhatian itu kalau buka pada Anita. Jadi ia memutuskan menunggu di dalam kamar mandi sampai Arsen selesai menelpon.
Bukan bermaksud menguping. Tapi, jika ia keluar sekarang kemungkinan Arsen akan menutup telfonnya.
Di dalam kamar mandi, Reyna berpikir. Apa yang sebenarnya sudah terjadi antara ia dan Arsen. Kenapa dengan mudahnya ia membiarkan Arsen merobohkan pertahanannya. Apa iya ia haus kasih sayang ataukah memang haus sentuhan.
Reyna menggelengkan kepala. Tidak mungkin baginya menjadi wanita seperti itu.
"Iya, sebentar lagi aku akan pulang. Kamu makan dulu ya. Nanti kita periksa ke Dokter". Suara Arsen masih terdengar.
'Bukannya aku sudah tau kalau Arsen itu milik wanita lain. Tapi kenapa saat aku tau dia memperhatikan wanita itu, ada sesuatu yang salah dihati ku. Apa aku cemburu ? Tapi apa yang Arsen lakukan untuk wanita itu, juga Arsen lakukan padaku'.
"Yasudah kamu istirahat lagi ya. Aku siap-siap dulu. Assalamualaikum". Kata Arsen rupanya mengakhiri percakapan di telfon.
Reyna terhenyak. Ia membenarkan penampilan nya kemudian keluar dari kamar mandi seolah tidak mendengar apa-apa.
"Sudah selesai?" Tanya Arsen melihat Reyna yang baru keluar. Arsen tidak menyadari kalau Reyna sudah membuka pintu kamar mandi sedari tadi sebab Arsen duduk membelakangi pintu.
"Kita pulang jam berapa Rey ?" Tanya Arsen lagi.
Reyna yang duduk di meja rias sambil memakai skincare nya melihat Arsen dari pantulan cermin.
"Sekarang saja".
"Hem. Baiklah". Jawab Arsen. Ia masih sibuk dengan ponselnya. Entah berkirim pesan dengan siapa atau sedang mengerjakan apa.
Reyna terlihat bimbang. Sejujurnya ada sesuatu yang ingin ia katakan. Tapi hati kecil nya seolah melarang.
"Kita sarapan diluar saja ya nanti dijalan. Habis ini kita langsung checkout saja". Jelas Arsen sambil melihat Reyna yang berdandan.
Arsen tersenyum. Ia bangkit dan merangkul Reyna dari belakang. Mereka sama-sama saling menatap dalam cermin.
"Jangan berdandan lagi. Kamu sudah cantik". Bisiknya di telinga Reyna.
Mata Reyna terbelalak. Terkejut sekaligus merinding merasakan sentuhan Arsen.
Dadanya bergemuruh hebat. Ia bahkan tidak mampu untuk sekedar menoleh ke samping atau melihat Arsen dari pantulan cermin.
Tulang nya seperti lunak. Tidak bisa bergerak. Yang bisa ia lakukan hanya mengedipkan mata.
Tanpa diduga, Arsen mencium pipi Reyna. Kemudian kembali ke ranjang untuk mengenakan jas nya.
"Kamu mau makan apa Rey ?" Tanya nya tanpa memperdulikan ekspresi membeku Reyna.
Reyna tersadar. Ini tidak benar. Ia seperti takut melanjutkan semua ini. Ia merasa menjadi selingkuhan yang bermalam dengan suami orang.
"Arsen. Aku mau bicara". Kata Reyna pada akhirnya.
Debaran di dadanya belum juga hilang. Tapi ia tetap harus mempertegas hubungan ini.
Arsen berbalik badan. " Iya.. Kenapa ?"
"Aku harap yang terjadi semalam adalah hal pertama dan terakhir untuk kita. Setelah ini tolong tepati janji kamu untuk bercerai. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku tidak mau jadi istri kedua mu. Atau bahkan jika kamu bercerai dengan Kak Anita, aku tetap tidak mau jadi istri mu. Jadi aku tolong, lepaskan aku. Anggap saja yang terjadi semalam adalah bayaran untuk sebuah kebebasan". Kata Reyna tanpa berani menatap Arsen.
Betapa terkejutnya Arsen mendengar Reyna mengatakan itu. Wajahnya seketika memerah. Tidak menyangka setelah apa yang mereka lakukan dengan sukarela tadi malam, kini dengan jelas Reyna menginginkan perpisahan.
"Coba katakan sekali lagi". Kata Arsen dingin. Ia langkahkan kaki kearah Reyna dan dengan cepat menarik tangan Reyna agar berdiri juga.
Reyna berdiri karena tarikan Arsen. Kini mereka saling menatap. Reyna berusaha sekuat tenaga menatap Arsen dengan berani. Jangan sampai ada air mata yang jatuh. Jangan sampai Arsen tau kalau dia juga terluka dengan kata-kata nya sendiri.
"Jadi kamu memberikan tubuhmu hanya untuk imbalan perceraian Rey ? Kamu anggap aku sebejat itu ?" Kata Arsen benar-benar marah.
"Hem. Bukankah itu yang kamu mau dengan punya dua istri. Tapi maaf Arsen, aku tidak tertarik menjalin hubungan yang rumit dengan kamu".
Arsen tertawa kecil. Sungguh sakit . Apa yang Reyna katakan benar - benar melukainya.
"Jadi selama ini kamu menganggap ku hanya menginginkan tubuh mu saja?" Tanya Arsen pelan.
Reyna mengangguk. "Apa aku salah? Sekarang kamu sudah dapatkan apa yang kamu mau. Jadi tidak ada alasan untuk menahan ku kan ?"
Arsen tidak habis pikir dengan semua yang Reyna ucapkan. Benarkah ini Reyna yang menjadi istrinya selama beberapa bulan ini. Bahkan Arsen tidak mengenali seseorang yang kini bicara di depan nya.
"Aku memang akan menceraikan mu Rey. Agar kamu bisa memilih pasangan yang benar - benar kamu inginkan. Tapi aku tidak menyangka, begitu buruk nya penilaian mu untuk ku. Apa selama ini aku terlihat seperti lelaki brengsek yang hanya ingin tubuhmu ?" Suara Arsen mulai bergetar. Dan dapat Reyna lihat jika matanya juga berkaca-kaca.
Begitu pun dengan Reyna. Tapi sekuat tenaga ia tahan Agara Arsen tidak melihat nya.
Reyna masih membisu. Tidak tau apa lagi yang harus ia ucapkan. Semua kata yang tersimpan tidak berani ia ungkapkan agar tidak semakin melukai Arsen.
"Baiklah. Setelah ini aku akan memasukkan berkas ke pengadilan. Katakan apa yang kamu inginkan pada pengacara". Putus Arsen kemudian saat dirasa Reyna tidak mau bicara.
Ia keluar dari kamar sambil membanting pintu. Mungkin sebagai pelampiasan emosi yang tidak tersalurkan.
Sepeninggal Arsen Reyna menangis tersedu-sedu. Tidak ia bayangkan betapa sakitnya hati Arsen setelah ia mengatakan itu.
"Maafkan aku yang sudah menyakiti mu Arsen. Tapi dengan begini semoga kamu segera menceraikan ku. Aku juga sakit. Tapi akan lebih sakit lagi kalau kita bertiga tetap dalam lingkaran yang sama. Aku yang datang diakhir. Maka dengan tau diri aku akan keluar. Semoga kamu dan Kak Anita selalu bahagia. Aku mendoakan untuk itu". Kata Reyna ditengah tangis nya.
Sungguh, bukan maksud Reyna mengatakan hal itu. Tapi menurut nya Arsen terlalu terbelit - belit dalam menyelesaikan perceraian mereka.
"Mungkin ini lebih baik untuk kita bertiga. Daripada kita saling menyakiti satu sama lain". Putus Reyna kemudian membereskan barang-barangnya dan keluar menuju basement.
"Semoga Arsen tidak meninggalkan ku". Gumamnya sambil berlari kecil.
..
Reyna sudah berada di samping mobil Arsen. Tapi belum nampak juga batang hidung suaminya.
Hingga beberapa menit akhirnya Arsen tiba dengan wajah dingin tanpa mau menatap Reyna.
Ia segera masuk dan menyalakan mobil. Reyna menyusul setelah itu.
Diperjalanan hanya ada kesunyian tanpa iringan musik seperti saat berangkat kemarin.
Bahkan suara lalu lalang kendaraan tidak bisa memecah kesunyian di dalam mobil yang mereka tumpangi.
🍓🍓🍓
Assalamualaikum temen - temen... Othor minta tolong like dan vote nya dibanyakin ya biar semangat up nya.
Terimakasih yang sudah membaca❤️❤️