JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Rahasia
☘️ Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, Pergantian malam dan siang, Kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, Apa yang di turunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. ☘️
{ Qs. Al-Baqarah. 164}
🍂🍂🍂
Sudah tiga hari sejak acara resepsi pernikahan Arum dan Dimas. Semua kembali normal. Dimas pun sudah kembali bekerja di Pabrik dan mengontrol keadaan Pabrik.
Fauzan pun bersyukur. Dimas tidak larut dalam histeria pernikahannya. Sebenarnya Fauzan ingin bertanya tentang Arum kepada Dimas. Tapi Fauzan takut akan menyinggung perasaan sahabat sekaligus atasannya itu
Arum adalah wanita yang pernah di tolong Dimas, Sebelum Rani mengenalkan Arum Kepada Dimas. "Kenapa Arum sangat mirip dengan wanita yang di tolong Dimas. Dan yang ku bawa ke puskesmas." gumam Fauzan di ruangan kerjanya.
Saat itu
#flashback
Dimas yang saat itu sedang menelfon Fauzan
karena akan berkunjung ke kosannya, tersasar dan tidak tahu arah jalan. Fauzan pun akan menjemput Dimas.
Saat sudah menyelesaikan bercakapannya dengan Fauzan. Tiba-tiba mendengar teriakan seseorang minta tolong. Tanpa pikir panjang Dimas mencari sumber suara itu.
Dan melihat seorang lelaki sedang menyeret paksa seorang wanita masuk kedalam rumah tua yang tidak berpenghuni. Lelaki itu tidak lain adalah Edo yang akan melakukan hal yang sangat keji.
Tanpa bertele-tele Dimas langung membogem Edo dengan sangat keras. Hingga Edo pun tersungkur.
Saat itu Fauzan menelfon Dimas. "Zan aku sedang berada di sebuah rumah tua tidak jauh dari daerah tempat tadi aku tersasar." ucap Dimas
Fauzan datang ke rumah tua yang di sebutkan Dimas. Fauzan melihat Dimas sedang menahan tangan seorang lelaki yang sudah babak belur. Dan melihat seorang wanita yang tak sadarkan diri.
"Zan, tolong bawa dia ke rumah sakit terdekat." kata Dimas sambil menunjuk arah wanita yang ternyata Arum. rumah itu sangat gelap sehingga Dimas tidak melihat wajah Arum.
Fauzan pun membawa Arum ke puskesmas terdekat, karena rumah sakit jauh dari sana. Tapi kemudian Fauzan meninggalkannya karena Dimas menelepon akan membawa Edo kepolisi. "Apa kamu mengenali wajah lelaki itu." tanya Fauzan saat sudah tiba.
"Ya aku melihatnya, lalu bagaimana dengan wanita itu." jawab Dimas sekaligus bertanya.
"Dia sudah di tangani, mungkin pihak dari puskesmas sudah menghubungi keluarganya. rumah sakit jauh dari sini." jawab Fauzan.
Mereka pun sama-sama pulang ke kosan Fauzan. Karena mereka berpikir keluarga dari Arum sudah di hubungi pihak puskesmas.
#flashback on
Malam harinya Dimas baru pulang dari pabrik di karenakan pesanan dan keinginan investor melonjak tinggi.
Alhasil dari seluruh karyawan pun diharuskan untuk lembur. Juga Pabrik tekstil Dimas yang berada di luar daerah Jogja.
Kini mobil Dimas sudah terparkir di garasi dengan di kemudikan Pak Kardi. "Terimakasih Pak." ucap Dimas lalu turun dari mobilnya. Meskipun sudah pekerjaan Pak Kardi. tetapi Dimas tak pernah lupa untuk mengucapkan kata 'Terimakasih', untuk menghargai pekerjaannya.
Pak Kardi pun mengangguk. Dan keduanya masuk kedalam rumah, Pak Kardi ialah suami dari Bik Inem. Pak Kardi masuk dari pintu belakang.
Dimas masuk dari pintu depan. Saat sudah memasuki rumah dengan kunci yang dia bawa sendiri. Dimas melihat keberadaan Arum sedang tertidur di sofa ruang keluarga.
Arum sedang menunggunya pulang karena malam sudah semakin larut Arum pun tertidur. Dimas pun menghampiri Arum.
Rasa lelahnya seketika pudar melihat istrinya begitu menggemaskan saat tertidur dan merasa kasihan harus menungguinya pulang.
Dimas pun meletakkan Tas yang ia bawa. Dan mengangkat tubuh istrinya untuk berpindah tempat. Saat sudah mengalungkan tangannya disekitar lekukan leher Arum.
Arum membuka matanya dengan perasaan takut. "Jangan sentuh aku.!"
Dimas terheran akan sikap Arum. mungkin dia sedang mimpi buruk. pikirnya. "Habibati ini Aku. Suamimu?"
Seketika Arum memeluk tubuh Dimas begitu erat. Dimas pun mengusap punggung Arum lembut. "Maafkan Habibie karena pulang sangat larut. jangan takut lagi. Habibie sudah ada di sini."
Arum tak kuasa menahan bendungan air matanya yang mengalir deras. hiks hiks sambil terisak. "Bagaimana Arum bisa menghilangkan trauma ini, Habibie?"
"Tenanglah, Ungkapkanlah dan jangan memendam rahasia apapun dari ku." kata Dimas lembut.
"Kalau Habibie, membenciku?" jawab Arum terisak.
"Tidak akan, Allah Maha pengampun, masa aku yang hanya seorang manusia biasa tidak menerima kekurangan Habibati?" bujuk Dimas agar Arum lebih tenang.
Arum terus terisak pilu di pelukan Dimas. Dimas mengelus kepala Arum, dan mencium keningnya. (Mencium kening orang yang kita sayangi bisa memberikan ketenangan untuk pasangan maupun orang yang kita cintai.)
"Habi sudah mulai tenang?." kata Dimas sembari mengusap air mata Arum.
Arum pun mengangguk. Lalu Arum mulai bercerita tentang trauma yang selama ini terus menghantuinya. seperti teror, bahkan setelah menikah dengan Dimas pun, Arum masih terus mengigau saat tidur.
Ketika sedang tidur Dimas selalu terjaga dengan isakkan tangis Arum saat tertidur. lalu kemudian Arum tertidur kembali. Dan keesokan paginya Arum bersikap biasa saja. Dimas pun tidak bertanya kepada Arum tentang Arum yang terus mengigau setiap malam.
Yang sebenarnya Dimas sudah tahu tentang traumanya. Dimas merasa sangat kasihan dengan yang dialami istrinya. "Maafkan Arum, Habibie.!" kata Arum lirih.
"Semua yang terjadi merupakan bagian dari perjalanan hidup Habibati sayang. Dan seharusnya dari kejadian itu bisa menjadikan diri kita jauh lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah." ucap Dimas lembut.
"Sudah jangan menangis. Kalau menangis seperti ini jadi terlihat lebih cantik Jihye Moon." ucap Dimas meledek agar Arum tersenyum.
"Ihh.., Habibie, kalau lebih cantik Jihye Moon kenapa tidak menikah saja dengannya." jawab Arum dengan santainya.
"Ayo kita naik.”
"Habibie sudah makan?”
"Sudah tadi di tempatnya Fauzan.!”
"Syukurlah."
Saat Arum sudah berdiri. Dimas menggendongnya dan berjalan menuju tangga. "bie, Arum bisa jalan sendiri." protes Arum.
"Aku akan memintanya malam ini, sudah tuntaskan." jawab Dimas sambil berjalan menaiki tangga.
Arum pun menatap Dimas dengan perasaan malu. "Darimana Dia tau?" batin Arum.
Seolah menangkap kebingungan Arum. "Sudah satu minggu, dan pasti sudah tuntas." kata Dimas menatap Arum. lalu membuka pintu kamar.
"Sampai-sampai dia menghitung masa haidku." batin Arum.
"Bisakah kita sholat terlebih dulu." jawab Arum saat Dimas sudah sampai di ambang pintu.
"Tentu, Aku juga akan mandi terlebih dulu." Dimas dan mendudukkan Arum di ranjang.
"Aku mandi dulu. lalu kita sholat." Dimas pun berlalu kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dengan perasaan gemuruh di dalam hatinya. Serta jantung yang berdetak lebih kencang. Arum cemas dengan apa yang di ucapkan Dimas. "Benarkah dia akan memintanya malam ini juga." gumamnya.
Pintu kamar mandi pun terbuka dengan Dimas yang hanya memakai handuk memperlihatkan tubuh atletisnya karena Dimas yang rajin berolahraga.
Glek...! Arum seakan sulit menelan ludahnya.
"Ayo kita sholat. kenapa memandang Habibie seperti itu?” Dimas membuyarkan lamunannya.
Arum pun beranjak dari duduknya dengan tatapan menunduk dan berpapasan dengan Dimas. "Bersiaplah." Arum mendongak menatap Dimas, Dimas meledek Arum dengan kerlingan matanya.
Arum pun memasuki kamar mandi dengan perasaan yang lebih tidak karuan. lalu menyalakan kran dan berwudhu.
Mereka sudah siap akan melaksanakan sholat Sunnah dua rakaat.
"Apabila kamu hendak menggauli isterikamu (pengantin baru), Sholatlah terlebih dahulu dua rakaat. kemudian berdoalah kepada Allah, untuk kebaikan apa yang telah kamu gauli, juga berlindunglah kepada Allah dari kejahatan dan kejahatan dirikamu dan juga diri keluargamu." [ Kitab Al Mushonnaf Juz 3 hal 401 ]
Dengan niat yang mereka ucapkan.
أصلى سنة ليلة الزفاف ركعتين لله تعال
(Saya sholat Sunnah malam pengantin dua raka'at lilahi ta'ala)
Setelah selesai sholat Mereka pun memanjatkan doa.
اللهم اني أسألك خيرها، وخي ما، جبلته عليه.
وأعذ بك من شرها وشر ما جبلته عليه.
(Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Mu kebaikannya (Isteri) dan kebaikan yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepada Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang ada di dalamnya juga dari kejahatan apa yang aku ambil dari padanya.)
Selesai berdoa Dimas membalikan tubuhnya menghadap Arum, Arum pun menyalami tangan Dimas dan mencium tangannya. Dimas pun mengusap lembut kepala Arum lalu mencium kening Arum hikmat.
Setelah membukakan mukenah yang di pakai Arum. Dimas pun meletakkan lengannya di lekukan leher Arum serta di antara bagian lutut.
Dimas mengangkat tubuh Arum dan membaringkannya di ranjang. Keduanya sama-sama menatap dalam manik mata mereka.
Memandangi wajah Arum yang polos tidak memakai make up. Aura wajah ayu Arum memperlihatkan kecantikan yang alami.
"Jika Habibati belum siap, aku tidak ingin memaksa?" ucap Dimas lirih.
Hembusan nafas mint Dimas menerpa wajah Arum yang sangat dekat dengan wajahnya. "Lakukanlah Bie, itu sudah kewajiban ku sebagai seorang istri, untuk menyempurnakan ibadah kita dalam membina rumah tangga." jawab Arum lembut.
Dimas pun mulai membaca doa.
بسم اللهم جنبي الشيطان و جنب الشيطان مارزقتن
(Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syetan dari saya, dan jauhkanlah syetan dari apa yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak, keturunan). Wallahu alam.
Dimas pun mencium kening Arum lembut.
dan terjadilah seterusnya....
🍂
🍂
Salam sehat selalu manis 😉
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐