Seorang putra mahkota yang terusir dari istana Medang Kamulan setelah pemberontakan besar-besaran oleh raja bawahan ayah mertua nya saat upacara pernikahan nya dengan Nararya Galuh Sekar putri pertama Prabu Dharmawangsa, harus memikul tanggung jawab besar untuk menyatukan kembali kerajaan peninggalan dari ayah mertua nya yang terpecah belah setelah peristiwa Mahapralaya itu. Dukungan dari masyarakat terutama dari agamawan Hindu, Budha dan Mahabrahmana yang mengangkat nya menjadi raja Medang selanjutnya, menjadi kekuatan tersendiri bagi Airlangga untuk membangkitkan kembali kerajaan Medang usai 3 tahun masa kekosongan pemerintahan pusat di Jawadwipa.
Mampukah Airlangga memikul tanggung jawab besar ini dan menyatukan negeri yang sedang dalam kekacauan? Apakah dia akan menjadi anak yang diramalkan dalam legenda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
Galuh Sekar menggeram lirih dalam hati.
Selama mengikuti Airlangga, dia memang selalu menjadi beban bagi sang suami yang harus pontang-panting menyelamatkan diri dari kejaran para prajurit Lwaram. Meskipun itu sudah menjadi kewajiban bagi suaminya, tapi sebagai seorang istri, Galuh Sekar merasa sangat tidak berguna bagi perjuangan sang suami yang sudah mendapatkan amanat dari ayahanda nya untuk kembali menegakkan Kerajaan Medang. Satu tekad kuat pun segera membuhul di dalam hati nya.
'Aku harus belajar ilmu beladiri agar tidak terus-terusan menjadi beban suami ku'
Sementara itu, di luar tempat persembunyian Galuh Sekar yang di jaga Renggos, suasana semakin memanas. Nini Tapak Darah yang semula begitu pongah, langsung terdiam seketika kala melihat kemunculan Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo.
"K-kalian masih hidup?", ucap Nini Tapak Darah dengan sedikit gagap.
"Apa kau pikir kami sudah mati, Mayangbrata?
Tindakan licik mu di Alas Roban dulu memang membuat ku dan Kakang Hanggapraja luka parah. Tapi orang baik seperti kami, Dewa pun akan berpihak dan menolong kami untuk bisa bertemu kembali dengan mu dan menuntut balas atas ulah mu dulu", ucap Nyai Parwati sembari menatap tajam ke arah perempuan tua itu. Sepertinya mereka memiliki masalah yang belum selesai di masa lalu.
Begini ceritanya. Kala itu, Dewa Pedang Tanpa Bayangan dan Dewi Selaksa Pedang baru saja pulang dari acara pernikahan salah seorang tokoh penting dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat, mereka di hadang oleh Nini Tapak Darah yang memiliki nama asli Mayangbrata bersama puluhan orang dedengkot golongan hitam. Mayangbrata begitu dendam pada mereka berdua setelah mendiang suaminya, Ki Goradahana yang berjuluk Si Kapak Iblis Neraka menemui ajalnya setelah mendiang suaminya itu bersama para murid Padepokan Kapak Emas menantang kedua orang itu dalam adu kepandaian ilmu beladiri.
Dia yang harus merawat dua anak nya, Pringgodani dan Wendit, yang masih kecil-kecil untuk terus hidup bersama beberapa anak para murid Padepokan Kapak Emas. Begitu para putranya menginjak usia remaja, Mayangbrata mengumpulkan para tokoh golongan hitam untuk menyergap Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo itu.
Hampir saja, Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo ini terbunuh oleh Mayangbrata dan para pendekar golongan hitam saking banyaknya musuh yang mereka hadapi. Di saat terakhir, Dewa Pedang Tanpa Bayangan berhasil kabur dari pengepungan itu bersama dengan Dewi Selaksa Pedang meskipun dalam keadaan luka parah.
Mereka berhasil mendapatkan pertolongan dari Mahaguru dari Pertapaan Gunung Ungaran hingga bisa tertolong. Setelah itu, mereka berdua yang mendapatkan pencerahan dari sang Mahaguru, memilih untuk tidak terlalu menonjolkan diri di dunia persilatan. Hingga kabar kematian mereka berdua merebak luas di kalangan para pendekar.
Karena itulah kemunculan Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo ini sangat mengejutkan bagi Mayangbrata alias Nini Tapak Darah.
"Biyung, apa benar mereka berdua adalah orang yang membunuh Romo Goradahana?", ucap Pringgodani sembari menunjuk ke arah Mpu Hanggapraja dan Nyai Parwati.
"Benar, Pringgodani..
Dua tua bangka itu yang membunuh Kakang Goradahana dengan cara memenggal kepalanya. Sampai saat ini, aku masih belum bisa melupakan bagaimana raut wajah Kakang Goradahana yang melotot setelah dia mati", ucap Mayangbrata alias Nini Tapak Darah sembari mendengus keras.
"Kalau begitu, sudah saatnya untuk menuntut balas!
Kakang Wendit dan semuanya, dua tua bangka Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo inilah yang membuat kita menjadi anak yatim-piatu. Kematian mereka akan menjadi kebahagiaan orang tua kita di nirwana.
Bunuh mereka berdua..!!", setelah berkata demikian, Pringgodani yang sudah melepaskan ikatan kapak emas bermata dua di punggungnya, segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Dengan cepat ia meluncur turun ke arah Mpu Hanggapraja sembari mengayunkan senjata andalannya.
Melihat hal itu, anggota kelompok Perampok Tujuh Kapak Emas lainnya ikut menerjang maju ke arah Airlangga dan kawan-kawan. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Shhhrraaaakkkkkk..
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!!
Mpu Hanggapraja segera berkelit lincah menghindari sabetan kapak besar milik Pringgodani. Di saat yang bersamaan, dia langsung bergerak cepat kala si kembar Lengkar dan Lengkir mengayunkan kapak besar nya ke arah Sang Dewa Pedang Tanpa Bayangan.
Whhhuuuuuggggghhhh whhhuuuggghhhh!
Namun belum sempat tebasan kapak besar itu mengenai Mpu Hanggapraja, Airlangga yang telah merapal mantra Ajian Sepi Angin nya bergerak cepat bagaikan kilat ke arah mereka dan menghantamkan kepalan tangannya yang berlapis tenaga dalam ke arah si kembar.
Bhhhuuuuuuggggh...
Oouuuuuuuugggghh oouuuuuuuugggghh!!
Tubuh si kembar Lengkar dan Lengkir mencelat ke belakang sembari mengaduh tertahan walaupun masih keukeh memegang gagang senjata mereka. Dua orang bertubuh besar itu segera bangkit meskipun ada lelehan darah segar keluar dari mulut mereka. Mereka cepat mengusap nya sebelum menerjang maju ke arah Airlangga sembari mengayunkan senjatanya.
Whhuuuttthhh whhuuuttthhh!
Airlangga yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, tanpa kesulitan menghindari sabetan senjata tajam milik lawan. Dia terus bergerak lincah kesana-kemari sembari terus melayangkan tendangan keras maupun pukulan mematikan ke arah tubuh besar anggota Perampok Tujuh Kapak Emas itu.
Sepuluh jurus akhirnya berlalu dengan cepat.
Meskipun dikenal sebagai tubuh batu karena mampu menahan pukulan, tapi lama kelamaan Lengkar dan Lengkir mulai kepayahan dalam menyerang sang pangeran muda. Nafas mereka masing-masing mulai tersengal kala hantaman dan tendangan keras Airlangga mendarat di tubuhnya. Ini merupakan sebuah kesempatan baik bagi Airlangga untuk menjatuhkan mereka.
Melihat Lengkar yang terhuyung huyung mundur setelah menerima hantaman pada rusuk kiri nya, Airlangga pun segera melesat cepat kearah nya dan langsung mengayunkan dengkul kanannya ke arah dagu si manusia bertubuh besar.
Dhhhuuuuuuggggg...
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Tubuh besar Lengkar langsung roboh ke tanah usai dengkulan keras Airlangga membuatnya pingsan seketika. Melihat saudara kembar nya di jatuhkan, Lengkir marah besar dan langsung mengayunkan kapak besar nya ke arah leher sang pangeran muda.
"Modar kau bajingan!!!
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!"
Whhhuuuuuggggghhhh...
Dari ekor matanya, Airlangga melihat kedatangan serangan cepat Lengkir. Segera ia merendahkan tubuhnya hingga serangan lawan hanya membabat udara kosong sejengkal di atas kepalanya. Setelah itu, Airlangga pun cepat memutar tubuhnya sebelum melesat ke arah punggung kanan lelaki bertubuh besar itu seraya menghantamkan kepalan tangannya yang berlapis tenaga dalam tingkat tinggi.
Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!
Aaaarrrgggggghhhhh...!!!
Lengkir menjerit keras dan tubuhnya yang besar langsung menyusruk tanah dengan keras. Dia diam tidak bergerak lagi, entah mati atau pingsan usai mendapatkan serangan cepat Airlangga.
Usai menjatuhkan lawan nya, Airlangga pun segera melesat cepat kearah Mpu Hanggapraja yang sedang di keroyok oleh Wendit Si Kapak Seribu Mata dan Pringgodani Si Kapak Emas Langit. Meskipun Mpu Hanggapraja tidak terlihat kesulitan dalam meladeni permainan silat dua pentolan Perampok Tujuh Kapak Emas ini, namun Airlangga tidak mungkin membiarkan gurunya bertarung sendirian tanpa ada bantuan.
Di sisi lain dari pertarungan sengit itu, Nini Tapak Darah terus menghujani Nyai Parwati dengan serangan cepat bertubi-tubi. Perempuan tua itu nampaknya ingin secepatnya menghabisi nyawa Dewi Selaksa Pedang karena dia tahu bahwa dua putranya sedang menghadapi seorang dewa pedang.
Whhhuuuuuggggghhhh whhhuuuggghhhh..
Delapan cahaya merah menyala berhawa panas menderu cepat kearah Nyai Parwati. Perempuan tua yang masih terlihat cantik ini dengan cepat memutar pedangnya. Menciptakan ratusan bayangan pedang di sekitar nya. Ini merupakan ilmu kanuragan andalannya, Ilmu Selaksa Pedang Kayangan.
Nyi Parwati segera melompat mundur sembari mengibaskan pedangnya kearah bayangan pedangnya.
Dhhaaashh dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Ratusan bayangan pedang pun segera menerabas cepat kearah datangnya serangan dari Nini Tapak Darah.
Thhrraaanggg thhrraaanggg..
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar dari beradunya dua ilmu kanuragan tingkat tinggi milik dua perempuan tua itu. Nini Tapak Darah melotot lebar melihat itu semua.
'Bangsat! Kemampuan beladiri milik Parwati meningkat jauh dari kali kami bertemu. Aku harus segera menyelesaikan ini jika tidak ingin mati konyol di sini', batin Nini Tapak Darah.
Dari ekor matanya, perempuan tua itu melihat bahwa Pringgodani Si Kapak Emas Langit dan Wendit Si Kapak Seribu Mata tidak bisa menundukkan Mpu Hanggapraja maupun Airlangga yang membantu nya. Juga dengan Sepasang Sundal Berkapak Api terlihat malah kerepotan mengurus Ratri dan Ratih yang bertarung layaknya sedang mengamuk di tengah-tengah medan tempur.
"Bocah-bocah kecil ini benar-benar tidak bisa di andalkan!!
Aku harus mengandalkan kekuatan ku sendiri kalau ingin menang melawan mereka", desis Nini Tapak Darah dengan penuh kemarahan.
Segera perempuan tua itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping kiri dan kanan tubuhnya. Lalu kedua tangan nya terangkat ke atas kepala sebelum menyatu di depan dada. Mulut nenek tua itu segera komat-kamit merapal mantra. Muncul seberkas sinar merah kehitaman di kedua telapak tangan yang bersatu. Angin kencang yang entah darimana datangnya dengan cepat berseliweran di sekitar tempat nya berdiri, menyebarkan aroma amis darah.
Rupanya dia hendak mengeluarkan ilmu kedigjayaan pamungkas nya yang menjadi penyokong nama besar nya di dunia persilatan Tanah Jawadwipa,
Ajian Tapak Darah.