Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga yang Tetap Membumi
Banyak orang mengira hidup Amara hanya dipenuhi mafia, politik, dan kekuasaan. Namun ternyata mereka salah. Karena di balik semua gelapnya dunia yang ia kuasai, Amara tetap memiliki satu tempat yang selalu terasa hangat. Yaitu keluarganya.
Amara memiliki seorang kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Dan yah, mereka adalah anak yatim piatu. Orang tua mereka meninggal saat Amara menjadi sukarelawan di negara konflik. Ia bahkan tidak bisa mengantar kepergian kedua orang tuanya. Namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, Amara sangat mencintai kedua orang tuanya. Akibat perpisahan yang tidak diharapkan ini, maka Amara lebih meluangkan banyak waktu untuk keluarganya. Ia tidak ingin melewatkan momen berharga kebersamaan mereka.
Meski kini dirinya menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di dunia, keluarganya tetap hidup sederhana. Bukan karena Amara tidak mampu membuat mereka kaya raya. Namun karena Amara sengaja tidak memanjakan mereka dengan kekayaan berlebihan.
Amara ingin keluarganya hidup aman dan tercukupi. Ia tidak pernah membiarkan mereka kekurangan kebutuhan penting. Jika ada biaya pendidikan, pengobatan, atau masalah yang benar-benar membutuhkan bantuannya, Amara akan selalu menjadi orang pertama yang datang.
Namun baginya, memenuhi kebutuhan tidak sama dengan memberikan semua hal tanpa usaha.
Ia ingin orang-orang yang dicintainya tetap memiliki tujuan hidup. Tetap bekerja, belajar, dan membangun sesuatu dengan kemampuan mereka sendiri.
Amara tidak ingin keluarganya tumbuh hanya dengan mengandalkan nama atau kekayaannya.
Ia ingin mereka dikenal karena siapa diri mereka, bukan karena hubungan mereka dengan Madam A.
Karena itu, Amara selalu memberikan dukungan dari belakang. Ia membuka kesempatan, memastikan jalan mereka aman, dan siap membantu jika mereka benar-benar membutuhkan.
Namun langkah pertama tetap harus mereka ambil sendiri.
Baginya, keberhasilan yang diperoleh melalui usaha sendiri akan selalu terasa lebih berharga daripada kemudahan yang diberikan begitu saja. Itulah prinsip Amara.
“Kalau semua diberi terlalu mudah,” katanya suatu hari pada Arsen, “manusia akan lupa cara bertahan hidup.”
Amara tidak pernah menutup pintu bagi keluarganya. Namun ia juga tidak ingin mereka masuk melalui pintu itu hanya karena membawa namanya.
Ia ingin mereka belajar mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan memahami nilai dari setiap hasil yang diperoleh. Jika suatu hari mereka berhasil, Amara ingin keberhasilan itu benar-benar menjadi milik mereka. Bukan hadiah yang diberikan karena ia memiliki kekuasaan.
Dan jika mereka jatuh, Amara akan tetap berada di belakang mereka. Bukan untuk menjalani hidup mereka, melainkan untuk memastikan mereka selalu memiliki tempat untuk pulang.
Kakak perempuan Amara bernama Martha. Seorang bidan sederhana yang tinggal di kota kecil bersama suaminya, Daniel. Daniel bekerja sebagai pemadam kebakaran. Dan anehnya meski Amara berkali-kali menawarkan posisi nyaman di perusahaan keluarga, Daniel selalu menolak.
“Aku suka pekerjaanku,” katanya sambil tertawa.
“Kau bisa mati kapan saja,” keluh Amara.
Daniel malah menjawab santai,
“Setidaknya aku mati sambil menyelamatkan orang.”
Amara hanya menghela napas panjang. Kadang ia lupa tidak semua orang tertarik pada uang dan kekuasaan.
Martha dan Daniel memiliki dua anak yang sangat disayangi Amara. Yaitu Gilberth dan Susan.
Dua ponakan kesayangannya. Dan juga dua orang muda yang paling sering membuat rumah besar Amara terasa hidup.
Gilberth lebih muda tiga tahun dari Nayla. Sejak kecil anak itu sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam bisnis. Ia cerdas, cepat belajar dan memiliki insting tajam seperti Amara.
Berbeda dari Arsen yang dingin, Gilberth jauh lebih hangat dan mudah bergaul. Ia sering bercanda dengan semua staf rumah. Bahkan Leon pernah berkata sambil menggeleng heran,
“Anak itu terlalu cerah untuk keluarga ini.”
Suatu hari ketika Gilberth masih remaja, ia pernah diam-diam mengikuti rapat bisnis Amara lewat kamera keamanan rumah.
Dan bukannya takut, ia malah membuat catatan strategi sendiri. Amara yang mengetahui itu hanya menatap hasil catatan Gilberth cukup lama.
Lalu berkata pendek:
“Anak ini berbahaya.”
Kini Gilberth bekerja di salah satu perusahaan inti keluarga Amara dengan posisi penting meski usianya masih muda. Dan yang membuat para direktur tua frustrasi adalah dia memang sangat berbakat. Ia bisa membaca peluang bisnis hanya dalam hitungan menit.
Dan lebih parahnya lagi, ia mewarisi kemampuan Amara membuat orang sulit menolak pendapatnya.
Namun di rumah, Gilberth tetap seperti anak kecil di mata Amara.
“Aunty, aku lapar.”
“Kau baru makan.”
“Tapi aku stres.”
“Itu bukan alasan.”
“Tapi aku ganteng.”
Amara memukul pelan kepalanya dengan majalah. Sementara seluruh staf rumah menahan tawa. Karena hanya Gilberth yang berani bertingkah santai di depan Madam A.
Sedangkan Susan adalah sisi lembut keluarga itu. Lebih muda lima tahun dari Nayla, Susan tumbuh menjadi gadis cantik dengan kepribadian hangat dan elegan. Ia mengikuti jejak Nayla di dunia medis. Namun berbeda dengan Nayla yang menjadi dokter umum dan trauma medis, Susan memilih menjadi dokter estetika.
Kini ia memiliki klinik kecantikan sendiri yang cukup terkenal. Dan meski penghasilannya besar, Susan tetap rendah hati.
“Aunty, coba skincare ini.”
“Aku tidak butuh.”
“Aunty kelihatan capek.”
“Aku memang capek.”
Susan tertawa kecil sambil memaksa Amara memakai masker wajah. Dan pemandangan itu selalu membuat seluruh rumah terasa normal.
Sulit dipercaya wanita yang sedang dipaksa pakai masker oleh keponakannya itu adalah penguasa dunia bawah tanah.
Namun satu orang tetap menjadi kekhawatiran terbesar Amara. Yaitu adik laki-lakinya, Rian.
Satu-satunya adik lelaki yang sampai sekarang belum menikah. Dan yang paling membuat Amara frustrasi, adalah Rian sangat keras kepala.
“Aku transfer uang bulanan untuk apa kalau hidupmu masih begini?” keluh Amara suatu malam.
Rian yang sedang makan gorengan hanya menjawab santai,
“Aku nyaman.”
“Kau kerja jadi security kampus dengan gaji UMR.”
“Aku suka suasananya.”
“Kau bisa jadi direktur.”
“Aku malas rapat.”
Amara memijat pelipis.
Kadang ia benar-benar tidak mengerti keluarganya sendiri.
Sebenarnya, Amara diam-diam lega. Karena keluarganya tetap menjadi manusia biasa. Mereka tidak haus kekuasaan dan tidak mabuk uang. Mereka masih bisa tertawa karena hal-hal sederhana. Sesuatu yang perlahan hilang dari hidup Amara sendiri.
Suatu malam seluruh keluarga berkumpul di rumah besar Amara. Suara tawa memenuhi ruang makan.
Gilberth berdebat dengan Arsen soal bisnis.
Susan sibuk memotret makanan. Nayla memarahi Kael karena belum makan. Raka berusaha kabur dari pertanyaan kapan punya anak. Rian tertidur di sofa setelah makan terlalu banyak.
Dan Amara, hanya duduk diam memperhatikan mereka semua. Leon yang duduk di sampingnya berbisik pelan,
“Kau membangun kerajaan besar.”
Amara tersenyum kecil sambil menatap keluarganya.
“Bukan.”
“Lalu?”
Wanita itu menjawab lembut,
“Aku hanya berusaha membangun rumah yang dulu tidak pernah kumiliki.”