NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Api Kecil

Aroma bawang putih dan mentega membangunkan Keira pada hari liburnya.

Dia keluar kamar dengan rambut acak-acakan, lalu berhenti di ambang dapur. Kai berdiri di depan kompor mengenakan celemek kuning bergambar bebek. Satu tangan mengaduk saus, tangan lain membalik ikan di wajan tanpa melihat.

"Kamu mencuri bahan makanan siapa?"

Kai meliriknya. "Selamat pagi juga."

"Aku tidak punya salmon."

"Aku beli."

"Dengan diskon lagi?"

"Kali ini benar-benar diskon."

Keira membuka tempat sampah dan menemukan label harga yang sudah diremas. Dia membukanya, membaca angka, lalu menatap Kai dengan ngeri.

"Ini anggaran makan kita untuk tiga hari."

"Tapi cukup untuk empat porsi."

"Itu bukan pembelaan."

Kai menyendok saus ke piring. "Coba dulu sebelum mengadakan sidang."

Keira duduk dengan curiga. Begitu suapan pertama masuk, semua pidato tentang penghematan hilang dari kepalanya. Kulit ikan renyah, bagian dalamnya lembut, dan saus lemonnya terasa seimbang.

"Kamu belajar masak di mana?"

"Bertahan hidup."

"Orang yang bertahan hidup tidak memotong daun bawang serapi itu."

"Aku berbakat."

Keira menunjuknya dengan garpu. "Kamu ini seperti elang yang jatuh dari langit. Tidak punya sarang, tidak punya pekerjaan, tapi seleranya serba emas."

Kai bersandar di meja. "Jadi?"

"Elang Emas. Itu nama barumu."

"Kedengarannya mahal."

"Sangat cocok dengan kebiasaan belanjamu."

Kai tersenyum. "Kalau begitu aku juga perlu nama untukmu."

"Namaku sudah pendek."

"Kei."

Garpu Keira berhenti di udara.

Tak ada orang selain Vera yang kadang memanggilnya begitu. Di mulut Kai, satu suku kata itu terdengar berbeda. Lebih rendah. Lebih dekat.

"Siapa yang mengizinkan?"

"Kamu baru saja menamai aku Elang Emas tanpa izin. Kita impas, Kei."

Keira menunduk pada piring agar Kai tidak melihat telinganya memerah.

Setelah makan, Kai mencuci wajan sementara Keira mengeringkan piring. Dapur itu terlalu sempit untuk dua orang. Setiap kali Keira berbalik, sikunya menyentuh lengan Kai.

"Kamu sengaja berdiri di tengah," protesnya.

"Aku yang memasak. Kamu bisa menunggu di ruang tamu."

"Ini rumahku."

"Kalimat andalanmu."

Keira menyimpan piring di rak atas. Rasa nyeri ringan di kaki membuat tubuhnya goyah. Kai menahan pinggangnya sepersekian detik, lalu langsung melepas setelah dia seimbang.

"Masih sakit?"

"Kalau terlalu lama berdiri."

"Besok tidak boleh terbang."

"Besok aku libur. Lusa baru terbang malam."

Kai mengeringkan tangan, mengambil spidol, lalu menarik kalender kecil dari sisi kulkas. "Tulis jadwalmu."

"Kenapa?"

"Supaya aku tahu kapan harus memasak dan kapan tidak perlu menunggumu."

Keira menatap kotak-kotak tanggal yang kosong. Kontrak mereka tidak mewajibkan Kai menunggu. Justru karena itu, kalimat tersebut menimbulkan rasa hangat yang lebih berbahaya daripada sentuhan singkat tadi.

Dia menuliskan tiga penerbangan minggu depan.

"Kalau jadwal berubah, aku kirim pesan."

Kai menempelkan kalender kembali ke kulkas. "Bagus."

"Jangan salah paham. Ini cuma supaya makanan tidak terbuang."

"Tentu. Aku juga cuma bertanya demi anggaran."

Mereka sama-sama tahu itu bukan seluruh alasannya.

Kedamaian mereka bertahan sampai pukul enam sore.

"Keluar!" Keira mengetuk pintu kamar mandi. "Aku harus berangkat briefing malam tiga puluh menit lagi."

Suara air berhenti. "Aku baru masuk lima menit."

"Dua belas menit. Aku menghitung."

"Gunakan kamar mandi lain."

"Apartemen ini cuma punya satu kamar mandi!"

"Kelemahan desain yang serius."

Keira memukul pintu dengan telapak tangan. "Kai!"

Pintu terbuka mendadak. Uap hangat meluncur keluar bersama Kai yang hanya mengenakan celana olahraga dan handuk di bahu. Rambutnya basah. Tetes air berjalan dari leher ke dadanya.

Keira membeku setengah detik, lalu memalingkan wajah.

"Pakai baju!"

"Aku sedang mandi. Biasanya orang tidak memakai kemeja di bawah pancuran."

"Pergi dari sini."

Kai berjalan melewatinya sambil tertawa pelan. "Kamar mandinya milikmu, Kei."

Keira menutup pintu begitu keras hingga botol sampo di rak bergetar.

Malam itu, kalender di kulkas mendapat satu aturan baru dengan tinta merah: siapa yang terbang lebih pagi mendapat giliran kamar mandi pertama. Kai menambahkan gambar elang kecil di samping namanya. Keira mencoretnya sampai hitam.

Malam lewat tengah malam ketika Keira pulang. Lampu ruang tamu padam, tetapi cahaya kota masuk melalui balkon. Dia mengira Kai sudah tidur sampai kakinya menyentuh sesuatu di depan sofa.

Di meja ada wadah makanan dengan catatan kecil.

Panaskan dua menit. Jangan minum kopi lagi.

Keira menyentuh tulisan itu. Tidak ada seorang pun yang menunggunya pulang sejak dia meninggalkan rumah Meilin untuk sekolah penerbangan. Revan hanya pernah bertanya mengapa pesannya lambat dibalas.

Keira menoleh ke sofa. Laptop masih menyala redup di pangkuan Kai. Pria itu rupanya tertidur sambil menunggu.

"Aduh."

Sebuah tangan menangkap pinggangnya. Keira jatuh setengah berlutut di atas sofa, tepat di depan Kai yang tertidur dengan laptop di pangkuan.

Mata pria itu terbuka. Jarak mereka terlalu dekat. Napas hangatnya menyentuh pipi Keira.

"Kamu pulang," gumamnya.

"Lepaskan dulu."

Kai segera menarik tangan dari pinggangnya. "Maaf. Refleks."

Keira berdiri, tetapi lututnya masih menyentuh kaki Kai. Di layar laptop ada tabel, grafik, dan dokumen berjudul Rencana Reformasi Internal.

"Apa itu?"

Kai menutup layar terlalu cepat. "Bahan bacaan."

"Kamu membaca rencana reformasi perusahaan tengah malam?"

Ponselnya bergetar. Kai mengambilnya dan berjalan ke balkon.

"Aku harus jawab."

Pintu kaca belum sepenuhnya tertutup ketika suaranya terdengar.

"Revisi skema reformasi perusahaan. Jangan sentuh unit operasional sebelum audit selesai."

Keira berdiri di depan pintu kamar mandi, masih memegang tas penerbangan.

Katanya dia nggak kerja?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!