Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Dibawah Lampu Kota
Dengan lembaran surat penerimaan kerja di dalam tasnya, Nindya menyusuri jalanan ibu kota menuju sebuah gedung perkantoran di kawasan bisnis utama. Tujuannya kali ini sudah sangat jelas: kantor hukum Lukas & Partners, sebuah firma hukum ternama yang terkenal ketat dan berpengalaman dalam menangani kasus perceraian serta hak asuh anak.
Nindya melangkah masuk ke dalam ruang konsultasi dengan ketenangan luar biasa. Di hadapannya, duduk seorang pengacara senior berpengalaman bernama Pak Lukas. Pria paruh baya itu mendengarkan setiap detail cerita Nindya dengan saksama sembari mencatat poin-poin penting.
"Saya sudah resmi diterima bekerja di sebuah toko perhiasan eksklusif mulai minggu depan, Pak," ujar Nindya mengawali percakapan, suaranya terdengar lugas dan tanpa keraguan. "Artinya, masalah syarat kemandirian finansial untuk hak asuh anak sudah aman."
Pak Lukas mengangguk-angguk paham, menatap kliennya dengan rasa hormat. "Itu langkah awal yang sangat bagus, Bu Nindya. Untuk hak asuh anak di bawah umur, ibu kandung yang memiliki penghasilan tetap berada di posisi yang sangat kuat. Namun, agar proses gugatan cerai berjalan mulus dan posisi Anda benar-benar tak tergoyahkan, kita membutuhkan bukti valid terkait pelanggaran komitmen pernikahan—dalam hal ini, perselingkuhan suami Anda."
Nindya menyandarkan punggungnya di kursi. "Berapa lama waktu yang saya punya untuk mengumpulkan bukti itu?"
"Satu bulan," tegas Pak Lukas sembari mengetukkan penanya di atas meja. "Dalam tenggat waktu satu bulan ini, Bu Nindya harus mengumpulkan bukti materiil yang tidak bisa disanggah di depan hakim. Bisa berupa foto, rekaman percakapan, bukti transaksi keuangan, atau foto/video keberadaan mereka di tempat umum. Semakin lengkap bukti yang kita miliki, semakin cepat hakim memutus perceraian dan menyerahkan hak asuh penuh Arka kepada Anda."
Nindya menyunggingkan senyum tipis. Satu bulan adalah waktu yang sangat cukup. Selama ini ia diam bukan karena buta, melainkan karena belum siap bertindak. Kini, dengan motivasi melindungi masa depan Arka, tak ada lagi alasan untuk ragu.
"Baik. Saya akan dapatkan semua bukti itu dalam satu bulan," jawab Nindya mantap.
Sekeluarnya dari kantor pengacara, Nindya berdiri di pelataran gedung sembari menatap langit sore yang mulai memerah. Udara yang ia hirup terasa jauh lebih lega. Rencana besarnya telah tersusun rapi: bekerja secara profesional di toko emas untuk mengamankan hak asuh Arka, dan secara diam-diam mengumpulkan setiap jejak pengkhianatan Haris dan Siska.
Ia melirik jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul lima sore, saatnya menjemput Arka di rumah setelah jam les mewarnainya selesai.
Nindya menyalakan mesin mobilnya, memutar kemudi dengan percaya diri. Hari ini adalah awal dari penghitungan mundur. Haris mungkin merasa posisinya aman karena menganggap Nindya adalah istri penurut yang lemah. Pria itu tidak pernah tahu bahwa dalam waktu 30 hari ke depan, seluruh kebohongan dan kesombongannya akan runtuh di hadapan hukum—dan Nindya sudah siap menyambut kebebasan hakikinya bersama Arka.
Brukkk!
Guncangan keras mengejutkan Nindya tepat saat kakinya hendak menekan pedal gas. Suara dentuman besi dan plastik yang beradu terdengar nyaring di pelataran parkir gedung perkantoran tersebut. Bumper belakang mobil putih milik Nindya ringsek terhantam oleh bagian depan sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam elegan.
Nindya menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia mematikan mesin, membetulkan letak blazer kremnya, lalu melangkah keluar dari mobil untuk melihat kerusakan yang terjadi.
Dari dalam sedan hitam tersebut, seorang pria berjas abu-abu gelap berpotongan sempurna keluar dengan terburu-buru. Wajahnya tampak panik dan penuh rasa bersalah.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya, Mbak! Saya kurang konsentrasi saat mau parkir—"
Ucapan pria itu mendadak terhenti di udara saat matanya beradu pandang dengan Nindya. Pria itu mematung di tempat. Sorot matanya yang semula cemas berubah menjadi binar terkejut yang luar biasa.
"Nindya?" bisik pria itu, suaranya gemetar.
Nindya mengerutkan dahinya sejenak, meneliti raut wajah tegas, rahang kokoh, dan mata hangat pria berpenampilan sangat karismatik di hadapannya. Memori masa lalu yang telah lama terkubur mendadak mencuat ke permukaan.
"Noval?" panggil Nindya tak percaya.
"Ini beneran kamu, Nin!" Noval menyunggingkan senyum lebar yang sangat familiar—senyuman dari sahabat terbaiknya semasa SMA.
Noval. Pria yang dulu selalu ada untuk Nindya, tertawa bersama di koridor sekolah, dan menjadi pelindungnya. Nindya tidak pernah tahu bahwa sepuluh tahun lalu, Noval sebenarnya sudah siap menyatakan cintanya. Namun, tepat sebelum kalimat cinta itu terucap, Nindya lebih dulu mengabarkan pernikahan mendadaknya dengan Haris demi melunasi utang nyawa keluarga. Dengan hati yang patah dan kecewa, Noval memilih terbang ke luar negeri hari itu juga untuk melanjutkan kuliah, berusaha menghapus bayang-bayang Nindya dari hidupnya.
Kini, sepuluh tahun berlalu. Noval telah kembali ke ibu kota bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan sebagai seorang CEO kaya raya yang sukses memimpin perusahaan konglomerasi internasional. Namun, tatapan matanya saat menatap Nindya masih sama hangatnya seperti dulu.
"Astaga, Nin... aku tidak menyangka bisa bertemu kamu dengan cara seperti ini," ujar Noval sembari terkekeh pelan, menunjuk ke arah bumper mobil Nindya yang penyok. "Maafkan aku, bumper mobilmu jadi korban."
Nindya tak bisa menahan tawa kecilnya. "Tidak apa-apa, Val. Ini cuma kecelakaan kecil."
"Mobilmu harus masuk bengkel. Biar aku yang urus semuanya dan antar kamu pulang," tawar Noval mantap, tanpa menerima bantahan. "Oh ya, aku baru saja dari atas, menemui Lukas. Dia sahabat lamaku sekaligus pengacara perusahaanku. Kamu sendiri sedang apa di gedung ini?"
Nindya tersentak kaget. "Pak Lukas... pengacara dari Lukas & Partners? Dia sahabatmu?"
"Iya, Lukas sahabat dekatku sejak kuliah," jawab Noval dengan dahi berkerut halus, menangkap perubahan raut wajah Nindya. Matanya yang tajam menatap Nindya dengan penuh perhatian. "Nin... ada masalah apa? Kenapa kamu menemui pengacara spesialis perceraian?"
Nindya menatap Noval lurus-lurus. Di hadapan sahabat lamanya yang kini berdiri gagah sebagai pria sukses, Nindya menyadari bahwa takdir sedang menyusun kembali kepingan hidupnya dengan cara yang tak terduga.