Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Lampu kristal di atas meja makan mewah itu memantulkan pendar cahaya yang hangat, membingkai senyuman palsu yang terukir manis di bibirku. Jamuan makan malam yang sarat akan dusta baru saja usai. Bi Sumi dan asisten rumah tangga lainnya mulai sigap merapikan piring-piring porselen yang tersisa.
Aris menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu meletakkannya di samping piring. Ia meneguk air putih hingga kandas, seolah berusaha membasuh sisa-sisa rasa gugup yang sempat menjerat lehernya saat aku menanyakan soal perhiasan ibunya.
"Tita, Mama... Aku ke ruang kerja dulu, ya," pamit Aris sembari bangkit dari kursinya. Ia mengusap pelan bahuku dari belakang, memberikan sentuhan yang diniatkan untuk menunjukkan rasa kasih sayang seorang suami. "Ada beberapa berkas operasional Aris Kitchen yang harus Mas rapikan malam ini. Mungkin Mas bakal lembur sampai larut."
"Iya, Mas. Jangan terlalu diforsir ya kesehatannya," sahutku lembut, menoleh sedikit dengan senyuman tulus yang dipoles sempurna. "Kalau lelah, langsung istirahat."
"Iya, Sayang. Mama, Aku ke dalam dulu."
Mama Rahma mengangguk anggun. "Iya, Nak. Jangan lupa diminum vitamin yang Mama taruh di meja kerjamu."
Aku memperhatikan punggung Aris yang menghilang di balik pintu kayu jati tebal menuju ruang kerjanya di lantai satu. Begitu daun pintu itu tertutup rapat dan terdengar bunyi klik kunci memutar, dadaku menghembuskan napas lega yang begitu dalam.
Rasa bahagia yang dingin menyusup halus ke dalam benakku. Pintu ruang kerja yang terkunci itu adalah benteng penyelamatku malam ini.
Aku sangat bersyukur Aris memutuskan untuk mengurung diri di ruang kerjanya. Bagi Aris, ruang kerja itu adalah tempat pelarian dari kepanikan utangnya dan tempat sembunyi untuk menelepon Larasati tanpa terganggu. Namun bagiku, keputusannya malam ini adalah anugerah terbesar karena itu artinya, aku tidak perlu memutar otak mencari alasan atau menolak halus saat dia meminta haknya sebagai seorang suami.
Menolak melayani Aris secara terang-terangan di saat aku masih memainkan peran istri bucin yang polos hanya akan memantik kecurigaan. Pria seperti Aris memiliki ego yang sangat rapuh, jika sentuhannya mendadak ditolak, naluri penjelajahnya yang penuh kebohongan itu akan langsung siaga. Dan aku belum boleh merusak panggung sandiwara ini sebelum seluruh jaringku terikat sempurna.
Melayaninya?
Hanya membayangkan sentuhan jemarinya di kulitku saja sudah cukup membuat perutku mual hebat.
Aku berdiri dari kursi makan, merapikan gaun silk pastelku yang melambai tipis. "Mama, Tita naik ke kamar dulu ya. Badan Tita agak pegal setelah seharian di kantor."
"Oh, iya, Tita Sayang. Istirahatlah. Jangan terlalu memikirkan masalah pekerjaan," tutur Mama Rahma manis, masih berusaha menjaga citra mertua idaman di hadapanku.
Aku mengangguk pelan, melangkah perlahan menaiki anak tangga marmer menuju lantai dua. Setiap langkah kaki yang kupijakkan terasa begitu berat, bukan karena lelah fisik, melainkan karena beban ingatan yang mendadak menyeruak memenuhi ruang kepalaku.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama yang luas dan megah, aku langsung mengunci pintu. Suasana kamar yang hening dan wangi aromaterapi lavender yang biasanya menenangkan kini terasa bagaikan kurungan yang menyesakkan.
Aku berjalan menuju kamar mandi pribadi yang berdinding marmer hitam. Aku menghidupkan kran bathtub, membiarkan gemericik air hangat mengisi wadah porselen putih itu.
Aku berdiri mematung di hadapan cermin besar di atas wastafel. Lampu halogen di atas cermin memantulkan bayangan diriku secara utuh. Seorang wanita berusia awal tiga puluh tahunan, dengan wajah rupawan, kulit terawat, dan mata yang menyimpan kilat kecerdasan.
Namun, saat menatap pantulan mataku sendiri di cermin, rasa jijik yang luar biasa mendadak membakar dadaku.
Rasa jijik bukan hanya pada Aris, bukan pula hanya pada Larasati atau Mama Rahma.
Rasa jijik pada diriku sendiri yang pernah begitu bodoh dan polos di hadapan mereka.
Aku membuka keran air dingin di wastafel, membungkuk, dan membasuh wajahku berulang kali. Air dingin yang menerpa kulitku tak mampu memadamkan api penyesalan yang membakar ingatan.
Bagaimana bisa aku dahulu begitu lugu? Bagi Aris dan ibunya, aku adalah sosok istri yang sangat sempurna, kaya raya, penurut, berkelas dan selalu sabar melayani segala tingkah mereka. Di mata mereka, aku adalah tambang emas yang tak akan pernah kering.
Lalu, memori pahit satu tahun lalu mendadak menghantam kepalaku dengan keras.
Hari di mana dokter spesialis menyerahkan hasil pemeriksaan akhir dan memvonis bahwa aku sulit bahkan mustahil untuk memberikan keturunan. Aku ingat betul bagaimana hancurnya duniaku hari itu. Aku menangis terisak di pelukan Aris, merasa menjadi wanita paling tidak berguna di dunia karena gagal memberi mereka garis keturunan.
Dan apa yang dilakukan Aris serta Mama Rahma saat itu?
Mereka berlagak bagaikan malaikat tanpa cela. Aris mengelus rambutku penuh kehangatan, berbisik bahwa dia tidak peduli soal anak dan tetap mencintaiku apa adanya. Mama Rahma memelukku erat, tersenyum lembut sembari berkata dengan nada sangat bijak bahwa mereka menerima takdir ini dengan lapang dada. Mereka memintaku tak berkecil hati karena aku tetap menjadi menantu kesayangan di rumah ini.
Betapa indahnya topeng kepalsuan yang mereka pakai hari itu.
Aku menyangka mereka adalah keluarga mertua terbaik di dunia yang tulus menyayangiku. Padahal di balik topeng 'penerimaan yang lapang dada' itu, bisikan keji langsung berhembus di antara mereka berdua.
Di belakang punggungku, Mama Rahma langsung mendesak Aris untuk mencari rahim wanita lain. Dan Aris, pria yang mengaku mencintaiku apa adanya itu, dengan senang hati menyambut usul ibunya. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, dia menikahi Larasati secara siri demi mendapatkan calon anak semuanya dilakukan sembari terus mengeruk kemewahan dari uangku, menggunakan kartu kreditku, dan tinggal di rumah megah yang kubeli!
Mereka pikir Tita adalah wanita bodoh yang bisa mereka bodohi seumur hidup. Mereka pikir aku akan selamanya menjadi mesin pencetak uang yang meratapi nasib diri sementara mereka bersenang-senang di atas penderitaanku.
"Bodoh..." bisikku pada pantulan diriku di cermin. Suaraku bergetar, sarat akan kemarahan yang tertahan di tenggorokan. "Kamu sangat bodoh karena pernah mempercayai air mata buaya mereka, Tita..."
Air mata panas meluncur membasahi pipiku, bercampur dengan sisa air keran di wajah. Aku meremas tepi wastafel marmer hingga buku-buku jariku memutih.
Namun, air mata ini bukanlah air mata kesedihan atau rasa tertekan. Ini adalah air mata pembersihan. Kebodohan itu resmi berakhir di hari aku menemukan bukti pernikahan siri mereka.
Aku membuka mataku kembali. Tatapan mataku di cermin kini tak lagi memancarkan rasa bersalah. Kilat air mata itu berganti menjadi dingin yang membekukan, setajam sembilu.
Aku mengusap pipiku dengan handuk kecil hingga kering.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Rasa jijik ini tidak boleh melemahkanku. Rasa jijik ini harus menjadi bahan bakar paling beracun untuk membakar habis seluruh tempat berlindung Aris dan keluarganya. Tanpa air mata atau labrakan emosional yang murahan, aku akan mengeksekusi mereka dengan cara paling berkelas.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi, mengenakan gaun tidur sutra berpotongan panjang yang elegan. Aku berjalan menuju meja hias di sudut kamar, mengambil ponsel khusus bernomor rahasia yang tersimpan di balik laci terkunci.
Aku menyalakannya dan menekan tombol panggilan cepat.
"Selamat malam, Bu Tita," suara Siska terdengar lugas di seberang telepon, siap menerima perintah kapan saja.
"Siska," panggilku dengan nada suara yang sangat tenang dan dingin.
"Bagaimana perkembangan pergerakan Aris malam ini?"
"Sesuai perkiraan Ibu. Berdasarkan rekaman peretasan sinyal ponsel Pak Aris sepuluh menit yang lalu, beliau baru saja melakukan transfer dana sebesar tiga puluh juta rupiah ke rekening Larasati dari hasil penggadaian perhiasan Bu Rahma siang tadi."
Aku menyunggingkan senyum sinis. "Hanya tiga puluh juta? Dia menahan sisanya untuk menutup mulut suplier bahan baku?"
"Benar, Bu. Pak Aris menyisihkan lima puluh juta sisanya untuk memberikan uang muka penahan utang ke PT Boga Utama Sejahtera agar pengiriman daging dan bahan segar untuk dua cabang restoran bisa dibuka kembali esok hari."
Aku berjalan mendekati jendela kaca besar kamar utama, menatap ke arah halaman belakang rumah yang gelap.
"Dia pikir dia bisa bernapas lega malam ini," gumamku pelan. "Siska, saatnya kita beri sedikit kejutan untuk adik kesayangan Mas Aris."
"Maksud Ibu... Mba Jessica?"
"Ya," sahutku penuh wibawa. "Jessica dan suaminya, Reno, kan paling suka menuntut fasilitas dan uang dari Aris. Kirimkan pesan anonim pada Jessica malam ini. Buat Jessica tahu bahwa Aris baru saja mencairkan dana segar puluhan juta hari ini, tapi Aris sengaja menyembunyikannya dari Jessica dan Mama Rahma."
Siska terkekeh pelan di seberang telepon. "Skenario yang sangat cerdas, Bu Tita. Jessica pasti tidak akan terima kalau kakaknya punya uang tetapi tidak membagikan jatah untuk cicilan mobil mewahnya atau belanja tas bermereknya."
"Tepat," jawabku dingin. "Jessica itu sangat matre dan tidak sabaran. Jika dia tahu Aris memegang uang tunai segar, dia akan datang ke rumah ini esok hari dan menuntut haknya pada Aris dan Mama Rahma. Biarkan benalu-benalu kecil itu saling berebut sisa makanan."
"Baik, Bu Tita. Pesan anonim akan dikirimkan ke ponsel Jessica dalam lima menit."
"Satu hal lagi, Siska," tambahku sebelum mematikan telepon. "Pastikan orang kita di PT Boga Utama Sejahtera tetap menolak kelonggaran pembayaran utang jangka panjang. Uang muka lima puluh juta itu hanya boleh berlaku untuk bahan baku dua hari. Setelah dua hari, tutup rapat saluran suplier mereka kembali."
"Siap, Bu. Semuanya sudah terkondisi sesuai instruksi."
"Bagus. Selamat malam, Siska."
Aku mematikan sambungan telepon dan memasukkan kembali ponsel rahasia itu ke dalam laci tersembunyi.
Pukul sebelas malam.
Aku mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur remang-remang di samping ranjang. Aku berbaring di atas tempat tidur king size berbahan katun mesir yang amat lembut.
Di lantai bawah, aku tahu Aris mungkin masih meringkuk di kursi kerjanya, mengurut dahi sembari menatap layar ponselnya yang dipenuhi pesan-pesan manja tapi memeras dari Larasati. Pria itu mengira bahwa dengan mengorbankan perhiasan ibunya, dia telah berhasil membeli kedamaian dan menyelamatkan pernikahan mewahnya denganku.
Dia tidak tahu bahwa setiap rupiah dari uang hasil gadaian emas itu hanyalah umpan yang kusiapkan untuk memicu perang saudara di dalam keluarganya sendiri.
Esok hari, ketika Jessica datang membawa tuntutan barunya, dan ketika Larasati kembali merasa kurang dengan uang tiga puluh juta itu, Aris akan menyadari bahwa neraka yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Aku menarik selimut sutra menutup dadaku, menyandarkan kepala di atas bantal empuk. Untuk pertama kalinya, aku bisa memejamkan mata dengan perasaan sangat tenang dan damai.
Tidak ada lagi rasa takut atau rendah diri di hadapan keluarga benalu itu. Yang ada hanyalah kepuasan dingin dari seorang wanita yang sedang menikmati detik-detik kehancuran para pengkhianatnya.
"Tidurlah yang nyenyak malam ini, Mas Aris. Karena esok hari, sandiwara yang kuciptakan akan menagih harga yang jauh lebih mahal dari sekadar kotak perhiasan ibumu."
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣