Rachel kembali ke masa lalu dan terjebak dengan sang mantan.
"Kali ini kamu tidak akan bisa kabur dariku," ucap Zen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Tertawalah
"Sonya meninggal Tuan," lapor pak Tomi pada kakek Jared.
"Bagus, dia akan meninggal dengan membawa nama buruk. Katakan pada semua media bahwa wanita itu berencana membunuh janin yang dikandung Rachel. Dengan begitu orang-orang akan kehilangan simpati padanya. Minta Zen untuk mengadakan rapat direksi, minta semua petinggi untuk mengeluarkan Lucas dari perusahaan Wallace Kingdom. Citra sebagai seorang pembunnuh akan merusak nama baik perusahaan, jadi mereka harus dikeluarkan," titah kakek Jared, senyum penuh kemenangan telah terukir di wajahnya.
Perperangannya dengan Sonya akhirnya berakhir dengan indah.
"Baik Tuan," jawab pak Tomi dengan patuh.
*
*
Di rumah sakit Lucas hendak kembali memukul Zen, namun kali ini Reino menahan perkelahian kedua saudara tiri tersebut.
Sekarang semua tabir telah terkuak, bahwa kakek Jared lah yang memang mengadu domba mereka. Hanya demi harta dan kekuasaan agar tetap berada di bawah kuasanya.
Mobil yang melintas tadi tak mungkin orang lain, pasti suruhan kakek Jared. Melenyapkan mama Sonya dan kelak Zen yang akan menanggung semua bebannya. Inilah permainan kotor kakek Jared, sekali tepuk dua lalat mati di tangannya.
Sonya meninggal dan Zen akan tetap jadi bonekanya.
"Cukup Luc! Inilah yang dinginkan kakek Jared untuk kalian berdua, saling membenci seperti ini," ucap Reino.
"Aku tidak peduli dengan kakek Jared! Aku hanya ingin mamaku kembali! Aku ingin Zen mati untuk menggantikan mamaku!" balas Lucas dengan air mata yang telah jatuh bercucuran, kedua matanya merah penuh amarah dan kesedihan yang bertumpuk jadi satu.
Mama Sonya memiliki tubuh yang ringkih, pendarahan yang dia alami sampai ke otak hingga membuatnya tewas saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Dan mendengar ucapan Lucas tersebut hati Zen terasa makin teriris, sesuatu yang tak pernah dia bayangkan kini terjadi di depan matanya. Setelah semua ingatkannya kembali, Zen justru kembali kehilangan sang ibu untuk kedua kalinya.
Zen masih terduduk di lantai, mengepalkan kedua tangan kuat dengan air mata yang jatuh pula.
Beberapa saat tak ada kata yang terucap di sana, Lucas menangis diantara tubuhnya yang ditahan oleh Reino. Zen menangis di lantai dan Rachel pun menangis di kursi tunggu.
"Kenapa kamu menangis? kenapa seolah ibumu yang mati? Bukankah ini memang tujuanmu? jika bukan karena Mama, selama ini aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai kakak," ucap Lucas.
"Jangan menangis! Jangan bertindak seolah kamu menyesal, tertawa lah Zen, tertawalah karena sekarang mamaku sudah meninggal," kata Lucas lagi, dunianya begitu hancur. Langit runtuh tak mampu dia tahan.
Lucas tak mungkin bisa bertahan sejauh di rumah itu jika bukan karena Mama Sonya. Mama yang selama ini selalu memberi pengertian bahwa kini Zen hanya sendiri, kini hanya merekalah saudara yang Zen punya, tapi apa yang mereka dapat sekarang.
Lucas justru mendapatkan luka yang begitu dalam.
Di saat seperti itu Zen akhirnya mengambil pergerakan untuk berdiri. Dengan perasaan yang begitu putus asa dia berdiri di hadapan Lucas.
"Jangan menangisi mamaku! Tertawalah, aku ingin melihatmu tertawa," ucap Lucas, kalimat yang terasa begitu pilu.
Membuat Zen makin hancur.
Dokter yang menangani mama Sonya di UGD keluar dan menghampiri mereka semua. "Jenazah ibu Sonya sudah bisa dibawa pulang dan dimakamkan," jelas sang dokter.
Namun tak ada satupun diantara Lucas dan Zen yang mampu menjawabi ucapan tersebut. Keduanya telah begitu hancur.
#btw ini aku baca yg kesekian kalinya. habis gabut gda bacaan lagi
jahat bener tuh kakek tua