Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 35 Sudah ditemukan
Setelah mengetahui bila Elena berada di Surabaya, detektif Angga dan tim yang terdiri dari lima orang itu segera melakukan pencarian di kota tersebut.
"Berdasarkan CCTV di terminal, begitu turun dari bus, Bu Elena berjalan kaki ke arah barat," ucap salah satu anak buah detektif Angga yang berjalan sembari membawa tablet.
"Baiklah kita cari Bu Elena ke arah barat," ucap detektif Angga.
Pria itu langsung meminta anggota timnya untuk mencari Elena di setiap rumah yang berada di arah barat.
Satu persatu rumah warga diketuk oleh mereka untuk menanyakan keberadaan Elena.
Banyaknya rumah yang diketuk oleh mereka namun masih tidak mendapatkan hasil.
Tidak ada satu orang pun yang mengenali Elena.
"Yakin, ibu tidak pernah melihat wanita ini?" tanya detektif Angga yang menunjukkan selembar foto Elena.
"Yakin Pak, saya belum pernah melihat wanita ini," ucap Ibu tersebut.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap detektif Angga.
Pria itu kemudian melanjutkan pencarian Elena ke rumah-rumah selanjutnya.
Detektif Angga sudah berjalan kearah barat kurang lebih sejauh 1 km dari terminal untuk mencari Elena.
"Pak Angga, di sini ada yang pernah melihat Bu Elena," ucap salah satu anak buah detektif Angga.
"Tunggu saya di sana," ucap detektif Angga, kemudian mendekat pada anak buah yang tadi memberitahu dirinya bahwa ada seseorang yang pernah melihat Elena.
"Siapa yang pernah melihat bu Elena di sini?" tanya Angga.
Beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak di sana mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa mereka pernah melihat Elena.
"Di mana Anda pernah melihat Bu Elena?" tanya Angga pada seorang wanita paruh baya.
Angga bertanya pada orang yang tepat. Wanita paruh baya itu adalah Bu Indah pemilik kontrakan yang pernah Elena tempati.
"Mbak Elena ini pernah tinggal di kontrakan saya beberapa minggu yang lalu," ucap Bu Indah.
"Lalu ke mana dia sekarang?" tanya Angga.
"Sekarang Mbak Elena tinggal bersama temannya yang punya toko sembako di ujung jalan ini," ucap Bu Indah sembari mengarahkan jari telunjuknya menunjuk toko sembako yang tadi sudah dilewati detektif Angga dan tim.
Pandangan detektif Angga mengikuti ke mana arah jari telunjuk Bu Indah menunjuk.
"Toko sembako itu?" tanya detektif Angga memastikan.
"Betul Pak," ucap Bu Indah.
"Terima kasih Bu, saya akan memastikannya ke sana," ucap detektif Angga.
Setelahnya pria itu bersama tim berpamit pada Bu Indah dan beberapa warga lainnya yang ada di tempat itu.
"Kalian tunggu saja di mobil, ini biar aku yang memastikan sendiri apa Bu Elena ada di toko itu atau tidak," ucap detektif Angga.
"Baik Pak," ucap serentak anak buah detektif Angga kemudian mereka kembali ke mobil.
Detektif Angga melanjutkan langkah kakinya untuk menuju toko sembako tersebut dimana katanya Elena tinggal di sana.
"Selamat datang Pak, silahkan masuk," ucap pelayan toko tersebut membukakan pintu masuk.
Detektif Angga menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam toko tersebut.
Benar apa yang dikatakan Bu Indah tadi, bila wanita yang sedang dicarinya berada di toko tersebut.
Elena sedang duduk di kursi meja kasir, karena ia hanya diperbolehkan Nia mengerjakan itu karena pekerjaan yang lainnya cukup berat harus mengangkat, memindah dan menyusun barang.
Detektif Angga yang telah berhasil menemukan keberadaan Elena, segera menghubungi Satria.
Karena Satria lah yang meminta pada pria itu untuk menjadi orang yang pertama dihubungi setelah mendapatkan kabar keberadaan Elena.
"Siang pak," ucap detektif Angga setelah sambungan telepon tersebut terhubung.
"Apa ada informasi mengenai Elena?" tanya Satria di seberang telepon.
Satria sudah bisa menggerakkan tangannya sendiri, sehingga ia bisa memegang ponsel untuk berteleponan tanpa harus dibantu oleh orang lain.
"Saya sudah berhasil menemukan Bu Elena, Pak," ucap detektif Angga.
"Benarkah? di mana dia sekarang? apa dia baik-baik saja?" tanya Satria beruntun.
"Sebaiknya Anda lihat saja sendiri, Pak. Panggilan teleponnya saya rubahkan ke video call, ya." ucap detektif Angga.
"Iya cepat ubah ke video call." titah Satria senang sekali.
Detektif Angga kemudian merubah panggilan telepon tersebut menjadi panggilan video, lalu setelahnya mengarahkan kamera belakang diponselnya kepada Elena yang sedang duduk di kasir melayani orang-orang yang membayar belanjaan mereka.
Mata Satria berkaca-kaca menatap pada layar ponselnya yang menampilkan gambar Elena tengah bekerja.
Dilihat oleh Satria, Elena tersenyum lebar sembari melayani orang-orang yang sedang membayar belanjaan padanya.
Elena juga terlihat sangat ceria dan bahagia.
Wanita itu benar-benar sangat menikmati kehidupannya yang sekarang ini.
Meski hidup sederhana tapi ia tidak merasa terbebani oleh kehidupannya sekarang ini.
Elena sudah mulai terbiasa dengan hidup tanpa orang yang ia cintai dan keluarga yang menyayanginya.
"Kamu terlihat jauh lebih baik dari pada saat bersamaku," gumam Satria menatap nanar pada wajah Elena di ponselnya.
"Aku harap kamu mau mema'afkan aku, El." gumam Satria.
Cukup lama pria itu memandangi wajah cantik istrinya yang ada di ponselnya itu.
Elena yang sedang duduk di kursi meja kasir, sesekali juga mengusap keringat dikeningnya menggunakan punggung tangannya.
Wanita itu juga tak jarang mengusap perutnya yang terasa lapar karena harus sering-sering makan karena ada janin didalam perutnya yang ikut makan.
Satria mengerutkan keningnya melihat Elena yang sering mengusap perut wanita itu dalam benak pria itu apakah Elena sedang sakit perut?
Satria tidak tahu saja Elena mengusap perutnya karena wanita itu merasa anak yang berada di dalam perutnya sedang lapar.
Tidak lama kemudian detektif Angga ditegur oleh pelayan toko yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya pelayan toko tersebut pasalnya sejak tadi pelayan toko itu melihat detektif Angga hanya diam berdiri sembari video call-an.
Sontak saja detektif Angga langsung mematikan sambungan video call-nya karena takut ketahuan bila ia sedang mengarahkan kamera ponselnya pada Elena
"Hahh?" ucap detektif Angga gelagapan.
"Apa yang mau Anda beli, pak?" tanya pelayan itu lagi.
"Gula 2 kilo, sama kopi bubuk satu bungkus besar," ucap detektif Angga asal.
Iya tidak ada niatan untuk belanja, sehingga hanya gula dan kopi lah yang ada di pikirannya.
"Baik Pak, kalau begitu tunggu sebentar belanjaan anda akan saya siapkan," ucap pelayan toko tersebut yang dijawab anggukkan kepala oleh detektif Angga.
Pelayan toko tersebut kemudian pergi dari hadapan Angga untuk menyiapkan belanjaan yang hendak dibeli pria itu.
Setelah kepergian pelayan toko tersebut, Angga kembali menghubungi nomor ponsel Satria.
"Kenapa dimatikan?" tanya Satria.
"Maaf, Pak, tadi ada pelayan toko yang menghampiri saya," jawab Angga.
"Tugas kalian sudah selesai, karena Elena sudah ditemukan. Sisanya biar saya sendiri yang urus," ucap Satria.
"Baik Pak," ucap Angga.