"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Boncengan Bersama
Celia masih saja galau pergara nilai, dengan menggunakan motor Vespanya akhirnya dia bubar bersama dengan teman-temannya dari tongkrongan, mereka tidak selalu keluar malam, hanya jika besok libur sekolah maka mereka akan janjian untuk makan di luar. Tetapi kali ini masih terlalu cepat untuk kembali ke rumah, mood Celia berantakan yang membuatnya memilih untuk pulang.
Dengan motor andalannya berwarna pink dipadukan dengan putih senada dengan warna helmnya yang campuran warna pink dengan sedikit garis biru. Celia terlihat santai melajukan mobilnya sembari mendengar musik dengan menggunakan earphone di telinganya.
Mungkin tampak seperti anak zaman sekarang, gen z yang selalu mengikuti trend dan menurutnya cara berpakaiannya dan juga apa yang dikenakan setiap hari tidaklah norak dan kampungan seperti apa yang dikatakan Alfian dan teman-temannya.
Di tengah kegalauannya tiba-tiba saja Celia membelalak kaget, saat merasa seperti ada sesuatu.
"Jangan bilang ini adalah hari sial," ucapnya tidak ingin berurusan dengan hari-hari yang tidak bersahabat dengannya.
"Ya ampun!"
Refleks, jemarinya langsung menarik tuas rem depan dan belakang sekuat tenaga. Ban motor berdecit nyaring, bergesekan dengan aspal. Tubuhnya terdorong ke depan akibat pengereman mendadak, sementara setang motor bergetar hebat di kedua tangannya.
Motor itu oleng.
Celia berusaha keras menjaga keseimbangan. Kedua lengannya menegang, napasnya tercekat. Ia mencoba memutar setang sedikit ke kiri agar tidak menabrak pria di depannya, tetapi laju motor yang masih memiliki kecepatan membuat Scoopy itu bergoyang ke kanan dan kiri.
"Astagfirullah, ya Allah!"
"Astaga... astaga..."
Wajahnya memucat. Ia menggigit bibir bawah, berusaha mengendalikan motor yang terasa semakin sulit diajak lurus. Roda depan sempat bergeser, membuat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Mata Celia terbelalak kaget ketika melihat seorang pria yang tampak bercelana pendek selututnya dengan kaos yang dipadukan dengan jaket berwarna coklat yang hendak menyebrang jalan.
Pria yang baru menyadari keberadaan motor itu sontak membeku. Matanya membesar ketika melihat Scoopy meluncur hanya beberapa meter di depannya. Pria itu tak lain adalah Alfian.
"Awas minggir!"
Celia sudah memberi aba-aba bahkan di tengah ketegangan itu tangannya masih sempat untuk bergerak-gerak mengarahkan agar tidak tetap berada di jalan dan sementara Alfian masih membeku diam di tempatnya.
Ciiittt...
Motor akhirnya berhenti mendadak tepat di hadapannya. Jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa senti.
Celia masih mencengkeram setang erat-erat. Dadanya naik turun, napasnya memburu. Bahunya bergetar pelan karena schok Beberapa helai rambut yang keluar dari balik helm menempel di pipinya yang mulai memerah.
Alfian terdiam sejenak, ikut mengatur napas yang sempat tercekat. Tatapannya beralih pada wanita yang masih terlihat kesulitan menstabilkan motornya.
Dengan cepat ia melangkah mendekat dan meraih bagian belakang jok serta setang motor untuk membantu menahan Scoopy yang masih sedikit oleng.
"Tenang... motornya sudah berhenti," ucapnya pelan.
Celia mengembuskan napas panjang. Jemarinya yang semula gemetar perlahan mulai mengendur dari genggaman setang. Ia menoleh ke arah pria itu dengan wajah yang masih dipenuhi keterkejutan.
"Lo mau mati ya!" ucap Alfian dengan aura wajah tampak marah.
"Heh yang adanya gue yang ngomong kayak gitu, lu ngapain coba di tengah-tengah aspal kayak gitu mah bunuh diri lo hah!" sahut Celia dengan mulutnya kembali mengoceh.
"Apa!"
"Jadi ini salah gue?" sahut Alfian.
"Ya terus lo ngapain di tengah-tengah aspal kayak gitu, mana mobil mewah lo dan teman-teman lo itu hah!" sahut Celia menyambar dengan kata-katanya yang sangat tajam.
"Heh Celia, seharusnya lo bersyukur dengan keberadaan gue di sini dan motor lo bisa berhenti dan gak nabrak!" tegas Alfian.
"Ahhhhh, sudahlah, jangan ajak gue ngobrol, gue mah nggak pernah pas dulu," ucap Celia tidak ingin berbicara apapun, menarik nafasnya panjang dan membuang perlahan ke depan.
Alfian hanya memperhatikan saja yang juga Celia.
"Lo ngapain di sini? mana teman-teman lo yang songong itu?" tanya Celia.
"Mereka pergi entah ke mana," jawab Alfian.
"Jadi lo ditinggalin?" tebak Celia.
"Ha-ha-ha, kasihan sekali gue kira teman-teman setia kawan kayak gitu nggak akan pernah ninggalin eh ternyata bisa juga, ternyata masih untung punya sahabat seperti Chika dan Chaca yang selalu ada," ucap Celia mengejek.
"Apa ada yang lucu yang harus ditertawakan?" tanya Alfian.
"Memang tidak boleh menertawakan orang kaya, bukankah kalian tadi dengan seenaknya tertawa tidak jelas seperti itu," sahut Celia.
Alfian menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan,
"Lo akan terus berada di tengah-tengah jalan seperti ini, bagaimana jika ada truk besar yang melintas dari belakang, tubuhlo bisa jadi kerupuk," ucap Alfian mengalihkan pembicaraan dengan mengingatkan bahwa posisi mereka berbicara tidaklah pas membuat Celia menoleh ke belakang dan cukup ngeri juga berbicara di tengah jalan.
"Ya sudah gue mau pulang!" Celia kembali memakai helmnya.
Tetapi tiba-tiba tidak jadi melajukan mobil tersebut dengan melihat ke Alfian.
"Lo sendiri bagaimana? mau di tengah-tengah aspal ini sampai matahari terbit?" tanya Celia
"Kok peduli, sudah mulai suka?" goda Alfian.
"Heh cat Avian nggak usah kepedean," sahut Celia dengan sewot.
"Mau ikut nggak?" tanya Celia dengan berbaik hati menawarkan diri.
"Minggir!" ternyata Alfian tidak keberatan dan bahkan menaiki motor tersebut dengan duduk di depan.
"Pakai helm!" Celia memberikan helmnya pada Alfian.
"Nggak usah bau," tolak Alfian.
"Sembarangan, ini helm paling wangi, gue selalu bersihkan dan pakai parfum khas yang menyebar aroma ke seluruh penjuru dunia," ucapnya.
"Terlalu berlebihan," sahut Alfian tidak berbicara apapun dan langsung melajukan motor tersebut dan Celia tersungkur ke depan karena tidak siap dan untung saja masih bisa mengendalikan posisi tubuhnya sehingga tidak berbenturan dengan Alfian.
Alfian dan Celia terlihat berada di atas motor dengan angin sepoi-sepoi, kelajuan menaiki motor tersebut juga tampak stabil dan ternyata Alfian bisa menaiki motor lagi-lagi Celia menemukan kelebihan pria tersebut.
Jika Alfian tidak memakai helm dan sama dengan Celia yang meletakkan helmnya di tengah-tengah sebagai penghalang antara mereka berdua.
"Lo nggak takut malam-malam naik motor sendirian?" tanya Alfian.
"Kenapa takut, ini jalanan yang biasa gue lewat dan selamanya tidak ada masalah, tidak ada hal apapun kejadian apapun itu," jawabnya.
"Anggap saja lo lagi beruntung, gimana kalau sial itu tiba-tiba saja datang, siapa tahu saja banyak orang-orang jahat, begal atau preman-preman, lo bisa digangguin, harta benda lo bisa diambil, motor lo yang gak seberapa itu bisa mereka jual, bukan hanya itu lo juga bisa saja di perkaos lalu dibunuh dan mayat lo dibuang ke dalam jurang," ucap Alfian dengan sesuka hatinya berbicara membuat Celia tiba-tiba saja merinding.
"Issss, apaan sih lo!" Celia tidak mampu menahan diri untuk tidak memukul pundak Alfian.
"Jangan doa yang jahat-jahat, sesama manusia itu mendoakan yang baik-baik," tegas Celia.
"Gue cuma ngingetin doang, lagian cewek alay kayak lo jalan sendirian di tempat sepi kayak gini dan itu pasti memancing kejahatan, kalau sudah kena aja nanti baru nyesel," ucap Alfian.
"Berisik lo," Celia lagi-lagi memukul pundak Alfian.
"Sentuh-sentuh, bukan muhrim!" ucap Alfian mengingatkan yang membuat Celia menaikkan satu ujung bibirnya.
Terkadang pria yang sedang mengendarai motor itu memiliki kepribadian yang begitu aneh.
Bersambung.....