NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

"Aku cuma tidak mau kehilangan Mama untuk kedua kalinya."

Kalimat itu membuat Lily lama tidak bersuara. Kiana tahu Mama ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia juga tahu Lily bukan orang yang memaksa anaknya bicara saat luka masih basah.

Malam itu, setelah Hendro masuk ke ruang kerja dan rumah kembali pura-pura tenang, Kiana meminta Bi Lan membantunya naik ke kamar. Begitu pintu tertutup, wajah rapuh yang ia tunjukkan pada Mama menghilang sedikit demi sedikit.

Ia membuka laci meja, mengambil map kulit cokelat yang sejak dulu disimpan Engkong untuknya.

Di kehidupan sebelumnya, Kiana baru benar-benar memahami isi map itu setelah semuanya terlambat. Saat itu, ia sudah menikah dengan Jovian, tapi seluruh keputusan Bintang Grup tetap dikendalikan Hendro dengan alasan Kiana "tidak paham bisnis". Ia terlalu sibuk menjadi istri sempurna sampai lupa membaca haknya sendiri.

Kali ini, ia membaca setiap baris dengan mata dingin.

Wasiat Mendiang Engkong Lim.

Jika cucu perempuan satu-satunya, Kiana Lim, telah menikah secara sah sebelum usia dua puluh lima tahun, maka hak kelola empat puluh persen saham Bintang Grup berpindah ke tangannya, disahkan melalui notaris keluarga.

Jari Kiana berhenti di angka itu.

Empat puluh persen.

Itu bukan sekadar saham. Itu kunci untuk menarik Mama keluar dari cengkeraman Hendro, kunci untuk menghalangi Vanya masuk lewat pintu belakang, dan kunci untuk mengambil kembali semua yang di kehidupan sebelumnya ia lepaskan demi seorang pria.

Masalahnya, pernikahannya dengan Jovian sudah batal.

Besok adalah tanggal yang seharusnya menjadi hari pernikahan mereka.

Jika ia melewatkan kesempatan ini, Hendro pasti akan memakai celah waktu untuk menggugat isi wasiat, menunda proses notaris, atau lebih buruk, membuat Kiana terlihat tidak stabil setelah kebakaran.

Kiana mengambil ponsel.

Kontak bernama Vani berada di urutan atas.

Pesan pertama yang ia ketik sangat singkat.

Kia: Vani, sepupumu masih single?

Balasan datang kurang dari sepuluh detik.

Vani: Yang mana? Sepupu gue banyak, Kia. Kalau yang kaya, yang ganteng, atau yang bikin keluarga sakit kepala?

Kiana menatap layar beberapa detik, lalu mengetik.

Kia: Yang pemadam kebakaran. Yang pernah kamu bilang sering disuruh nikah.

Kali ini, Vani langsung menelepon.

Kiana mengangkat sebelum dering kedua.

"Lo kenapa tiba-tiba nanya Hans?" suara Vani datang cepat, tajam, penuh curiga. "Jangan bilang Jovian bikin ulah lagi."

"Dia membatalkan pernikahan."

Di seberang sana, hening satu detik.

Lalu ledakan.

"Apa?!" Vani hampir berteriak. "Di mana dia? Gue kirim somasi malam ini juga. Nggak, tunggu, gue datang ke rumah lo sekarang."

"Vani," potong Kiana. "Aku butuh satu hal."

"Apa?"

"Aku butuh pernikahan."

Kali ini Vani benar-benar diam.

Kiana bisa membayangkan sahabatnya berdiri dengan ponsel menempel di telinga, mata membelalak, mungkin lupa menutup laptop berisi dokumen klien.

"Kia," kata Vani pelan, "lo sadar baru ngomong apa?"

"Sadar. Engkong punya syarat di wasiat. Menikah sebelum dua puluh lima. Kalau tidak, hak kelola empat puluh persen bisa ditahan."

Vani mengumpat pendek. "Hendro tahu?"

"Pasti tahu."

"Dan dia baru saja masukin Vanya ke Bintang Grup?"

"Senin."

"Brengsek." Vani menarik napas kasar. "Oke. Hans single. Umur dua puluh delapan. Tinggi sekitar seratus delapan puluh delapan, mungkin lebih. Pemadam di Pos Damkar Tanjung Priok. Orangnya dingin, susah diajak ngobrol, tapi kalau dia janji, dia pegang. Keluarga udah capek nyuruh dia nikah."

Kiana memejamkan mata.

"Bisa kamu tanya malam ini?"

"Kia, ini bukan beli tiket konser."

"Aku tahu."

"Lo yakin bukan karena sakit hati?"

Kiana melihat map wasiat di pangkuannya, lalu telapak tangannya yang masih dibalut.

"Justru karena aku sudah tidak mau sakit hati."

Vani terdiam lagi. Ketika bicara, suaranya lebih lembut. "Oke. Gue tanya. Tapi kalau dia setuju, lo harus tetap bikin perjanjian pranikah. Aset lo aman. Tubuh lo aman. Hidup lo aman. Ngerti?"

Sudut bibir Kiana bergerak samar.

"Makanya aku menelepon pengacara."

"Bagus. Masih ada otak." Vani menghela napas. "Tunggu kabar gue."

Telepon terputus.

Malam itu Kiana tidak tidur nyenyak. Kakinya berdenyut, telapak tangannya perih, tetapi pikirannya jauh lebih jernih daripada tahun-tahun yang ia habiskan menunggu Jovian pulang.

Pukul enam pagi, Vani mengirim lokasi Catatan Sipil Jakarta Selatan.

Vani: Jam sembilan. Bawa KTP, KK, akta lahir, foto. Gue sudah kirim format perjanjian. Sepupu gue setuju.

Kia: Secepat itu?

Vani: Dia cuma jawab, "Boleh." Itu orang memang irit kata. Jangan kaget.

Kiana menatap satu kata itu lama.

Boleh.

Jawaban yang terlalu sederhana untuk keputusan sebesar pernikahan.

Pukul sembilan kurang lima, mobil yang dipesan Kiana berhenti di depan kantor Catatan Sipil. Ia turun perlahan, dibantu sopir, dengan penyangga di pergelangan kaki dan map dokumen di tangan.

Hari ini seharusnya ia memakai gaun pengantin.

Sebagai gantinya, ia memakai kemeja putih longgar, celana hitam, dan sepatu datar. Wajahnya pucat, tetapi matanya bersih.

Di bawah kanopi pintu masuk, seorang pria berdiri membelakanginya.

Kaos hitam. Celana kargo gelap. Bahu lebar yang membuat orang-orang di sekitar tampak lebih kecil. Rambutnya dipotong pendek, rapi tanpa usaha. Ia tidak memainkan ponsel seperti orang menunggu. Ia hanya berdiri, diam, seolah seluruh kebisingan pagi tidak ada hubungannya dengan dia.

Lalu pria itu berbalik.

Napas Kiana tertahan.

Wajah itu.

Garis rahang tegas yang semalam sempat diterangi lampu ambulans. Mata gelap yang menatapnya di balik masker pemadam. Punggung yang menahan balok panas agar tidak mengenai tubuhnya.

"Kamu..." Kiana hampir berbisik.

Pria itu menatap penyangga di kakinya, lalu telapak tangannya yang dibalut.

"Masih sakit?"

Nada suaranya sama. Rendah, pendek, tanpa basa-basi.

Kiana menelan keterkejutan. "Kamu pemadam semalam."

"Hans Kei." Ia memperkenalkan diri seolah sedang mengisi formulir. "Sepupu Vani."

Kebetulan seperti ini, kalau terjadi di kehidupan sebelumnya, mungkin akan Kiana anggap takdir romantis.

Sekarang ia hanya tahu satu hal.

Orang yang semalam menyelamatkannya dari api, pagi ini berdiri di depan Catatan Sipil untuk menjadi suaminya.

"Kiana Lim," katanya, meski jelas Hans sudah tahu.

Hans mengangguk. "Kita bicarakan syarat dulu."

Mereka duduk di bangku luar kantor. Kiana mengeluarkan draf perjanjian dari Vani.

"Pernikahan ini untuk memenuhi kebutuhan legal," kata Kiana. "Kita tidak saling mengganggu hidup pribadi. Harta masing-masing terpisah. Kalau suatu hari perlu bercerai, kita selesaikan baik-baik melalui prosedur hukum. Aku paling tidak suka kebohongan."

Hans membaca cepat. "Setuju."

"Kamu tidak mau menambah syarat?"

Ia mengangkat mata. "Ada."

Kiana menunggu.

"Aku tidak tertarik pada perempuan." Wajah Hans tetap datar. "Aku menikah hanya untuk menghentikan desakan keluarga. Jangan menaruh perasaan yang tidak perlu padaku."

Kiana berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia mengangguk dengan sangat sopan. "Aku mengerti. Aku menghormati batasanmu."

Tatapan Hans berhenti di wajahnya, seolah merasa jawaban itu sedikit aneh. Namun ia tidak bertanya.

"Kalau begitu masuk," katanya.

Kiana berdiri. Baru dua langkah, rasa nyeri menyambar pergelangan kakinya. Ia menggigit bibir, berusaha menjaga keseimbangan.

Bayangan tinggi jatuh di depannya.

"Terlalu lambat."

"Aku bisa jalan."

"Bisa, tapi lama."

Sebelum Kiana sempat membalas, Hans sudah membungkuk dan mengangkatnya ke dalam pelukan.

Map dokumen hampir jatuh dari tangan Kiana. Ia refleks mencengkeram bahu pria itu. Aroma sabun, matahari pagi, dan sedikit asap yang masih tertinggal di jaketnya langsung memenuhi napasnya.

"Hans..."

"Pegang dokumenmu."

Orang-orang di ruang tunggu menoleh. Petugas di loket bahkan berhenti mengetik. Kiana merasa telinganya panas, tetapi wajah Hans tetap tanpa ekspresi, seolah menggendong calon istri masuk kantor negara adalah bagian normal dari prosedur administrasi.

Prosesnya berjalan lebih cepat daripada yang Kiana bayangkan.

Formulir. Tanda tangan. Pemeriksaan dokumen. Foto dengan latar putih. Petugas perempuan paruh baya menatap mereka bergantian, lalu tersenyum tipis ketika melihat Hans masih berdiri terlalu dekat dengan kursi Kiana.

"Suaminya perhatian sekali," katanya.

Kiana hampir tersedak.

Hans hanya menjawab singkat, "Dia cedera."

Setelah cap terakhir turun di atas dokumen, petugas menyerahkan dua buku nikah sipil dan satu lembar bukti pencatatan.

"Selamat. Pernikahan kalian sudah tercatat sah di Catatan Sipil."

Kiana menatap namanya berdampingan dengan nama Hans Kei.

Tidak ada bunga. Tidak ada gaun. Tidak ada janji cinta palsu.

Anehnya, dadanya terasa lebih lapang daripada kemarin.

Di luar kantor, Hans menyerahkan sebuah kartu ATM hitam polos.

Kiana menatap kartu itu. "Apa ini?"

"Kartu gaji."

"Untuk apa diberikan padaku?"

"Di pos, kalau laki-laki menikah, kartu gaji diserahkan ke istri." Hans berkata seolah itu hukum alam. "Password enam angka sembilan. Saldo terakhir Rp 500.000."

Kiana terdiam.

Rp 500.000.

Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu buket bunga dari vendor pernikahan Jovian, tetapi pria di depannya menyerahkannya dengan wajah serius, seperti itu seluruh dunia yang ia punya.

"Kamu yakin?" tanya Kiana pelan. "Aku tidak membutuhkan uangmu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu simpan saja."

Hans tidak menarik tangannya. "Itu kewajiban."

Ada sesuatu yang aneh menusuk hati Kiana. Bukan sakit seperti saat Jovian memilih Vanya. Ini lebih pelan, lebih hangat, lebih membuatnya tidak tahu harus meletakkan tangan di mana.

Akhirnya ia menerima kartu itu.

"Terima kasih."

Hans mengangguk, lalu membuka aplikasi transportasi di ponselnya. "Aku panggil Grab. Kamu pulang ke Vila Lim?"

"Iya."

"Kirim pesan kalau sudah sampai."

Kiana menatapnya. "Bukankah kita tidak saling mengganggu hidup pribadi?"

"Memastikan orang cedera sampai rumah bukan gangguan."

Kalimat itu terlalu datar untuk disebut perhatian, tetapi terlalu konkret untuk diabaikan.

Di dalam mobil, Kiana menatap kartu ATM di telapak tangan. Setelah beberapa menit, ia membuka WhatsApp dan mengirim pesan pada Vani.

Kia: Vani.

Vani: Udah sah?

Kia: Udah.

Vani: Gila. Gue masih nggak percaya.

Kiana menatap pesan berikutnya beberapa detik, lalu mengetik pelan.

Kia: Sepupu kamu itu... beneran nggak tertarik sama perempuan?

Balasan Vani datang dalam bentuk deretan panjang tawa.

Vani: WKWKWKWK. Kia, lo baru nikah sepuluh menit udah nanya itu?

Kiana menyandarkan kepala ke kursi mobil. Di luar jendela, Jakarta pagi bergerak cepat, seolah hidup barunya tidak menunggu siapa pun.

Di telapak tangannya, kartu ATM itu terasa ringan.

Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah terbakar, Kiana merasa ada seseorang yang tidak hanya bicara soal melindungi.

Ia benar-benar menyerahkan sesuatu.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!