Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Keputusan yang Berbahaya
Hari Sabtu akhirnya tiba.
Sejak bangun pagi, Aluna terlihat gelisah. Surat tanpa nama itu masih tersimpan rapi di dalam laci kamarnya, tetapi isi pesannya terus memenuhi pikirannya.
"Kalau ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya, datanglah ke taman kota pukul empat sore. Datang sendiri."
Ia berulang kali mengingat pesan Nenek Ratih yang melarangnya datang.
Namun, rasa penasaran jauh lebih besar daripada rasa takut.
Saat sedang menyapu halaman, Ratih memperhatikan wajah cucunya yang murung.
"Luna."
"Iya, Nek?"
"Kamu masih memikirkan surat itu?"
Aluna terdiam beberapa saat sebelum mengangguk pelan.
"Iya."
Ratih menghampiri dan menggenggam kedua tangan Aluna.
"Dengarkan Nenek. Apa pun yang tertulis di surat itu, jangan datang."
"Tapi kalau orang itu benar-benar tahu tentang masa lalu Aluna?"
"Kalau memang sudah waktunya kamu mengetahui semuanya, Nenek sendiri yang akan bercerita."
Aluna memeluk Ratih erat.
"Maafkan Aluna."
Ratih mengusap rambut cucunya dengan lembut.
"Nenek hanya ingin kamu tetap selamat."
Di sisi lain, Arsen sedang berada di ruang kerjanya.
Sejak menerima laporan dari Rangga mengenai orang misterius yang mengawasi rumah Aluna, perasaannya menjadi tidak tenang.
"Rangga."
"Ya, Pak."
"Orang itu masih terlihat?"
"Belum sejak semalam."
Arsen menghela napas.
"Justru itu yang membuatku khawatir."
Rangga mengangguk setuju.
Ia juga merasa semuanya terlalu tenang.
Menjelang pukul tiga sore, Aluna akhirnya mengambil sebuah keputusan.
Ia tidak ingin membangkang, tetapi rasa ingin tahu tentang identitasnya membuat langkahnya terasa berat.
"Nek," katanya pelan.
"Aluna mau ke rumah Siska sebentar."
Ratih menatap cucunya beberapa detik.
Ia tahu Aluna sedang berbohong.
Namun, ia tidak mengatakan apa-apa.
"Hati-hati di jalan."
"Iya, Nek."
Begitu Aluna pergi, Ratih langsung masuk ke dalam rumah dan mengambil ponselnya.
Dengan tangan gemetar, ia menghubungi seseorang.
"Pak Arsen..."
Di seberang sana, Arsen segera menjawab.
"Nenek Ratih?"
"Luna pergi."
"Ke mana?"
"Saya takut... dia pergi menemui orang yang mengirim surat itu."
Wajah Arsen langsung berubah serius.
"Tenang, Nek. Saya akan mencarinya."
Aluna mengayuh sepedanya menuju taman kota.
Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia terus bertanya-tanya, siapa orang yang ingin menemuinya.
Setibanya di taman, suasana terlihat cukup ramai.
Anak-anak bermain, beberapa keluarga duduk menikmati sore, sementara pedagang kaki lima memenuhi sisi jalan.
Aluna melihat sekeliling.
Tidak ada seorang pun yang tampak mencurigakan.
"Luna?"
Aluna menoleh.
Seorang pria paruh baya berdiri beberapa meter di depannya.
Pria itu mengenakan topi dan kacamata hitam.
"Kamu Aluna, kan?"
"Iya."
Pria itu tersenyum tipis.
"Ikut denganku."
"Ada apa?"
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu."
Aluna masih ragu.
"Di sini saja."
"Tidak bisa. Ada terlalu banyak orang."
Pria itu mulai berjalan menuju area taman yang lebih sepi.
Aluna sempat melangkah mengikuti, tetapi tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.
"Aluna!"
Ia menoleh dengan cepat.
Arsen berlari menghampirinya bersama Rangga.
Melihat itu, pria misterius tadi langsung membalikkan badan dan berusaha melarikan diri.
"Berhenti!" teriak Rangga.
Ia segera mengejar pria tersebut.
Sementara Arsen berdiri di depan Aluna.
"Kamu tidak apa-apa?"
Aluna masih terkejut.
"Pak... bagaimana Bapak tahu saya ada di sini?"
"Sekarang bukan waktunya menjelaskan."
Di sisi lain taman, Rangga terus mengejar pria misterius itu.
Namun, pria tersebut berhasil melompat ke atas sebuah sepeda motor yang sudah menunggunya.
Motor itu melaju kencang meninggalkan taman.
"Sial..."
Rangga menghentikan langkahnya.
Ia gagal menangkap orang itu.
Saat kembali menghampiri Arsen dan Aluna, ia menemukan sebuah amplop yang terjatuh dari saku pria misterius tersebut.
"Pak."
Rangga menyerahkan amplop itu.
Arsen membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada sebuah foto bayi yang mengenakan kalung bulan sabit, sama seperti kalung milik Aluna.
Di balik foto itu tertulis sebuah kalimat pendek.
"Kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya."
Melihat foto tersebut, Aluna merasakan tubuhnya melemas.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar yakin bahwa masa lalunya menyimpan rahasia besar.
Dan seseorang di luar sana sedang berusaha membawanya menuju kebenaran, dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.