Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berisi
Mama Safa pun memanggil adiknya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan. "Dave, kamu ke rumahku. Ada yang perlu kamu periksa hari ini," perintah Mama Safa pada Dokter David.
Terdengar suara tertawa dari balik telepon. "Hahaha, apa menantumu hamil?" tebak David.
"Entahlah, tanda-tandanya menunjukkan seperti itu. Tapi sebaiknya kamu periksa lebih dulu. Kondisinya lemah saat ini," ujar Mama Safa memberi tahu.
"Baiklah, aku akan datang ke sana. Kebetulan aku baru saja keluar dari rumah sakit," jawab David.
Tak perlu menunggu lama, David pun tiba di kediaman Zidan. "Di mana menantu kalian?" tanya David.
"Ada di dalam," jawab Zidan. Mereka pun masuk ke dalam kamar Annisa.
"Ma, ada apa ini?" tanya Annisa heran.
"Jangan takut sayang. Ini Om David kamu masih ingat kan? Adiknya mama. Dia mau periksa kamu, Annisa," ucap Mama Safa. Annisa mengangguk.
David pun melakukan serangkaian pemeriksaan. "Udah tes urine belum?" tanya David pada Annisa. Annisa menggeleng.
"Om, bawa tespek tapi lakukan besok pagi setelah bangun tidur. Nanti hasilnya langsung kelihatan kalau kamu hamil atau tidak," ucap David.
"Tapi dia hamil kan, Dave?" tanya Mama Safa memastikan.
David tersenyum. "Sebaiknya tunggu kamu tes urine dulu. Baru bisa memastikan. Om kasih resep vitamin untuk mengurangi mual muntah kamu. Mual muntah itu wajar di trimester pertama."
Mendengar ucapan adiknya itu, Mama Safa sudah bisa menyimpulkan kalau Annisa sedang hamil. "Pa, kita mau jadi nenek dan kakek," ucap wanita paruh baya itu dengan wajah yang riang.
"Ya sudah, aku pamit. Jangan lupa tebus resepnya di apotek lalu minta menantumu untuk meminumnya," pesan David sebelum dia keluar dari kamar Annisa. Mama Safa mengangguk.
Setelah David pergi, Zidan pamit untuk menebus vitamin yang diresepkan oleh adik iparnya itu. "Hati-hati ya, Pa. Oh ya beli camilan apa gitu buat Annisa. Seharian dia tidak makan nasi. Kasian kalau perutnya kosong." Mama Safa berpesan pada suaminya sebelum pergi.
"Iya, Ma," jawab Zidan.
Sambil menunggu suaminya, Mama Safa melihat keadaan Annisa. "Selamat ya Annisa," ucap Mama Safa.
"Tapi aku kan belum tes urine, Ma."
"Om David udah kasih kode tadi. Dia bilang mual muntah di trimester awal itu wajar. Berarti kamu memang positif hamil."
Annisa merasa terharu. "Apa mama perlu memberi tahu Abi?" tanya Mama Safa.
Annisa menggeleng."Nanti saja, Ma. Ketika dia pulang, aku akan memberi tahu dia secara langsung."
"Baiklah, terserah kamu saja. Sekarang kamu istirahat. Jangan lupa besok pagi lakukan apa yang diperintahkan Om David," pesan Mama Safa pada menantunya.
Keesokan harinya, Annisa mengetes urine dengan tespek yang diberikan oleh David. Setelah menunggu beberapa menit hasilnya keluar. Annisa meneteskan air mata ketika melihat dua garis yang terdapat di alat tes kehamilan yang sedang dia pegang. "Alhamdulillah," ucapnya seraya mengusap air mata yang menetes di pipi.
Tak lama kemudian Mama Safa mengetuk pintu kamar Annisa. Annisa pun membukakan pintu kamarnya. "Annisa, bagaimana hasilnya?" tanya Mama Safa.
Annisa memberikan alat uji kehamilan itu pada ibu mertuanya. Mama Safa pun terkejut sekaligus senang melihat dua garis tanda menantunya hamil. "Tuh kan, apa mama bilang. Alhamdulillah kamu akan jadi ibu. Cepat kabari suamimu," perintah Mama Safa pada menantunya.
Namun, berkali-kali Annisa mencoba menghubungi Abizar hasilnya tidak ada satupun panggilan darinya yang diterima. "Apa Mas Abi masih sibuk bekerja? Kenapa dia tidak sempat mengangkat telepon dariku?" gumam Annisa.
Di tempat lain Abizar sedang melamun mengingat istrinya yang berpelukan dengan pria lain. Abizar pun menyalakan rokok kemudian menghisapnya. Selama ini menikah dengan Annisa dia telah menghilangkan kebiasaannya. Namun, entah kenapa setelah dia mengira Annisa berkhianat Abizar pun merasa tidak ada pelampiasan yang paling menyenangkan selain merokok.
"Bos, kenapa merokok di ruangan ber-AC?" tanya Edo.
Abizar enggan menjawab pertanyaan Edo. "Apa jadwalku hari ini?" tanya Abi mengalihkan pembicaraan.
"Jam sepuluh ada jadwal ketemu klien di kafe," ucap Edo membacakan jadwal yang telah dia susun di tablet yang selalu dia bawa ke mana-mana.
"Siapkan kemeja baru. Aku tidak mau kemeja yang bau rokok ini saat bertemu dengan klien."
"Baik, Bos." Edo mengangguk patuh.
Abi mengecek panggilan yang masuk ke dalam handphonenya. Dia melihat nama Annisa tertera di urutan panggilan yang menelepon dia hari ini. Tapi Abi tak menghiraukannya. Dia juga tidak berniat mengirimkan pesan pada sang istri.
Abizar sangat kecewa mengingat kejadian itu. Dia tidak menyangka wanita yang dia anggap alim bisa melakukan perbuatan yang dapat menyakiti hatinya.
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁