Rima selalu disudutkan keluarga mertua karena belum juga hamil setelah menikah 4 tahun dengan Arjun. Dari hasil pemeriksaan, ternyata yang bermasalah bukanlah dirinya, melainkan sang suami. Arjun tak dapat memiliki keturunan.
Rasa cintanya yang besar terhadap suami dan tidak tega melihat Arjun sedih membuat Rima ragu mengatakan kebenarannya. Tanpa sengaja sang ayah mertua mengetahui kenyataan itu. Memiliki ketertarikan pada Rima sejak lama, membuat ide licik Sandi bermain. Berkedok rasa simpati, ia membujuk Rima untuk melakukan hubungan terlarang dengannya agar bisa hamil. Ia berjanji akan merahasiakan segalanya dari keluarga.
Kebimbangan telah membutakan mata Rima. Ia menerima tawaran sang ayah mertua dan melakukan hubungan terlarang dengannya. Satu bulan kemudian, Rima dinyatakan hamil. Ia mengandung benih ayah mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Yunita merebahkan diri di atas ranjangnya. Setelah seharian melaksanakan tugasnya menjaga Renjun, akhirnya ia punya waktu untuk istirahat. Percakapan keluarga yang sempat ia dengar membuatnya ikut khawatir. Sepertinya masalah perusahaan keluarga itu cukup serius.
"Loh, ponselku dimana, ya?" gumam Yunita saat menyadari ponselnya tak ada di dekatnya. Ia lantas kembali bangkit dan mulai mencari keberadaan ponsel miliknya. Seluruh sudut ruangan ia coba cari namun tak kunjung menemukan benda tersebut.
Yunita menepuk dahinya sendiri. "Ah, iya. Sepertinya ketinggalan di kamar Renjun," tebaknya. Ia mengingat terakhir kali membawa ponselnya ke kamar Renjun saat mengasuh anak itu.
Yunita lantas bergegas keluar dari kamarnya menuju kembali ke rumah utama. Di ruang tengah masih tampak Arjun tengah berbincang-bincang bersama Suni.
"Loh, Yun, kamu balik lagi?" tanya Suni.
Yunita tersenyum kikuk. "Iya, Nyonya. Saya mau mengambil ponsel yang ketinggalan di kamar Baby Renjun," ucapnya.
"Oh, ya sudah, sana ambil!" kata Suni sembari mangguk-mangguk.
"Permisi," kata Yunita dengan sopan. Ia melanjutkan langkah mendekat ke arah kamar milik Renjun.
Saat tiba di sana, ia terkejut melihat Sandi tengah berdiri di depan pintu kamar Renjun sembari pandangannya fokus ke dalam kamar. Lelaki itu menyunggingkan senyuman yang mencurigakan.
"Permisi, Pak," kata Yunita.
Ucapan Yunita membuat Sandi terkejut. Lelaki itu langsung berbalik badan dengan raut wajah panik karena tiba-tiba ada Yunita di sana.
"Loh, kamu kenapa ada di sini?" tanya Sandi.
"Saya mau ke kamar Renjun. Bapak sendiri sedang apa di sini?" Yunita balik bertanya dengan ekspresi wajah yang datar. Tatapannya menyiratkan ketidaksukaan terhadap lelaki itu.
Sandi terlihat bingung untuk memberikan jawaban. "Ya sudah masuk saja! Aku di sini karena kebetulan lewat," kilahnya. Ia lantas melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Yunita masuk ke dalam kamar Renjun. Dilihatnya Rima yang masih terbaring di atas ranjang bersama Renjun. Rima sepertinya ketiduran. Ia hanya bisa menghela napas dan melakukan tujuan awalnya untuk mencari ponselnya yang ketinggalan. Ternyata ponselnya memang ada di atas meja kamar itu.
"Yun, kamu di sini?"
Saat Yunita hendak keluar, Rima terbangun. Ia bangkit dan meninggalkan Renjun yang telah tertidur dan menghampiri Yunita.
"Kalau sedang di sini lain kali kunci pintu deh, Rim," ucap Yunita dengan nada ketus.
"Aku ketiduran tadi. Memangnya kenapa?" tanya Rima heran melihat temannya tiba-tiba marah.
"Tadi ada kucing garong!" seru Yunita.
Rima mengernyitkan dahi. "Apa sih?" ia semakin heran.
"Bapak mertuamu tadi berdiri terus di depan pintu senyum-senyum liat kamu menidurkan Renjun!" kesal Yunita.
Rima tertegun. Ia merasa terkejut dengan apa yang baru saja didengar. "Beneran?" tanyanya memastikan.
Yunita memutar malas bola matanya. "Pokoknya hati-hati saja. Apalagi kamu harus tinggal serumah dengan serigala tua itu. Heran aku kamu dan Arjun sepertinya sudah cukup mampu beli rumah sendiri kenapa terus tinggal di rumah ini? Kalau kejadian yang dulu terulang bagaimana? Aku jadi yang ingin pergi dari sini," ucapnya.
"Jangan begitu, Yun!" Rima meraih tangan temannya itu dan menggenggamnya. Ia memasang wajah memelas. "Aku tidak tahu lagi kalau kamu pergi dari sini. Please, Yun, kamu satu-satunya orang yang aku bisa jadikan tempat bersandar." Mata Rima berkaca-kaca seolah ingin menangis.
Yunita menghela napas. "Mau sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal ini dari Arjun? Aku seperti punya beban moral karena ikut menutupinya."
***
jujur lebih bsik