NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Keheningan hanya berlangsung beberapa detik.

Brak!

Suara benturan keras menggelegar dari arah pintu, membuat seluruh tubuh Aurora tersentak.

"Aaah!"

Seruan kaget lolos begitu saja dari bibirnya. Kapas yang ia genggam jatuh ke lantai, sementara jantungnya terasa seolah berhenti berdetak sesaat.

Ia menoleh dengan mata membelalak ke arah pintu kamar, menyadari bahwa Kael benar-benar sedang berusaha masuk. Ancaman pria itu ternyata bukan sekadar kata-kata.

Di ambang pintu berdiri Kael dengan ekspresi tenang, seolah suara keras yang baru saja membuat seisi rumah terkejut bukanlah sesuatu yang berarti baginya. Tatapannya lurus mengarah kepada Aurora yang masih terpaku di tempat.

Aurora menelan ludah. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Yang membuatnya semakin heran, Adrian—kakaknya—tidak juga muncul untuk memeriksa keadaan. Padahal suara tadi cukup keras untuk terdengar sampai ke ruangan lain.

Aurora akhirnya memberanikan diri menatap Kael.

“Apa sebenarnya yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada kesal yang bercampur gugup.

Namun begitu menyadari betapa dekatnya pria itu, keberaniannya perlahan surut.

Kael mengangkat sebelah alis.

“Bukankah aku sudah memperingatkanmu?” ucapnya datar. “Aku bilang aku akan membuka pintu ini kalau kau terus mengabaikanku.”

Aurora mengerutkan kening. Ia masih belum percaya pria itu benar-benar nekat melakukan hal seperti itu.

“Kau sengaja membuatku kaget!” protesnya, napasnya masih belum teratur.

Kael tidak terlihat merasa bersalah. Dengan langkah tenang, ia masuk ke kamar Aurora, lalu berhenti beberapa langkah darinya.

“Jadi sekarang kau baru sadar?” balasnya dingin. “Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tetapi kau memilih diam.”

Aurora memandang pintu kamarnya yang kini terbuka lebar. Ia menghela napas panjang, antara kesal dan lega karena tidak perlu lagi mendengar ancaman Kael dari balik pintu.

Pria itu kemudian menutup pintu yang sudah terbuka tersebut dengan tenang.

Aurora hanya bisa menatapnya dengan wajah tak percaya.

Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya.

Sejak kapan Kael merasa berhak masuk begitu saja ke kamarnya?

Kael berdiri di tengah kamar, lalu pandangannya berkeliling dengan ekspresi yang sulit ditebak. Namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya justru terangkat. Ia terkekeh melihat dekorasi kamar yang dipenuhi bunga dan ornamen bernuansa cerah.

“Jadi, ini yang disebut kamar pengantin?” gumamnya dengan nada geli. “Entah kenapa aku membayangkan sesuatu yang lebih... masuk akal.”

Matanya kembali menyapu setiap sudut ruangan.

Bayangan tentang Brema, lelaki yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Aurora, tiba-tiba melintas di benaknya. Kael hampir kembali tertawa. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan pria itu berada di kamar dengan dekorasi semeriah ini tanpa terlihat canggung.

Kael kemudian menggeleng pelan, seolah berusaha mengusir pikirannya sendiri.

“Dan kau benar-benar tidur di ruangan seperti ini setiap hari?”

Ia melangkah mendekati ranjang yang berada di tengah kamar. Taburan kelopak bunga menghiasi permukaannya, membuat suasana kamar terasa seperti panggung dalam sebuah perayaan.

Kael duduk di tepi ranjang, lalu menghela napas panjang.

“Aroma bunganya kuat sekali,” komentarnya datar. “Rasanya seperti masuk ke taman bunga yang baru saja dipindahkan ke dalam kamar.”

Aurora yang berdiri tak jauh darinya langsung melirik tajam.

Namun Kael belum selesai.

Tatapannya beralih pada tirai, bantal, selimut, hingga berbagai aksesori yang didominasi warna merah muda dan ungu.

“Ungu dan merah muda di mana-mana,” katanya sambil mengangkat alis. “Kalau mau membuat kamar ini semakin mencolok, sekalian saja tambahkan hiasan berbentuk kerbau.”

Nada bicaranya begitu serius sampai terdengar seperti sedang memberikan kritik profesional.

Aurora mengembuskan napas panjang.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kamar itu. Perpaduan warna cerah, bunga, dan berbagai dekorasi memang sesuai dengan selera seorang gadis muda. Hanya saja, bagi Kael yang terbiasa dengan suasana sederhana dan dingin, semua warna tersebut terasa terlalu menyilaukan.

Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, kemudian menatap kembali seluruh ruangan.

“Bagaimana kau bisa betah berada di sini?”

Aurora menatapnya beberapa saat sebelum menjawab dalam hati bahwa setidaknya kamar itu jauh lebih nyaman daripada pria yang kini seenaknya mengomentari seluruh isi kamarnya.

Kael, tanpa merasa bersalah sedikit pun, kembali mengamati dekorasi di sekelilingnya.

Seolah-olah kamar itu bukan tempat pribadi Aurora, melainkan sebuah ruangan yang sengaja disediakan untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Kael berjalan santai menuju nakas yang berada di sisi kiri ranjang Aurora. Gerakannya tenang, seolah-olah tidak ada sedikit pun keraguan dalam setiap langkahnya.

Ia membuka laci nakas tersebut, lalu mengambil sebuah map berwarna gelap. Dari dalamnya terdapat selembar dokumen yang telah dipersiapkan sebelumnya, lengkap dengan sebuah pena.

Kael membawa semuanya ke meja rias dan meletakkannya tepat di hadapan Aurora.

"Bubuhkan tanda tanganmu di sini."

Aurora mengernyit. Pandangannya berpindah dari wajah pria itu menuju dokumen yang baru saja diletakkan di depannya.

"Dokumen apa ini?"

Kael menatapnya datar.

"Perjanjian pernikahan."

Aurora terdiam.

Kael kemudian melanjutkan dengan nada yang tenang, tetapi tegas.

"Kau tidak perlu membuang waktu untuk membacanya. Apa pun keputusanmu, kau tetap tidak memiliki ruang untuk menawar ataupun menolaknya. Aku tidak sedang memberimu pilihan. Tanda tangani dokumen itu."

Nada suaranya tidak meninggi. Justru ketenangan itulah yang membuat perkataannya terdengar semakin berat.

Aurora akhirnya mengambil dokumen tersebut. Matanya bergerak cepat menelusuri beberapa bagian isi perjanjian.

Semakin lama ia membaca, semakin jelas perubahan raut wajahnya.

Salah satu pasal menyatakan bahwa Aurora sebagai pihak kedua tidak diperkenankan menolak keputusan maupun kehendak pihak pertama. Ia juga tidak memiliki hak untuk mengajukan tuntutan tertentu kepada pihak pertama. Bahkan, seluruh perubahan, keputusan, serta revisi dalam perjanjian berada di bawah kendali pihak pertama.

Dengan kata lain, pernikahan itu bukan sekadar ikatan antara dua orang.

Itu adalah sebuah perjanjian dengan aturan yang hampir seluruhnya ditentukan oleh satu pihak.

Dan nama yang tercantum sebagai Pihak Pertama adalah Kael.

Sementara Pihak Kedua adalah Aurora.

Jari Aurora perlahan meremas ujung kertas tersebut.

Ia kembali membaca beberapa baris, berharap menemukan celah yang mungkin bisa memberinya kesempatan untuk menolak. Namun semakin jauh ia membaca, semakin terasa bahwa dokumen itu memang sengaja disusun untuk membuatnya tidak memiliki banyak pilihan.

Aurora mengangkat wajahnya.

Tatapannya kini jauh lebih tegas.

"Kau benar-benar mengharapkanku menandatangani ini?"

Kael tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aurora dengan ekspresi sulit ditebak.

Bagi Aurora, perjanjian itu bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja.

Ia merasa seluruh kendali atas hidupnya seakan sedang dipindahkan ke tangan orang lain.

Dan untuk pertama kalinya sejak upacara pernikahan tadi, Aurora menyadari bahwa pernikahan mendadak ini mungkin baru saja memasuki bagian yang jauh lebih rumit.

Aurora menatap lembaran perjanjian itu dengan kening berkerut. Semakin lama membaca, semakin berat rasanya menerima setiap poin yang tertulis di sana.

Ia menggeser dokumen tersebut menjauh dari hadapannya.

“Apa maksud semua ketentuan ini? Aku tidak bisa menyetujui semuanya begitu saja.”

Kael tidak menjawab panjang. Ia hanya mengambil kembali dokumen itu, lalu menunjuk bagian yang sejak tadi menjadi perhatiannya.

“Tanda tangan di bagian ini.”

Nada suaranya tenang, tetapi sorot matanya membuat Aurora mengerti bahwa permintaan itu bukan sekadar permintaan biasa.

Kael kemudian meletakkan sebuah benda yang membuat Aurora semakin gugup di atas meja. Tidak ada ancaman yang diucapkan secara terang-terangan, tetapi pesan di balik tindakannya sudah cukup jelas.

Aurora menelan ludah.

Ia sadar, pernikahan yang baru saja berlangsung ternyata hanyalah awal dari sebuah kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Kini, sebuah kontrak berada di hadapannya, dan setiap pasalnya seolah menempatkan dirinya dalam posisi yang semakin sulit.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aurora kembali membaca dokumen tersebut.

“Kalau aku tidak menyetujuinya?” tanyanya lirih.

Kael menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau sudah tahu jawabannya. Jangan membuat keadaan menjadi lebih rumit.”

Aurora terdiam cukup lama.

Ia sebenarnya ingin menolak. Ingin merobek kertas itu dan pergi meninggalkan semuanya. Namun keberadaan Kael di hadapannya membuat keberaniannya perlahan surut.

Akhirnya, Aurora mengembuskan napas panjang.

“Baiklah...”

Dengan berat hati, ia mengambil pena yang disodorkan Kael. Sesaat jemarinya berhenti di udara sebelum akhirnya menorehkan tanda tangan di tempat yang telah ditentukan.

Seketika—

DUAR!

Suara ledakan keras terdengar dari arah luar rumah.

Aurora tersentak. Pena hampir terlepas dari tangannya.

Kael yang sejak tadi terlihat begitu tenang pun langsung menoleh ke arah jendela. Untuk pertama kalinya, ekspresi dingin di wajahnya berubah menjadi kewaspadaan.

Suara gaduh dari luar mulai terdengar samar.

Kael berdiri.

“Apa itu?” gumamnya.

Ia jelas tidak mengetahui kejadian tersebut. Tatapannya berubah tajam, berusaha mencari tahu siapa yang berani membuat keributan di sekitar rumahnya.

Sementara Aurora masih terpaku di kursinya, menyadari bahwa malam pernikahan yang seharusnya menjadi akhir dari sebuah acara ternyata justru membuka masalah baru yang jauh lebih misterius.

DUAR!

Suara ledakan kembali mengguncang rumah itu. Kali ini getarannya terasa jauh lebih dekat, membuat kaca-kaca jendela bergetar dan suasana yang semula tegang berubah menjadi kepanikan.

Kael menoleh tajam ke arah sumber suara. Rahangnya mengeras, jelas ia sama sekali tidak memperkirakan keadaan akan berubah secepat ini.

“Apa-apaan ini?” Aurora bertanya dengan nada panik. “Aku sudah mengikuti semua yang kau inginkan. Lalu kenapa masih ada kekacauan seperti ini?”

Belum sempat Kael menjawab, terdengar suara dentuman lain dari kejauhan.

DUAR!

Kali ini suara itu membuat Aurora tersentak.

Kael segera mengubah sikapnya. Tatapannya menyapu sekeliling, memastikan keadaan sebelum mengambil keputusan.

“Aurora, ikut aku. Sekarang juga.” Suaranya tegas, tanpa memberi ruang untuk perdebatan. “Tempat ini sudah tidak aman.”

Aurora menatapnya tak percaya. “Apa?”

“Jangan bertanya dulu.”

Kael mengambil dokumen perjanjian yang sebelumnya mereka bicarakan, menyimpannya dengan cepat, lalu mengulurkan tangannya kepada Aurora.

Namun gadis itu justru mundur selangkah.

“Aku tidak mau ikut.”

Tatapan Kael langsung tertuju kepadanya. Wajahnya tetap tenang, tetapi nada suaranya berubah semakin serius.

“Aurora, dengarkan aku. Ini bukan waktunya untuk keras kepala.”

“Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!” bantah Aurora. “Kenapa aku harus percaya begitu saja kepadamu?”

Kael menarik napas pendek. Dari luar kembali terdengar suara keributan yang membuat suasana semakin mencekam.

“Karena kalau kau tetap di sini, kau bisa berada dalam bahaya.”

Aurora terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Kael. Bukan sekadar ketegasan atau sikap dingin seperti biasanya, melainkan kewaspadaan yang membuatnya sadar bahwa situasi ini benar-benar serius.

“Aku tak ingin memaksamu,” ujar Kael lebih rendah, tetapi tetap tegas. “Namun sekarang, kau harus memilih. Tetap di sini dan mengambil risiko, atau ikut denganku ke tempat yang lebih aman.”

Aurora menggenggam ujung gaunnya erat. Jantungnya berdegup semakin cepat.

Di luar, suara langkah kaki dan kepanikan mulai terdengar semakin jelas.

Akhirnya Aurora menatap Kael.

“Baik… tapi jangan tinggalkan aku.”

Kael mengangguk singkat.

“Tidak akan.”

Tanpa membuang waktu, ia membawa Aurora menjauh dari ruangan tersebut, sementara suasana rumah itu semakin dipenuhi ketegangan yang belum mereka ketahui ujungnya.

...****************...

1
Nur Halida
oh jadi brema kek gitu ...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
Yudi Chandra: Hahaha....betul juga ya😅
total 1 replies
Nur Halida
pernikahan itu terjadi karena kamu menggagalkan pernikahan aurora dg brema kael kalo kamu lupa ..
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
Yudi Chandra: hihihi....kamu tuh yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
aku baru ngeh kalo sekarang aurora gak manggil om lagi😁
Nur Halida
loh kok ayahnya ??bukannya aurora dan adrian udah gak punya ortu??🤔
Yudi Chandra: Hehehe...😅 maaf ya, aku khilaf 🙏
skarang udah aku koreksi.😊
total 1 replies
Visitor7755
uhui..
Yudi Chandra: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
baru aja nikah udah mau gelut aja😁
Yudi Chandra: Hehehe....abis istrinya cantik🤭
total 1 replies
Nur Halida
nah .. gitu dong kael .. tangging jawab sama aurora ... kirain kamu gak bakal dateng .. ku susul kau ke rumahmu kalo berani gak dateng..😁
Yudi Chandra: helleh...emang tau alamatnya🤭
total 1 replies
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Yudi Chandra: it's okey.😊 but thanks for stopping by.🙏🤗
total 1 replies
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Yudi Chandra: 😘😘😘💞💞💞💞
total 3 replies
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Yudi Chandra: sabar buuu🤗🤭
total 1 replies
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!