NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG KONTRAK.

CINTA DI UJUNG KONTRAK.

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cintapertama / Romantis
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.

Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.

Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.

Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDATANGAN SANG ASISTEN.

Tiga hari sebelum acara resepsi akbar digelar, ketenangan desa terpencil itu mendadak terusik oleh deru mesin kendaraan besar yang beriringan masuk membelah jalanan setapak. Warga desa berbondong-bondong keluar dari rumah, menatap takjub pada tiga truk logistik besar dan dua mobil van mewah yang berhenti tepat di depan pekarangan luas rumah kayu milik Nenek.

Ferdi, sang asisten pribadi yang selalu berpenampilan necis, turun dari mobil van pertama dengan tab cerdas di tangannya. Di belakangnya, menyusul rombongan tim desainer papan atas ibu kota, lengkap dengan asisten-asisten mereka yang membawa gulungan kain premium dan koper-koper peralatan jahit profesional.

"Tuan Barra," sapa Ferdi dengan membungkuk hormat begitu melihat Barra keluar dari beranda rumah bersama Nenek. "Semua logistik, tim katering, dan tim desainer pesanan Anda sudah tiba sesuai instruksi."

Barra mengangguk puas. "Kerja bagus, Ferdi. Langsung arahkan tim dekorasi ke bukit bunga, dan minta tim desainer masuk ke ruang tengah untuk menyiapkan pakaian istriku."

Di dalam rumah, Davina yang sedang membantu perawat Nenek merapikan ruang tengah langsung dibuat terpaku. Ruangan yang biasanya kosong itu kini mendadak disulap menjadi studio mode dadakan. Kain satin premium sewarna putih salju, brokat prancis dengan payet kristal halus, hingga maneken tiruan berjejer rapi di atas tikar pandan.

Seorang pria jangkung berpakaian modis, desainer utama yang sengaja disewa Barra, melangkah mendekati Davina dengan pita ukur kain yang mengalung di lehernya. "Selamat siang, Nyonya Alfarizi. Saya Ivan. Mari, saya perlu mengukur lingkar dada, pinggang, dan panjang bahu Nyonya agar gaun pengantin eksklusif ini pas melekat di tubuh Nyonya saat hari-H."

Ivan baru saja hendak mengulurkan tangannya untuk meletakkan pita ukur pada bahu Davina, ketika sebuah langkah kaki yang berat dan tegas menggema masuk ke dalam ruangan.

"Tunggu," potong sebuah suara bariton yang dingin dan sarat akan otoritas.

Barra melangkah masuk, berdiri tegak di samping Davina dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kasualnya. Sepasang mata elangnya menatap tajam pada pita ukur di tangan desainer pria itu, memancarkan aura protektif dan cemburu yang begitu pekat.

Ivan seketika menghentikan gerakannya, menelan ludah dengan gugup melihat tatapan mengintimidasi dari sang CEO terkaya. "M-maaf, Tuan Barra. Ada yang salah?"

"Kembalikan pita ukur itu pada asisten wanitamu," titah Barra datar namun tak terbantahkan. Pria itu maju satu langkah, mempersempit jarak hingga tubuh tegapnya hampir menutupi tubuh mungil Davina dari pandangan mata orang lain. "Dan biarkan aku sendiri yang mencatat detail ukurannya untukmu. Aku tidak suka ada pria lain yang menyentuh atau mengukur tubuh istriku."

Mendengar kalimat posesif yang keluar begitu saja dari bibir Barra, wajah Davina seketika merona merah padam. Jantungnya berdegup kencang, menahan rasa malu yang teramat sangat di depan para desainer dan asisten yang kini mulai senyum-senyum sendiri melihat tingkat ke-bucinan sang bos besar.

"Barra, apa-apaan sih? Ini kan profesional untuk baju pengantin," bisik Davina pelan, meremas ujung baju koko Barra dari belakang untuk memprotes tingkah suaminya.

Barra sama sekali tidak memedulikan protes istrinya. Ia menerima secarik kertas kosong dan pena dari asisten desainer wanita yang bergerak cepat karena paham situasi. Pria itu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Davina. Pandangan matanya berubah drastis, dari yang semulanya dingin menjadi begitu teduh dan intens, menyusuri setiap lekuk tubuh Davina yang terbalut pakaian longgar.

Dengan keahlian visualnya yang luar biasa, Barra mulai mendiktekan ukuran tubuh Davina tanpa perlu menempelkan pita ukur kain secara fisik. "Lingkar dadanya delapan puluh lima sentimeter. Lingkar pinggangnya enam puluh lima. Lebar bahu tiga puluh delapan. Dan pastikan potongan gaun di bagian pinggang dibuat sedikit longgar agar tetap syar'i namun tetap anggun saat ia melangkah."

Ivan yang mendengarkan dari kejauhan langsung melongo, buru-buru mencatat angka-angka itu pada tab kerjanya. Desainer itu kagum sekaligus ngeri karena ingatan visual Barra tentang detail anatomi istrinya sangat akurat.

Setelah sesi pendiktean ukuran yang menegangkan dan membuat dada Davina serasa mau meledak itu selesai, Ivan dan timnya segera berpamitan keluar untuk mulai memotong kain di mobil van logistik yang sudah diubah menjadi ruang jahit berjalan.

Begitu pintu ruang tengah tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua, Davina langsung membalikkan tubuhnya, menatap Barra dengan cemberut yang sangat menggemaskan. "Kamu sengaja ya membuatku malu di depan orang-orang tadi? Kenapa posesif sekali, sih? Mereka itu desainer terkenal!"

Barra tidak langsung menjawab. Seulas senyum tipis yang sarat akan kemenangan terukir di bibirnya. Ia mengambil satu langkah maju, memojokkan tubuh mungil Davina hingga punggung wanita itu bersandar pada pintu lemari kayu tua milik Nenek.

Kedua tangan kekar Barra terulur maju, menumpu di sisi kiri dan kanan kepala Davina, mengunci ruang gerak istrinya sepenuhnya. Barra menundukkan kepalanya sedikit, hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint menerpa permukaan kulit wajah Davina. Ia mengulurkan jari telunjuknya, merapikan letak hijab pasmina Davina yang sedikit bergeser dengan kelembutan yang memabukkan.

"Aku tidak peduli mereka itu desainer terkenal atau bukan, Vina," bisik Barra dengan suara rendah yang begitu serak dan menggetarkan sukma. Tatapan mata elangnya mengunci manik mata Davina dengan intensitas yang membuat lutut Davina mendadak lemas. "Aku suamimu yang sah. Hanya mataku dan tanganku yang boleh tahu lekuk indah milik makmumku. Mengerti?"

Davina menahan napas, dadanya naik turun memburu pasokan udara. Rona merah di pipinya kini sudah menjalar hingga ke leher. Kedekatan yang begitu intim di dalam rumah kayu yang sederhana ini memberikan sensasi debaran yang jauh lebih dahsyat daripada saat mereka berada di mansion mewah di kota.

Melihat istrinya yang hanya bisa terdiam dengan mata membelalak lucu karena salah tingkah, Barra terkekeh pelan. Ia menjauhkan tubuhnya, memberikan kecupan kilat di ujung hidung Davina sebelum melangkah keluar dengan santai untuk memeriksa persiapan panggung di bukit. Meninggalkan Davina yang masih berdiri mematung sembari memegangi dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sudah melompat tak beraturan menuju hari pernikahan mereka yang sesungguhnya.

1
tiara
kakek sangat pengertian sekali,
Lia siti marlia
akhirnya semua sudah jelas davina kalau yang barra lakukan adalah untuk melindungimu semata 🤗🤗🤗
Lia siti marlia
untung nya kakek barra keburu datang 🤗🤗
Eliermswati
akhirnya tahta tertinggi d rmh Barra dtng😂q sk gy mu kakek badaaass kern😂😂😍smngt thor up nya
Lia siti marlia
kirain udah sampai masion mau unboxing eh malah ada aja gangguan sabar yah barra 🤗🤗🤗
tiara
Baru saja merasakan bahagia,cobaan sudah kembali datang menghampiri.semoga badai cepat berlalu
Lia siti marlia
lanjutkan barra davina 😍😍😍
Lia siti marlia
cie cie cie 😍😍😍😍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ElHi
🤣🤣🤣🤣
Lia siti marlia
kocak juga kalau ceo tegas kebucinnan 🤗🤗😂😂😂
ElHi
malang nian desainer ituu😤😤🤣🤣
Lia siti marlia
ihhhh barra posesif bangetttt🤗🤗🤗
Lia siti marlia
otw kondangan nih ....aku di undang gak barra lumayan kan makan gratis 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ElHi
syukurlah kalo gak boleh bawa amplop ya Vin....soalnya aku jg lagi tongpes nih Vin...bawa gigi...ehh doa maksutnya....gpp kan yaa🤣🤣🤣
Lia siti marlia
lah kebiasaan deh dikat pas lagi degdegan bacaaa🤭🤭🤭
Lia siti marlia
semoga kalian berjodoh sehingga authorr gak memisahkan kalian 🤣
Lia siti marlia
oh yang neror tuh c silfany ...hati hati kamu silfany jangan sampai nanti kamu menyesal karna udah ganggu davina 🤣🤣
ElHi
Silfani..oh Silfani😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!