NovelToon NovelToon
Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Romansa
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: megatron

Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?

Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.


Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 035: Perasaan Lega

Sambil mengulas senyum kecut, Tiarnan menatap kerlap-kerlip lampu kota, dari jendela kaca gedung apartemennya mobil-mobil terlihat lebih kecil.

Walaupun sekuat mungkin mengusir seluruh kenangan tentang Likta, Tiarnan tetap merasakan kehadiran wanita itu di mana-mana. Perlahan dia mengusap bantal sofa yang biasa istrinya gunakan.

“Sedang apa kamu sekarang? Menertawakan kebodohanku bersama baji*ngan tengik itu?” Bertanya kepada bantal bekas Likta, Tiarnan menarik napas panjang sembari berkata, “Kamu kira semudah itu pergi setelah menyelinap ke dalam hati dan menjungkirbalikkan hidupku? Silakan nikmat masa bebasmu tiga hari ke depan! Begitu selesai, jangan berharap bisa merasakan itu.”

Kalau sudah tidak mampu membendung sesak di rongga dada, Tiarnan menangis, soalnya itu bisa membuat perasaan lega. Gundah gulana luruh seketika.

Tiarnan mengira penderitaan enam belas tahun yang lalu merupakan kejatuhan terdalamnya, sejak saat itu dia beranggapan telah mengerti sakitnya ditinggalkan. Dan, demi menghindari terjatuh ke lubang yang sana, dia tidak membiarkan diri terjerat emosi dengan orang lain.

Namun, nyatanya tidak, Tiarnan membiarkan Likta menguasai seluruh jiwa dan raga. Sehingga, kepergian sang istri ibarat luka kejatuhan garam, sakit yang belum sembuh sepenuhnya kembali menganga. Terasa dua kali lipat lebih pedih.

Likta orang kedua yang sempat mendiami hati Tiarnan setelah ibunya, dan sama-sama pergi tanpa penjelasan. Ibu meninggalkan dia ketika menginjak usia sepuluh tahun, pada masa itu, dirinya membutuhkan figur keluarga utuh. Tidak jauh beda, dengan detik ini, sang istri menghilang ketika dia mulai mengharapkan terbentuknya keluarga kecil.

Tiarnan menghela napas, terkenang kejadian di masa lampau. Suatu hari, sepulang sekolah Tiarnan dan Tanya tidak menemukan keberadaan ibunya, sedangkan ayah selalu beralasan sibuk dengan pekerjaan setiap kali ditanya.

Mulai saat itu Tiarnan aktif membuat ulah, demi menarik perhatian sang ayah. Bertujuan memuaskan rasa ingin tahu ke mana gerangan ibunya.

“Kamu mau jadi jagoan, hah?” bentak Frits.

Tiarnan melempar tatapan dingin, berangsur-angsur hangat ketika jemari mungil Tanya menyentuh lengan.

“Tiada hari tanpa surat panggilan dari sekolah! Semakin besar bukannya tambah pintar, malah makin nakal!”

“Kalau tidak begini, apa Papa bisa meluangkan waktu untuk kami? Di mana Mama, Pa?”

“Sekali lagi kamu—”

“Kami kangen Mama, Pa! Biasanya Mama yang selalu memperhatikan kami,” sambar Tiarnan. “Taukah Papa, bahwa Tanya menangis setiap malam?”

Frits berkacak pinggang lantas berderap tegas ke arah Tiarnan, tangannya terulur meraih kedua bahu kecil putranya. “Baiklah, kalau kamu mau tau Mama di mana.”

Kedua pria beda generasi itu saling menatap tajam, tarikan napas pun sama-sama menyengal. Frits mengalihkan perhatian kepada sang putri, menggendong tubuh mungil itu lalu duduk di kursi. “Sayang, bisa ambilkan Papa minum.”

“Ya, Pa.” Tanya merosot dari pangkuan, seraya berlari kecil menuju dapur.

Rasanya sudah tidak sabar menunggu penjelasan, Tiarnan menolak tubuhnya dari kursi.

“Tiarnan, kembali ke tempatmu!”

Dengan enggan Tiarnan mundur perlahan, menjatuhkan diri ke atas sofa. Di usia sepuluh, emosionalnya cenderung mengikuti pemikiran orang yang lebih tua. Dia merasa bisa berpikir seperti mereka, dan mulai mempertanyakan arti kehadirannya bagi ayah dan ibu.

“Mama sudah meninggal,” ujar Frits nyaris berbisik.

“Tidak mungkin! Mama masih hidup! Papa tidak bisa berkata seperti itu! Tiarnan akan cari Mama!”

Sebagai anak yang sedang dalam peralihan menuju remaja, emosi Tiarnan naik-turun tiba-tiba. Kadang begitu antusias dan penasaran dengan fakta yang ada, tetapi tidak pelak merasa ragu dan takut menghadapi kenyataan.

Seperti ketika mendengar penjelasan singkat sang ayah, Tiarnan memilih pergi dari rumah. Dia tidak lagi mengacuhkan panggil Frits.

Belum sampai sepuluh meter, decit rem kendaraan bermotor memekakkan telinga, roda yang bergesekan dengan jalan tidak kalah nyaring. Disusul suara benturan keras hingga langkah pejalan kaki terhenti.

Tiarnan pun berbalik, netra yang dari tadi merah mulai membendung air, mengalir deras hingga membasahi pipi. “Tanya!!!” serunya. Dia tidak tahu kalau sang adik mengikuti.

Sambil terpincang-pincang si pengendara bermotor menghampiri Tanya, meringis saat berjongkok di dekat gadis mungil itu. “Enggak apa-apa, Dik?”

Tanya tidak kunjung membuka telapak tangan, tubuh kecilnya masih gemetaran.

“Tanya, sayang.” Frits meraih anak gadisnya ke dalam pelukan. “Maaf, ya, Mas.”

“Pak, Pak, lain kali dijaga anaknya,” ujar si pengendara.

“Tanya, ada yang luka?” Alis tebal Tiarnan saling bertautan, dia memegang lembut tangan adiknya. “Maaf, ya, Kakak tidak tau kalau kamu nyusul.”

“Tidak apa-apa, Kak. Ayo, kita pulang, besok aja cari mamanya,” ucap Tanya, dengan suara tenang khas bocah berusia sembilan tahun. “Ayo, masuk, Pa.”

Kejadian itu membuat Tiarnan berpikir ulang, takut Tanya kenapa-kenapa sebab tindakan gegabahnya. Dari hari ke hari dia terus mencari tanpa diketahui ayah maupun Tanya, dirinya bersikap seolah-olah iklhas menerima kepergian ibunya.

Sampai bulan berganti tahun harapan Tiarnan memupus, dia bisa menerima kenyataan. Namun, hal itu membentuk kepribadiannya yang pendiam. Mula-mulanya memang di seputar tempat tinggal, sudah hampir tiga tahun dia berkeliling daerah Jakarta.

Habis menyelesaikan bimbingan belajar, Tiarnan tidak langsung pulang, dia meluangkan waktu di taman. Sekadar mengenang masa kecil bersama wanita paling istimewa di hatinya.

Sore itu, taman kota lumayan ramai pengunjung tersebab suasana amat mendukung, cerah dan berangin sedang. Bertambah sejuk kalau duduk di bawah pohon rindang.

Di kejauhan Tiarnan melihat dua batita berebut bola, jelas tidak ada yang mau mengalah. Persis dirinya dan Tanya, karena hanya selisih satu tahun, tidak pernah akur. Itu dulu, Tiarnan mengulas senyum simpul sembari bangun dari duduk, kepergian ibunya menjadi perekat hubungan dia dengan sang adik.

Mata menyipit ketika melihat seraut wajah wanita, Tiarnan beberapa kali mengucek kelopak. “Mama,” gumamnya.

Wanita yang diyakininya adalah sang ibu menghampiri dua bocah tadi, mengambil bola dari tangan-tangan mungil itu.

“Mama!” seru Tiarnan.

Si wanita menoleh, bola terjatuh dari pegangan. “Tiarnan.”

Ibu-anak itu pun saling mendekat dan berpelukan erat lalu mengendur, sambil menangkup pipi Tiarnan, sang ibu berujar, “Sayang, kamu sudah besar, tambah ganteng.”

“Ini beneran, Mama Arima?” tanya Tiarnan masih tidak percaya.

“Ya, ya.” Arima mengangguk cepat seraya memeluk Tiarnan sekali lagi.

“Mama, es krim, mau es krim,” kata salah satu bocah beraksen kaku. “Ayo, Mama.”

“Tunggu ya, Sayang. Ma—”

“Enggak mau! Es krim, mau es krim,” desak kedua bocah itu akhirnya sambil menarik-narik ujung baju Arima.

Karena masih terkejut dan tidak percaya, Tiarnan terbengong, antar bersyukur dan meragukan penglihatan mata, lidah mendadak kaku.

Lambat-lambat jarak ibu-anak itu makin jauh, Arima memilih pergi dengan kedua anak batita tadi. Setelah Tiarnan sanggup menguasi emosi, segalanya sudah terlambat, ibunya kepalang pergi.

Harapan yang semula pupus kembali bersemi, Tiarnan berjanji akan mengajak Tanya kemari. Pasti adiknya senang mendengar berita ini, tentunya sang ayah juga.Akan tetapi, dia harus memastikan ulang.

1
Iza
/Facepalm/
Miu Nuha.
waahh.. perkembangan ceritanya sampe dari tahun ke tahun,, pasti hebat banget perjuangannya 🤗🤗 ,, semangat authorr...

ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'
Mega: untuk mengumpulkan kata perkatanya lumayan sulit, Kak.
total 1 replies
Lia Mulyanti
kapan up date Author? ceritanya bagus ini...
Mega: Terima kasih sudah support tulisan recehku, Kak.
total 1 replies
Leonora
🐱
Leonora
menguras emosi
Leonora
amit-amit jngn smpe
Leonora
seddiiiihhh
Leonora
kecewa sedih
Leonora
setuju bri
Leonora
Nah lo
Leonora
Nah bnerkan
Leonora
Lucky adik Tiarnan?
Leonora
Fixs Seysan bukan suruhan Viola
Leonora
Tiarnan gak jelas gitu gak usah dipertahankan
Leonora
Diihhh
Leonora
Gk hbs fkri sama bapaknya
Mega
😁
litaacchikocchi
Komen judul: tpi ini novel /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
Mega: Yah begitulah, Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Leonora
wajib baca wajib baca
Lia Mulyanti
kapan up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!