DILARANG SPAM LIKE!!!
Andrean Agustin Farda adalah seorang duda beranak dua yang mengalami kegagalan dalam berumah tangga membuatnya trauma dengan seorang wanita dan hubungan percintaan.
Di sisi lain terdapat dua orang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya karena sang ayah yang terlalu sibuk bekerja dan ibunya yang tak pernah menemui mereka sejak kecil.
Nadia Yeristia adalah seorang gadis desa yang kabur dari desa karena tekanan dari keluarganya. Ia nekat pergi ke kota agar bisa terhindar dari tekanan dan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Kemudian ia melamar pekerjaan sebagai pengasuh dua anak orang kaya.
Akankah Andre bisa menemukan seseorang yang bisa mencintai dan menerima kedua anaknya dengan tulus? Dan bagaimana kisah pertemuan antara babysitter dengan duda beranak dua tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Panggilan
Kasus yang dilaporkan oleh Andre kini sudah naik ke tahap penyidikan yang artinya berkas beserta bukti sudah lengkap dan surat pemanggilan kepada terlapor sudah dilayangkan untuk dilakukan pemeriksaan. Jika dalam 3 kali pemanggilan mereka tak hadir, maka dipastikan akan dijemput paksa. Andre melaporkan Aneta, Lian, Sukma, dan Rudi atas kasus kekerasan yang menimpa Abel serta penggelapan uang nafkah anak kecil itu.
Surat panggilan pertama sudah dilayangkan pihak kepolisian ke rumah milik keluarga Aneta dan suaminya. Disana sempat terjadi kegaduhan akibat datangnya surat panggilan itu. Aneta panik saat mendapatkan surat itu karena suami dan keluarganya menyalahkan dirinya.
"Harusnya dulu kamu tak membawa anak itu tinggal bersama kita. Biarkan saja si Andre itu yang mengasuhnya, menyusahkan saja. Sekarang kita harus bagaimana dengan surat panggilan dari polisi itu? Pasti Andre sudah mendapatkan banyak bukti demi menyeret kita ke penjara" ucap Lian.
"Lho... Ini kan juga permintaan kalian untuk mengambil Abel dari papanya biar kita bisa mendapatkan uang bulanan dari Andre tanpa harus bekerja keras. Bahkan aku masih ingat kalau uang pertama yang Andre berikan itu kalian gunakan untuk memulihkan perusahaan yang hampir bangkrut" ucap Aneta tak mau kalah.
Memang benar, Abel dibawa oleh Aneta itu adalah permintaan dari keluarga pacarnya dulu. Bukan untuk diasuh atau diberi perhatian layaknya seorang anak, namun digunakan sebagai alat untuk mendapatkan uang nafkah dari Andre. Uang bulanan yang ia dapat dari Andre akan digunakan untuk menambah modal perusahaan milik keluarga Lian. Sungguh sangat rakus bukan mereka itu, sudah kaya namun tetap saja tak puas dengan hasil yang mereka dapat.
"Arrrghhh... Yang jelas ini salah kamu" ketus Lian.
"Nggak bisa dong, mas. Yang mereka tuntut itu adalah kekerasan yang terjadi pada Abel dan ini semua karena kamu, papa, dan mama. Kalian yang melakukan pemukulan padanya, aku kan hanya diam saja" ucap Aneta tak mau disalahkan.
"Kalian ini bukannya diam dan berpikir bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah, ini malah saling menyalahkan" sentak Sukma.
Aneta dan Lian bertengkar di ruang tamu yang membuat beberapa maid mengintip karena penasaran. Sedangkan Sukma yang baru saja turun ke lantai 1 dari kamarnya hanya bisa kesal karena melihat pertengkaran kedua anaknya yang membahas surat panggilan polisi itu. Bukannya memikirkan solusi dari semua masalah itu, mereka berdua bertengkar dan saling menyalahkan.
"Mama dan papa nggak mau tahu, pokoknya kalian berdua yang harus menyelesaikan ini. Kami nggak mau ikut campur dan nggak mau kalau sampai di penjara" ucap Sukma.
"Kalian semua egois. Yang melakukan kekerasan pada Abel itu kalian, tetapi dengan seenaknya kalian selalu lepas tangan dan hanya ingin enaknya saja" kesal Aneta.
Aneta berlalu meninggalkan Lian dan Sukma yang masih terdiam di ruang tamu. Aneta pergi masuk ke kamarnya dan membating pintun dengan kerasnya membuat semua orang yang ada di rumah itu berjengit kaget.
Brakkk...
Sukma dan Lian hanya bisa mengelus dadanya pelan kemudian saling menatap. Memang benar apa yang dikatakan oleh Aneta, kalau mereka hanya ingin enaknya sendiri terlebih semua uang yang didapat dari Andre masuk ke dalam rekening perusahaan bahkan ibu kandung Abel saja tak menggunakan sepeserpun.
"Lebih baik kamu susul istrimu itu, baik-baikin Aneta biar posisi perusahaan aman. Jangan sampai keadaan kaya gini bikin Aneta meminta balik uang yang sudah ia gelontorkan untuk perusahaan. Yang ada perusahaan yang sudah kita bangun bisa bangkrut" ucap Sukma.
Dengan patuh, Lian segera pergi menyusul istrinya ke kamar meninggalkan sang mama yang menatap kepergiannya. Sukma hanya bisa berharap Lian dapat meyakinkan menantunya kembali agar satu kelurga itu dapat terhindar dari kemiskinan.
***
Andre kini tengah berada di lokasi peresmian restorant yang akan menjadi usaha baru yang dirintisnya. Disana sudah ada kedua orangtuanya, ketiga anaknya, dan juga Nadia yang hadir sebagai tamu kehormatan. Kini acara tengah dimulai dengan beberapa kata sambutan dari Andre. Andre terlihat berkharisma dan berwibawa mengucapkan kalimat sambutan sebagai ucapan syukur dan juga terimakasihnya kepada semua tamu yang hadir.
Setelah mengucapkan kata sambutan, kini saatnya Andre untuk memotong pita sebagai peresmian bahwa restorant akan dibuka untuk umum. Didampingi kedua orangtua dan ketiga anaknya, Andre memotong pita itu dengan berdo'a didalam hati agar restorant yang dibangunnya bisa sukses dan bermanfaat bagi orang banyak.
Prok... Prok... Prok...
Bunyi tepuk tangan menggema di depan halaman restorant itu berasal dari semua tamu yang hadir. Bahkan ada beberapa pengunjung yang sengaja hadir agar bisa merasakan makanan restorant itu untuk pertama kalinya. Andre mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua dan ketiga anaknya yang setia mendampinginya selama ini. Sedangkan Nadia berdiri di dekat meja tempat keluarga Andre, menyaksikan semua moment itu dari kejauhan sambil tersenyum.
Setelah selesai acara pengguntingan pita, akhirnya semua kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk menikmati hidangan gratis di restorant itu bagi tamu undangan. Sedangkan bagi pengunjung. bisa langsung masuk ke dalam lewat pintu samping karena pintu utama masih digunakan untuk acara peresmian.
***
Mama Anisa, Papa Reza, Andre, Nadia, Abel, Anara, dan Arnold duduk bersama di satu meja bundar yang telah disiapkan khusus dari pihak restorant. Mereka semua menikmati makanan enak yang disajikan. Kebanyakan makanan yang dijual disini adalah western food dan cemilan ringan sehingga restorant ini bisa untuk orang-orang yang ingin makan atau hanya nongkrong saja. Sebenarnya restorant ini bisa disebut sebagai cafe juga karena bangunan ini terdapat dua bangunan yang mana tiap sisinya mempunyai design yang berbeda.
Restorant dengan design lebih mewah dan elegant sehingga cocok untuk acara rapat atau meeting sedangkan untuk bangunan sebelahnya bisa disebut cafe dengan konsep yang unik dan lebih santai. Bangunan kedua ini lebih cocok bagi kaum anak muda yang suka berfoto, nongkrong, dan mengerjakan tugas.
"Ada saus di bibirmu" ucap Andre.
Ditengah-tengah keheningan makan siang itu, tiba-tiba saja Andre mengusap bibir Nadia dengan jempol tangannya membuat sang gadis terkejut. Sedangkan Papa Reza dan Mama Anisa yang melihatnya hanya bisa menahan senyumnya. Lain halnya dengan Anara dan Abel yang menatap polos adegan itu, sedangkan Arnold mengernyitkan dahinya bingung.
"Gassss pollll, ndre. Nggak usah pakai rem" seru Papa Reza.
Andre dan Nadia yang masih terbawa suasana pun langsung mengalihkan perhatiannya kearah pasangan paruh baya yang tengah mencibir keduanya dengan tatapan menggoda. Nadia yang melihat itu seketika memalingkan wajahnya yang memerah kearah Arnold yang tengah menatapnya, sedangkan Andre menatap julid kearah kedua orangtuanya.
"Gassss... Ngeeengggggg...." ucap Arnold menirukan suara balapan motor.
Mendengar hal itu membuat semua orang tertawa karena kepolosan bocah laki-laki itu. Suasana yang tadinya canggung akibat adegan romantis dari Andre dan Nadia pun akhirnya mencair juga karena Arnold.