kisah perjalanan hidup seorang gadis yang terpisahkan dari orang tuanya dan di besarkan oleh seorang mafia yang ternyata adalah pamannya yang pernah ingin membunuhnya.
bagaimana perasaan Diah Permata Ningrum apabila dia tau kisah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titian1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Berita kematian Antonio membuat Edy Prayoga kaget, sebagai seorang kakak dia tau persis seperti apa kekuasaan Antonio sebagai mafia.
Beredarnya Vidio itu membuat Adrian di sidang papanya setelah upacara pemakaman Antonio, sebagai seorang putra terpandang melakukan tindakan asusila membuat banyak kerugian yang di dapat papanya.
Edy Prayoga, pemilik beberapa hotel bintang 5 di berbagai negara dan orang yang paling di segani di kota B merasa malu atas perbuatan anaknya yang mencoreng nama baik keluarga.
Edy :"Anak kurang ajar!, bikin malu keluarga."
Tamparan sang papa mendarat di pipi Adrian, pemuda itu hanya menunduk tidak berani melihat papanya apalagi bersuara.
Edy :"Selama ini papa tidak pernah marah atau membatasi pergaulanmu asal tidak merusak nama baik keluarga."
Edy Prayoga terlalu memanjakan Adrian, bahkan dia selalu menutupi kenakalan anaknya dengan kekuasaannya.
Edy :"Siapa yang sudah menembak kakimu?, ceritakan ke papa kenapa semua ini bisa terjadi."
Adrian :"Aku menyukai seorang gadis di kampus pah, karena cueknya dia aku mencoba menjebaknya ternyata dia jago beladiri dan pandai memainkan senjata."
Edy :"Siapa gadis itu, apa ada hubungannya dengan kematian om kamu?.
Adrian :"Iya pah, dia yang nembak om Anton karena mau menolong papanya dan tembakan om Anton malah mengenai Eldan hingga tewas.
Edy :"Kita harus buat perhitungan, tunjukan sama papa siapa dia?, anak dari keluarga mana?"
Adrian :"Jangan pah, om Anton aja gak sanggup melawan dia dan papanya, kata om Anton papanya seorang mafia yang sangat kejam dan di takuti."
Edy :"Mafia...?"
Adrian :"Iya pah, kalau tidak salah om Anton memanggil dia Master C."
Edy memikirkan nama Master C seakan gak asing buat dia, lalu dia mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia di rampok.
12 Tahun yang lalu
Edy sedang menjemput Adrian dan Meliana istrinya di rumah nenek Adrian, di perjalanan dia di hadang kawanan perampok. Edy menelpon adiknya Anton untuk meminta pertolongan. karena jarak yang lumayan jauh Anton datang terlambat, untung Edy di bantu seseorang yang kebetulan lewat di tempat kejadian.
Cahyo yang saat itu kebetulan lewat melihat sebuah mobil di hadang kawanan perampok, Cahyo yang sedang menjalankan misinya ingin mengantarkan barang dagangannya berhenti dan memerintahkan anak buahnya untuk membantu Edy.
Setelah perampok itu kalah dan pergi Edy mengucapkan terimakasih dan berniat mengundang Cahyo kerumahnya. Edy mengajaknya berkenalan dan menanyakan namanya.
Cahyo yang saat itu menjadi Master C hanya membalas dengan jabatan tangan tanpa menjawab pertanyaan Edy segerah berlalu dari tempat kejadian itu.
Edy hanya mengamati mobil mereka dengan lambang Kla Lion hingga mobil itu menghilang dari pandangannya dan di kejutkan dengan kedatangan adiknya.
Antonio :"Bagaimana ka?, kamu tidak apa-apakan?"
Edy :"Iya tidak apa-apa, tadi aku di tolongin dengan sekelompok orang yang mengunakan mobil dengan lambang Kla Lion, Bos mereka mengunakan topeng sikapnya yang tegas dan dingin membuat aku penasaran."
Antonio :"Master C maksud kakak, ngak mungkin dia nolongin kakak!, dia adalah mafia yang paling kejam di negara kita."
Edy :"Tapi beneran Ton, mereka sudah menolong kakak."
Antonio :"Sudahlah kak, gak usah bahas Master C aku sebal dengar namanya karena dia yang selalu mengacaukan bisnisku.
Antonio dan Edy akhirnya pulang ke rumah nenek Adrian dan menutupi kejadian itu dari istri dan mertuanya takut Meliana merasa cemas.
Adrian menyadarkan Edy dari lamunan masa lalunya saat dia bertemu Master C.
Adrian :"Papa kenal dengan Master C?"
Edy :"Eh iya, dulu dia sudah menolong papa waktu di rampok, apa Master C yang kamu ketemui masih mengunakan topeng?."
Adrian :"Tidak pah, dia tidak pakai topeng."
Edy :"Sudah lah, mulai sekarang semua fasilitas kamu papa ambil, kamu berangkat ke kampus di antar bang Jun itu sebagai hukumanmu sudah membuat papa rugi banyak."
Adrian :"Jangan pah, masa aku mendadak jadi gembel, kharismaku langsung hilang di kampus pah."
Edy :"Memangnya setelah Vidio itu beredar kamu masih punya muka datang ke kampus?"
Adrian diam setelah mendengar omongan papanya dan semuanya benar bahkan pemuda itu malu menampakkan wajahnya di kampus gara-gara Vidio itu.
Di kampus semua murid mulai menyapa Bulan, mereka sudah tidak menghindar lagi saat mendengar berita tertembaknya Eldan hingga tewas dan kaki Adrian, juga beredarnya Vidio asusila itu.
Desi yang melihat Bulan memasuki kelas langsung menyapanya dan menanyakan kabarnya.
Desi :"Bulan kamu gak apa-apa kan?, Adrian tidak melecehkanmukan?."
Bulan :"Aku gak apa-apa Des, dan kamu jangan khawatir dia tidak akan menganggu keluargamu."
Desi :"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, saya cuma khawatir saat kamu di bawa Adrian kemaren."
Bulan hanya tersenyum, dan bersyukur berkat kejadian itu semua teman di kampusnya mau menyapanya tidak menghindar lagi.
Wawan dan Edo tidak berani ke kampus, kedua pemuda itu mengurung diri di kamarnya rasa malu, takut dan trauma masih ada di hati dan pikirannya apalagi saat melihat Eldan tewas di hadapannya dengan luka tembakan di kepalanya.
Bayangan kejadian itu masih berputar-putar di kepala mereka berdua sehingga orangtuanya membawa pemuda itu ke psikiater karena melihat putranya seperti orang linglung karena banyak melamun.
Sepulang kuliah Bulan meminta izin ke papanya ingin mengunjungi Dewi, setelah papanya memberi izin Bulan segera melajukan motornya ketoko bunga milik Dewi.
Bulan semakin dekat dengan calon mamanya, gadis itu sering membantu Dewi melayani para pembeli dan kadang Bulan di ajarin cara merangkai bunga juga kadang Dewi mengajarinya berdandan dan mengunakan gaun.
Dewi :"Kamu wanita Bulan, kamu harus tampil feminim sebentar lagi papa sama Mama menikah masa kamu pakai baju begini di pesta pernikahan orangtuamu?"
Awalnya Bulan risih melakukannya, Dewi terus menasehatinya dengan penuh kasih sayang membuat gadis itu akhirnya menuruti semua ucapan calon mamanya itu.
Bulan gak cuma belajar berdandan tapi juga belajar berjalan mengunakan sepatu wanita, belajar cara duduk dan juga belajar cara berbicara sebagai wanita yang anggun.
Tapi semua itu Bulan lakukan hanya di toko Dewi sedangkan di rumahnya tetap menjadi Bulan yang tomboy,
Toko bunga Dewi semakin terkenal, bahkan namanya sempet viral di setiap jaringan sosia. viralnya toko bunga Dewi membuat ibu-ibu sosialita ingin mengunjungi toko itu begitu juga para sahabat bunda Ningrum.
Jeng Lisa mengajak teman-teman sosialitanya mengunjungi toko bunga itu, dan keinginannya di sampaikan pada saat arisan di rumahnya.
Lisa :"Jeng kalian tau ngak toko bunga D'KUTUB FLORIST?."
Prita :"Yang lagi viral itu ya jeng?"
Lisa :"Iya jeng, Minggu besok kita kesana yuk!"
Prita :"Boleh tuh, jeng Ningrum ikut kan kapan lagi kita jalan-jalan ke toko bunga bosen tau ke mall trus."
Ningrum :"Iya saya mau ikut jeng, saya juga mau beli bibit bunga baru siapa tau ada yang bagus."
Mereka sepakat untuk mengunjungi toko bunga D'Kutub Florist pada hari Minggu besok.
semoga ada kelanjutan ya thoor
Sungguh Cahyo memang selalu bisa luluh bila hidapkan dengan hal2 membuatnya seperti dirinya dulu apalagi sekarang dia harus mencari anak kandungnya yang jelas2 sudah ada didepan mata yaitu Erlangga anak angkat Haryo dan Mawar. Semoga kalian segera dipertemukan kembali bersama Cahyo Dewi dengan anak kalian Erlangga. 🤲🤲🤲
Huuh bulan kalau ngasih kode lihat sikon neng jadi kesedak tuh bunda sama papamu 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🙈🙈🙈🙈