Memiliki seorang Ayah berkuasa dan julukan 'Macan Asia' raja bisnis se-Asia tidak membuat anak kembar Reno Mahesa, tinggi hati dan sombong. Zevano Hendra Mahesa dan Zevana Alea Mahesa adalah saudara kembar yang terlahir dari keluarga pembisnis kelas kakap. Mereka datang untuk melawan kejamnya dunia. Didikan keras dan ilmu beladiri yang Reno berikan sejak kecil, mampu menjadikan saudara kembar ini kuat dan tangguh. Siapa sangka mereka berdua terlibat rahasia besar penggelapan Emas dan batu permata milik orang berkuasa. Sehingga orang-orang terdekat mereka menjadi imbas dan sasaran kematian.
Zevano dan Zevana adalah julukan 'Macan Asia' yang sedang dicari untuk dihabisi nyawanya, Karena keberadaan mereka adalah sebuah ancaman bagi elite pembisnis. kembalinya mereka bukan hanya untuk membalaskan dendam pada orang-orang yang sudah menghabisi orang terdekatnya, Namun untuk mencari keadilan. sanggup kah sang Macan Asia membalaskan dendam pada seorang penguasa yang berkedok malaikat?"
Bagaimana kah perjalanan Cinta Zevano dan Zevana, apakah orang-orang di masa lalunya akan hadir kembali?
Kisah Action, percintaan, cinta segitiga, pengkhianatan dan pengorbanan akan hadir disini. Juga ada kisah dewasa 21+ untuk menambah imun readers 😄
Kisah ini lanjutan dari kisah "Istri Pengganti Ceo' Seoson 123.. dan berlanjut di kisah anak-anak Reno dan Delena. Yuk ikuti kisahnya dan tetap Favoritin Novel ini 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Bukti
"Saya pergi dulu. Tolong jaga baik-baik saudaramu" ucapnya pada Chika.
"Iya kak! terimakasih banyak udah menolong kakakku!
Pria itu mengangguk sebagai respon dan melangkah pergi bersamaan Vana membuka kelopak matanya. Vana mengerjab-ngerjabkan matanya, sinar sore di-langit berwana kuning ke-emasan dan masuk kedalam bola mata bening Vana.
"Lebih baik Mbak nya kita bawa ke Puskesmas terdekat, sepertinya ia masih lemah." tukas penjaga pantai. Yang di anggukan oleh Chika
Sesampainya di puskesmas yang hanya menempuh 100 meter perjalanan, ternyata sudah tutup. Sebab waktu sudah menjelang magrib. Menggunakan mobil Chika, Vana dibawa kerumah sakit swasta dan harus menempuh 500 meter dari pantai. Sampai disana Vana langsung ditangani Dokter.
Chika menunggu didepan pintu UGD. Ia masih merasakan ketakutan dan panik. Perasaan bersalah setelah melihat kondisi Vana yang lemah, sebab ia yang mengajaknya ke pantai. Chika memutuskan menghubungi Maminya. Telponpun terhubung.
"Hallo sayang..."
"Mami... hiks, hiks, hiks..."
"Hey chik? kenapa menangis?apa ada yang menyakiti mu Nak." tanya Davina terdengar khawatir.
"Kak Vana mih...."
"Ada apa dengan kakakmu Vana?
"Tadi kak Vana terseret ombak di laut setelah menolong seorang anak balita."
"Ap-apa..? suara pekikan Davina terdengar kaget. "Terus gimana keadaan Vana?!"
Chika menceritakan kronologis kejadian di pantai tadi "Sekarang Kak Vana sudah Chika bawa ke rumah sakit swasta di bantu dua orang petugas pantai."
"Syukurlah, kalau begitu Mami dan papi kesana, kebetulan papi baru pulang. kirimkan alamat rumah sakitnya."
"Iya Mih!"
Pintu ruangan UGD terbuka, seorang Dokter berkacamata-minus keluar dan berbicara pada Chika.
"Mbak kelurga Pasien?
"Benar Dok! dia kakak saya, tadi tenggelam di lautan dan sempat pingsan, untungnya ada orang cepat menolong."
"Cuaca laut memang sangat ekstrim. Namun, Kondisi kakaknya mulai membaik, hanya masih sangat lemas."
"Apa kakak saya harus dirawat Dok?"
"Sepertinya ia harus di rawat inap, tadi sudah saya jelaskan kondisinya sangat lemas dan banyak ke-minum air laut."
"Baik Dok!"
"Chika...!
"Mami.. papi..." seru Chika saat melihat kedua orang tuanya berjalan mendekat.
"Loh Dokter Robert..?"
"Dokter Faris..? Anda bertugas disini juga?"
"Iya Dok, wah kebetulan sekali, padahal sangat sulit bertemu dengan Dokter senior pemilik rumah sakit terbesar di Bali." imbuh Dr Faris mengulurkan tangan pada Robert.
Dr Robert menerima uluran tangan Dr Faris "Kita sering bertemu di beberapa seminar, tidak sulit menemuiku, aku ada di cabang rumah sakit yang baru diresmikan enam tahun lalu."
"Ohya... makin sibuk saja Dok, kapan-kapan saya mampir kesana."
"Boleh.. boleh..." tukas Robert ramah.
"Bagaimana keadaan keponakan saya?!" tanya Davina khawatir.
"Sudah membaik, saya sudah pasangkan infusan agar kondisi tubuhnya stabil. Tadi saat datang wajahnya sangat pucat dan tubuhnya lemas."
"Syukurlah keponakan ku tidak apa-apa." Davina bernafas lega.
Robert berbicara pada dua orang petugas pantai yang bertanggung jawab mengantarkan Vana sampai rumah sakit. setelah itu mereka mengundurkan diri untuk pulang.
Diruangan rawat inap, Davina mengusap lembut kepala keponakannya "Gimana? sudah lebih enak?"
Vana hanya mengangguk pelan.
"Makan dulu ya? kata Dokter perutmu kosong dan harus di isi dulu untuk minum obat."
Vana mengangguk sebagai respon. Davina mengambil nasi, sayuran dan lauk-pauk yang sudah di sediakan suster. Dengan telaten dan penuh kasih sayang Davina menyuapi Vana. "Seharusnya kau harus lebih hati-hati lagi bila berada di pantai. Sudah banyak orang terseret ombak dan tidak bisa ditemukan lagi, bersyukur Tuhan masih sayang padamu, Van." nasehat Davina sambil menyodorkan sendok ke mulut Vana.
"Vana hanya menolong anak balita yang terseret ombak Mih, hati nurani Vana bergerak dan tidak bisa mengabaikan nyawa seorang anak yang membutuhkan pertolongan." ucapnya sambil menerima suapan Davina.
Davina menarik nafas dalam "Tapikan, nyawa mu juga terancam. Mami sangat syok mendengar Chika telpon sambil menangis, pikiran mami udah gak tenang."
"Ada seorang pria tampan yang menolong Kak Vana, Mih! potong Chika. "Tadinya tidak ada yang mau menolong Kak Vana, mereka pada menyelamatkan diri masing-masing, padahal Kak Vana baru saja menolong anak kecil, bahkan Chika berteriak-teriak minta bantuan, petugas yang menjaga pantai tidak mau menyelam karena takut ombaknya besar. Tuhan maha adil, kebaikan Kak Vana di tolong lagi oleh seseorang yang berani menyelam dalam keadaan ombak besar."
"Siapa Pria itu..?! tanya Davina penasaran.
"Chika juga nggak kenal, Mih!
"Kenapa nggak kenalan dulu, kita bisa datang menemuinya dan ucapkan terima kasih. Bagaimana pun juga kita berhutang budi padanya."
"Ck! Mami..! Nama juga orang niat nolong. Ya nggak berpikir sampai mau kenalan, tahu keadaan sedang panik!"
"Terima kasih banyak Chika.." imbuh Vana. Chika yang berdiri di sisi ranjang, memeluk tubuh kakak sepupunya "Kak! Chika sangat takut kehilangan kakak, berjanji ya jangan pernah tinggalkan Chika."
"Iya Dek! Vana mengangguk seraya mengurai pelukannya, mengusap lelehan air mata adiknya. "Kakak sayang banget sama Chika, adikku yang imut." Chika tersenyum.
Ceklek!
"Van! Daddy dan Mommy mu telpon." tukas Robert yang baru masuk kedalam ruangan rawat inap Vana.
"Hallo...."
"Van..? kau tidak apa-apa sayang.." terdengar suara isakan dari ujung telepon "Kenapa kau selalu buat semua kelurga khawatir? belum lama dicelakai orang-orang jahat, sekarang tengelam, besok apa lagi..?" hiks...
"Mom... maafkan Vana sudah buat Mommy sedih.." airmata Vana sudah meleleh, apalagi mendengar ibunya menangis. "Vana hanya niat menolong, tapi ombak itu tiba-tiba menerjang." hiks... Davina mengusap lembut punggung keponakannya dan memberikan kekuatan.
"Sayang... secepatnya kau pulang.."
"Vana belum sembuh, Dena! dia masih lemas. Tunggu lah keponakan ku sembuh dulu baru boleh pulang, aku sendiri yang akan merawatnya!" potong Davina, yang tentu saja semua didalam ruangan mendengar obrolan mereka, karena menggunakan Loud speaker.
"Hufftt! Terdengar helaan nafas panjang dari ujung telepon.
"Zee... ini Daddy.."
"Dad! hiks... "Ma'afkan Zee, selalu buat Daddy dan Mommy khawatir dan sedih." ucapnya kecewa.
"Zee tidak salah, semua yang Zee lakukan adalah takdir yang harus di terima dengan lapang dada. Daddy percaya, anak Daddy tidak akan salah melangkah. Do'a Daddy dan Mommy akan selalu bersamamu." imbuh Reno menasehati. Reno adalah sosok ayah yang bijaksana dan selalu memposisikan dirinya seandainya jadi Vana. Ia selalu mendukung apapun kemauan anak kesayangannya itu, asal dilakukan dengan sungguh-sungguh.
"Thank you dad, I will always remember dad's message." Vana tersenyum seraya mengusap airmata dengan punggung tangannya.
"Daddy ingin bertanya, dimana dua bodyguard yang ikut bersamamu Zee? Kenapa saat kau mendapatkan musibah ia tidak ada disana? Daddy sudah menyuruh anak buah Daddy untuk menjemputnya dan memberikan hukuman karena telah teledor, tidak menjaga anakku dengan baik dan tanggung jawab!" nadanya terdengar emosi.
"Dad! mereka tidak bersalah, Zee yang membebaskan mereka berdua untuk berjalan-jalan dan pergi ke Mall, Zee juga tidak ingin saat di pantai diikuti terus oleh mereka, seakan gerak-gerik Zee di perhatikan."
"Tapi keputusan Daddy sudah bulat, mereka akan mendapatkan hukuman. Tunggu Om Frans datang menjemput mu ke Bali, okey..?"
"Okay Dad! Vana tidak akan bisa membantah keinginan Daddynya yang posesif dan tegas.
Sementara di sebuah Villa.
"Hey brother..." seorang pria menaruh kopi hitam didepannya. "Jangan banyak melamun! nih kopi udah gue buatin, biar nggak bete."
"Thanks bro! ucapnya seraya menatap pemandangan indah diatas balkon, deburan ombak terdengar lirih, seakan menertawakan dirinya karena tidak bisa lepas dari masa lalunya.
"Are you okay..? tanyanya lagi, seraya menyeruput kopi perlahan.
Pria itu mendesah panjang "Seperti yang kau lihat sendiri? apa menurutmu aku baik-baik saja..?"
"Jadi tujuan mu apa sekarang?
"Aku akan mencari tahu masa-lalu Ayahku Thomas! pria itu mengeluarkan sebuah foto dari saku celananya.
"David! kau bisa bantu aku?!
"Tentu saja, apapun itu pasti akan aku lakukan, karena aku dan keluargaku berhutang nyawa padamu."
"David! kau sudah membayar lunas. kita sudah impas dan tidak ada hutang nyawa lagi. Kau sudah selamatkan nyawa ku saat aku meneguk racun tikus yang aku campur dengan kopi."
"Huh! David membung nafas kasar "Untung masih tertolong! jangan pernah lakukan hal bodoh lagi, nyawa mu cuma satu!" cetus David gelengkan kepala.
"Akan aku ingat nasehat mu." Pria itu tersenyum samar.
Pria itu perlihatkan sebuah foto lama pada David yang menatapnya serius "Difoto ini ada empat orang pria. Ayahku, Tuan Reno, Arnold dan Leo. Mereka bertiga bersahabat. Tapi Ayahku hanya teman bisnis Tuan Reno. Menurut sumber yang aku percayai, Arnold sahabatnya pernah bertunangan dengan adik tuan Reno, bernama fanny. Arnold mati di tembak tuan Reno saat melecehkan adiknya. Sumber berita yang aku ketahui, bukan hanya itu saja. Arnold pernah datang ke apartemen tuan Reno saat Nyonya Delena sendiri dan Ingin melecehkan juga."
"Lalu apa tugas ku?!
"Masih ada sahabat Tuan Reno bernama Leo. tolong kau cari dimana keberadaannya. ia sempat renggang dengan Tuan Reno dan menghilang. Aku berharap Leo tahu masa-lalu ayahku dan membuka tabir rahasia. Aku tidak ingin salah melangkah dalam ambil keputusan."
"Baiklah aku akan membantumu."
"Thanks bro! Kau tahu sendiri bukan? keberadaan ku masih tidak aman disini. Orang-orang Tuan Reno masih mencariku!"
"Iya aku mengerti!"
Mereka berdua terus bertukar pikiran sambil menikmati kopi hitam.
💜💜💜
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersmbung....
terima kasih aothor emang luar biasa aku suka semangat untuk semuanya
kasian anak"nya lagi membutuhkan reno
mbak sari bukanya uda mati yg ususnya sama jarinya di kirim ke vana thor?