Najwa, seorang gadis berusia 23 tahun. Menikahi seorang pria yang sudah dia pacari selama 9 tahun, sejak dirinya duduk di bangku SMP. Awalnya semua berjalan lancar, sampai suatu ketika Najwa mendengar sebuah surat wasiat, yang dibacakan oleh keluarga suaminya. Surat wasiat yang diberikan suami Najwa sebelum pergi bertugas.
Apa isi wasiat itu? apakah Najwa akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tidur Bersama
"Kemarilah," ujar Ega saat dirinya selesai menyantap es buah hingga tandas.
"Ada apa kak?" tanya Najwa heran, karena mereka duduk, bisa dibilang cukup dekat.
"Duduklah di depanku. Aku ingin memainkan rambutmu." Jawab Ega.
"Me-Memainkan rambut?" tanya Najwa heran.
Sungguh Najwa masih merasakan canggung, meski mereka sudah pernah berciuman sebelumnya. Namun Najwa tidak ingin membantah perintah suaminya. Diapun menuruti apa yang Ega katakan.
Najwa kemudian duduk di depan Ega, sementara Ega duduk tegap di belakang Najwa, sembari mulai membelai rambut indah wanita itu.
"Jangan pernah memotongnya," ujar Ega.
"Ta-Tapi aku tidak suka kalau panjangnya melebihi pinggangku. Itu sangat merepotkan saat mengurusnya. Terlebih saat selesai keramas. Itu memerlukan waktu saat mengeringkannya," ucap Najwa.
"Aku akan membantumu saat mengeringkannya. Pokoknya tidak boleh di potong ya?"
"I-Iya." Jawab Najwa.
"Benar apa yang di katakan mas Affan. Dia sangat menyukai wanita berambut panjang. Apa Melody mempunyai rambut yang panjang juga?" batin Najwa.
"Rambutmu sangat indah dan panjang. Berapa lama kamu memanjangkan rambut sampai sepanjang ini?" tanya Ega sembari mencium rambut Najwa.
"Kurang lebih 3 tahun." Jawab Najwa.
"Aku suka. Rambutmu sangat indah," ujar Ega.
Ega kemudian membuat rambut itu berkumpul di depan Najwa, dan dirinya meletakkan wajah di ceruk leher Najwa.
Deg
Jantung Najwa kembali berdegup. Perlakuan Ega, membuat dirinya merasakan gelenjar aneh.
"Kamu sangat wangi," bisik Ega yang membuat wajah Najwa bersemu merah.
Ega kemudian meraih wajah Najwa dan tiba-tiba melabuhkan ciuman di bibir Najwa. Najwa yang semula terkejut, lambat laun membalas ciuman itu dengan penuh perasaan. Setelah hampir kehabisan pasokkan oksigen, Najwa mendorong dada Ega agar pria itu menghentikan pagutannya.
"Se-Sebentar lagi magrib. Aku mau siap-siap sholat dulu kak," ujar Najwa sembari berdiri dari tempat tidur.
Ega tahu Najwa saat ini tengah malu, itu bisa terlihat dari rona wajahnya.
"Mau sholat berjamaah denganku?" tanya Ega.
Pertanyaan itu tentu saja membuat Najwa terkejut. Pasalnya selama tinggal bersama, dirinya tidak pernah melihat Ega menunaikan kewajibannnya sebagai mahluk Tuhan. Dan sekarang pria itu ingin mengajaknya sholat berjama'ah, tentu saja dia tidak akan menolak. Dan entah mengapa itu berhasil membuat matanya berkaca-kaca.
Ega berdiri dari tempat tidurnya dan berdiri di hadapan Najwa. Pria itu kemudian menyeka air mata Najwa yang terlanjur jatuh ke pipinya.
"Maaf. Selama menjadi suamimu, aku belum menjalankan semua kewajibanku. Aku juga tidak membimbingmu dengan baik, bahkan malah sebaliknya. Najwa, aku akui aku bukan suami yang layak buatmu, tapi aku ingin berusaha membangun cemistry diantara kita. Apa kamu mau membangunnya bersamaku?"
Najwa tidak sanggup berkata-kata. Aggukkan cepat kepalanya cukup mewakili segalanya.
"Mau peluk?" tawar Ega.
Tanpa banyak bicara, Najwa masuk kedalam pelukkan hangat Ega. Ada rasa nyaman yang tidak bisa keduanya jelaskan.
"Baiklah. Kamu ambil mukenahmu, kita sholat berjama'ah disini," ujar Ega.
"Ya." Jawab Najwa sembari tersenyum.
Najwa bergegas ke kamarnya dan memakai mukenahnya. Setelah itu dia kembali lagi ke kamar Ega. Najwa terpana saat melihat penampilan Ega saat ini. Pria itu terlihat tampan dengan baju koko, sarung, dan peci hitam yang dia kenakan. Entah mengapa jantung Najwa jadi berdegup saat melihat mahluk tampan di hadapannya itu.
Tidak jauh berbeda dengan Najwa, Ega juga mengagumi kecantikan Najwa saat mengenakan mukenah putih motif bunga. Wajah istrinya itu tampak lebih bercahaya.
"Ini tidak benar. Apa secepat itu dia berhasil menguasai hatiku? kenapa aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya," batin Ega.
Ega mengatur shaf, setelah Adzan selesai berkumandang dari kejauhan. Sementara itu Najwa mengikuti Ega dari belakang sebagai makmum. Sungguh hal tak terduga lainnya Najwa rasakan. Pria yang dia anggap minim ilmu agama itu, ternyata memiliki suara yang indah saat membaca ayat-ayat selama mereka sholat berjama'ah. Hati Najwa terasa dipenuhi rasa aman dan nyaman yang tidak bisa dia lukiskan saat ini.
Setelah selesai sholat dan melantunkan sholawat, kedua mahkuk itu bermunajat tanpa ada yang tahu apa yang sedang mereka minta.
"Tuhan. Aku tahu ini salah, aku seperti membentengi hatiku agar tidak cepat jatuh cinta pada suamiku sendiri. Tapi aku juga memiliki alasanku sendiri. Aku takut dia meninggalkan aku seperti mas Affan meninggalkan aku saat sedang sayang-sayangnya. Dan Engkau maha tahu, hal itu sangat menyakitkan bagiku. Ya Allah ya Tuhanku, jika jodohku dengannya memang tidak panjang, maka buatlah jarak sejauh mungkin antara aku dan dia. Karena sungguh sejujurnya pertahananku saat ini sedang goyah," Najwa berdo'a dengan khusyuk.
"Ya Allah. Dari tahun ke tahun yang panjang, kini aku kembali menghadapmu setelah sekian lamanya. Terima kasih sudah menghadirkan Najwa dalam hidupku, meskipun aku tidak tahu jodoh kami sepanjang apa. Ya allah, jika memang Najwa jodoh terbaik bagiku, maka buatlah aku semakin dekat dengannya. Tumbuhkanlah rasa cinta di hati kami, berikanlah rasa ingin memiliki diantara kami. Amiin.
Ega menoleh ke arah Najwa, yang ternyata juga baru selesai berdo'a. Najwa meraih tangan Ega dan mencium punggung tangan suaminya itu.
Cup
Ega mencium kening Najwa. Sementara Najwa tampak memejamkan mata, menikmati momen-momen indah yang sangat jarang dia temui. Mata Ega dan Najwa beradu, sesaat kemudian Najwa dan Ega tersenyum bersamaan.
"Cantik," ujar Ega sembari mengusap puncak kepala istriya itu. Sementara Najwa jadi tersipu malu.
*****
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, saat Ega membuka pintu kamar Najwa. Istrinya itu tampak tertidur lelap dengan gaun malam yang tersingkap hingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Glekkkk
"Benar-Benar cobaan yang menyiksa. Kalau saja aku tidak berjanji untuk tidak berbuat lebih padanya, aku pasti sudah akan menerkamnya sekarang juga," batin Ega.
Ega naik keatas ranjang, dan berbaring di samping Najwa. Ega memandangi wajah cantik Najwa yang hanya berjarak beberapa senti saja. Bibir Najwa yang sedikit terbuka tampak menggoda Ega. Dan pandangan itu akhirnya semakin turun dan berakhir di dada Najwa.
Glekkkkkk
Lagi-Lagi benda indah itu benar-benar menggoda imannya. Dengan berani Ega menge*up bibir Najwa dan sedikit **********. Najwa yang merasa terganggu terpaksa membuka matanya meskipun sangat berat.
"Ka-Kakak kenapa disini?"
Najwa yang terkejut langsung duduk seketika. Tanpa dia sadari gaun malamnya yang berdada rendah, membuat Ega tambah pusing kepala.
"Aku ingin tidur bersamamu. Apa boleh?" tanya Ega.
Sungguh pertanyaan itu terasa konyol di dengar. Tapi Ega tetap ingin menjaga privasi Najwa jika memang istrinya itu belum merasa nyaman dengan keberadaannya. Namun yang membuat Ega senang adalah, Najwa kemudian menganggukkan kepala sembari tersenyum kearahnya.
"Kemarilah! biarkan aku tidur sembari memelukmu," ujar Ega sembari menepuk lengannya
Najwa dengan malu-malu merebahkan kepala di lengan kekar milik suaminya. Ega berkali-kali mencium puncak kepala Najwa, sebelum akhirnya mereka terlelap bersama.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
bagus ceritanya.