Nama ku adalah Chandra Felix Lance, seorang siswa SMA biasa, setidaknya itu lah ku pikirkan selama 16 tahun aku hidup. Hingga saat umurku menjelang 17 tahun tiba-tiba saja aku terkena penyakit misterius dan kebenaran pun terungkap saat pacarku (mantan) mengatakan bahwa aku adalah manusia setengah vampir, sekaligus salah satu kandidat putera dari salah satu pemimpin Mesovania The Great Four Majesty yaitu Valter Blau Haar von Diedrich si pemimpin ras vampir yang menghilang 750 tahun yang lalu saat pemberontakan di negeri itu sedang berada pada puncaknya.
Dimulai dari sini kehidupan normal ku sebagai siswa SMA biasa berubah menjadi kehidupan siswa SMA tidak biasa.
Apakah aku memang putera dari si pemimpin ras vampir itu? Jika iya, apa yang harus ku lakukan? Bagaimana cara kami semua dapat kembali ke negeri Mesovania? Dan yang terpenting bagaimana kehidupan remaja SMA tidak biasa ku itu akan berlangsung?
Untuk mengetahui hal itu, maka ku saran kan kau membaca kisah ku sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brille23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 Perintah Sandra
Sudah kurang lebih satu minggu semenjak aku menyetujui untuk membantu Valter, tapi setelah itu aku belum mendapat kabar apapun darinya. Entahlah aku sangat bersemangat sekali untuk melakukan tugas ini, meskipun aku tidak tahu apa untungnya bagiku.
BRAK..!!!
Sebuah rotan memukul mejaku dengan keras membuatku tersadar dari lamunanku.
"Berani ya, kamu melamun di kelas saya?!" Sindir bu Rini yang sebenarnya adalah Sandra.
"Ti..tidak kok bu, saya hanya mengagumi kehebatan ibu dalam mengajari saya yang bodoh ini" Jawabku.
"Kamu jangan main-main ya, kita cuma punya 3 minggu lagi untuk membuatmu lulus dari kelas ini" Ucapnya.
"Dan jika saya lulus dari kelas ini, apakah itu berarti saya tidak akan bertemu dengan bu Rini lagi?" Tanyaku memasang wajah sedih.
"Tentu saja, setelah kamu lulus dari kelas ini saya akan pindah ke sekolah lain yang berada jauh dari kota ini. Kenapa? kamu sedih ditinggalkan oleh pembimbingmu yang baik hati ini?" Ucap bu Rini jahil.
"Hiks...hiks...Aku kira kau akan berada disini selamanya" Ucapku.
Melihat reaksiku sepertinya bu Rini terlihat sedih, mungkin dia termakan kata-kataku lagi.
"Baiklah, aku...aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk lulus dari kelas khusus ini agar aku bisa terbebas dari bu Rini yang cerewet ini!" Sambungku.
"Hoo, jadi kamu ingin segera terbebas dariku ya" Ucap bu Rini yang terlihat kesal.
"Kenapa ibu terlihat kesal? ah, jangan-jangan sebenarnya ibu yang sedih akan meninggalkan murid tercinta mu ini" Ucapku jahil.
"Diam kau ?!" Jawab bu Rini ketus.
"Lebih baik kau kerjakan soal yang ku berikan tadi !" Sambung bu Rini.
"Soal? soal apa?" Tanyaku heran.
"Itu, soal yang ada di atas mejamu!" Ucap bu Rini menunjuk kertas yang dari tadi sudah ada di hadapanku.
"Eh? sejak kapan kertas ini ada disini?" Ucapku terkejut melihat tiba-tiba ada sebuah kertas di hadapanku.
"Kamu melamun LAGI ya dasar anak bandel ?!" Ucap bu Rini sambil mendekat ke mejaku.
"Hal penting apa yang membuatmu berpikir terlalu keras hah?" Sambungnya setelah ia sudah berdiri tepat di depanku.
Ku dekatkan wajahku padanya agar aku bisa berbisik padanya.
"Eh Sandra aku serius, aku ingin bertanya sesuatu padamu!" Bisik ku.
"A...apa? eh bisakah kau berbisik tidak sedekat ini ?" Pintanya dengan pipinya yang memerah semerah apel.
"Eh, tapi kan aku takut ada orang yang mendengar percakapan kita" Jawabku.
"Sudah ku bilang kita akan aman selama kelas khusus, karena sudah ku pastikan tidak ada siapa-siapa di lingkungan kelas ini, kau pikir kenapa aku memilih kelas yang terpisah dari gedung utama ini hah?" Jelas Sandra.
"Apa kau ingat saat pertama kau masuk kelas khusus waktu itu? bukannya kita malah berteriak-teriak dengan santainya" Sambungnya.
"Ah iya kau benar" Ucapku sambil menjauh darinya.
Melihat tingkah Sandra selama ini membuatku penasaran. Mengapa wajahnya selalu memerah dan ia menjadi salah tingkah ketika aku mendekatinya atau berbisik padanya? Ini aneh karena ketika ia berada di dekat Theodore, ia malah terlihat biasa saja. Tingkahnya itu membuatku jadi berpikir apakah itu tandanya ia menyukaiku? atau kenapa? Tunggu dulu, kepada siapa lagi dia bertingkah seperti itu ya?
"Ah iya, pada Valter juga seperti itu !" Ucapku dengan lantang.
"Apa? kenapa dengan tuan Valter?" Tanya Sandra.
"Tidak, aku hanya berbicara pada diriku sendiri" Jawabku.
"Hmm...lupakan saja, sepertinya aku terlalu banyak berpikir" Pikirku.
"Em, o...ke. Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Sandra penasaran.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu tentang Valter, apakah ia baik-baik saja setelah kejadian waktu itu?" Tanyaku serius.
"Eh? tumben sekali kau bertanya tentangnya?" Jawab Sandra.
"Halah, jawab saja!" Timpalku.
"Yaa selama aku tinggal di kediaman Alex satu minggu ini untuk berlindung, ku lihat beliau baik-baik saja, terlihat tenang sekali" Jawab Sandra.
"Hoo begitu baguslah-"
"Bagus? Chandra, menurutku itu sangat mencurigakan sekali" Ucap Sandra tegas.
"He~ kenapa? bukannya itu bangus, ia benar-benar melakukan apa yang kau perintahkan" Tanyaku memastikan apakah Sandra curiga atau tidak dengan tingkah Valter.
"Iya kau benar, tapi perasaanku mengatakan bahwa ia sedang merencanakan sesuatu" Jawab Sandra yakin.
"Sudah ku duga pemikiran Sandra memang tajam, sulit sekali untuk menyembunyikan sesuatu darinya" Pikirku.
"Hmm...begitu, tapi menurutku kau terlalu berlebihan, apakah kau tidak percaya pada Valter?" Ucapku.
"Tentu saja aku mempercayainya. Ah, mungkin saja aku berpikir begitu karena terlalu mengkhawatirkannya setelah kejadian waktu itu" Jawab Sandra.
Seakan teringat akan sesuatu, ia menatapku cukup lama, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu padaku.
"Apa?" Tanyaku.
"Chandra, bisakah kau menolongku untuk mengawasi Valter?" Pinta Sandra padaku.
"Tidak" Jawabku mantap.
"Aku mo-"
"Tidak!" Jawabku langsung.
"Ak-"
"T-I-D-A-K" Tegasku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Itu sangat merepotkan, lagi pula aku bukan bawahanmu yang bisa kau suruh-suruh, aku pria bebas !" Tegasku.
"Hmm...baiklah, aku tidak punya pilihan lain untuk menyebarkan foto ini kepada seluruh murid di sekolah ini" Ucap Sandra dengan wajah sok kecewa yang sangat menyebalkan untuk dilihat.
"Hah? foto apa? aku merasa tidak punya foto aib yang patut untuk disembunyikan, bahkan aku masih terlihat sangat ganteng di foto aib terjelek-" Jelasku percaya diri yang kemudian terpotong saat Sandra memperlihatkan sebuah foto di handphonenya.
"Hah?! ka...kau dapat foto ku saat jadi Dianne dari mana?!" Tanyaku yang terkejut melihat foto yang saat itu diambil oleh Stella saat di Pertemuan Wanita Kesepian.
"Hah, kau bisa tebak sendiri" Jawab Sandra yang terlihat sangat puas melihat ekspresi terkejutku.
"Stella! kau pasti menyalahgunakan kekuasaanmu untuk mendapatkan foto ini darinya kan?!" Tuduhku.
"Tidak, dia sendiri yang mengirimkannya padaku ahahaha" Ucap Sandra membela diri.
"Kau...kau bohong !!!" Jawabku kehabisan kata-kata.
"Sudahlah, jadi bagaimana? berubah pikiran?" Ucap Sandra dengan nada mengancam.
"Ha...haha tidak, la..lagipula aku juga terlihat cantik dalam foto itu, untuk apa aku malu a..ahaha" Jawabku tidak yakin dengan wajah yang merah karena malu.
"Hah? aku tidak menyangka kau...kau ketagihan berdandan seperti itu?!" Ucap Sandra terlihat terkejut sambil menutup mulutnya.
"MULUT SIAPA TUH?!" Teriakku dengan kesal.
"Hmm... berarti kau tidak keberatan jika aku menyebarkan foto ini" Ucap Sandra sambil mendekatkan telunjuknya ke tulisan 'kirim' di foto tadi yang sudah menununggu untuk ditekan dan disebarkan ke semua orang.
Meskipun keringat dingin bercucuran di keningku, aku berusaha terlihat tenang dengan mencoba untuk menantangnya,
"Kau...kau hanya menggertak, coba mana, aku ingin lihat kau melakukannya"
"Baiklah, aku hitung sampai 3" Ucap Sandra yang balik menantangku.
"Satu..." Sandra mulai berhitung.
"Dua..." Ia mulai mendekatkan telunjuknya makin dekat dengan tulisan 'kirim' di handphonenya.
"Ti...-"
"IYA...IYA...IYA AKAN KU LAKUKAN, BERHENTILAH BERHITUNG DAN HAPUS FOTO ITU SEKARANG JUGA!!!!" Teriakku yang menyadari bahwa ternyata aku memang tidak bisa melawan wanita ini.
"Hahaha, terimakasih murid tercintaku, ini lihat aku sudah menghapus fotonya" Ucap Sandra dengan senyum puas nan sadis yang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Nah, sekarang bagaimana? aku bahkan tidak selamanya bersama Valter karena aku punya kehidupan, bagaimana aku bisa mengawasinya?" Tanyaku mencoba mengetesnya.
"Hmm...aku akan pikirkan caranya. Kau tunggu saja perintah dariku malam ini!" Jawab Sandra.
"Hem" Jawabku.
"Eh Chandra, Theodore sudah memberi kabar padaku kemarin, dia bilang dia baik-baik saja, tapi sayangnya Morgan dengan kelicikannya berhasil mengalahkan Theodore" Ucap Sandra tiba-tiba membicarakan tentang orang kepercayaannya itu.
"Oh iya, dia juga bilang untuk memberitahukannya pada Dianne itu artinya padamu tentang kabarnya dan mengenai Morgan agar kau lebih berhati-hati" Sambungnya.
"He~ dia masih mengingatku ternyata" Jawabku merespon pembicaraan Sandra.
Sandra terlihat cemas setelah menyampaikan itu padaku. Sepertinya ia merasa cemas karena Morgan masih berkeliaran di luar sana mencari keberadaannya.
"Kenapa? apakah kau khawatir Morgan akan segera menemukanmu?" Tanyaku penasaran.
"Tidak, sekarang aku mengkhawatirkan Theodore, ia mengabariku hanya lewat pesan singkat, jadi aku belum melihatnya secara langsung sampai sekarang" Jawab Sandra.
"Apakah dia bilang mengapa dia tidak menemuimu secara langsung kemarin?" Tanyaku lebih jauh.
"Dia hanya mengatakan bahwa ia tidak bisa bertemu denganku untuk sementara waktu dan ia juga memintaku untuk tidak mencarinya. Aku...aku cuma takut terjadi apa-apa padanya-" Ucap Sandra dengan raut wajah sedih.
"Sandra, yang terpenting sekarang kita tahu Theodore baik-baik saja, biarkan dia memulihkan dirinya dulu sebelum ia siap untuk bertemu denganmu, kau sendiri yang bilang dia akan membereskan semuanya untukmu karena kau mempercayainya, jadi kekalahannya kali ini pasti sangat melukai harga dirinya" Jelasku untuk menghilangkan sedikit kekhawatiran Sandra pada Theodore.
"Hmm...kau benar itu pasti sangat melukainya, baiklah kalau begitu lebih baik aku menyemangatinya saja" Ucap Sandra yang sekarang terlihat lebih cerah.
Sandra kemudian mengambil handphonenya dan mulai mengetik pesan pada Theodore. Setelah itu, ia mendekatkan mulutnya pada mic handphonenya dan mulai berbicara untuk mengirim pesan suara.
"Theodore semangat, jangan menyerah, aku percaya padamu, jangan khawatirkan aku, tenang saja aku bersama orang-orang baik yang mau melindungiku sepenuh hati" Itulah ucapan Sandra yang ku dengar untuk menyemangati Theodore.
"Ya sudah ku kirim, semoga dia bisa segera menemuiku" Ucap Sandra setelah mengirim pesan suara itu.
"Aku juga berharap Theodore bisa pulih dengan cepat" Ucapku pada Sandra.
Sandra menatapku cukup lama, hingga akhirnya ia tersadar dan mulai kembali menjadi sosok bu Rini.
"Sudahlah Chandra, sekarang isi semua soal di kertas itu dengan benar, jika kau menjawab salah lebih dari 4 nomor maka kau akan mendapat hukuman berat dariku" Ucap bu Rini tegas.
Awalnya aku terkejut dengan perubahan sikap Sandra menjadi bu Rini, namun pad akhirnya aku bisa mengerti dan mengikutinya.
"Baiklah bu, aku akan berusaha mendapat nilai yang bagus !" Jawabku.
"Itu jawaban yang ingin ku dengar" Ucap bu Rini dengan senyum manisnya.
Dengan begitu, akhirnya aku mulai mengisi soal-soal itu dengan serius.
***
"Huf~ Akhirnya aku bisa kembali berbaring di kasur empuk tercintaku, setelah sekian lama aku mengisi soal yang banyaknya tiada tara itu" Gumamku yang baru pulang dari sekolah.
Ku pejamkan kedua mataku sesaat hingga akhirnya aku ingat bahwa Sandra akan memeberitahuku tentang apa yang harus ku lakukan untuk mengawasi Valter sebelum tengah malam nanti.
Aku menunggu Sandra mengirimiku pesan, sampai-sampai setiap detik ku periksa handphoneku yang dari tadi sepi seperti kuburan, jangankan pesan dari Sandra, bahkan pesan dari Stella pun tidak ada.
Setelah beberapa lama aku menunggu pesan itu, akhirnya handphoneku berdering tanda seseorang mengirimiku pesan. Ternyata benar saja, pesan itu adalah dari Sandra, orang yang selama ini ku tunggu pesannya.
"Tugasmu sekarang adalah buka pintu depan rumahmu !" Ucap Sandra dalam pesannya.
"Hah?" Gumamku heran.
^^^Bersambung...^^^