NovelToon NovelToon
Diam-Diam Married

Diam-Diam Married

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:12.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asri Faris

Inggit Prameswari terpaksa menikah muda dengan Albiru Rasdan karena perjodohan yang dibuat oleh orang tua mereka. Usia keduanya yang masih begitu belia, menyebabkan rumah tangga mereka dipenuhi dengan banyak drama. Terlebih sikap dingin Biru yang mendarah daging, menyebabkan keduanya bagai pasangan Tom and Jerry yang tak pernah akur dengan yang namanya perselisihan.

"Maju satu langkah gue teriak nih!" ancam Inggit

"Well, lo harus membayar mahal atas semua perlakuan lo ke gue." Biru.

Jangan lupakan pria tampan yang diam-diam menaruh hati pada Inggit, dia Ares. Laki-laki yang siap berjuang sampai di titik nadir, walaupun aral melintang di depannya. Pria itu tetap berkata, "Mari kita jalani ini semua bersama." Ares

Perjalanan cinta segitiga yang mengharu biru, persahabatan, cinta dan kesetiaan yang di uji.

follow ig~ mazarina_asrifaris

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35

"Sayang, kamu sakit apa? Kata Ibu tidak enak badan, benarkah? Kalau begitu sekalian diperiksa saja mumpung ini di rumah sakit." Sepertinya Inggit juga harus pandai berakting. Gadis itu mendekat menempelkan punggung tangannya pada kening Biru seolah sedang memeriksa penuh perhatian.

Biru terkesiap kaget dengan respon Inggit yang terlihat manis.

"Mm ... nggak perlu sayang, hanya butuh istirahat sebentar pasti akan segera pulih," jawab Biru yakin.

"Oh ya ... sepertinya kamu perlu obat, ayolah diperiksa saja, eh sebentar ... aku perlu telfon mama Diana, sepertinya mama harus tahu kalau kamu sakit."

"Jangan!" Biru menyambar ponsel Inggit yang tengah mencari kontak mertuanya. Entah akan menjadi seperti apa, tapi yang jelas Inggit harus juga akting sebelum akhirnya nanti menggetok kepala suaminya.

"Kenapa? Kamu sakit, kenapa nggak boleh hubungi mama, biasanya kamu sangat antusias."

"Aku pikir mama tengah sibuk, dan tidak mau merepotkan. Sebaiknya kita pulang saja."

"Adududu ... sayang, kamu itu panas, sepertinya ini tidak demam biasa, harus segera dikasih obat." Biru mendelik sengit.

"Bu, Romo, Inggit ke ruang pemeriksaan sebentar ya, Biru sepertinya butuh obat," pamit Inggit sopan. Di depan orang tua Inggit, Inggit harus berhati-hati, salah strategi bisa menyebabkan Romo kepikiran dan kesehatannya bertambah memburuk.

Inggit menuntun suami di atas kertasnya itu, setelah sampai di luar ruangan rawat Romo, perempuan itu langsung menghempaskan tangan Biru.

"Lo sungguh berbakat Albiru Rasdan, gue semakin muak dengan gaya lo, bukan hanya 'nggak banget' tapi pembohong ulung!" bentak Inggit murka.

"Nggak usah marah-marah, ini rumah sakit, lo bisa mengganggu kenyamanan orang di sini," jawab Biru tenang.

Inggit tidak lagi langsung mendengarkan, melainkan pergi begitu saja dari hadapan Biru yang memuakan. Gadis itu benar-benar jengkel, bisa-bisanya Biru mendrama di depan Ibu dan Romo. Ia pandai berkelit lidah, dan memutar balikkan fakta. Inggit akui, ia memang jalan dengan Ares dengan sengaja. Tapi, bukankah seharusnya Biru bersikap biasa saja, mengingat dia juga punya hubungan yang terlampaui serius dengan Hilda? Kenapa sekarang jadi tukang rese' dan terkesan ikut campur urusan privasi Inggit.

Bunyi klakson motor membuyarkan lamunan Inggit yang tengah berpikir keras dengan apa yang terjadi.

"Mau bareng nggak?" tawar Biru sudah membawa motor dan berhenti tepat di sisi Inggit berdiri. Gadis itu tengah menunggu taksi.

"Nggak!" jawab Inggit galak, sekilas ia menatap motor yang Biru pakai, pria itu memakai motor milik Inggit tanpa izinnya.

"Lo pakai motor gue?" tanyanya mendelik.

"Iya, emang kenapa? Nggak pa-pa juga 'kan, dari pada menganggur," jawab Biru cuek.

"Ish ... selalu menggampangkan semua isi kepala lo," ucap Inggit kesal.

"Cepat naik, semakin malam udaranya semakin dingin," titah pria itu.

"Nggak, ya nggak, nggak usah maksa, sana pulang sendiri. Gue nggak mau entar ujung-ujungnya diturunin di jalan tanpa perasaan." Inggit selalu sakit hati dan takut bila mengingat kejadian tempo lalu.

"Lebay banget sih, nggak akan, kali ini pasti sampai rumah dengan aman," ucap pria itu meyakinkan.

Inggit terdiam di tempat, antara ingin ikut tapi sungguh iya takut.

"Biar gue yang bawa motornya, gue nggak percaya sama mulut lo yang lemes," pinta Inggit mencari aman.

Biru menyetandar motornya dan bergeser ke jok belakang, ia memberikan ruang untuk Inggit mengemudi. Inggit menatap ragu, namun detik berikutnya ia akhirnya mulai memposisikan diri di depan dengan hati-hati.

"Kali ini lo bohong, sumpah demi apapun gue nggak bakalan maafin lo," ucap Inggit melirik Biru lewat pantulan rear vision mirror.

"Iya, ih bawel," jawab Biru seraya menyampirkan jaket miliknya ke bahu Inggit.

"Apa ini? Gue nggak butuh jaket lo?" tolak Inggit seraya melepas jaket Biru yang sudah tersampir setengah pakai.

"Mau gue pakaiin, atau pakai sendiri. Udara sangat dingin nanti kamu masuk angin kalau mengemudi di depan," ujar Biru logis.

Dengan malas Inggit memakainya, udara malam ini memang sangat dingin. Gadis itu kesal, tapi sedikit tersentuh. Setelah berdebat sengit, Inggit segera melajukan motornya arah pulang. Inggit mengemudi dengan kecepatan sedang. Setengah perjalanan tiba-tiba Inggit merasakan tubuhnya terhimpit dengan Biru, rupanya laki-laki itu memeluk dari belakang, Inggit jelas risih melihat tangan Biru yang mengunci perutnya.

"Al, tangan lo Al," ucap Inggit sedikit keras. Suara gadis itu tenggelam di antara deru mesin motor.

"Biru, lepasin tangan lo!" pekiknya lebih keras dari yang pertama. Satu tangannya berusaha membuka tautan jemari Biru yang mengunci erat. Biru bergeming, bukannya melepas pria itu malah mengeratkan tautan jemarinya. Karena merasa tidak nyaman, Inggit sampai menghentikan laju motornya.

"Kenapa berhenti Nggit?" tanya Biru masih sama dengan posisinya.

"Lepasin tangan lo, gue risih," ucap Inggit jujur.

"Apa sih, cuma gini doang, makanya bawa motor jangan kencang-kencang, gue jagain lo doang," sanggahnya cepat.

"Ayo jalan, kapan kita sampainya kalau berdebat di jalan," protes Biru menggerutu.

"Kalau lo nggak lepas pelukannya, gue nggak mau jalan," ucap Inggit menego, dirinya sungguh tidak nyaman dengan posisi Biru yang memeluk dari belakang mengunci tubuhnya. Inggit benci berdekatan dengan pria itu dalam bentuk apapun.

Setelah beberapa detik, akhirnya Biru melepaskan tautan tangannya dan berganti bersedekap dada. Pria itu mrengut, namun Inggit tidak peduli. Kontak fisik dalam bentuk apapun jelas Inggit tidak suka.

Inggit mencebik kesal ketika motor sudah kembali melaju dan Biru melakukan hal yang sama lagi. Gadis itu ingin protes, tapi sudah hampir sampai. Ia memarkirkan motor miliknya tepat di samping motor Biru yang bannya masih kempes.

"Kunci rumah, Al." Inggit menengadahkan tangannya. Gadis itu pergi lebih awal dan lupa tidak membawa kunci.

Biru merogoh saku celananya dan tidak menemukan apa-apa di sana. Ia kembali menelusuri sisi saku kiri, kosong juga.

"Nggak ada, sumpah nggak ada," jawab Biru bingung.

"Jangan bilang ilang, kita bisa terdampar di sini sampai pagi," kata Inggit gusar.

Biru tiba-tiba mendekat dan menatap Inggit begitu lekat. Ia mengikis jarak di antara keduanya. Inggit jelas melotot waspada.

"Mau apa lo?" ucap Inggit cemas. Biru bergeming dengan muka serius. Tangannya terulur membuka resleting jaket yang dikenakan Inggit. Mata Inggit hampir melompat saat Biru hampir menurunkan resletingnya. Reflek tangan Inggit menampar Biru yang tengah menatapnya serius.

"Sakit Inggit, kok gue ditampar sih!" Biru mengaduh seraya memegang pipinya yang terasa panas.

"Gue cuma mau ambil kunci rumah di saku jaket dalem, emang lo pikir gue mau apaan?"

Blusss

Muka Inggit menjadi merah padam bercampur malu. Otak impulsifnya memerintah dengan baik.

"Lo pasti mikir jorok ya?" ledeknya seraya mengambil kunci dari saku jaket itu dengan cepat.

"Kalau mau nggak di depan pintu juga kali, di rumah lebih nyaman," ucap Biru sambil lalu.

Inggit masih mematung di depan pintu dengan muka sedikit syok mendengar celotehan Biru.

1
Wahyunni Winarto
biru pemain handal
ko kayak ga rela🤭
Wahyunni Winarto
sumpahh sakit bngt bc nya gmn pun istri lho itu😭😭😭
Wahyunni Winarto
laki modelan gtu di pertahanin
tinggalinnn
Melda Herawaty
👍🏻👍🏻 ga nyesal baca brpun telat 😆, salah satu author fav ku🤩
Anisha Khalifah
jujur agak gimana gitu liat sikap inggit
Susanti Susanti
Luar biasa
Rara Love
klo bisa kak asri ceritanya lanjutin dong dengan cerita rumah tangga yg harmonis bersam anak mereka albitu dan inggrit
Rara Love
tak bosan bosan baca cerita ini dari 2021 masih di ulang membaca berkali kali sampai sekarang
Rara Love
ceritanya yg mengharuskan biru sebuah cinta yg murni karena akhlak dan kesederhanaan ,menjadikan cinta yg hakiki karena kesabaran dan keyakinan akan jodoh yg baik
Khadijah Nafisah
good
pipi gemoy
tamat 2x 🌹👻
pipi gemoy
😂😂😂😂😂😂😂
baca ulang gue
Desri Yasmita
Luar biasa
Yeni Atik Munawaroh
lagi kangen karya kak asri yang di sini huhu

mau nostalgiaan ama Inggit dan Birru🤭
Qaisaa Nazarudin
Heran aku masih bocil udah celap celup aja,Gimana gedenya jadi players sejati.. Kasihan banget Inggit,Ini juga katena KEEGOISAN bokapnya..
Qaisaa Nazarudin
Kadian Inggit dapet barang bekas..
Ney Maniez
waduhh 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Ney Maniez
geli ma cowo kyk gt🤦🏻‍♀️
Ney Maniez
aku mampir
SeoulganicId
sumpah pengen liat si biru guling guling nangis sumpah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!