Embun Nadhira Putri, 28 tahun, terjebak antara tuntutan pekerjaan dan desakan keluarganya untuk segera menikah. Ketika akhirnya mencoba aplikasi kencan, sebuah kesalahan kecil mengubah arah hidupnya—ia salah menyimpan nomor pria yang ia kenal.
Pesan yang seharusnya untuk orang lain justru terkirim kepada Langit Mahendra Atmaja, pria matang dan dewasa yang tidak pernah ia pikirkan akan ia temui. Yang awalnya salah nomor berubah menjadi percakapan hangat, lalu perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Di tengah tekanan keluarga terutama sang Mama, rutinitas yang melelahkan, dan rasa takut membuka hati, Embun menemukan seseorang yang hadir tanpa diminta.
Dan Langit menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Terkadang takdir tidak datang mengetuk.
Kadang ia tersesat.
Kadang ia salah alamat.
Dan kali ini…
takdir menemukan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 – Effort Untuk Membuat Nyaman
Ruang rapat eksekutif lantai lima puluh pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, bukan karena pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, melainkan karena atmosfer di dalamnya dipenuhi ketegangan yang tidak lagi bisa disamarkan oleh senyum profesional atau bahasa korporat yang sopan. Langit duduk di ujung meja panjang dengan punggung tegak dan tangan terlipat rapi di atas permukaan meja, sementara di sisi kanannya Papi Arga duduk dengan ekspresi tenang yang justru lebih mengerikan daripada kemarahan terbuka.
Di hadapan mereka, duduk Pak Sofyan, Ferdi, Renata, dan Ardan—empat orang dengan posisi dan latar berbeda, namun pagi itu disatukan oleh satu benang merah yang sama: keputusan-keputusan lama yang akhirnya diminta pertanggungjawaban.
Langit membuka rapat tanpa basa-basi.
“Kita mulai dari yang paling sederhana,” ucapnya dengan suara rendah dan datar, tidak meninggi, tidak emosional, tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu otomatis menegakkan punggung. “Pak Ardan, ceritakan apa yang Bapak lihat dan ketahui saat interview Jumat lalu.”
Ardan menelan ludah kecil, lalu menjawab dengan jujur. “Saya hanya menilai dari sisi teknis, Pak. Kandidat Embun menunjukkan pemahaman sistem yang sangat matang, termasuk di level kernel dan keamanan. Saya tidak melihat alasan teknis untuk meragukan kompetensinya.”
“Dan sikap Ferdi saat itu?” tanya Langit tanpa mengalihkan pandangan.
Ardan terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya berkata, “Saya melihat ada yang gak beres, Pak. Tapi saya tidak ikut campur karena itu bukan ranah saya.”
Langit mengangguk kecil, lalu beralih ke Renata.
“Bu Renata,” katanya pelan, “Anda sudah bekerja di Atmaja Group selama enam tahun. Saya ingin melihat kemampuan Anda. Buatkan satu program sederhana—aplikasi apa pun, bebas. Gunakan laptop ini.”
Renata membeku.
Tangannya bergerak ragu ke arah laptop yang disodorkan Reno, jemarinya gemetar halus ketika layar menyala. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada baris kode yang berarti. Tidak ada struktur logika. Tidak ada apa pun selain layar kosong dan kursor yang berkedip seperti mengejek.
“Kamu kesulitan?” tanya Langit, nadanya tetap tenang.
Renata tersenyum kaku. “Saya… biasanya lebih ke koordinasi, Pak.”
Langit menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya mengeras. “Koordinasi apa, Bu Renata?”
Ruangan hening. Ferdi bergerak gelisah di kursinya.
Reno yang sejak tadi mengamati akhirnya berbicara, suaranya datar namun tajam. “Berdasarkan audit awal kami, hampir seluruh pekerjaan teknis Bu Renata selama enam tahun terakhir dikerjakan oleh staf di bawah Pak Ferdi.”
Renata menunduk.
Dan sebelum siapa pun sempat menutup fakta itu, Reno melanjutkan, “Dan satu hal lagi—relasi personal antara Pak Ferdi dan Bu Renata sudah berlangsung sejak enam tahun lalu, sejak Bu Renata pertama kali masuk ke Atmaja Group.”
Kata relasi personal menggantung di udara seperti vonis yang belum diucapkan, namun semua orang tahu maknanya. Ya, bisa dibilang Renata seperti simpanannya Ferdi, padahal Ferdi sendiri sudah menikah.
Papi Arga akhirnya bersuara.
“Jadi,” ucapnya pelan namun berat, “Selama enam tahun, perusahaan ini membayar jabatan, bukan kompetensi. Membayar posisi, bukan kinerja.”
Ia menoleh ke Pak Sofyan, sorot matanya tajam.
“Kamu tahu semua ini, Sofyan?” tanyanya dingin.
Pak Sofyan mengangkat dagunya sedikit, ekspresinya tidak menunjukkan penyesalan. “Saya hanya menjalankan pekerjaan saya, Pak. Keputusan kandidat diterima atau tidak itu hak mutlak user. Saya tidak melanggar prosedur.”
Kalimat itu membuat Papi Arga tersenyum tipis—senyum yang tidak mengandung humor sedikit pun.
“Kalau begitu,” katanya sambil menoleh ke Reno, “catat keputusan saya.”
Reno berdiri tegak.
“Pak Sofyan,” lanjut Papi Arga, “diberhentikan secara tidak hormat, efektif hari ini, tanpa pesangon.”
Wajah Pak Sofyan langsung memucat. “Pak—ini tidak adil—”
“Belum selesai,” potong Papi Arga tanpa menaikkan suara. “Pak Ferdi dan Bu Renata, keputusan yang sama berlaku untuk kalian.”
Renata langsung berdiri, suaranya pecah. “Pak Langit, tolong—saya bisa belajar—saya—”
Langit akhirnya berbicara, suaranya rendah namun mematikan. “Duduk.”
Renata membeku.
“Kalau saya mau,” lanjut Langit dengan suara tetap tenang, namun setiap katanya jatuh seperti palu hakim, “saya bisa membuka seluruh aib kalian dalam satu menit ke depan. Termasuk relasi ilegal, manipulasi jabatan, dan—”
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh perlahan ke arah Pak Sofyan, tatapannya dingin tanpa emosi.
“—permainan tender HR untuk security dan cleaning service yang selama ini Anda mark up demi keuntungan pribadi.”
Ruangan langsung membeku.
Pak Sofyan dan Ferdi terdiam seketika. Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan. Wajah keduanya pucat, rahang mengeras, dan butir keringat dingin mulai muncul di pelipis—bukan karena suhu ruangan, melainkan karena mereka tahu, satu langkah lagi, segalanya bisa runtuh di hadapan publik.
Papi Arga yang sejak tadi menahan diri akhirnya bersuara. Suaranya tidak meninggi, justru lebih berbahaya karena terdengar sangat terkendali.
“Masukkan laporan resmi ke kepolisian, Ren,” ujarnya tegas, tanpa ragu sedikit pun. “Saya tidak ikhlas uang perusahaan—uang yang seharusnya dipakai untuk kesejahteraan karyawan—masuk ke kantong pribadi mereka.”
Reno mengangguk mantap. “Baik, Pak.”
Pak Sofyan menelan ludah, bibirnya bergetar, namun tidak satu pun kata pembelaan keluar. Ferdi menunduk dalam, menyadari bahwa kali ini, tidak ada celah negosiasi, tidak ada pelindung, dan tidak ada jalan kembali.
Langit menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya.
“Rapat selesai,” katanya singkat. “Silakan keluar sebelum saya berubah pikiran.”
"Dengar Pak Langit, saya tidak terima diperlakukan seperti ini" ucap Ferdi menatap marah kearah Langit. sedangkan langit hanya bisa tersenyum kecil mendengar ucapan Ferdi tersebu.
Samil menggerakkan tangannya ke arah pintu keluar "Silahkan Pak Ferdi, pintu keluarnya disebelah sana"
Setelah pintu tertutup, Papi Arga menarik napas panjang, lalu berkata kepada Reno, “Audit besar-besaran divisi HR dan sistem. Satu minggu. Siapa pun yang tidak kompeten, langsung keluar. Tidak ada toleransi.”
Reno mengangguk mantap.
Ardan masih duduk di tempatnya, wajahnya berat. “Saya minta maaf, Pak. Sejak awal saya tahu ada yang salah… tapi saya tidak punya wewenang.”
Langit menatapnya singkat. “Mulai hari ini, Anda punya. Akan ada pembertahuan, siapapun yang melihat adanya sesuatu yang salah maka boleh menegur, tetapi harus dengan alasan yang jekas dan kuat”
Jadilah hari itu, memo internal Atmaja Group tersebar rapi: restrukturisasi divisi sistem, pengetatan standar kompetensi, dan kebijakan nol toleransi untuk konflik kepentingan. Tidak ada satu pun nama Embun tertulis di sana, namun setiap keputusan diambil dengan satu standar baru—standar yang lahir dari apa yang ia tunjukkan.
**
Di tempat lain, Senin sore merambat pelan di lantai kantor dengan cahaya matahari yang mulai condong ke barat, menembus kaca jendela dan memantul lembut di permukaan meja kerja Embun. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada drama—hanya suara ketikan terakhir, desah napas yang ia lepaskan perlahan, dan tumpukan dokumen pribadi yang kini tersusun rapi di dalam map cokelat.
Embun berdiri sejenak di depan kubikalnya, menatap ruang kecil yang selama ini menjadi saksi malam-malam lembur, kopi dingin yang tak sempat dihabiskan, dan barisan kode yang pernah ia rapikan dengan sabar. Tangannya meraih kartu akses yang tergantung di lehernya, jemarinya sempat mengusap permukaan plastik itu sebentar—bukan karena berat melepasnya, tapi karena ada bagian hidup yang resmi ditutup hari ini.
“Bun…”
Suara itu datang dari samping. Karin berdiri di sana, membawa mug kopi yang uapnya sudah nyaris habis, matanya menatap Embun dengan raut yang sulit ditebak—antara ingin tersenyum dan ingin bertanya terlalu banyak.
“Gila… rasanya kayak baru kemarin kamu bantuin aku debug sistem payroll yang error setengah mati itu.”
Embun terkekeh pelan. “Dan kamu panik setengah hari,” katanya sambil menggeleng kecil.
“Ya karena cuma kamu yang bisa jelasin tanpa bikin aku merasa bodoh,” balas Karin jujur, lalu terdiam sejenak sebelum suaranya turun satu oktaf. “Kamu yakin sama keputusan ini?”
Embun mengangguk pelan. Tidak ragu.
“Yakin. Kadang pergi bukan karena kalah, tapi karena tahu kita pantas di tempat yang lebih tepat.”
Karin menatapnya lama, lalu menghela napas dan memeluk Embun singkat—hangat, tulus, tanpa kata-kata berlebihan.
“Kalau nanti kamu kangen… atau butuh orang ribut di chat jam dua pagi, kamu tahu harus ke siapa.”
Embun membalas pelukan itu. “Aku simpan nomormu baik-baik, Rin.”
Tak lama kemudian, Doni muncul dari arah printer, membawa beberapa lembar kertas dan wajah yang jelas-jelas menahan keterkejutan sejak siang.
“Embun,” panggilnya, “jadi ini beneran hari terakhir kamu?”
Embun berbalik, mengangguk. “Iya, Don. Ini kartu aksesku.”
Ia menyodorkan kartu itu dengan gerakan tenang, tanpa beban.
Doni menerima kartu itu, menimbangnya di telapak tangan seolah benda kecil itu punya bobot lebih. “Jujur aja, tim bakal kehilangan orang paling rapi se-kantor,” katanya setengah bercanda, setengah serius. “Dan… paling bandel juga.”
Embun tertawa kecil. “Bandel karena sayang sistemnya, bukan karena mau cari masalah.”
Doni tersenyum tipis. “Itu yang bikin kamu beda.” Ia lalu menatap Embun lebih sungguh-sungguh. “Ke mana pun kamu pergi, Bun… semoga tempat barumu tahu mereka dapet orang yang tepat.”
“Amin,” jawab Embun pelan. “Terima kasih ya, Don. Udah jadi rekan kerja yang fair.”
Mereka berjabat tangan—singkat, tapi penuh hormat.
Saat akhirnya Embun melangkah keluar dari area kerja, tas selempang tergantung ringan di bahunya, tidak ada rasa sesak di dadanya. Hanya ada kelegaan yang tenang, seperti seseorang yang akhirnya meletakkan beban di tempat yang seharusnya.
Ia tidak tahu—belum tahu—bahwa di saat yang sama, di ruang rapat tertutup dan lorong-lorong sistem yang tak kasatmata, satu demi satu kebenaran sedang ditarik ke permukaan. Bahwa kepergiannya hari ini bukan sekadar akhir, melainkan awal dari sebuah pembersihan besar.
Embun hanya pulang dengan langkah ringan, sementara di balik ketenangan itu, satu sistem besar sedang dibersihkan… demi masa depan yang lebih adil.
**
Pintu ruang rapat sudah tertutup dari sejam yang lalu, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keributan sebelumnya. Langit masih berdiri di ujung meja, kedua telapak tangannya bertumpu ringan di permukaan kayu, dadanya naik turun perlahan seiring napas yang mulai kembali teratur. Amarah yang tadi menegang kini telah disimpan rapi, dikunci di tempat yang hanya bisa ia buka ketika benar-benar diperlukan—meninggalkan kejernihan yang dingin dan fokus.
Papi Arga duduk kembali di kursinya, melonggarkan kancing jas, lalu menatap Langit dengan ekspresi yang tidak lagi marah, melainkan penuh pertimbangan. Reno berdiri di sisi ruangan, tablet di tangan, menunggu instruksi selanjutnya.
“Kita harus cepat menutup celah,” ujar Papi Arga akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. “Posisi HR tidak boleh kosong terlalu lama.”
Langit mengangguk, lalu menoleh ke Reno. “Siapa yang paling masuk akal untuk menggantikan Pak Sofyan?”
Reno tidak perlu berpikir lama. “Pak Tomi, Pak. Selama ini beliau staf HR yang paling bersih rekam jejaknya, paham sistem, dan tidak terlibat dalam keputusan-keputusan bermasalah.”
Langit menimbang sejenak, lalu berkata mantap, “Angkat Pak Tomi sebagai Manager HR efektif mulai hari ini.”
Reno mencatat cepat. “Baik, Pak.”
“Dan satu lagi,” lanjut Langit, nada suaranya kembali ke mode eksekutif. “Minta Pak Tomi langsung membuka lowongan untuk staf HR baru. Kita butuh tim yang segar dan kompeten.”
“Siap, Pak,” jawab Reno singkat, profesional.
"Untuk Divisi system, setelah audit baru dibuka untuk pelamar baru dan saya minta Pak Ardan yang khusus mewawancarai para pelamarnya" lanjut Langit menatap Ardan.
"Baik Pak" jawab Ardan.
Papi Arga memperhatikan percakapan itu dengan anggukan kecil, lalu menggeser topik dengan nada yang tampak santai, meski matanya menyimpan kilatan jahil yang sangat ia kenal.
“Ngomong-ngomong,” katanya, “meja Embun mau kamu tempatkan di lantai berapa?”
Langit mengangkat kepala, menjawab tanpa ragu. “Lantai empat puluh tujuh. Divisi programmer inti.”
Papi Arga mengangguk pelan, lalu tersenyum—senyum yang terlalu santai untuk konteks keputusan strategis. “Ohh,” katanya ringan, “Papi kira Embun bakal kamu taruh di lantai lima puluh.”
Langit berhenti bergerak sepersekian detik.
Reno yang berdiri di samping langsung menundukkan kepala, bahunya sedikit bergetar menahan senyum yang hampir lolos. Sedangkan Ardan mulai tersenyum simpul mendengar percaapan antara ayah dan anak itu.
“Tidak,” jawab Langit cepat, suaranya tetap datar, meski ada jeda kecil yang sulit ia sembunyikan. “Lantai empat puluh tujuh lebih relevan dengan pekerjaannya.”
Papi Arga tersenyum makin lebar, sama sekali tidak merasa bersalah. “Iya, iya,” katanya santai. “Papi cuma nanya.”
Langit melirik sekilas ke arah Reno. “Kamu kenapa?”
Reno berdehem kecil, masih menunduk. “Tidak apa-apa, Pak.”
Keheningan tipis kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini tidak berat—lebih seperti penutup dari satu bab yang akhirnya dibereskan dengan tuntas. Langit menarik napas panjang, lalu menatap keluar jendela lantai lima puluh, ke arah kota yang kembali berjalan seperti biasa.
Di kepalanya, satu nama terlintas lagi.
Embun.
Dan tanpa ia sadari, keputusan-keputusan barusan—tentang lantai, tentang struktur, tentang tim—tidak lagi semata soal organisasi, melainkan tentang memastikan seseorang yang pernah dipatahkan kini berdiri di tempat yang semestinya.
**
Langit berdiri sendirian di ruang kerjanya setelah Reno dan Papi Arga keluar, membiarkan pintu tertutup rapat tanpa niat membukanya kembali dalam waktu dekat. Ruangan itu sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang barusan menjadi saksi runtuhnya beberapa karier sekaligus, namun justru di dalam keheningan itulah pikirannya mulai bekerja lebih jernih daripada sebelumnya.
Amarahnya sudah tidak lagi berada di permukaan. Tidak ada lagi ketegangan di rahang, tidak ada lagi kepalan tangan yang tertahan. Yang tersisa hanyalah satu perasaan dingin dan bersih—perasaan seseorang yang telah mengambil keputusan benar, meski terlambat enam tahun.
Ia melangkah mendekat ke jendela besar lantai lima puluh, menatap kota yang terhampar luas di bawah sana, bangunan-bangunan tinggi berdiri rapih seperti sistem yang seharusnya bekerja dengan adil sejak awal. Langit menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang mengosongkan sisa-sisa racun yang tertinggal dari ruangan rapat tadi.
Enam tahun.
Enam tahun lalu, seseorang seperti Embun sudah berdiri di titik yang sama—datang dengan kemampuan, keberanian, dan keyakinan bahwa ia layak berada di tempat itu. Dan sistem, yang seharusnya melindungi yang kompeten, justru memilih membungkamnya dengan satu kalimat dingin: tidak sesuai kultur.
Langit menghela napas lagi, kali ini lebih berat.
“Berani,” gumamnya pelan, mengulang kata yang tertulis di catatan lama itu.
“Dan itu dianggap salah.”
Ia tidak mengenal Embun enam tahun lalu. Ia bahkan belum berada di posisi ini saat itu. Tapi fakta bahwa ketidakadilan itu terjadi di bawah nama besar Atmaja Group tetap menjadi tanggung jawabnya sekarang. Bukan karena rasa bersalah personal, melainkan karena prinsip—dan karena ia tahu betul betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh orang-orang yang dipatahkan di awal hanya karena mereka terlalu jujur dengan kemampuan sendiri.
Langit berbalik, berjalan ke meja kerjanya, lalu duduk perlahan. Tangannya meraih tablet yang masih menyala, menampilkan struktur organisasi baru yang barusan disahkan. Divisi sistem telah dibersihkan. HR sedang dibangun ulang. Tidak ada lagi nama-nama yang memegang jabatan tanpa fondasi.
Dan di tengah semua itu, satu nama muncul di kepalanya bukan sebagai bagian dari struktur—melainkan sebagai seseorang.
Embun.
Ia teringat caranya duduk tenang di ruang interview, caranya menjawab tanpa defensif, caranya berdiri tegak meski diremehkan, dan caranya sama sekali tidak memanfaatkan kekacauan tadi untuk mencari keuntungan pribadi. Embun tidak tahu apa yang telah ia lakukan pada sistem ini, dan mungkin tidak akan pernah tahu sepenuhnya—dan Langit justru merasa itu lebih baik.
Ia tidak ingin Embun bekerja dengan rasa berutang. Ia ingin Embun bekerja dengan ruang yang bersih.
Protektif itu datang tanpa permisi. Bukan dalam bentuk klaim. Bukan dalam bentuk janji. Melainkan dalam keputusan-keputusan kecil yang ia ambil sejak pagi—tentang lantai kerja, tentang tim yang aman, tentang lingkungan yang tidak lagi membiarkan kompetensi dihancurkan oleh ego.
Langit menyandarkan punggung ke kursinya, menatap langit-langit sejenak, lalu menghembuskan napas kecil yang nyaris terdengar seperti tawa tanpa suara.
“Fokus,” katanya pada dirinya sendiri.
Ia tidak boleh mencampuradukkan ini dengan hal lain. Tidak dengan suara Miss. Tidak dengan percakapan larut malam. Tidak dengan getaran aneh yang muncul setiap kali Embun berbicara.
Embun adalah karyawan. Miss adalah dunia lainnya.
Setidaknya… untuk sekarang.
Namun saat Langit menutup tablet dan bersiap meninggalkan ruangannya, satu hal sudah pasti—tanpa perlu ia akui pada siapa pun: ia akan memastikan, selama Embun berada di Atmaja Group, tidak ada lagi yang berani mematahkan langkahnya hanya karena ia terlalu mampu.
Bukan karena perasaan. Bukan karena ketertarikan.
Tapi karena keadilan seharusnya datang tepat waktu, dan kali ini, Langit tidak berniat terlambat lagi.
**
Malam turun perlahan di dua tempat yang berbeda, membawa keheningan yang sama-sama berat namun dengan alasan yang berbeda pula. Di lantai lima puluh Atmaja Group, Langit masih berada di ruang kerjanya meski lampu-lampu kantor lain sudah lama padam, jasnya tergantung rapi di sandaran kursi, kemeja lengannya tergulung sampai siku, dan pikirannya—untuk pertama kalinya hari itu—tidak lagi dipenuhi struktur organisasi atau laporan audit.
Sementara di sisi kota yang lain, Embun baru saja menyelesaikan rutinitas kecil sebelum tidur, rambutnya masih sedikit lembap, tubuhnya lelah dengan cara yang menyenangkan, namun pikirannya belum benar-benar bisa diam. Hari terakhir di Global Farmasi telah lewat. Besok halaman baru dimulai. Dan di sela semua itu, ada satu suara yang entah kenapa selalu membuat malam terasa lebih ringan.
Ponsel Langit bergetar pelan di meja.
Miss.
Ia menatap nama itu beberapa detik lebih lama dari biasanya, dadanya terasa menghangat dengan perasaan yang kini berbeda—lebih terkendali, lebih waspada, namun juga lebih yakin. Jarinya bergerak, mengangkat panggilan itu dengan napas yang sudah ia atur sedemikian rupa agar terdengar netral.
“Halo,” ucapnya, suaranya rendah dan tenang, sengaja ditahan agar tidak terlalu lembut.
Di seberang sana, Embun tersenyum tanpa sadar.
“Halo, Mister,” jawabnya ringan, seperti biasa, tanpa tahu bahwa satu kata itu kini menggetarkan sesuatu yang lebih dalam dari sebelumnya.
“Kedengerannya capek,” kata Langit, berhati-hati memilih nada, seperti seseorang yang berjalan di lantai licin dengan sepatu formal.
“Iya,” Embun tertawa kecil. “Hari ini… panjang. Tapi lega.”
“Kenapa lega?” tanya Langit, suaranya terdengar santai, padahal fokusnya penuh.
Embun menarik napas pelan. “Karena akhirnya nutup satu bab. Besok mulai yang baru.”
Langit terdiam sepersekian detik. Bab baru. Besok.
Ia sudah tahu jawabannya. Ia sudah tahu ke mana hari baru itu akan membawanya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kebetulan itu netral.
“Tempat baru?” tanyanya lagi, lebih lembut dari rencana awalnya.
“Iya,” jawab Embun cepat, sedikit terlalu cepat. “Tapi… ya gitu. Biasa aja.”
Langit hampir tersenyum. Tidak. Tidak biasa, batinnya. Namun ia tidak mengatakan apa pun.
“Lo keliatan siap,” ucapnya akhirnya. “Tipe orang yang kalau udah mutusin sesuatu, jarang setengah-setengah.”
Embun terdiam sebentar sebelum menjawab, suaranya turun sedikit. “Gue cuma… gak mau salah langkah lagi.”
Kalimat itu membuat Langit menutup matanya perlahan.
Ia membuka mata kembali, suaranya kini lebih pelan, lebih dijaga. “Kadang,” katanya, “bukan kita yang salah langkah. Kadang jalannya yang sengaja dibikin licin sama orang lain.”
Embun terkekeh kecil, berusaha menepis makna di balik kata-kata itu. “Ih, Mister, dalem banget. Jangan-jangan lo abis nonton film berat.”
Langit ikut tertawa kecil, sengaja mengikuti arah ringan itu, meski hatinya sudah melangkah lebih jauh. “Mungkin.”
Hening menyusup sebentar. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang akrab.
“Miss,” panggil Langit akhirnya, ragu sepersekian detik sebelum melanjutkan, “kalau suatu hari… ternyata orang yang sering lo ceritain itu lebih dekat dari yang lo kira… lo bakal gimana?”
Embun langsung mengerutkan dahi, meski Langit tak bisa melihatnya. “Maksud lo?”
“Cuma nanya,” jawab Langit cepat, menahan diri. “Hipotesis.”
Embun tertawa kecil, nada penyangkalan langsung muncul seperti refleks. “Ah, enggak lah. Gue gak mau ngarang-ngarang. Gue takut salah orang. Gue gak mau malu.”
Kata itu lagi. Malu.
Dan di situlah keyakinan Langit mengendap semakin dalam. Bukan karena bukti teknis. Bukan karena suara. Melainkan karena cara Embun menolak kemungkinan itu—cara yang terlalu jujur untuk disangkal.
“Gue ngerti,” kata Langit pelan. “Kadang menunggu itu lebih aman daripada nebak.”
“Iya,” sahut Embun mantap. “Dan gue lagi pengen aman.”
Langit tersenyum kecil, senyum yang tidak ia biarkan terdengar di suaranya. “Semoga besok lancar.”
“Makasih, Mister,” jawab Embun lembut. “Lo juga.”
Panggilan berakhir pelan, tanpa kata perpisahan berlebihan.
Langit meletakkan ponselnya di meja, menyandarkan kepala ke sandaran kursi, lalu menatap langit-langit dengan napas yang kini terasa lebih berat.
Ia belum punya kepastian. Belum punya pengakuan. Belum punya hak untuk menarik kesimpulan.
Namun hatinya—yang sejak siang sudah membersihkan satu sistem busuk—kini menyusun satu kebenaran lain dengan ketenangan yang sama.
Miss itu Embun.
Sementara di kamar yang berbeda, Embun menatap layar ponselnya yang sudah gelap, menghela napas panjang, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri.
“Enggak mungkin.”
**
tbc
apalgi pas critanya dgantung setinggi harapan readernya.. byuhh sensasinya... wkwkwkkkkk,..
tp jgn lambat2 bgt jg yg Thor biar smkin byk yg baca krn kebanyakn reader baru suka alur cerita yg sat set.. cemungutttt author... 💪❤