Dunia dimana yang kuat yang menjadi raja dan yang lemah ditindas serta dihina. Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Lima sekawan dalam melawan kekuatan jahat milik Tuan Putri Quinella Valencia de Harvest, yaitu bibi dari Putri Mahkota Kerajaan Harvest. Di dunia ini tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kekayaan saja, tapi juga mengandalkan Panggilan Sistem (System Call). Dapatkah Putri Mahkota beserta teman-temannya mengalahkan Tuan Putri Quinella beserta keluarganya, dan mendapatkan kembali haknya sebagai pewaris tahta yang sah, lalu bagaimana nasib keluarga Tuan Putri Quinella? Mari kita simak cerita ini bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SJ K.R.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Rencana Untuk Pergi (3)
"Nyonya, maafkan hamba kalau pada akhirnya hamba sungguh tidak berguna." Ucap kepala pelayan sambil berlari menghindari api yang mulai mendekat.
Tidak selang dari perkataan maaf yang diucapkan oleh kepala pelayan Grand Duchess Yuuki, api pun mulai menyambar pakaian mereka dan perlahan mulai melahap tubuh mereka satu persatu, hingga pada akhirnya tidak ada yang tersisa sedikitpun dari mereka. Dan hal itu pun menjadi buah bibir dimasyarakat yang saat itu melihat kepulan asap berwarna hitam pekat keluar dari penutup lubang gorong-gorong di sebuah alun-alun kota di wilayah kekuasaan Grand Duchess Yuuki, dan itu membuat alun-.
Bahkan ada diantara mereka yang mengatakan bahwa orang-orang tersebut sengaja membakar tubuh-tubuh mereka, dan ada pula yang mengatakan bahwa hal itu sengaja dilakukan untuk menghilangkan barang bukti yang ada. Berbagai macam spekulasi dilontarkan oleh masyarakat terhadap apa yang terjadi pada orang-orang yang berasal dari kediaman Grand Duchess Yuuki. Hingga sampailah hal itu ke telinga Tuan Putri Lea dan teman-temannya yang berhasil menyelamatkan diri mereka dan saat ini pun mereka sedang bersembunyi di tempat rahasia mereka yaitu Theodore Roosevelt, yang terletak di wilayah selatan kekuasaan Grand Duchess Yuuki.
"Waaahh!!" Teriak dua orang yang baru saja melakukan teleportasi ke sekitar wilayah tersebut.
"Ukh."
"Athaya, kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Tuan Muda Everest, Ian Kasela Everest pada adiknya, Athanasia Everest yang saat itu melakukan teleportasi ke daerah kekuasaan Grand Duchess Yuuki.
"Aku baik-baik saja, kak. Lebih dari itu apa kakak tak apa?"
"Kakak baru saja mengalahkan Tuan Muda Schubert, Ludwig Van Beethoven Lawson Bates dan Tuan Monique, Maximilian Alexander La Monique?" Tanya Nona Muda Everest yang saat itu sedang memapah kakaknya untuk pindah ketempat yang lebih aman.
"Aku baik-baik saja, bukankah kau juga habis bertarung mati-matian dengan Nona kembar Lawson Bates dan kakaknya itu?"
"Apa kakak meremehkan ku karena aku tidak bisa menggunakan pedang?"
"Tidak, kakak sama sekali tidak meremehkan mu, Athaya."
"Kalau begitu kenapa? Begini-begini aku adalah jenius dalam pemanggilan sistem." Ucap Athanasia menyombongkan dirinya pada kakaknya.
"Baik-baik, aku kalah. Kau memang hebat, Athaya." Puji Ian pada adiknya, dan dengan gembiranya adiknya pun tertawa melihat kakaknya yang kalah berdebat dengannya.
"Tunggu, kakak apa kita pernah kesini sebelumnya? Tempat ini terlihat sangat asing dan menyeramkan." Ucap Athanasia heran.
"Benar, ini pertama kalinya bagi kita masuk ke dalam hutan seperti ini. Hutan yang hanya mengeluarkan hawa misterius seperti ini hanya ada satu di Kekaisaran yaitu Hutan
Black Forest yang ada di barat Kekaisaran. Tunggu, bukankah itu berarti Hutan Black Forest ada di wilayah kekuasaannya Grand Duchess Yuuki?"
"Tapi kenapa kita berpindah kesini? Seharusnya kita ke Theodore Roosevelt bukan kesini. Apa mungkin Tuan Putri memasang pembatasan di sekitar tempat itu?" Ucap Ian sambil memperhatikan sekitarnya.
"Sepertinya begitu, kak." Ucap Athanasia ketakutan.
"Kakak, lihat itu. Bukankah daerah sana adalah Kediaman Charena?" Ucap Athanasia sambil menunjuk ke arah asap hitam yang mengepul dengan begitu tebalnya.
"Benar, kenapa tiba-tiba muncul asap hitam yang sangat pekat begitu. Tunggu! Jangan-jangan Charena juga diserang oleh mereka!!" Ucap Ian mengambil kesimpulan.
"Uhuk."
"Kakak." Cemas Athanasia sambil terus memapah kakaknya.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat Athanasia dan Ian berjalan, segerombolan prajurit yang di pimpin oleh kakak beradik Lawson Bates dan Baron Monique.
"Cari mereka di setiap sudut hutan ini, jangan lewatkan satu pun petunjuk!" Pinta kakak beradik Lawson Bates itu.
"Nona Ayla, lihat itu." Ucap Baron Monique yang saat itu sedang menunggang kudanya dan sambil menunjuk jejak darah yang ditinggalkan oleh Ian Kasela Everest saat mereka melakukan teleportasi tadi.
"Itu, bukankah..." Ucap Ayla anak ketiga Viscount Lawson Bates.
"Benar, itu adalah darah Ian Kasela Everest." Ucap Baron Monique.
"Sial. Pasukan! Ikuti jejak darah itu, jangan berhenti kalau kalian tidak menemukan siapa pemilik darah tersebut." Tegas Ayla memberi perintah kepada para prajurit yang dibawanya.
Beberapa saat kemudian mereka pun mulai mengikuti jejak darah yang ditinggalkan oleh Ian, dan tanpa mereka sadari mereka pun sudah hampir dekat dengan target mereka.
"Nona, Jejak darahnya lewat sini." Ucap salah satu prajurit.
"Sial, para ngengat itu tidak ada habisnya."
"Athaya, kau pergilah aku yang akan menghalanginya mereka." Ucap Ian frustasi.
"Apa kakak gila?! Kakak mau aku meninggalkan kakak dengan para the stray dogs itu? Tidak akan! Ayo aku tahu tempat persembunyian yang bagus untuk kita." Ucap Athanasia yang terus memapah kakaknya yang sedang kesakitan.
"Tapi..."
"Sudahlah, lagi pula sekarang hanya aku yang bisa kakak andalkan." Ucap Athanasia sambil tersenyum tipis.
"Athaya."
"Kau memang adikku yang paling baik." Ucap Ian terharu.
Dan disaat yang mengharukan itu tiba-tiba saja mereka ditarik oleh seseorang yang membuat mereka berteriak sangat keras dan kenyang.
"Kyaaakk." Teriak mereka.
"Apa-apaan ini!" Ucap Ian yang saat itu sedikit menaiki suaranya.
"Hush!!! Diam lah kalau kalian tidak mau ketahuan oleh mereka." Ucap orang itu.
"Kau.... Verita?" Tanya Ian yang langsung mengenali suara tersebut.
"Apa-apaan panggilan itu? Bukankah aku sudah bilang panggil saja aku Zidan, sudah berapa kali aku bilang, tapi kau masih saja memanggilku dengan nama keluarga. Huh." Ucap Zidan yang saat itu juga sedang bersembunyi dari kejaran Pangeran Michael.
"Zidan, Kau memang tidak pernah berubah sedikitpun ya." Ucap seseorang yang ikut bersembunyi bersama mereka disebuah gubuk tua yang sudah terbengkalai.
"Siapa itu?!" Teriak Ian sekali lagi.
"Ian, apa kau tidak pernah belajar untuk mengecilkan suaramu saat keadaan seperti ini?" Tanya orang tersebut yang perlahan berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Terra? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Athanasia penasaran.
"Tentu saja bersembunyi." Jawab Terra singkat.
"Tapi.."
"Diam lah, mereka sudah dekat akan ku ceritakan nanti saat diperjalanan. Pertama, ada baiknya kalau kita mengobati Ian terlebih dahulu. Sepertinya dia terkena luka tusuk yang cukup dalam." Ucap Terraria sambil menyuruh Ian untuk berbaring terlebih dahulu untuk pengobatan.
Sementara itu tidak jauh dari tempat persembunyian mereka bertiga...
"Sepertinya kita telah kehilangan jejak mereka, apa sebaiknya kita kembali saja sekarang?" Tanya Bianca pada Baron Monique.
"Ya, kalau kita teruskan pencariannya itu tidak akan membuahkan hasil. Lebih baik kita kembali dulu dan melaporkannya pada Yang Mulia Ratu Quinella." Ucap Baron Monique sambil memimpin para prajurit itu kembali.
Di tempat persembunyian....
"Mereka sudah pergi, ayo keluar. Tidak ada waktu yang tersisa. Kita harus segara mendiskusikan hal itu dengan Tuan Putri." Pinta Zidan sambil memimpin jalannya.
Sementara itu di Theodore Roosevelt...
"Hah... Akhirnya aku bisa kabur juga dari kejaran Tuan Putri Ellie."
"Ukh. Dia kalau menyerang memang tidak kira-kira ya?" Ucap Ivy sambil menahan rasa sakitnya dan tidak sengaja melihat kepulan asap yang keluar dari Kediaman Grand Duchess Yuuki.
"Gawat!!! Tuan Putri! Ada masalah besar, Grand Duchess Yuuki, Nona Charena sudah pergi meninggalkan kita semua." Ucap Ivy yang saat itu berlari menghampiri mereka dengan memegang luka tusuk di pundaknya.
"Ivy? Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Tuan Putri Lea dan Luca yang saat itu khawatir dengan Ivy.
"Saya baik-baik saja, Tuan Putri. Hanya sedikit luka tusuk dipundak saya." Ucap Ivy yang merasa bahagia bahwa dia tidak dilupakan oleh majikannya.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, Ivy, aku senang mendengarnya."
"Ekhem. Kembali ke pembicaraan pertama kita. Ivy, tadi kau bilang Grand Duchess Yuuki meninggalkan, apa itu benar?" Tanya Luca penasaran.
"Benar, Saat saya tiba disini saya melihat kepulan asap hitam keluar dari kediaman Grand Duchess Yuuki. Dan seperti yang anda ketahui bukan satu atau dua wilayah kekuasaan saja yang diserang oleh Yang Mulia Putri Quinella dan antek-anteknya." Ucap Ivy menjelaskan.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak menyangka kalau Rena, saudara yang aku anggap sebagai kakakku sendiri pergi mendahuluiku seperti itu."
"Aku sangat sedih, aku tidak rela, Rena meninggalkanku sendirian di dunia yang kejam ini. Apa tidak ada cara lain supaya dia bisa hidup kembali, Ivy?"
"Aku akan melakukan apapun demi mengembalikannya seperti sebelumnya. Akan ku dengarkan semua permintaan bibi ku, aku tidak akan membantah setiap perintahnya. Aku hanya berharap, Rena bisa dihidupkan kembali seperti sebelumnya. Aku sudah cukup kehilangan orang tuaku dan sekarang apa aku harus kehilangan Rena juga? Tidak, aku tidak ingin hal itu terjadi." Ucapnya dengan nada yang bergetar karena harus menahan tangisannya.
"Ivy, tolong katakan padaku kalau Rena bisa dihidupkan kembali. Tolong katakan padaku. Siapapun itu tolong katakan padaku."
"Maaf, Tuan Putri..." Ucap Ivy yang terpotong oleh Luca.
"Ivy, biar aku saja yang bicara padanya. Kau awasi sekitar, kalau ada sesuatu yang terjadi segera beritahu aku." Ucap Luca sambil berjalan menghampiri Lea yang sedang menangis
"Baik, Tuan Muda Castina." Ucap Ivy sambil berjalan keluar.
"Lea, lihat aku. Apa kau akan menyerah begitu saja sekarang? Lalu bagaimana dengan pengorbanan Baginda Kaisar, Yang Mulia Ratu, orang tuaku, dan mereka semua yang sudah tewas dalam pertarungan ini. Apa kau akan menyerah begitu saja dengan menyia-nyiakan pengorbanan mereka semua?"
"Apa itu yang mereka harapkan? Apa kau tidak mau membalas dendam untuk mereka? Pikirkanlah baik-baik, karena menangis tidak akan bisa menghidupkan mereka kembali. Dan, ingatlah selalu satu hal ini, 'Di dunia ini yang kuat akan memangsa yang lemah, dan yang lemah akan terus ditindas oleh yang kuat.' Ingatlah selalu hal itu, Lea. Ngomong-ngomong, Lea, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu? Apa eksistensi dirimu di dunia yang kejam ini?" Tanya Luca tegas sambil memegang wajah Tuan Putri Lea dengan kedua tangannya.
"Ya? Eksistensi?" Tanya Tuan Putri Lea balik bertanya pada Luca.
"Ya, eksistensi. Lea, aku akan memberitahumu sesuatu yang menarik. Kau tahu, terkadang aku selalu bertanya pada diriku sendiri tentang 'apa eksistensi diriku di dunia ini.' Aku selalu berusaha untuk menemukan jawabannya. Dan apa kau mau tahu apa jawabannya?"
"Jawabannya adalah, dengan hadirnya diriku di dunia ini aku bisa menemukan seseorang yang harus aku jaga dan aku lindungi. Dan, jawaban itu muncul tepat setelah aku mengenalmu, Lea. Maka dari itu aku bertanya sekali lagi padamu, apa eksistensi dirimu di dunia ini, Lea?" Tanya Luca kembali.
Sukses terus Thor ... Salam kenal dari saya, Aulia 🥰
aku beri vote bunga like n fav
salam. dari istri yang bisu 🙏
semangat ya
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪❤❤❤❤❤❤