Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ibadah telah ditunaikan.
...35. Satu ibadah telah ditunaikan....
“Kita udah boleh jamaah, 'kan?” tanya Biru, masih dengan telapak tangan mengusap pipi Kha.
“Udah sih, tapi Abi ngajak jamaah ke masjid, tuh.”
Biru mencebikkan bibir, “Nggak mau jadi makmum aku nih?”
Kha menurunkan tangan Biru. Menggenggam erat dengan tangan mungilnya. “Mau, tapi wajib buat pria jamaah ke Masjid. Gih sana, sudah ditunggu Abi. Aku tunggu dirumah,” ujar Kha lalu mengangkat tangan biru untuk dikecup.
Tak mau kalah, Biru pun mendaratkan kecupan untuk kesekian kalinya pada kening Kha. “Aku pergi, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalaam, Mas.”
******
“Mama, Papamu kapan balik ke Jakarta, Bi?” tanya Azzam disela-sela sarapan.
“Siang ini, Abi. Karena pekerjaan disini sudah beres. Tapi Papa minta aku untuk tinggal disini sampai urusan selesai.”
“Iya, hari ini kita kumpulkan berkas buat mengajukan Itsbat Nikah ke pengadilan agama.”
“Apa tidak perlu nikah ulang, Bi?” tanya Biru penasaran.
“Tidak perlu, pernikahan kalian sudah sah karena memenuhi rukun nikah yang menjadi syarat wajib. Tinggal kita kumpulkan berkas, lapor ke kelurahan, lalu ajukan Itsbat nikah ke pengadilan agama,” terang Azzam.
“Kalian mau adakan resepsi? Dimana?”
Biru dan Kha saling berhadapan. “Kha terserah Mas Biru saja, Bi.”
“Kalau di Jakarta gimana, Bi? Soalnya teman dan rekan kerja kita kan kebanyakan disana.”
“Mau dijakarta ya nggak masalah. Kalian bisa persiapkan bersama,” ujar Azzam. “Selesai sarapan, kita semua ke hotel, buat nganterin besan ke bandara,” sambungnya.
Segera setelah membereskan meja makan, semua anggota keluarga tanpa terkecuali bersiap berangkat ke hotel tempat keluarga Awan menginap. Azzam ingin mereka mengantarkan keluarga Awan yang sudah legowo bertandang ke Jogja, yang sudah di buat kalang kabut olehnya karena pernikahan dadakan ini.
“Wah, saya merasa tersanjung sekali ini diantarkan oleh besan sampai ke bandara,” ucap Awan. “Apalagi ini, Bu Alsea sampai repot-repot bawakan banyak oleh-oleh begini.”
“Tak perlu sungkan Pak Awan, kita sudah keluarga sekarang.”
“Baik kalau begitu, kami semua pamit dulu. Jika ada berkas yang harus Biru siapkan dari Jakarta, silahkan kabari saja, nanti saya persiapkan secepat mungkin.”
“Baik-Baik, Pak Awan. Insya Allah sudah siap semua, tapi kalau nanti ada yang kurang, pasti saya kabari.”
“Kami titip Anak kami ya Ummi Alsea,” ucap Senja haru melepaskan tangan Biru yang sedari tadi digenggamnya.
“Insya Allah, Bu Senja. Begitu sebaliknya, jika nanti mereka pulang ke Jakarta, kami juga akan memasrahkan anak kami kepada keluarga Bu Senja.”
Oleh panggilan boarding, kedua keluarga pun berpisah. Biru tetap berada di Jogja sedangkan keluarganya kembali ke Jakarta. Hanya rintikan air mata Senja yang membuat Biru sempat berat tidak ikut serta, tetapi dirinya sadar jika saat ini ia sendiri juga telah memiliki tanggung jawab besar yaitu Kha.
“Kita langsung ke kelurahan setempat buat urus berkas-berkas,” ajak Azzam keluar dari bandara.
Siang itu juga, mereka menyerahkan kelengkapan data untuk pengajuan Itsbat nikah. Kemudian, setelah melaksanakan Itsbat nikah di pengadilan agama negeri setempat, secara resmi pernikahan mereka telah tercatat di dalam negara.
Biru memandangi 2 buku nikah berwarna merah dan hijau, mengkilat karena lapisan hologram pada halaman muka. Satu hal dalam benaknya, kali ini ia benar-benar merasa ada satu beban tanggung jawab yang harus dipikul. Tak berat, hanya saja ia merasa harus berusaha lebih dalam setiap langkahnya. Karena meminta anak gadis dari keluarganya, berarti harus siap menggantikan posisi keluarga untuk anak gadis tersebut.
“Kha... Kamu tahu, 'kan? Aku merintis usaha bersama dengan kamu membuka toko bungamu. Usahaku memang berjalan lancar, tapi belum menunjukan hasil yang maksimal,” ujar Biru setelah mereka kembali hanya berdua didalam kamar Kha. “Untuk saat ini, aku belum memiliki tempat yang layak untuk kita berdua. Tapi aku janji, Kha... Tidak lama lagi akan aku sediakan tempat yang layak untuk kita, aku harap kamu sabar.”
“Mas... Kamu tahu? Aku adalah perempuan beruntung,” Biru menaikkan sebelah alisnya, “Kamu yang pendiam, yang acuh, yang menyebalkan, lalu dengan berani menghalalkan aku tanpa basa-basi itu saja sudah Alhamdulillah. Masalah harta kita bisa cari bersama-sama selama kita masih percaya Allah selalu bersama kita.”
“Terima kasih untuk pengertiannya, Kha.”
“Sama-sama, Mas.”
“Abi sama Ummi biasanya lama kalau di tempat Pakde Arsean? Terus Gam sama Syam kemana?”
“Dirumah Pakde Arsean lagi ngumpul semua, ada Om Abyaz sama Tante Mia. Ada Om Rizwan sama Tante Nahda juga masih dirumahnya Pakde. Biasanya kalau sudah ngumpul suka pada lupa waktu. Kalau Syamier sama Gamya lagi ke Mandala Krida, katanya lagi nonton sepak bola.”
“Berarti dirumah cuma kita berdua, Kha?”
Kha termangu, mencerna pertanyaan Biru yang dibarengi dengan gerakan tangan. Seperti bergerak slow motion, perlahan Biru melepaskan ikatan hijab instannya. Lalu membuka bersamaan dengan Ciput yang membuat rambut Kha terjatuh tanpa penghalang.
“Kha... Aku boleh....?”
Kha tak menjawab tapi ia memejamkan mata seolah memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu detik berikutnya Kha merasakan bibirnya basah. Lututnya kembali lemas, detak jantungnya berpacu lebih lebih cepat ketika benda kenyal itu tak sekedar singgah seperti semalam dan pagi tadi. Kali ini menetap lebih lama, menjelajahi seluruh rongga, membasahi semua sisi, semakin lama semakin menuntut.
Tak sampai disitu, tangan Kha di bimbing Biru untuk melingkar dileher, ia sampai harus berjinjit dibuatnya. Lalu, dengan leluasa Biru menurunkan resleting gamis yang Kha kenakan. Terpaan angin dari kipas, ditambah sentuhan lembut dari Biru membuat bulu kuduk Kha berdiri.
Perlahan namun pasti, dorongan tubuh Biru membuat Kaki Kha menambrak sisi ranjang, keduanya jatuh keatas kasur. Kini posisi Kha terkungkung dibawah Biru.
Dibawah sorot remang cahaya dari lampu jalan diluar, Biru menatap Kha. Sorot matanya selalu tak terartikan, namun kali ini sedikit berbeda, sebab ada keteduhan didalamnya. Biru menurunkan wajahnya, tepat di atas kepala Kha, ia membisikan sebuah doa.
“Bismillah allahumma jannibnis syaithan wa jannibis syaithan ma razaqtana.”
Kha menarik napas panjang, keringat bercucuran begitu Biru membawa dirinya untuk terbang, menikmati sensasi yang baru kali ini ia rasakan. Ia sudah tak memperdulikan penampilannya kini, rambut setengah basah menempel pada bahu dan sisi-sisi yang lain. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh peluh.
“Mas....” Kha menyebut nama Biru setiap kali ia dibuat melayang.
Entah dimana, dan kenapa, ia sendiri merasa baru melihat sisi lain dalam dirinya. Rintihan kecil itu terus keluar dari mulutnya. Sakit, perih, bahkan satu tetes air mata jatuh bersamaan dengan Biru mejatuhkan diri diatasnya.
Satu Ibadah telah ditunaikan.
(Jangan ngarep lebih hot bestieeee. aku polos aku masih dibawah umur) 🤣🤣🤣🤣🤣
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf