Verga Marchetti menyetujui pilihan ayahnya untuk menikahi putri salah satu relasi mereka. Belinda Antolini yang cantik, pendiam dan penurut. Namun di malam pernikahan, Verga menyadari istri barunya tidaklah sediam yang ia kira. Gadis itu penuh rasa ingin tahu, punya gairah yang besar, juga menikmati aktifitas pengantin baru sepenuh hati.
Kegembiraan dan kebahagiaan Verga tidak bertahan lama, karena keesokan hari ketika ia membuka mata, istrinya sudah pergi. Meninggalkan dirinya, juga pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. I don't wanna back home
Benjamin dan Verga menunggu di beranda belakang, sesekali keduanya melirik Belinda yang tampak cekatan bekerja di dapur kecil di dekat beranda itu.
Tangan Belinda dengan ahli meramu semua benda yang ia potong. Bahan baku yang dikeluarkan dari sebuah lemari es di sudut dapur seolah memuat seluruh kebutuhan wanita itu untuk satu minggu. Juga makanan dingin yang kemudian ia hangatkan di microwave.
"Memangnya siapa yang akan memakan semua benda di dalam kulkas itu." Benjamin berkata pelan pada Verga di sampingnya.
"Kurasa itu persiapan untuk dirinya sendiri. Melihat beberapa kanvas kosong di sudut ruang tamu, kuduga ia akan menghabiskan waktu untuk melukis di rumah saja."
"Sendirian di rumah kecil seperti ini tanpa ada siapapun. Bagaimana kalau rumah ini dibobol perampok."
"Sepertinya lokasi perumahan di sini tergolong aman, Ben."
"Kita tidak tahu, Verga. Jika orang melihat seorang gadis cantik tinggal sendirian. Niat kadang muncul setelah melihat kesempatan."
"Apakah karena itu kau mengurungnya di pulau ladang jagung? Kau yakin di sana tidak akan ada yang berniat jahat setelah melihat Belinda tinggal hanya dengan para pekerjanya. Tidak ada keluarga di dekatnya satu orang pun."
Benjamin memilih diam.
"Jika kau berniat melindunginya, maka caramu salah, Ben."
Benjamin mendengus. "Jangan mengajariku bagaimana cara mengurus seorang adik. Kau sendiri anak tunggal."
Verga menyandarkan pinggulnya ke besi pembatas beranda. Ia bersedekap sambil terus memandangi Belinda dari balik kaca dapur.
"Aku mungkin tidak punya adik. Tapi aku punya seorang sepupu. Aku melihat bagaimana cara Paman Daniel menangani Daniella."
"Daniella Dolores ...." Benjamin menyebutkan nama lengkap sepupu yang Verga maksud.
"Benar. Sejak kecil, Ella suka kebebasan. Ia menyukai dunia akting yang semakin membuat orang tuanya khawatir. Ia tumbuh jadi seorang wanita cantik yang ****, berani juga cerdas. Namun Paman dan Bibiku bukan malah mengurung dan membatasi gerakannya. Cara terbaik adalah mempersiapkan dirinya sendiri menghadapi semua kesulitan, gangguan dan masalah. Selanjutnya orang tuanya tinggal mengawasi, mengingatkan juga menyediakan diri selalu ada untuk Ella. Hasilnya luar biasa ... Casanova sekelas Enrico Costra bahkan tidak membuat Ella tergiur."
Benjamin menoleh cepat ketika nama Enrico disebut.
"Maksudmu ... Enrico pernah menggoda Daniella?"
Verga tertawa. "Enrico melakukannya pada siapapun yang menurutnya menarik, cantik, menggairahkan ... sepupuku salah satunya. Tentu saja mata sepupuku belum rusak. Ia menyukai Tuan Costra yang tampan. Namun ia memiliki syarat untuk pria yang akan menjadi pendampingnya. Pria itu harus mau menikahinya. Tentu saja syarat itu membuat Enrico mundur. Dulu pria itu alergi mendengar kata pernikahan. Jadi ... kau lihat ... jika dia tahu bagaimana cara melindungi dirinya sendiri, kebebasan seperti apapun yang diberikan, akan membuat dia tetap bertanggung jawab dan mampu menetapkan batasan untuk dirinya sendiri ...."
Desisan kesakitan dari dalam ruang dapur membuat Verga bergerak meninggalkan Benjamin yang terdiam memikirkan ceramah panjangnya barusan.
Benjamin menyaksikan ketika Verga memeriksa jari adiknya yang tengah memotong bawang bombay. Wajah Belinda tampak merona ketika Verga meniup jari-jari tersebut. Benjamin mendengus dan berbalik, mengalihkan kedua matanya melihat adegan manis pasangan suami istri tersebut. Namun bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Setidaknya ... suami yang kupilihkan untukmu adalah orang yang baik, Bel.
***********
Meja makan bulat di dekat dapur Belinda di hiasi keheningan. Benjamin menatap lama ke arah roti dengan sayur, potongan daging ham dan keju yang ada di atas piringnya. Ia melirik segelas air putih di samping piring tersebut, hanya ada dua menu itu di depan Benjamin.
Mata Benjamin berpindah melirik Verga yang duduk di dekatnya. Di depan Verga tersusun banyak menu yang terlihat menggiurkan. Ada spaggeti dengan saus tomat, ayam parmigiana, potongan meatloaf, lasagna yang membuat Ben menelan air liur, daging, sosis, sayuran, keju dan mozarella yang terlihat dari potongan lasagna membuat perutnya yang sudah lapar berbunyi, tanda protes minta segera diisi.
Verga menyembunyikan senyum. Tahu istrinya sengaja memberikan Benjamin makanan sesuai ejekan Ben sebelumnya.
"Kenapa makananku beda?" tanya Ben dengan kening berkerut.
"Sesuai keinginanmu. Kau ingin roti isi dan air putih kan. Aku sudah memberikan bonus daging ham dan keju."
Jawaban Belinda yang datar tanpa melihat ke wajahnya membuat Benjamin menggeram.
"Berikan padaku seperti yang ada di depan suamimu."
Belinda tidak menggubris. Ia menatap Verga dan menunjuk ke arah menu yang ia siapkan.
"Apakah kita boleh mulai? Makanannya akan dingin sebentar lagi ..."
Verga mengangguk. "Tentu."
Selanjutnya Verga menundukkan kepala sambil mengucapkan doa. Belinda sedikit terkejut ketika satu tangan suaminya itu menggenggam tangannya di atas meja.
Ketika kepala Verga terangkat, Belinda menarik perlahan tangannya dari genggaman pria itu.
"Ayo, Ben," ucap Verga. Iparnya itu mengangkat garpu, lalu mulai mencomot dan memindahkan makanan yang ada di depan Verga dan Bel ke atas piringnya sendiri.
Verga tersenyum sambil mengunyah suapan pertamanya. Belinda tidak protes atas tindakan Benjamin. Wanita itu memulai makan sambil sesekali melirik ke wajah Verga dan Ben.
"Kau pandai memasak. Ini enak," puji Verga.
Sebuah senyum mengembang di bibir Belinda, sebelum kembali menghilang karena mendengar Benjamin berdeham.
Bel melirik, mengira kakaknya itu akan mengatakan sesuatu. Namun, ternyata tidak. Benjamin hanya mengunyah dengan lahap, tidak memberi komentar tentang makanan yang ia makan.
***********
"Kenapa kau belum pergi?" tanya Belinda pada Benjamin yang masih duduk di sofa ruang tamunya sambil mengecek ponsel.
"Karena aku belum mau," ucap Ben santai.
"Tidak ada tempat tidur untukmu di sini!"
"Aku bisa tidur di sofa."
"Verga yang akan tidur di sana."
Benjamin mengalihkan wajah dari ponselnya. Ia menatap Belinda dengan alis terangkat.
"Apa suamimu tahu tentang pengaturan itu? "
"Cuma ada satu kamar di sini."
"Apa itu kendala bagi suami istri?"
"Ck! Kau pulang saja, Ben!"
"Besok. Ketika kau juga pulang."
"Aku bersama suamiku. Kapan kami akan pulang itu urusan kami."
Benjamin mendengus. "Dan kau akan dengan mudah memperdayai pria itu, lalu kabur lagi. Begitu?"
Keduanya saling menatap tajam. Membuat Benjamin menyadari sesuatu tentang sorot mata Belinda.
"Katakan ... bagaimana kau menyembunyikan sorot mata membangkang itu selama ini?"
Bibir Belinda terangkat naik, menyunggingkan senyum sinis yang tampak menyebalkan.
"Aku pandai melakukannya sejak lahir! Sudah keturunan dari Antolini."
"Keturunan Antolini? Hahk! Beberapa jam yang lalu kau bilang kau bukan Antolini!"
"Karena namaku memang bukan lagi Antolini! Dasar bodoh! "
"Kau bilang aku bodoh!"
"Kau memang bodoh! Karena itu Athena dengan mudah memperdayaimu!"
Benjamin baru saja berdiri dan akan mengejar Belinda ketika Verga muncul dari pintu kamar. Menatap datar kedua kakak beradik itu dengan tangan bersedekap.
"Apa kalian tidak lelah?"
"Kau! Sejak kapan kau di sana? Bukannya kau pergi ke ...." Belinda menunjuk ke arah pintu depan rumah.
"Aku sudah masuk ke kamar ini sejak kau mulai mencuci piring. Kau serius aku akan tidur di sofa malam ini?"
Verga menatap Belinda yang membuang muka. Lalu beralih pada Benjamin yang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Satu malam ini saja, Bel ... besok kita akan pulang, perjalanan akan memakan waktu beberapa jam. Sebaiknya kita semua istirahat."
"Aku ... tidak mau pulang ....."
Kalimat yang diucapkan dengan suara pelan itu terdengar dengan sangat jelas di telinga Verga dan Benjamin.
Belinda melirik wajah suaminya, lalu tertunduk dalam. "Aku ... masih belajar pada seorang pelukis di Undertake Street ... besok kami punya janji temu ... kau bilang ... aku hanya perlu mengatakan keinginanku padamu ... dan-dan kau akan memenuhinya ...."
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Mohon maaf jadwal update yang tidak menentu.
Tekan like ,love, bintang lima, Vote dan komentarnya jangan lupa ya. Terima kaaih banyak.
suka sekali gaya tulisan kak Di, enak dibaca, detail seolah kita melihat bukan membayangkan ❤️❤️❤️❤️❤️
terima kasih ya kak , ditunggu karya2 selanjutnya 😍😍😍😍