Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Runyam
Ayana segera berdiri dan memalingkan wajahnya dari Rendra, Dila dan juga Bulan. Ia menahan amarah dan berlari keluar ke halaman sekolah Bulan.
Rendra yang menyadarinya merasa aneh dengan sikap Ayana.
"Sayang, sebentar ya." Ijin Rendra pada Bulan. Ia lalu mengejar Ayana.
"Aya!" Panggil Rendra.
Ayana mendengar panggilan Rendra namun, ia sengaja mengabaikannya. Ia sudah tak ingin mendengar apapun lagi dari Rendra saat ini. Dalam keadaan seperti itu, ia sudah tak peduli lagi. Ia mengambil motornya yang ia parkir untuk mengantar Bulan tadi pagi. Kemudian, ia melaju dengan kencang meninggalkan sekolah. Rendra yang tak sempat bertanya apapun dapat merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia hanya melihat motor Ayana yang semakin menjauh. Ia kembali mendekati Bulan yang ditemani Dila saat itu.
"Ada apa dengan istriku?" Tanya Rendra dengan tegas pada Dila. Dila yang memasang wajah tanpa dosa itu menggeleng seolah ia tak tahu apa-apa.
"Ada apa? Aku juga tidak tahu Ren." Jawab Dila dengan menaikkan kedua bahunya. "Memangnya kenapa?" Sekali lagi, tanya Dila yang tak merasa bersalah.
"Tadi, kalian disana berdua. Apa yang sedang kalian bicarakan?!" Nada Rendra meninggi. Rendra tahu pasti ini semua karena Dila berbicara yang bukan-bukan pada Ayana.
"Aku hanya bercerita perjuanganku untuk bertemu Bulan selama ini." Jawab Dila dengan nada santai. "Kalau hanya bercerita seperti itu membuat istrimu cemburu, ya artinya dia bukan istri yang pengertian. Iya kan?" Terangnya lagi.
Rendra hanya diam dan tak berkata apapun. Bukan seperti itu. Rendra mengenal istrinya daripada sekedar penilaian Dila yang baru mengenalnya akhir-akhir ini. Ayana adalah istri yang sangat pengertian. Tapi, jika melihat ekspresi Ayana yang marah seperti tadi, pasti sedang terjadi sesuatu padanya. Sesuatu yang amat keterlaluan. Rendra tahu pasti akan percuma jika ia bertanya pada Dila. Ia segera mendekati Bulan.
"Nak, kita pulang sekarang ya." Ucap Rendra lembut pada Bulan. Bulan bingung dan sedikit celingukan.
"Mama mana yah?" Tanya Bulan yang tak melihat Ayana di sekitar.
"Mama pulang duluan nak. Kita segera menyusul mama ke rumah ya." Ucap Rendra. Bulan menganggukkan kepalanya pelan menuruti pinta Rendra. Rendra kemudian membawa Bulan untuk pulang, dan meninggalkan Dila serta buku baru dari Dila begitu saja.
Dila terkejut melihat Rendra yang mengabaikannya begitu saja. Rendra bahkan tak mengijinkan dirinya untuk mengucapkan sampai jumpa pada Bulan. Bagaikan senjata makan tuan, bendungan api yang Dila ciptakan pada Ayana tadi, rasanya seratus persen kembali padanya saat ini. Wajahnya benar-benar memerah melihat Rendra amat kebingungan mengkhawatirkan istrinya itu. Apa pentingnya seorang Ayana dibandingkan dirinya dulu? Rendra bahkan tak menghiraukan apa-apa lagi selain istrinya.
...****************...
Setelah sampai di depan rumah, Rendra menggandeng Bulan masuk ke rumahnya. Rendra berjalan dengan sedikit cepat. Bulan yang sudah masuk, berjalan ke ruang tamu. Rendra segera mencari Ayana. Ia mengitari sekitar dan mengetahui kamarnya sedang terbuka. Ia lalu memasuki kamar dan melihat Ayana sedang mengemasi pakaiannya ke dalam tasnya. Rendra benar-benar bingung. Apa yang terjadi pada Ayana hingga ia sampai marah seperti sekarang ini? Ayana nampak ingin meninggalkan rumah mereka.
"Ay? Ada apa? Kita bisa bicarakan baik-baik." Kata Rendra yang tengah panik.
Ayana tak menjawab Rendra. Ia masih meneruskan memasukkan beberapa pakaian dari lemarinya ke dalam tasnya.
"Ay?!" Rendra meninggikan nadanya untuk memanggil Ayana yang mengacuhkannya. Ayana masih tak berkata apapun. Membuat Rendra juga kehilangan kesabaran. Ia lalu memegang tangan Ayana, menariknya lalu menghadapkan Ayana padanya. Saat Rendra dapat memandang wajah Ayana, dilihatnya Ayana tengah menangis dengan setengah tertunduk. Rendra yang tadinya juga ikut kesal, melihat Ayana yang berurai air mata itu, hatinya menjadi luluh. Ia tak tega dan tak jadi marah melihat istrinya dalam kesedihan. Ia lalu menurunkan nadanya. Rendra lalu memegang kedua pundak istrinya.
"Ay... Tolong katakan padaku. Apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?"
Ayana setengah sesenggukan dan menghapus air matanya. "Aku ingin pulang ke rumah ibuku sekarang. Aku ingin menenangkan diri." Ucap Ayana.
"Tapi katakan dulu, kenapa? Kenapa tiba-tiba?"
"Mas tanya saja pada mantan istri mas sana."
"Ay, aku lebih percaya denganmu. Kamu istriku. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Apa yang sudah Dila katakan padamu tadi?"
"Aku tidak tahu, kalau ternyata selama ini kalian sering bertemu."
"Bertemu? Dimana?"
"Dia bilang, sering menunggu mas di tempat kerja." Ayana terus berbicara dengan masih sesenggukan.
"Ya. Itu memang benar. Tapi aku tak pernah menemuinya."
"Dia bahkan bilang pernah ditolong mas saat dia sedang digoda karyawan di perusahaan."
"Aya... Seandainya jika itu bukan Dila-pun aku akan tetap menolongnya." Rendra bersusah payah untuk menjelaskan secara logika. Ayana menepis tangan Rendra dari pundaknya. Ia kembali meneruskan kegiatannya. Ayana yang sudah terbawa perasaan itu, sudah tak akan bisa lagi menerima logika apapun.
"Ay? Jadi kamu lebih percaya Dila dibandingkan aku?"
"Tidak, jika dari awal mas jujur padaku mas."
"Ay, aku tak pernah membohongimu. Aku hanya merasa... hal itu tidak penting untuk diceritakan." Jelas Rendra. Ia harap, bisa diterima oleh Ayana.
Ayana berhenti sejenak mengemasi barangnya. Ia menoleh ke arah Rendra dengan cepat.
"Jadi, pelukan di klinik itu juga tidak penting?" Kata Ayana melihat ke arah Rendra dengan tatapan tajam.
Rendra mengernyitkan dahi. "Jadi, dia juga menceritakan itu?!" Tanya Rendra secara refleks. Rendra tak bermaksud membenarkan Dila, tapi ia yakin jika Dila pasti sedikit melencengkan ceritanya. Atau paling tidak sedikit membesar-besarkan ceritanya. Buktinya Ayana sampai semarah ini.
Ayana terkejut mendengar tanggapan Rendra. "Tunggu mas! Jadi itu memang benar?!" Tanya Ayana yang meninggikan nada tanyanya.
"Ay... Ay... Tolong. Aku bisa jelaskan. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan." Ungkap Rendra yang semakin panik dan tak tahu harus menjelaskan dari mana? seperti apa? Dan bagaimana?
"Cukup mas. Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Aku bingung mana yang seharusnya aku percaya." Ayana nampak sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Ia lalu menutup resleting tasnya dan menurunkannya dari ranjang.
"Ay, bagaimana dengan Bulan dan Aila?" Tanya Rendra yang semakin panik dan kebingungan bagaimana lagi ia harus membatalkan niat istrinya untuk meninggalkan rumah.
"Tak perlu mencemaskan Aila. Dia akan tinggal bersamaku di rumah orang tuaku nanti. Untuk Bulan, tolong antarkan ke rumah orang tua mas dulu." Kata Ayana yang berjalan dengan membawa tasnya keluar kamar. Rendra mengikutinya dari belakang tanpa bisa mencegah Ayana lagi.
Di ruang tamu, Ayana terhenti melihat Bulan yang bermain puzzle yang memang masih tercecer di meja depan sofa ruang tamu.
"Mama mau kemana?" Tanya Bulan dengan polosnya. Ayana menaruh tasnya sejenak. Ia mendekati Bulan dan duduk berjongkok agar sepadan dengan tinggi Bulan.
"Bulan sayang... maafkan mama. Mama pergi sebentar. Bulan nanti diantar ayah ke rumah nenek, nanti mama akan bertemu Bulan di rumah nenek. Mama sedang ada urusan mendadak. Ya sayang..." Pamit Ayana pada Bulan. Bulan tak menjawab apapun dan ia juga ikut bingung melihat wajah sedih Ayana.
"Kenapa mama menangis?" Tanya Bulan lagi.
"Tidak apa-apa sayang." Ucap Ayana dengan lembut. Rendra masih tak dapat berbuat apa-apa melihat Ayana yang sudah bertekad bulat untuk meninggalkan rumah mereka.
Setelah Ayana rasa sudah berpamitan dengan Bulan, Ayana berdiri dan kembali mengangkat tasnya. Lalu ia berjalan keluar rumah. Sekali lagi, Rendra menarik tangan Ayana. Kali ini penuh kelembutan. Rendra memohon sekali lagi agar Ayana mempertimbangkan keputusannya untuk pulang ke rumah orang tuanya itu. Ayana terhenti ketika Rendra menarik tangannya. Namun ia tetap tak mau menengok ke belakang, ke wajah Rendra.
"Ay... Aku kira, kita sudah sama-sama saling pengertian. Aku kira kita sudah kuat." Kata Rendra sangat tak rela melepaskan istrinya.
Ayana menutup matanya dan terpaksa mengatakan...
"Maafkan aku mas. Mas sendiri yang membuat kita goyah." Jawab Ayana.
Lalu ia tetap meneruskan jalannya, sehingga genggaman dari tangan Rendra terlepas. Rendra hanya menahan pedih di dada melihat istrinya keluar meninggalkan rumah. Rendra pernah mengalami hal ini dulu, tapi saat itu bukan kesalahannya. Kesalahan Dila. Ia tak menyangka jika ia mengalami untuk kedua kalinya. Dengan alasan yang sama. Kesalahan Dila.
...****************...
Hai Readers...
Mohon bersabar untuk konfliknya ya. Ini sudah klimaksnya. Karena memang saya sesuaikan dengan kehidupan secara umumnya tentang perasaan perempuan.
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.