Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Toast Among Shadows
Malam merayap perlahan menyelimuti ibu kota Kekaisaran Tianming, melukis langit malam dengan warna hitam pekat yang dihiasi hamparan bintang-bintang spiritual. Ketika seluruh penjuru kota mulai terlelap dan pertikaian politik di dalam Istana Kekaisaran mereda sejenak akibat kejatuhan Pangeran Ke-3 Lu Cangqiong, kediaman Pangeran Ke-14 justru dipenuhi oleh kehangatan terselubung. Di paviliun tersembunyi yang terletak di tengah danau buatan halaman belakang, cahaya lentera kertas memancarkan pendar keemasan yang lembut, memantul di atas permukaan air yang tenang bagaikan cermin raksasa.
Di dalam paviliun tersebut, sebuah meja bundar besar terbuat dari kayu giok hitam telah ditata rapi. Malam ini tidak ada akting pangeran bodoh, tidak ada jeritan histeris drama tempat hiburan, dan tidak ada ancaman penyusup berdarah dingin. Untuk pertama kalinya sejak dimulainya kekacauan di ibu kota, seluruh tokoh utama dari lingkaran dalam Mu Xuanyuan berkumpul di satu tempat yang sama.
Mu Xuanyuan duduk di posisi utama, mengenakan jubah santai berwarna putih polos tanpa ornamen kerajaan. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai bebas, membingkai wajahnya yang sangat tampan dengan ketenangan absolut seorang kaisar sejati. Di samping kirinya, Han Xingzhou—pengelola utama Balai Lelang Xingzhou—duduk dengan anggun seraya membolak-balik lembaran buku kas berlapis emas, sesekali mengurut pelipisnya karena pusing melihat tumpukan angka kekayaan majikannya yang kian tak masuk akal. Di samping kanannya, Po Jun—pemimpin tertinggi Pasukan Bayaran Po Jun yang berbadan kekar bagaikan gunung batu—duduk tegak dengan penuh rasa hormat, memegang cangkir khamr dengan jemari besarnya yang penuh bekas luka tempur.
Di seberang meja, Leng Yan duduk menyandarkan tubuhnya dengan gaya flamboyan yang khas, mengenakan jubah sutra ungu tua berlapis benang perak. Ia mengibaskan kipas emasnya pelan seraya menatap Xuanyuan tanpa kedip, memancarkan binar pengaguman yang teramat dalam. Adik kembarnya, Leng Shuang, duduk di sampingnya seraya tetap bersiap dengan sepasang pedang pendeknya di pinggang, meski raut wajah tomboinya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Feng Wuchen dan Gu Juechen berdiri anggun di belakang Xuanyuan, bertindak sebagai pengawal setia sekaligus bagian tak terpisahkan dari lingkaran takhta rahasia tersebut.
"Yang Mulia," ujar Han Xingzhou memecah keheningan dengan suara yang tenang dan berwibawa. Ia menutup buku kas emasnya seraya membungkuk kecil. "Penjatuhan Pangeran Ke-3 di Aula Utama tadi pagi ber dampak luar biasa pada sektor ekonomi ibu kota. Faksi bisnis yang sebelumnya mendukung Lu Cangqiong kini panik dan menjual aset-aset mereka dengan harga murah. Balai Lelang Xingzhou telah berhasil menguasai delapan puluh persen jalur perdagangan utama di ibu kota tanpa memicu kecurigaan istana. Semua kekayaan tersebut kini telah dialirkan langsung ke dalam Ruang Dimensi Portabel Anda."
Xuanyuan menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan, memetik sebutir buah anggur ajaib dari piring emas seraya melirik Han Xingzhou. "Kerja bagus, Xingzhou. Kau selalu tahu cara mengubah kekacauan politik menjadi tumpukan kristal spiritual. Sisihkan seperempat dari keuntungan itu untuk memperkuat logistik pasukan di perbatasan."
Po Jun menangkupkan kedua tangannya yang kekar ke depan, membuat suara benturan keras yang bergetar rendah di udara. "Pasukan Bayaran Po Jun siap bergerak sesuai perintah Anda, Yang Mulia! Seribu prajurit bayangan ranah Soul Transformation telah berhasil menyusup ke dalam garda pengaman kota. Jika Putra Mahkota Long Wuji mencoba bertindak gegabah, kami bisa melumpuhkan seluruh faksi militernya dalam satu malam tanpa menyisakan jejak!"
"Jangan terlalu terburu-buru, Po Jun," potong Gu Juechen seraya tersenyum cerdas dan menuangkan khamr keemasan ke dalam cangkir semua orang. "Putra Mahkota jauh lebih cerdik dibanding Lu Cangqiong. Biarkan dia merasa berada di atas angin untuk sementara waktu. Semakin tinggi dia memanjat, semakin menyakitkan saat dia jatuh nanti."
Leng Yan mendadak mengangkat cangkir khamrnya ke udara, mengibaskan jubah ungunya dengan gerakan dramatis yang memikat. Wajah tampannya dipenuhi binar kepuasan yang mendalam saat ia menatap Xuanyuan. "Oho~ Sungguh sebuah perpaduan antara kekayaan yang melimpah dan kekuatan yang tak tertandingi! Namun, dari semua strategi jenius dan pasukan bayangan yang menakutkan ini, tidak ada yang lebih mempesona dibanding ketampanan dan ketenangan Yang Mulia malam ini! Hamba benar-benar merasa sangat beruntung bisa berdiri di sisi seorang Kaisar Abadi yang begitu sempurna!"
Leng Shuang yang duduk di sampingnya seketika menyenggol rusuk Leng Yan dengan siku tangannya secara kasar hingga pria flamboyan itu hampir saja menyemburkan khamr di mulutnya. "Bisa tidak kau menahan ocehan konyolmu itu selama lima menit saja, Leng Yan? Kita sedang membahas masa depan kekaisaran, bukan kontes ketampanan!"
"Aduh! Leng Shuang, kau ini benar-benar merusak suasana puitis!" ringis Leng Yan seraya memegangi pinggangnya, membuat semua orang di paviliun tersebut terkekeh pelan.
Feng Wuchen yang biasanya sangat dingin dan irit bicara bahkan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Ia melangkah maju seraya mengangkat cangkirnya sendiri. "Terlepas dari tingkah konyol Tuan Leng Yan, malam ini adalah bukti bahwa fondasi kita di ibu kota telah berdiri kokoh. Tidak ada satu faksi pun di Kekaisaran Tianming yang menyadari kekuatan sejati yang berkumpul di paviliun kecil ini."
Xuanyuan merentangkan tangannya pelan, menghentikan gurauan di antara mereka seraya meraih cangkir khamr keemasannya. Aura ranah Immortal Emperor Puncak merebak halus dari tubuhnya, tidak menekan ataupun menakutkan, melainkan membawa kehangatan dan perlindungan mutlak bagi orang-orang terpercayanya. Pandangan matanya yang jernih menyapu wajah ketujuh sosok setia yang berkumpul di sekeliling meja tersebut.
"Musim pertama dari permainan kita di Kekaisaran Tianming baru saja dimulai," ucap Xuanyuan dengan suara rendah yang merdu namun berwibawa tinggi, memancarkan wibawa abadi yang membuat Po Jun dan Han Xingzhou membungkuk hormat secara naluriah. "Pangeran Ke-3 hanyalah batu kerikil kecil di jalan setapak. Di luar sana, Putra Mahkota, para tetua sekte purba, dan ancaman dari benua luar sedang mengintai kekaisaran ini. Tapi selama kita berdiri bersama di dalam bayang-bayang, seluruh benua ini hanyalah panggung permainan bagi kita."
Xuanyuan mengangkat cangkirnya lebih tinggi ke arah hamparan bintang di langit malam, disusul oleh dentingan cangkir porselen dari Han Xingzhou, Po Jun, Leng Yan, Leng Shuang, Feng Wuchen, dan Gu Juechen yang terangkat serempak di udara.
"Untuk kemenangan di balik bayang-bayang," puji Leng Yan dengan nada penuh gairah dan hormat.
"Untuk Yang Mulia Kaisar Abadi!" seru Po Jun dan Han Xingzhou secara bersamaan dengan suara mantap.
Dentingan cangkir giok berdenting nyaring di tengah keheningan malam, menandai penutup dari babak pertama perjuangan rahasia sang Pangeran Ke-14. Di bawah naungan bayangan malam dan kepulan asap khamr keemasan, Mu Xuanyuan meminum habis tegapannya seraya menyunggingkan senyum misterius. Season pertama telah berakhir dengan kemenangan mutlak bagi sang pangeran "cacat", namun bayang-bayang konflik yang lebih besar di Season Kedua telah bersiap menyelimuti Kekaisaran Tianming dari balik kegelapan.