Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Di bawah sana Master Handoko perlahan menurunkan guci itu kembali ke atas meja dengan wajah yang terlihat sangat menahan amarah. Pria tua itu meraih mikrofonnya dan menatap lurus ke arah barisan belakang tempat Rio sedang tersenyum sombong.
"Siapa tamu tidak tahu malu yang berani membawa barang rongsokan seperti ini ke acara Lelang Agung malam ini." Suara berat Master Handoko tiba-tiba menggelegar keras memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Senyum di wajah Rio langsung luntur seketika seolah baru saja disiram dengan seember air es di tengah musim dingin. Ruangan yang tadinya sunyi kini langsung dipenuhi oleh riuh rendah gumaman para tamu yang kebingungan.
"Tunggu dulu Master, apa maksud Anda dengan barang rongsokan." Teriak Rio refleks berdiri dari kursinya karena merasa tidak terima barang kebanggaannya dihina.
"Itu guci asli Dinasti Ming yang saya beli dari kolektor rahasia seharga puluhan juta rupiah siang tadi." Lanjut Rio mencoba membela diri di depan ratusan pasang mata yang kini menatapnya.
Master Handoko mendengus kasar lalu mengangkat guci biru itu menggunakan satu tangan dengan sangat sembrono. "Dinasti Ming apanya, ini hanyalah cetakan tanah liat pinggir jalan yang dicampur dengan semen sisa bangunan."
Brak.
Master Handoko mengetuk permukaan guci itu dengan palu kayunya hingga menghasilkan suara nyaring yang aneh.
"Dengar suaranya yang nyaring dan ringan ini, keramik asli dari ratusan tahun lalu memiliki kepadatan yang padat dan bersuara berat." Jelas pria tua itu membongkar kebodohan Rio tanpa ampun sedikitpun.
"Bahkan cat biru di bagian bawah guci ini masih basah dan menempel sedikit di sarung tangan putih saya." Tambah Master Handoko sambil menunjukkan sarung tangannya yang kini ternoda warna biru ke arah penonton.
Seluruh ruangan langsung meledak dalam tawa yang sangat riuh mendengar penjelasan telak dari pakar barang antik tersebut. Ratusan konglomerat kelas atas itu tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan pria sok kaya dari barisan silver belakang.
"Ya ampun, dia berani membawa barang seharga lima puluh ribu ke acara elit seperti ini, benar-benar tidak punya otak." Cibir seorang pengusaha paruh baya di barisan tengah.
"Pantas saja dia berani menawar kalung giok dua ratus lima puluh juta secara asal-asalan, ternyata dia memang sudah gila sungguhan." Tambah seorang nyonya sosialita yang duduk tidak jauh dari posisi Anya.
Anya sendiri hanya melirik ke belakang sekilas dan menggelengkan kepalanya perlahan merasa sangat jijik. "Menyedihkan, orang miskin yang berpura-pura kaya memang selalu berakhir mempermalukan dirinya sendiri." Gumam Anya memalingkan wajahnya.
Wajah Rio kini merah padam seperti kepiting rebus menahan rasa malu yang luar biasa menghancurkan harga dirinya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menatap siapa pun di ruangan itu yang sedang menertawakannya.
Kevin yang tadinya duduk di sebelah Rio perlahan menggeser kursinya menjauh seolah tidak ingin ikut terseret dalam jurang kehinaan ini. "Gila, gue bisa ikut jelek namanya kalau deket-deket sama bos halu ini terus." Batin Kevin ketakutan.
"Petugas keamanan, tolong buang barang rongsokan ini ke tempat sampah di luar sekarang juga." Perintah Master Handoko dengan nada suara yang sangat muak.
"Dan untuk tuan muda di belakang sana, segera siapkan uang dua ratus lima puluh juta Anda malam ini juga atau kami akan memanggil polisi atas tuduhan penipuan lelang." Ancam pria tua itu dengan tegas.
Rio nyaris pingsan mendengar ancaman tersebut karena dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengganti uang ayahnya besok pagi. Hari ini benar-benar menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan sepanjang hidup pria sombong tersebut.
Di ruang VVIP Saka menuangkan sedikit anggur merah ke dalam gelas kristalnya dan mengangkatnya perlahan ke udara. "Bersulang untuk kehancuranmu Rio, ini baru permulaan dari rasa sakit yang akan kalian berdua nikmati." Ucap Saka sambil tersenyum sangat puas.
Dia menyesap anggur manis itu dan merasakan kelegaan yang luar biasa mengalir di sekujur tubuhnya. Dendam atas hinaan yang dia terima siang tadi akhirnya terbayar lunas melihat Rio tertunduk hancur di depan gadis pujaannya sendiri.
"Sekarang setelah badut penghibur selesai tampil, tiba saatnya bintang utama malam ini naik ke atas panggung." Batin Saka sambil mengusap pelan layar sistem yang masih melayang di hadapannya.
Di bawah sana petugas keamanan sudah membersihkan meja kaca dari guci palsu milik Rio dengan kasar. Suasana ruangan yang tadinya penuh tawa mengejek kini perlahan kembali tenang dan kondusif berkat ketegasan panitia.
Master Handoko menarik napas panjang untuk menormalkan emosinya setelah berhadapan dengan kejadian konyol barusan. Pria tua itu kembali memegang mikrofon dan menatap seluruh tamu dengan pandangan yang kali ini terlihat sangat berbinar-binar.
"Mohon maaf atas gangguan kecil dari orang yang tidak bertanggung jawab barusan hadirin sekalian." Buka Master Handoko mencairkan suasana dengan senyum profesionalnya.
"Sekarang mari kita lupakan barang sampah itu karena malam ini balai lelang kita mendapatkan kehormatan besar." Suara pria tua itu tiba-tiba bergetar menahan antusiasme yang sangat luar biasa.
"Kita akan menyambut kemunculan sebuah pusaka tingkat dewa yang dipercaya mampu mengubah nasib sebuah keluarga menjadi penguasa dalam semalam." Deklarasi Master Handoko yang langsung membuat seluruh ruangan merinding kegirangan.
Anya yang tadinya bersandar santai kini langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dengan mata terbelalak penasaran. Bahkan kabut ungu kutukan di sekitar tubuhnya ikut bergetar hebat seolah merasakan ancaman besar yang akan segera datang.
Saka meletakkan gelas anggurnya dan berjalan mendekati dinding kaca untuk melihat panggung dengan lebih jelas. Ini adalah momen yang paling ditunggunya di mana Piring Kayu Gaharu Berdarah miliknya akan membuat dunia berlutut di bawah kakinya.