NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Ciuman yang Tak Direncanakan

Lia menjatuhkan jaket dan mengulurkan kedua tangan.

Tubuh Sebastian jauh lebih berat daripada dugaannya.

Ia berhasil menahan dada lelaki itu sebelum kepalanya membentur pagar tangga, tetapi punggung Lia sendiri menghantam dinding. Sebastian segera menumpukan satu tangan di samping kepalanya agar tidak menindih penuh.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Ko Sebas, berdiri yang benar.”

“Saya berdiri.”

“Ko Sebas hampir jatuh.”

“Tangga yang bergerak.”

Dalam keadaan lain, Lia mungkin tertawa. Sekarang ia terlalu sibuk menahan berat tubuh Sebastian dan detak jantungnya sendiri.

Aroma wiski bercampur dengan wangi kayu dari kemeja lelaki itu. Matanya yang biasanya jernih tampak gelap dan sedikit berkabut, tetapi tetap mengenali Lia.

“Kenapa kamu di sini?” tanyanya.

“Mau mengembalikan jaket.”

Sebastian melihat jaket yang tergeletak dua anak tangga di bawah mereka. “Saya bilang simpan.”

“Saya sudah menyimpannya seminggu.”

“Kurang lama.”

“Berapa lama?”

“Selamanya.”

Lia kehilangan kata-kata.

Sebastian mencoba berdiri tegak. Langkahnya goyah lagi, sehingga Lia terpaksa memegang pinggangnya. Telapak tangannya bertemu otot yang keras di balik kemeja. Ia segera ingin melepas, tetapi Sebastian sudah menangkap pergelangan tangannya.

“Jangan pergi.”

Nada suaranya tidak memerintah. Terdengar seperti permohonan yang tak akan pernah keluar saat sadar.

“Saya hanya mau memanggil Robby.”

“Dia berisik.”

“Ko Sebas butuh air.”

“Saya butuh kamu diam di sini.”

Jari Sebastian melonggar begitu menyadari dirinya menahan Lia. Bahkan dalam mabuk, ia seolah ingat bahwa Lia harus bisa memilih.

“Kalau kamu mau pergi, pergi,” katanya pelan. “Tapi saya tidak mau.”

Lia seharusnya pergi.

Ia justru mengambil jaket dari tangga, menyampirkannya pada bahu, lalu membantu Sebastian kembali ke ruang kerja. Satu lengannya melingkari pinggang lelaki itu. Lengan Sebastian hanya bertumpu ringan pada bahunya, berusaha tidak menekan.

Mereka hampir sampai ketika suara pintu kamar di ujung lorong terbuka.

Lia mempercepat langkah dan membawa Sebastian masuk ke ruang kerja. Pintu ditutup, tetapi tidak dikunci.

“Duduk,” katanya.

Sebastian menurut di tepi sofa. Lia menuangkan air dari teko dan menyodorkan gelas. Ia meneguk dua kali, lalu menatap Lia di atas bibir gelas.

Tatapan itu membuat tangan Lia gugup.

“Kenapa lihat saya begitu?”

“Gaun ungu.”

“Saya sudah ganti baju.”

“Saya masih ingat.”

“Ko Sebas harus tidur.”

“Rudy suka kamu.”

Lia menghela napas. “Kita sudah membahas ini.”

“Saya tidak suka.”

“Saya juga sudah dengar.”

“Kamu suka dia?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat bahu Sebastian turun sedikit, seolah beban besar baru diangkat.

Lia menahan senyum. “Tapi bukan berarti Ko Sebas boleh minum sampai jatuh.”

“Saya minum karena Papa.”

“Ada masalah proyek?”

“Mereka ingin saya menikah.”

Lia membeku.

“Dengan Jessica,” lanjut Sebastian. Alkohol menarik semua kebenaran keluar tanpa urutan. “Cantik. Pintar. Keluarga baik. Sangat cocok.”

Setiap pujian terasa seperti kerikil dilemparkan ke dada Lia.

“Kalau begitu, bagus,” katanya sambil mengambil gelas kosong. “Ko Sebas seharusnya istirahat.”

Sebastian menangkap ujung jaket yang masih menyelimuti bahunya.

“Saya tidak mau Jessica.”

“Lepaskan.”

“Saya mau yang memakai jaket saya.”

Lia menatapnya. Wajah Sebastian tampak serius meski matanya berat.

“Besok Ko Sebas mungkin lupa.”

“Kalau lupa, ingatkan.”

“Dengan apa?”

Sebastian berdiri. Kali ini tidak goyah, tetapi gerakannya lambat. Ia berhenti tepat di depan Lia.

“Dengan mengatakan saya sudah memilih kamu.”

Napas Lia lenyap.

“Jangan bicara seperti ini saat mabuk.”

“Saat sadar saya terlalu banyak berpikir.”

“Berarti pikirkan lagi saat sadar.”

Ia hendak mundur. Sebastian mengangkat tangan ke sisi wajahnya, berhenti sebelum menyentuh.

“Boleh?”

Satu kata itu seharusnya mudah dijawab. Lia tahu Sebastian mabuk. Ia tahu besok pagi keluarga, status, dan ketakutan akan kembali. Namun, lelaki itu tidak menyentuh sebelum mendapat jawaban.

Lia tidak mengatakan ya.

Ia juga tidak pergi.

Jemarinya justru mencengkeram bagian depan kemeja Sebastian agar tidak jatuh.

Sebastian menafsirkan diam itu dengan hati-hati. Telapak tangannya menyentuh pipi Lia, pelan, memberi waktu untuk menolak. Ketika Lia tetap diam, ia menunduk.

Bibir mereka bertemu.

Ciuman pertama itu tidak rapi. Ada rasa wiski, napas tertahan, dan keraguan yang membuat keduanya membeku sesaat. Lalu Sebastian mengembuskan napas panjang seolah akhirnya menemukan sesuatu yang dicari berbulan-bulan.

Ia mundur setipis napas.

“Suruh saya berhenti kalau kamu tidak mau.”

Lia bisa menggunakan kesempatan itu. Ia bisa membuka pintu, memanggil Robby, dan menganggap semua ini kesalahan alkohol. Namun, bibir Sebastian masih berjarak begitu dekat, sementara telapak tangan di pipinya tetap diam, tidak memaksa.

“Saya tidak tahu,” bisiknya jujur.

“Saya juga tidak tahu bagaimana melakukan ini dengan benar.”

Pengakuan dari lelaki yang selalu tahu apa yang harus dilakukan membuat pertahanan Lia melunak. Ia menyentuh pergelangan Sebastian, merasakan denyut nadi cepat di bawah kulit.

“Pelan,” katanya.

Sebastian mengangguk.

Ia mencium lagi, masih lembut, tetapi lebih pasti.

Lia seharusnya mendorong. Tangannya malah mencengkeram kemeja lebih erat. Hangat menjalar dari bibir ke seluruh tubuh. Ia telah makan malam, dan kegugupan membuat suhu kulitnya naik. Aroma manis mengalir keluar, memenuhi ruang kerja yang tertutup.

Sebastian mengeluarkan suara rendah dari tenggorokan.

Tangannya berpindah ke pinggang Lia, hanya untuk menahan keseimbangan, tetapi sentuhan itu membuat jarak mereka hilang. Jaket gelap melorot dari satu bahu. Lia merasakan dada Sebastian naik turun cepat di bawah telapak tangannya.

Ciuman itu menjadi lebih dalam, bukan kasar, namun penuh lapar yang selama ini dikunci.

Ketakutan akhirnya menembus kabut Lia.

Sebastian mabuk. Mereka belum membicarakan apa pun dengan sadar. Kalau ini berlanjut, besok salah satu dari mereka akan terluka.

Lia memalingkan wajah.

“Cukup.”

Sebastian berhenti, tetapi dahinya tetap menempel pada dahi Lia. Napas mereka berbaur.

“Lia.”

“Besok.”

“Jangan suruh saya lupa.”

“Saya tidak menyuruh.”

Ia mencoba melepaskan diri. Sebastian, masih terseret keinginan, menunduk lagi. Lia panik dan mengangkat tangannya di antara mereka. Pangkal ibu jari Sebastian berada tepat dekat mulutnya.

“Ko Sebas, berhenti.”

Lelaki itu tidak langsung menangkap kata-katanya. Lia menggigit bagian berdaging di antara ibu jari dan telunjuknya.

“Ah.”

Sebastian tersentak mundur. Bekas dua lengkung gigi segera memerah pada tangannya.

Kesadarannya kembali sedikit.

“Saya menyakitimu?” tanyanya.

“Tidak.” Lia mengusap bibir yang masih panas. “Tapi Ko Sebas tidak mendengar.”

“Maaf.”

Sebastian menjauh sampai belakang lututnya menyentuh sofa, memberi Lia ruang penuh. Ia menatap tangannya yang tergigit, lalu menatap Lia lagi dengan wajah lebih sadar.

“Kamu benar. Saya tidak boleh memakai mabuk sebagai alasan.”

“Saya juga tidak bilang tidak sejak awal.”

“Itu tidak berarti saya boleh mengabaikan saat kamu akhirnya bilang cukup.”

Lia merasakan simpul takut di dadanya mengendur. Bahkan setelah kehilangan kendali, Sebastian tidak memindahkan kesalahan kepada alkohol atau kepadanya.

“Besok, kalau Ko Sebas ingat, kita bicara,” katanya.

“Kalau saya tidak ingat?”

Lia menunjuk bekas gigi di tangannya. “Itu pengingat.”

Sebastian menatap tanda merah tersebut dengan rasa sakit yang anehnya menyerupai kepuasan. “Kamu meninggalkan bukti.”

“Supaya Ko Sebas tidak menuduh saya berbohong.”

“Saya tidak pernah mengira kamu pembohong.”

“Besok kita lihat.”

Penyesalan di wajahnya begitu jujur hingga amarah Lia tak sempat tumbuh.

“Duduk. Saya panggil Robby.”

Ia baru bergerak ke pintu ketika langkah kaki terdengar dari lorong.

Suara Cornelia memanggil, “Sebas? Mama lihat lampu ruang kerjamu masih menyala.”

Lia dan Sebastian saling pandang.

Jaket di bahu Lia, rambutnya berantakan, bibirnya merah. Aroma manis memenuhi ruangan. Jika Cornelia masuk, tidak ada penjelasan yang akan terdengar masuk akal.

Lia menarik Sebastian ke belakang pintu, tempat ia pernah bersembunyi. Kali ini posisi mereka terbalik. Lia berdiri di depan, menutup mulut Sebastian dengan telapak tangan agar ia tidak menjawab sembarangan.

“Diam,” bisiknya.

Sebastian mengangguk, tetapi matanya justru tertawa samar.

“Sebas?” Cornelia mengetuk.

Lia menahan napas.

Gagang pintu bergerak sedikit. Karena tidak dikunci, pintu terbuka selebar telapak tangan. Tubuh Lia menegang. Sebastian, yang berdiri tepat di belakangnya, meraih pinggangnya agar mereka tidak terlihat dari celah.

Aroma parfumnya mengurung Lia dari belakang. Bibir Sebastian nyaris menyentuh telinganya ketika berbisik, “Kamu wangi sekali.”

Lia menekan tangannya lebih kuat ke mulut lelaki itu.

Cornelia berhenti di ambang. Mungkin ia mencium alkohol, mungkin juga melihat gelas di meja. Namun, teleponnya berbunyi dari kamar.

“Kamu minum lagi?” tanyanya dari celah pintu.

Sebastian hendak menjawab. Lia menutup mulutnya lebih rapat dan menggeleng keras.

Cornelia menunggu beberapa detik. “Kalau kamu ketiduran di sofa, jangan salahkan Mama kalau besok lehermu sakit.”

“Besok kita bicara,” katanya kesal. Ia menutup pintu lagi tanpa masuk.

Langkahnya menjauh.

Lia segera berbalik. “Ko Sebas hampir membuat kita ketahuan.”

“Kamu memanggil saya apa tadi?”

“Ko Sebas.”

“Bukan.”

Lia mencoba mengingat. Saat menahan ciuman kedua tadi, satu panggilan mungkin terlepas tanpa gelar.

Sebas.

Wajahnya terbakar.

“Ko Sebas salah dengar.”

“Saya mabuk, bukan tuli.”

Sebelum Lia menjawab, pintu terbuka penuh.

Robby masuk membawa dua cangkir. Ia berhenti melihat mereka berdiri terlalu dekat, jaket Sebastian di bahu Lia, bibir keduanya merah, serta bekas gigitan pada tangan atasannya.

“Oh,” katanya panjang. “Kayaknya minuman gue terlambat.”

Lia meraih ujung jaket, melemparkannya ke sofa, lalu menyelinap melewati Robby.

“Tolong jaga Ko Sebas.”

Ia berlari turun tanpa menoleh.

Di dalam ruang kerja, Robby meletakkan cangkir sambil menatap bekas gigitan.

“Gue tinggal sebentar, lo diapain?”

Sebastian menyentuh luka itu, lalu tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

“Saya menemukan cara agar tidak lupa.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!