NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Peluru untuk Komandan

Keesokan paginya, Alya bersikap seperti biasa.

Itu yang paling membuat Damar kesal.

Dia datang ke pos kesehatan, memeriksa pasien, membagikan oralit, menulis laporan bantuan Siska, dan bicara dengan warga seperti tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Tidak ada pertanyaan tentang Siska. Tidak ada wajah cemburu. Tidak ada sikap dingin yang cukup jelas untuk dibalas.

Hanya jarak.

Jarak yang rapi.

Damar membenci jarak itu karena dia sendiri yang dulu membangunnya.

Pukul sepuluh, laporan masuk dari pos tiga. Ada pergerakan mencurigakan di jalur tidak resmi dekat sungai. Diduga kelompok penyelundup yang sama dengan operasi beberapa hari lalu. Damar memimpin tim kecil untuk pemeriksaan.

Alya seharusnya tidak ikut.

Lalu radio pos kesehatan berbunyi.

"Ada satu prajurit jatuh saat pengejaran, kemungkinan patah tulang dan luka terbuka. Lokasi aman sebagian. Minta tim medis."

Alya mengambil tas.

Rina menatapnya. "Dok..."

"Saya ikut. Kamu jaga pos."

"Komandan akan marah."

"Nanti saja."

Dia berangkat bersama Joko dan dua prajurit. Lokasi berada di area semak dekat sungai kecil. Jalan menuju sana sempit. Mereka harus berjalan kaki beberapa ratus meter.

Dari jauh terdengar suara perintah Damar.

"Tutup jalur kanan! Jangan tembak kalau tidak perlu!"

Alya mempercepat langkah.

Korban adalah prajurit muda bernama Ilham. Kakinya tersangkut akar saat mengejar pelaku, tulang keringnya luka dan pergelangan terlihat tidak normal. Dia menggertakkan gigi menahan sakit.

"Ilham, lihat saya," kata Alya.

"Siap, Dok."

"Tidak usah siap-siap. Napas saja."

Ilham tertawa pendek lalu meringis.

Alya memeriksa luka dan sirkulasi. "Fraktur tertutup dengan luka robek di dekatnya. Kita stabilkan dulu. Joko, bidai. Jangan gerakkan berlebihan."

Damar muncul beberapa meter dari sana.

Begitu melihat Alya, wajahnya berubah.

"Kenapa kamu di sini?"

"Ada pasien."

"Aku belum memberi izin masuk."

"Area ini sudah dinyatakan aman sebagian oleh radio."

"Sebagian bukan aman."

Alya tidak mengangkat kepala. "Kalau ingin memarahi, tunggu sampai kakinya tidak bergerak bebas."

Ilham menatap antara dokter dan komandannya, lalu memilih melihat langit.

Damar menahan marah.

"Rendra, perimeter!"

"Siap!"

Alya memasang balutan dan bidai. Ilham mulai lebih tenang. Joko membantu dengan cekatan.

Tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari semak kanan.

Damar langsung berbalik.

"Tiarap!"

Semua bergerak hampir bersamaan.

Tapi Alya masih memegang kaki Ilham.

Satu bayangan muncul dari semak dengan pistol rakitan.

Arahnya bukan ke Alya.

Ke Damar.

Alya melihat kilatan logam itu sebelum sempat berpikir.

"Damar!"

Dia mendorong tubuh Damar dari samping.

Letusan memecah udara.

Dunia berhenti satu detik.

Rasa panas menyambar lengan kiri Alya.

Dia jatuh ke tanah.

Teriakan meledak di sekitar.

"Dokter!"

Damar berputar dan menembak ke arah pelaku. Prajurit lain langsung menyergap. Tubuh pria bersenjata itu jatuh, senjatanya terpental.

Damar menoleh.

Alya menekan lengan kirinya. Darah mengalir di antara jari.

Wajah Damar berubah pucat.

"Alya!"

Dia berlutut di sampingnya.

Alya mencoba bernapas. Sakitnya datang terlambat, lalu menghantam penuh.

"Saya... baik."

"Diam."

"Pelurunya menyerempet."

"Aku bilang diam."

Suaranya bergetar.

Alya menatapnya.

Damar memegang lengannya, merobek kain sekitar luka dengan gerakan cepat. Luka tembak serempetan di lengan atas. Berdarah cukup banyak, tapi bukan penetrasi dalam.

Dia menekan luka dengan kasa dari tas medis Alya.

"Joko! Medis!"

"Siap, Dan!"

Alya meringis. "Tekanannya terlalu kuat."

"Bagus."

"Saya pasien, bukan tersangka."

"Kamu pasien yang baru saja mendorongku ke arah lain saat ada pistol mengarah."

"Refleks."

Kata itu keluar pelan.

Damar membeku.

Refleks.

Seperti dia menangkap Alya di hujan.

Tapi ini peluru.

Ini darah.

Ini sesuatu yang tidak bisa ditertawakan.

Evakuasi berlangsung cepat. Ilham dan Alya dibawa sekaligus. Di perjalanan, Damar duduk di samping Alya dan tidak melepaskan tekanan pada luka.

Alya mulai pusing.

"Ilham?"

"Diam."

"Dia pasien saya."

"Dia ditangani Joko."

"Pastikan sirkulasi kakinya—"

"Alya."

Dia menatap Damar.

Mata pria itu merah karena marah atau takut, dia tidak tahu.

"Untuk sekali saja, pikirkan dirimu sendiri."

Alya ingin menjawab.

Tidak ada suara yang keluar.

Di pos kesehatan, Rina hampir menangis melihat darah di baju Alya. Tapi Alya justru memberi instruksi sambil duduk di meja tindakan.

"Cuci luka. Cek kedalaman. Siapkan anestesi lokal. Rina, jangan gemetar."

"Dokter yang ditembak malah menenangkan saya," kata Rina dengan suara pecah.

"Karena kalau kamu gemetar, jahitannya jelek."

Damar berdiri di dekat pintu, wajah gelap.

Rina membersihkan luka. Ternyata benar, peluru hanya menyerempet, meninggalkan robekan panjang yang harus dijahit tapi tidak mengancam nyawa.

Alya menahan sakit dengan menggigit kain.

Damar melihat setiap tarikan napasnya.

Setelah jahitan selesai dan lengan dibalut, Alya ingin turun dari meja.

Damar langsung menahan.

"Kamu mau ke mana?"

"Cek Ilham."

"Ilham sudah dirujuk. Kondisinya stabil."

"Saya harus lihat catatan—"

"Tidak."

Alya menatapnya.

"Mayor, jangan mulai."

"Aku belum mulai."

Dia mencondongkan tubuh, kedua tangan di sisi meja tindakan, membuat Alya terkurung di antara lengannya.

Rina dan Joko mendadak sangat sibuk di luar ruangan.

Damar menatap Alya dari jarak dekat.

"Apa yang ada di kepalamu?"

"Saat ini? Nyeri."

"Alya."

"Saya melihat pistol mengarah ke Anda."

"Jadi kamu mendorongku?"

"Kalau saya sempat menyusun proposal, mungkin saya pilih cara lain."

Damar menutup mata sebentar.

"Kamu bisa mati."

"Tapi tidak."

"Itu bukan pembelaan."

Suara Damar rendah, lebih rendah dari biasanya.

"Kamu selalu melakukan ini. Masuk ke jalan berdarah. Menekan luka orang lain. Mengabaikan tubuhmu sendiri. Dan sekarang kamu mendorongku dari peluru seolah hidupmu..."

Dia berhenti.

Alya menatapnya.

"Seolah hidup saya apa?"

Damar tidak menjawab.

Karena kata yang hampir keluar terlalu jujur.

Seolah hidupmu tidak penting bagiku.

Padahal ketika dia melihat darah di lengan Alya, dunia di sekelilingnya menyempit sampai hanya ada satu pikiran.

Jangan dia.

Jangan Alya.

Alya menurunkan suara.

"Anda komandan di wilayah ini. Kalau Anda jatuh di lapangan, banyak orang kehilangan pemimpin."

Mata Damar mengeras.

"Jadi itu alasanmu?"

"Itu alasan yang cukup."

"Cukup untuk menerima peluru?"

"Serempetan."

"Jangan kecilkan itu."

Alya terdiam.

Damar mundur satu langkah. Wajahnya kembali tertutup, tapi kali ini Alya sudah melihat retaknya.

"Mulai hari ini kamu tidak masuk area operasi tanpa izinku."

"Saya dokter—"

"Dan aku suamimu."

Ruangan itu sunyi.

Alya merasa napasnya tertahan.

Damar tampak baru sadar lagi, tapi kali ini dia tidak menarik ucapannya.

"Status atau bukan, aku tidak akan berdiri diam melihatmu tertembak lagi."

Dia berbalik dan keluar.

Alya duduk di meja tindakan, lengan berdenyut sakit, jantungnya lebih sakit lagi.

Rina masuk perlahan.

"Dok..."

"Jangan."

"Saya belum bilang apa-apa."

"Wajahmu sudah bilang terlalu banyak."

Rina menutup mulut, tapi matanya tersenyum.

Alya memalingkan wajah.

Di luar, suara Damar memberi perintah terdengar keras. Tegas. Stabil.

Tapi Alya tahu tangannya sempat gemetar saat menekan lukanya.

Dan pengetahuan itu jauh lebih berbahaya daripada luka tembak di lengannya.

Malam itu, Damar datang ke rumah dinas Alya dengan alasan memeriksa patroli.

Alasan itu buruk.

Patroli berada di jalan, bukan di terasnya.

Alya membuka pintu hanya setengah.

"Ada pasien?"

"Tidak."

"Ada laporan keamanan?"

"Tidak."

"Kalau begitu?"

Damar melihat balutan di lengannya.

"Aku ingin memastikan kamu minum obat."

"Anda bisa kirim pesan."

"Aku sudah di sini."

"Karena patroli."

"Karena patroli."

Mereka sama-sama tahu itu bohong.

Alya tidak mempersilakannya masuk. Damar tidak memaksa. Ia hanya berdiri di teras sampai Alya mengambil obat dan menelannya di hadapannya.

"Puas?"

"Lumayan."

Ketika Damar pergi, Alya menutup pintu dan bersandar di baliknya.

Di luar, langkah Damar menjauh pelan.

Di dalam, Alya baru sadar dirinya tersenyum.

Dia segera menghapus senyum itu dengan punggung tangan, seolah senyum bisa dibersihkan seperti noda antiseptik.

Tidak berhasil.

Di luar pagar, Damar berhenti sekali dan menoleh ke rumah yang lampunya masih menyala.

Dia tidak tahu Alya tersenyum.

Tapi untuk alasan yang tidak jelas, langkahnya malam itu terasa lebih ringan.

Sedikit.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!