"Apa ???" Mata Bella terbelalak mendengar apa yang keluar dari mulut orang tuanya.
"Bella sudah dewasa pa, Aku Bisa Memilih Lelaki yang pantas untukku, Tidak Perlu Mencari kan ku pasangan Hidup." Ucap Bella Dengan Nada Kesal.
"Ini semua demi Kebaikan kamu juga nak" ujar mama Bella.
"Jangan Membantah Papa, apa Papa pernah mengajarimu Berkata Seperti itu? Jangan Buat malu papa. Seperti Tidak pernah mengajarimu Sopan Santun" Ucap Wira Pratama, Ayahnya Bella.
"Bella tidak akan pernah Menerima Perjodohan Ini Pa." Balas Bella dengan Nada Ketus
"Kalau Kau tidak Menerima Perjodohan Ini, Kau bisa angkat kaki dari Rumah Ini" Teriak Wira dengan kesal.
"Baik Kalau Begitu, Aku juga Sudah Muak Dengan Kelakuan Papa yang Tidak Pernah Mengerti Perasaanku" Ucap Bella dengan Air Mata yang hampir jatuh.
"Tunggu Apalagi, Lekas Pergi" Ucap Wira Kepada anak nya itu, ia tak pernah menyangka Putri satu-satunya itu bisa membantah nya.
Jangan Lupa Like,komen dan Votenya.
Selamat Membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengundurkan Diri
Christin dan dodi duduk ditaman yang sering mereka kunjungi dulu.taman itu masih sama seperti dulu, pohon-pohon yang tumbuh disekitarnya juga masih berdiri kokoh, sama seperti dulu. Hanya saja perasaan orang yang sering datang dulu entah bagaimana. Tawa canda yang dulu ada kini berubah menjadi hening. Tak ada suara diantara mereka berdua. Seolah-olah enggan untuk berbicara. Hati keduanya yang dulu terikat satu sama lain kini hanya menjadi kenangan untuk keduanya. Entah itu kenangan indah atau bukan.
“Jadi kau ingin melanjutkan bisnis mu di luar negri ?” tanya christin memandang bunga-bunga yang bermekaran indah.
“Ya, tuan brayen juga sepertinya sudah mulai nyaman bersama bella, jadi aku akan mengurus bisnisku saja” jawab dodi lirih
“apa kau tak melihat perubahan bella semenjak bekerja dengan tuan brayen ? aku merasa dia tak betah tapi dia tetap saja berpendirian teguh” christin
“Sepertinya memang begitu, mungkin karena sudah lama bersamamu hingga dia juga punya sifat konsisten”
Christin menarik nafas nya dalam-dalam dan membuangnya kasar.
“Aku hanya tak mau dia terbebani dengan pekerjaannya. Tapi mau bagaimana lagi” christin
“Biarkan saja dulu, aku akan mengawasi nya. Lagi pula tuan brayen tidak akan menyakitinya. Cuma sekarang dia sedikit Lebih dingin” jelas dodi
“Kenapa ?”
“Aku juga tidak tahu. Mungkin masalah keluarga” dodi
Tunggu... Masalah keluarga ? Bella juga begitu, apa ada kaitannya ya ? Ah, tidak mungkin. Lagian kalau benar orang tuanya juga pasti tahu.
Tiba-tiba ponsel christin berbunyi ia buru-buru mengambil benda yang berbunyi itu di tasnya.
“Halo”
“Christin, lo dimana ?”
“masi diluar, kenapa bel ?” tanya christin
“Emm, pasti lagi kencan bareng Doi ya ?” goda bella
“Apaan sih, ada apa ?”
“Tin, hari ini gua nggak balik ya”
“Hah ? kenapa ?”
“Gue harus ke apartemen baru itu”
“ohh, yaudah hati-hati ya”
“iya sayangku. Kapan-kapan datang ya, ntar gue share loc”
“Oke” sambungan itu terputus.
“Bella sudah pindah ya ?” tanya dodi tanpa basa basi.
“Kau tahu ?”
“Ya, tuan brayen sudah memberitahuku kemarin” ucap dodi lirih
“kau menyukainya ?” tanya christin to the point
“Entahlah, aku juga bingung.” Dodi
Christin hanya menggangguk. Dan tak terasa malam semakin larut, dodi pulang mengantar christin kembali ke apartemennya.
Keesokan harinya, dodi pergi ke kantor brayen, ia melihat bella duduk di kursinya sedang bergulat dengan laptop dihadapannya. Dodi menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
Aku harus siap. Batinnya
“Pagi bella”
Bella tak berkedip melihat kedatangan dodi, ia merasakan jantunya yang berdebar-debar.
“Pagi. Dodi ? Ada apa ?” tanya bella
“Nampaknya kau sudah membaik ya” ucap dodi tersenyum ramah.
Bisa tidak si, kau tak usah memamerkan senyum menggoda mu itu.batin bella
"Tuan Brayen ada?"
“Em, ada. Tapi sebentar lagi akan ada meeting. Kau mau menunggu dulu ?” tanya bella
Dodi melirik jam tangannya, lalu berfikir sejenak.
“Kalau begitu nanti saja” ucap dodi
“Baiklah, maaf ya.”
“Oke, aku pergi dulu” dodi
Mengapa dia tampak dingin ya ? padahal kemarin masih biasa saja. batin bella menatap kepergian dodi.
“Tuan, tadi dodi datang mencari anda” ucap bella setelah keluar dari ruangan meeting.
“ada apa ?” tanya brayen penasaran
“Tidak tahu, tadi saya bilang kalau tuan ada meeting. Lalu dia bilang nanti saja” bella mengingat-ingat pembicaraannya dengan dodi.
“Baiklah, nanti kalau dia datang lagi suruh keruanganku” ucap brayen
“Baik tuan”
Kenapa sifat mereka jadi kebalik ya ? kemarin dodi yang enak diajak ngobrol, sekarang mlah tuan brayen. Huh, lagipula untuk apa aku memikirkannya. Dia bukan siapa-siapaku. Batin bella mulai menyerah dengan perasaannya.
Brayen terlihat berfikir keras, entah apa yang membuat nya menjadi frustasi. Padahal acara meeting berjalan dengan lancar.
Apa dodi ingin kembali bekerja ? mengapa aku setakut ini ? seolah-olah akan ada yang hilang di hidupku. Ah, Sudah lah Kalaupun ia ingin bekerja lagi aku bisa menempatkannya dimana saja. batin brayen
Bella memaksakan tangannya untuk menghubungi dodi, entah kenapa dia tiba-tiba sangat merindukan senyum Lelaki tampannya itu.
“Halo bella, ada apa ?” tanya dodi
“em, kau tidak jadi menemui tuan ? meeting sudah selesai.” Ucap bella
“Baiklah, aku akan kesana habis makan siang” dodi menutup sambungannya.
“Hah, ini seperti mimpi. Baru kemarin dia tebar-tebar pesona, sekarang malah mau ngilang” gumam bella kesal.
“Siapa yang ngilang ?” tanya rio tiba-tiba
Bella kaget setengah mati melihat rio di sampingnya.
“Kau , bisa tidak, jangan muncul seperti hantu. Aku terkejut tahu” bella memasang wajah kesal.
“Hehe, kau kaget ya ? Maaf nona cantik” goda rio
“Ada apa ?” tanya bella ketus
“Ini sudah jam makan siang, kau mau kelaparan sampai sore nanti ?”
“Sebentar,”
Bella menelpon brayen dengan sambungan interkom
“Ya”
“Tuan, mau makan dimana ?” tanya bella
“Oh, sudah jam makan siang ya. Kau makan saja dulu kalau sudah selesai bawa makan siangku kesini” jawab brayen
Dih, dia benar-benar mulai layu. Batin bella
“Baik tuan”
“Ayo” bella bangkit dari duduknya
“Kemana ?” tanya dodi bingung
“Kau tak mau kutraktir ? ya sudah baguslah” ucap bella ketus meninggalkan rio
“E-ehhh, enak saja kau mengingkari janjimu. Tunggu..tunguuu” rio berlari kecil mengejar bella
Bella membawa nampan berisi makanan untuk brayen, saat tiba di depan ruangan brayen, bella tak sengaja mendengar pembicaraan orang didalam.
“Saya ingin mengundurkan diri tuan” ucap dodi menunduk
“Apa ? mengundurkan diri ? kenapa ? apa kau ada masalah denganku ?” tanya brayen bertubi-tubi
“Sama sekali tidak ada tuan. saya hanya ingin meneruskan usaha ibu saya, karena bagaimana pun saya yang akan mewarisinya kelak” jelas dodi
“Baiklah kalau itu memang keputusanmu, aku tak akan menghalangimu lagi. Kau sudah banyak membawa perubahan di perusahaan ini” brayen merasa Sedih
“Terimakasih tuan, saya juga ingin berterimakasih atas bantuan yang tuan berikan selama ini. Saya tak akan pernah lupa kebaikan anda” ucap dodi.
“Sama-sama dodi. Kita sama-sama saling membutuhkan. Jika kau merasa kesulitan jangan segan-segan menghubungiku” ucap brayen
“Ya, saya pasti menghubungi anda”
Do-dodi mengundurkan diri ? aku benar-benar akan kehilangan mu, huh kenapa sih kau tak berada disini saja. Ini juga akan mempersulitku untuk pindah kebagiian lagi. Ah, bicara apa aku, aku harusnya sedih tak bisa menatap senyum manisnya lagi. Akh.
Bella memberanikan diri mengetuk pintu.
TOK..TOK..TOKK
“masuk”
“Tuan, makan siang anda”
“Ya, letakkan saja di sana” ucap brayen menunjuk meja dekat sofa.
Bella meletakkan nampan itu dan berjalan kikuk. Ia melirik dodi yang sama sekali tidak menoleh padanya.
“Saya Pergi dulu” ucap bella sopan membuka pintu.
Hah, kenapa dia jadi seperti itu ? Aaaaaa, aku tak mau dikurung di perusahaan ini. Hiks. Batin bella
“Baik lah, kau makan saja dulu. Aku mau mengurus pengunduran diriku” ucap dodi melirik brayen
“oke, temui aku dulu sebelum kau pergi” ucap brayen menjabat tangan dodi
Lalu dodi pergi meninggalkan ruangan brayen dengan perasaan lega. Ia berjalan depan meja bella, gadis itu tersenyum padanya. Dodi membalas senyum.
“Yang semangat kerja” ucap dodi menyemangati.
“ E..ee Terimakasih.” Bella gugup
Lalu dodi pergi meninggalkan perusahaan itu. Akhirnya ia bisa mengurus usahanya sendiri, meskipun perusahaan itu banyak memberi pengalaman dan kenangan pahit dan manis yang ia lalui disana. Lega. Itu yang ia rasakan saat ini.
**Hai, Angel menyapa lagi. (hihihi)
jangan lupa like komen dan vote ya, Follow Akun ku dan beri Tip dan dukungan kalian.
(hehe)
jangan lupa juga Baca karya kedua ku yang berjudul "WAITING FOR HAPPINESS" Berikan dukungan kalian disana agar author semakin semangat untuk menulis.
Love you**