Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Benar saja, dugaannya tidak meleset. Di luar, Bu Broto terus mengomel, membanding-bandingkan Rena dengan menantu tetangga, mengeluhkan nasib anaknya yang salah memilih istri, hingga mengungkit hal-hal sepele lainnya. Namun, karena tidak mendapat respons atau sahutan sedikit pun dari dalam kamar, perlahan-lahan volume suara wanita tua itu mulai menurun. Tidak butuh waktu satu jam, ocehan penuh kedengkian itu akhirnya berhenti total. Suasana rumah kembali sunyi, dan ketenangan yang sangat berharga bisa Rena dapatkan kembali.
Sore harinya, jam dinding menunjukkan pukul lima. Rena menguatkan diri untuk keluar dari zona nyamannya di kamar. Dia berjalan ke dapur untuk melakukan kewajibannya. Kali ini, Rena kembali memasak dengan menu seadanya dan tentu saja disesuaikan dengan sisa budget belanja mingguan yang sangat minim yang diberikan oleh Aris tempo hari. Hanya ada beberapa butir telur dan cabai di dalam kulkas mini mereka. Dengan cekatan, Rena membuat telur dadar tipis dan sambal korek.
Ketika aroma masakan itu menguar, Bu Broto berjalan ke dapur dengan langkah dihentak-hentak. Begitu matanya menangkap apa yang tersaji di atas meja makan kecil, wajah paruh baya itu langsung berkerut masam. Matanya berkilat penuh amarah.
"Ya Gusti! Masakan apa lagi ini, Rena?!" pekik Bu Broto, menunjuk piring berisi telur dadar dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin emas besar.
Melihat menu masakan yang hanya telur dan sambal, membuat mertuanya kembali marah besar dan langsung menghina Rena dengan kata-kata kasar seperti biasa.
"Kamu ini mau memberi makan manusia atau memberi makan kucing? Anakku Aris itu kerja kantoran, pulang kerja capek-capek butuh makanan bergizi, bukan cuma telur dadar sepotong begini! Kamu itu benar-benar istri mandul pikiran ya! " Bu Broto terus mencerca dengan urat leher yang menegang. "Uang belanja yang dikasih Aris itu pasti kamu korupsi buat beli keperluanmu sendiri, kan? Ngaku kamu! kamu foya-foya ya selama ini."
Rena hanya diam, tidak menjawab dan menelan semua omelan mertuanya itu.
Siska yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut menimpali sambil bersedekap dada. "Iya, Mbak Rena keterlaluan banget. Mas Aris kan gajinya besar, masa ibunya sendiri dikasih makan telur dadar? Dasar pelit, pinter banget ya ngumpetin uang suami!"
Rena yang sedang mengelap meja dapur hanya diam. Kalimat-kalimat tajam itu masuk ke telinga kiri dan langsung keluar ke telinga kanan. Kali ini, dia tidak mau ambil pusing lagi mendengar ocehan ibu mertua maupun adik iparnya. Rena memilih menganggap rentetan makian mereka seperti suara radio rusak yang mendengung—berisik, mengganggu, tetapi sama sekali tidak perlu didengarkan maknanya. Fokusnya sudah beralih pada lembaran uang di dalam kamarnya, yang menjadi tiket masa depan Dio.
"Aku hanya memasak apa yang tersedia di lemari es. karena uang dari mas Aris sudah habis. " ucap Rena pada akhirnya. "kalau ibu dan Siska ingin makan makanan yang enak, kalau keluar silahkan belanja saja. Aku pasti akan memasakkan apa yang kalian mau makan. "
Mendengar jawaban Rena, Bu Broto dan Siska saling berpandangan. Mereka tidak menyangka kalau Rena akan menjawab mereka. Biasanya Rena hanya diam dan sesekali mengusap air matanya karena hinaan yang mereka katakan.
"Udah berani menjawab sekarang ya? " Bu Broto berkacak pinggang tepat di hadapan Rena.
"Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya aku katakan dari dulu. "
Jawaban kedua Rena kembali membuat mereka bedua melongo.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil Aris memasuki halaman. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang tampak lelah karena tekanan pekerjaan. Namun, seperti biasa, Aris tidak pernah menanyakan bagaimana hari yang dilewati istrinya. Aris datang dan mendengar semua kata-kata kasar dari ibu dan adiknya kepada istrinya, Tapi dia sama sekali tidak membela Rena yang saat itu masih berdiri di dekat dapur dengan daster lusuhnya. Tanpa sepatah kata pun, Aris langsung duduk di meja makan dan menyantap makanan yang sudah siap dihidangkan, mengunyah telur dadar dan sambal itu tanpa ekspresi.
Setelah makan malam yang hening dan menegangkan itu selesai, Bu Broto dan Siska duduk di ruang tengah untuk menonton televisi, walau televisi hanyalah pelengkap karena mata mereka tertuju pada ponsel masing-masing. Di meja makan kini hanya tersisa Rena dan Aris yang sedang meneguk air putihnya.
Rena menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan ketenangan dan keberanian. Dia kembali mencoba membahas tentang sekolah Dio, memanfaatkan momen saat suasana dirasa sudah cukup tenang.
"Mas..." panggil Rena lirih, duduk di kursi seberang Aris. "Soal pendaftaran sekolah Dio yang tadi pagi aku bicarakan. Apa benar-benar tidak ada uang sama sekali? Ini minggu terakhir pendaftaran, Mas. Kalau tidak dibayar sekarang, Dio bisa terlambat satu tahun untuk masuk SD."
Aris meletakkan gelasnya dengan dentingan pelan, lalu menatap Rena dengan tatapan malas dan sedikit jengkel. Dan jawaban Aris begitu enteng, tanpa beban moral sedikit pun sebagai seorang ayah.
"Kan sudah dibilang tadi pagi, aku belum dapat uang karena belum gajian, Ren. Lagipula, anak seusia Dio kalau terlambat sekolah satu tahun juga tidak akan mati. Jangan membuatku pusing dengan urusan uang terus, kerjaanku di kantor sudah menumpuk," jawab Aris dingin, lalu bangkit dari kursi dan bersiap melangkah pergi menuju kamarnya.
Rena tidak menangis kali ini. Air matanya sudah habis terkuras tadi pagi. Dia hanya tersenyum sinis, sebuah senyuman sarat akan kepahitan sekaligus penghinaan tersembunyi yang ditujukan untuk pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Jawaban Aris barusan menjadi paku terakhir yang mengunci peti mati rasa hormat dan rasa cintanya pada pria itu.
Kini, Rena sudah mengambil keputusan yang bulat di dalam hatinya. Saat mereka semua mengabaikannya, memperlakukannya seolah-olah dia adalah makhluk tak kasat mata yang tak berharga, maka dia juga akan mengabaikan mereka sepenuhnya. Cukup sudah air mata dan pengorbanan yang sia-sia.
Mulai besok, Rena berjanji pada dirinya sendiri untuk melayani mereka sewajarnya dan secukupnya saja. Tidak akan ada lagi keikhlasan berlebih, tidak akan ada lagi usaha untuk menyenangkan hati mertua atau suaminya. Dia hanya perlu bertahan untuk sementara waktu, menumpang tinggal di rumah terkutuk ini sampai dia bisa mengumpulkan cukup uang dari hasil kerja lepasnya di rumah anak Ibu Lastri. Begitu tabungannya dirasa cukup untuk menyewa tempat tinggal baru dan menghidupi Dio, dia akan langsung melangkah pergi sejauh mungkin, meninggalkan keluarga toxic ini tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.
"Lihat saja, apa yang kalian katakan padaku nanti. akan aku jadikan kenyataan. " gumam hati Rena.